
"Kenapa? Bukankah kau mau mengantar itu ke Nisa?" tunjuk Daniel ke paper bag yang ditenteng Rica sendari tadi. "Apa kau takut mereka akan mengusirmu karna kau perna jahat pada mereka?"
"Aku akui kalau aku memang sempat jahat pada mereka, aku menyesali atas perbuatanku. Cuman... Apa mereka mau memaafkan ku setelah apa yang aku perbuat? Terutama putri anda, Julia."
"Aku mendapat informasi kalau kemarin malam kau sampai berteriak di jalanan untuk meminta semua mobil menyingkir dari jalanmu. Semua itu kau lakukan demi bisa mengantar putriku ke rumah sakit. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika kau tidak ada disana menolong Julia. Mungkin aku tidak akan bisa melihat senyumnya lagi," Daniel meletakan tangannya di atas kepala Rica. "Terima kasih. Julia memang suka sering mencari masalah dengan gadis sombong seperti dirimu, tapi hanya kau yang dengan rela melakukan hal ini untuknya."
"Sama-sama," Rica tersipu atas perlakuan hangat Tn. Flors.
Daniel membuka pintu lalu memanggil Nisa. "Nisa! Kau dipanggil kakakmu."
"Kak Rica?" Nisa bergegas keluar menemui Rica.
"Apa yang mau dia lakukan datang kesini?" tanya Wendy saat tahu Rica ada diluar.
"Kak Rica, kenapa tidak masuk?" tanya Nisa yang mendapati tinggal Rica sendirian diluar.
"Aku cuman mengantarkan pakaian ganti untukmu," dengan sedikit malu-malu Rica menyodorkan paper bag yang ia bawa pada Nisa. "Em, kau jangan salah sangkah dulu. Aku melakukan ini atas perintah ayah."
"Oh, terima kasih kak Rica," ujar Nisa setelah menerima paper bag itu.
"Itu saja. Aku pergi dulu."
Sebelum Rica pergi, Nisa sudah menahan tangannya. "Mumpung kakak ada disini, ayok masuk dulu. Julia ingin bertemu denganmu."
Nisa menarik tangan Rica melangkah masuk. Rica sama sekali tidak menolak. Tidak seperti biasanya, Rica akan berlenggang dengan sombongnya begitu melalui mereka. Kini dengan kepala tertunduk dan berjalan sedikit pincang, Rica tampak tidak berani menatap langsung setiap mata yang memandang ke arahnya. Ia cuman sesekali melirik lalu menunduk kembali.
"Bagaimana keadaanmu, Rica?" tanya Julia memecah rasa canggung Rica.
"Apa maksudmu kau bertanya seperti itu padaku? Kau lah yang terbaring di rumah sakit sekarang, seharusnya aku yang bertanya begitu padamu," Rica masih tidak berani menatap mata Julia secara langsung.
"Bukankah kau juga terluka akibat pertarungan itu?"
Rica menyentuh dahinya yang masih tertempel plester luka. Bukan hanya itu saja, dibeberapa bagian tubuhnya juga terlihat masih tampak lebam dan ada balutan perban di tangan dan kakinya.
"Cuman luka kecil. Tidak sepertimu yang terluka sangat parah dan hampir mati."
__ADS_1
"Julia, apa benar itu?" tanya Febby yang tersentak kaget.
"Jangan percaya. Aku cuman mengalami luka selebar 3 sentimeter, itu saja," sangkal Julia agar temannya tidak cemas.
"Kenapa kau menyangkalnya, Julia? Kenapa tidak kau katakan yang sebenarnya? Kalau bukan karna aku yang tidak cepat-cepat membawamu ke rumah sakit, sudah dipastikan kau akan mati karna kehilangan banyak darah."
"Maka dari itu aku berterima kasih padamu."
"Hah?!" Rica tersentak kaget. Satu bulir air mata menetes dan mengalir pelan di pipinya.
"Terima kasih telah berusaha sekuat tenaga membawaku ke rumah sakit. Kau tidak mempedulikan rasa sakit yang kau alami demi bisa mengantar ku secepat mungkin," Julia menatap redup kaki kiri Rica yang terperban. "Kalau bukan karna dirimu, sudah pasti aku tidak akan ada disini. Dan berkat sumbangan darah dari Nisa juga telah menyelamatkan nyawaku. Aku tidak tahu harus bagaimana caranya berterima kasih pada kalian berdua."
"Hiks... Kau cukup harus cepat sembuh agar bisa menerima tantangan dariku," Rica menghapus air matanya dan berusaha untuk tersenyum.
"Baiklah."
"Bukankah dengan begini jauh lebih baik. Tidak ada gunanya saling bermusuhan, kalian juga tidak dapat untungnya dan berteman juga tidak ada ruginya," nasehat Carl.
"Berteman? Apa kalian masih mau berteman denganku? Setelah apa yang aku lakukan..." Rica berhenti sebentar. Ia menarik napas panjang lalu melanjutkan. "Aku tidak mengharapkan kalian mau berteman denganku, tapi... Asalkan kalian tahu saja aku menyesali kalau aku memang telah salah pada kalian terutama pada Julia dan Nisa. Aku minta maaf. Sungguh-sungguh minta maaf."
"Benar sekali," jawab Febby.
"Aku tidak terlalu pandai dalam soal pertemanan ini tapi aku akan berusaha menjadi teman yang baik. Mohon bimbingan kalian semua," ujar Marjorie dengan senyuman.
"Terima kasih semuanya. Aku juga akan berusaha."
"Tunggu. Ini tidak bisa berakhir begitu saja. Aku masih tidak terima kau memukulku hari itu," kata Wendy pada Rica.
"Lantas kau mau apa agar kau mau memaafkan ku?"
"Jika kau bersungguh-sungguh ingin minta maaf, maka izinkan aku membalasmu."
Semua orang diruangan tersebut dibuat cukup kaget begitu mendengar permintaan Wendy. Dari raut wajahnya, ia memang terlihat masih kesal atas pumukulan yang dilakukan Rica padanya yang membuat ia sampai pingsan dan belum lagi soal ia yang dikunci di dalam gudang sekolah.
"Baik. Aku memperbolehkan mu melakukannya. Silakan. Pukul lah aku jika itu bisa memuaskan hatimu."
__ADS_1
"Wendy, apa kau yakin ingin melakukan ini? Rica memang sempat jahat tapi ia sudah bersedia minta maaf secara tulus. Tidak kah mau menghargainya?" kata Febby berharap Wendy berpikir ulang.
"Lupakanlah masa lalu, Wendy," ujar Marjorie.
"Rica saja sudah mengizinkannya. Kenapa kalian melarang ku?"
"Kau bisa melakukannya lain hari. Rica saat ini dalam keadaan terluka. Bukan sesuatu yang pantas menyerang orang yang sedang tidak berdaya," kata Julia.
"Tidak apa. Aku siap menerimanya. Aku tidak akan membalas sama sekali. Lakukanlah Wendy," Rica menyembunyikan kedua tangannya di saku jaketnya.
"Aku tidak akan segan-segan. Bersiap lah."
Wendy menghampiri Rida dan berdiri tepat di depannya. Ia mengepalkan tinjunya dan mulai hendak memukul. Rica hanya memejamkan matanya menunggu suatu serangan yang akan dia terima.
"Aw!" pekik Rica begitu ia merasakan sakit di pipinya. Bukan karna pukulan tapi melainkan cubitan.
"Aah.... Aku sudah lama sekali ingin melakukan ini padamu," dengan gemasnya Wendy mencubit kedua pipi Rica.
Rica mengelus kedua pipinya setelah Wendy melepaskannya. "Eee....! Kau sengaja mempermainkan aku, ya?!! Dasar kau Wendy!!"
Dengan sangat kesal Rica mengejar Wendy yang telah berlari menjauh dari dirinya. Walau ia tidak bisa berlari dengan cepat karna kakinya terluka namun itu tidak membuat Rica menyerah mengejar Wendy sampai tertangkap. Yang lain hanya tertawa melihat tingkah mereka yang ada-ada saja. Apa lagi disaat Wendy menarikkan tubuh Jeffri agar bisa bersembunyi dibelakangnya. Jeffri lah yang dibuat kesulitan karna mereka berdua.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1