
"Tolong lepaskan aku," kata Lina dengan susahnya. Setiap sentuhan yang Daniel berikan membuat Lina tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
"Ini hukumanmu."
Daniel kembali mencium Lina, memaksa membuka mulutnya lalu bermain dengan lidahnya. Dengan cekatan Daniel melepaskan pakaiannya tanpa menarik diri dari Lina. Setelah itu ia melepaskan ciumannya namun beralih ke buah dada Lina. Lina sama sekali tidak berdaya. Kedua tangannya di cengkram kuat, rasa terangsang yang ditahan nya selama ini membuat tubuhnya begitu panas membakar.
"Mmmmph... Oooooh...!"
Teriak Lina begitu Daniel memasuki dirinya. Air mata mengalir pelan diujung mata Lina. Tanpa memperdulikan itu Daniel mulai memaju mundur kan tubuhnya perlahan.
"Aaaaah........!"
Lina tidak bisa menahan erangannya begitu sesuatu bergerak dibawah sana. Mendengar itu membuat Daniel bersemangat. Ia mempercepat gerakannya menghantam dinding rahim Lina.
"Aaah....! Sakit.... Lembut lah sedikit... Haaah..." racaunya tampa sadar. Lina mulai menikmati permainan Daniel.
"Sepertinya kau semakin menikmati ini," bukanya memperlembut Daniel mala bermain semakin kasar.
"Haaah..... Haaah..... Aaaah! Astaga! Pelan-pelan Sakit...!"
"Kau sempit sekali. Aku akan keluar kalau seperti ini terus..."
Satu kali hentakan semburan menghujani rahim Lina.
"AAAAH.....!"
Teriak Lina mengisi ruangan saat sesuatu yang panas memenuhi perutnya. Daniel menarik diri dari Lina. Ia mengenakan pakaiannya kembali tampa memperdulikan Lina yang kini terbaring lemas.
"Ingatlah hari ini. Jangan perna membuatku kesal!"
"Kenapa kau siksa aku begini? Lebih baik kau bunuh saja aku," kata Lina dengan mata setengah terbuka.
__ADS_1
"Sangat mudah membunuh mu. Jika aku ingin, aku akan melakukannya."
Daniel berdiri lalu melangkah keluar setelah merapikan kemejanya. Di depan pintu, Daniel sempat melirik kasihan pada gadis itu.
"Apa aku terlalu kasar tadi? Hm, ini adalah hukuman untuknya."
Daniel berlalu pergi menutup pintu meninggalkan Lina yang sepertinya telah tertidur. Ia berjalan menuju ruang kerjanya yang ada di lantai tiga. Ruang luas dengan dinding kaca transparan yang menyuguhkan bentang kota pada malam hari. Disana ia cuman melamun sambil minum anggur putih.
"Bisa-bisa aku melakukan itu pada gadis yang baru ku kenal. Seumur hidupku ini cuman ibu satu-satunya wanita yang tidak membuatku merasa terganggu jika ada di dekatku," diteguknya lagi secangkir minuman itu.
"Setiap kali aku melihat wanita... Ciguk! Selalu saja ada rasa jijik. Mereka makhluk yang tidak berguna. Bisanya cuman menghambur-hamburkan uang saja, membeli barang-barang yang tak berguna itu cuman untuk kesenangan," ujar Daniel dalam keadaan mabuk.
"Mereka juga lemah, tapi sangat pandai menggoda. Cih! Mengandalkan kecantikan cuman mau memikat orang kaya dan kekuasaan. Membuat orang muak!"
"Tapi... Gadis kecil ini sungguh berbeda. Ia tidak takut apapun walau sangat menyebalkan. Ia berbeda? Berbeda dari kebanyakan wanita yang perna kulihat selama ini. Berada di dekatnya..." Daniel tersenyum begitu mengingat Lina. "Aku merasa tidak mau jauh dari dirinya. Jantung ini berdebar begitu menyentuh kulitnya. Apa aku sakit?"
"Atau begini rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Eh, tidak, tidak Daniel apa yang kau pikirkan. Mana mungkin aku jatuh cinta pada gadis galak itu? Aku mencintainya? Tidak, tidak akan perna, kau adalah satu-satunya pria dimuka bumi ini yang tidak percaya dengan cinta. Tapi aku tidak mau kehilangannya..."
Akibat mabuk terlalu berat kini racauan Daniel semakin aneh saja. Ia kehilangan kendali dengan pikiran dan perasaan karna alkohol. Sementara itu dua orang bawahannya yang di perintahkan menunggu diluar cuman bisa pasrah saja mendengar ocehan bos mereka yang semakin menjadi.
"Sstt... Diam! Bos bisa mendengar mu. Apa kau mau dipecat? Wajar saja bos begitu karna cinta. Mungkin ini karna ia sudah terlalu lama menjabat gelar jomblo?"
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Di kediaman keluarga Cershom, sepulangnya dari pesta keluarga Flors.
"Ayah harus membunuh gadis itu!! Berani sekali dia merebut tunangan ku!!!" dengan nada tinggi Violet melemparkan gelas anggur ke dinding sampai hancur berkeping-keping.
"Hah! Merebut tunangan? Itu berarti yang pantas dibunuh adalah kau," batin Ducan. Ia terlihat santai memutar anggur merah tahun 87 dalam gelasnya.
"Tidak semudah itu membunuhnya."
__ADS_1
"Apa yang sulit? Dia cuman gadis kampung! Nyawanya sama sekali tidak berharga. Lagi pula ayah adalah salah satu ketua dari kelompok mafia terkejam di ibu kota."
"Kenapa otakmu itu begitu dangkal sekali?"
Ducan meletakan cangkir yang ada ditangannya ke atas meja kaca. Suara yang dihasilkan begitu nyaring ditelinga.
"Gadis itu merupakan kekasih yang dicintai Daniel, CEO muda dan calon penerus kelompok mafia Black Mamba berikutnya. Menurutmu gadis itu bisa dibunuh dengan mudah? Apa kau pikir Daniel tidak akan menempatkan anggotanya untuk melindungi gadis tersebut?"
Violet terdiam, ia mata menatap kesal pada ayahnya dengan dahi mengkerut.
"Kau bilang ia adalah teman sekelasmu. Bagaimana tidak kau coba saja menyiksanya di kampusmu? Tunjukan keahlian seorang putri dari Ducan Cershom. Anggap saja ini misi pertamamu. Dapatkah kau menyiksa gadis tersebut tanpa diketahui oleh Daniel? Tidak mungkin kau tidak bisa melakukan tugas kecil ini, bukan?"
"Baik! Akan aku tunjukan pada ayah bahwa aku dapat melakukan tugas ini dengan tanganku sendiri. Bersiaplah Lina, kau akan merasakan siksaan neraka!"
Violet berlalu pergi keluar dari ruang kantor ayahnya sambil membanting pintu dengan keras.
"Dasar anak tidak tahu di untung!"
Ducan berdiri menghampiri lukisan abstrak di dinding sebelah kiri ruang kerjanya. Ia terlihat menekan pola sandi di lukisan tersebut. Tak lama, perlahan-lahan lukisan tersebut bergeser terbagi dua memperlihatkan brangkas di baliknya. Kunci membuka brangkas tersebut adalah sidik jari Ducan sendiri. Ducan mengambil sebuah foto keluarga kecil yang bahagia dalam brangkas tersebut. Dielusnya foto tersebut yang menyimpan sejuta kenangan indah. Itu merupakan foto dirinya bersama sang istri dan juga putri kecilnya.
"Oh... Sayangku Ariana, aku sudah tidak tahan lagi merawat putri gadungan ini. Ia benar-benar begitu sombong dan manja, tidak bisa apa-apa, lemah serta bodoh! Aku mohon sayang bantu aku menemukan putri kandung kita. Aku yakin sekali ia pasti mirip denganmu. Sosok paling berani, kuat dan kejam namun begitu keibuan. Oh... Viliana putriku, pulanglah. Ayah sangat merindukanmu."
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε