Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Hari pertama datang ke sekolah


__ADS_3

Jam 08.30 Julius dan Julia sampai di SMA Anthony. Tempat dimana mereka akan menempah ilmu pendidikan. Seperti biasa Samuel sendiri yang mengantar mereka sampai ke parkiran sekolah. Niat hati awalnya Samuel ingin mengantar mereka sampai ke asrama masing-masing, namun itu tentu segera ditolak oleh Julius dan Julia. Mereka berdua bukan anak kecil lagi yang harus diantar jemput saat pergi sekolah. Dengan terpaksa Samuel menekan niatnya itu. Hari ke hari sungguh tidak terasa. Baru sekejap ia melihat dua anak-anak manis yang pintar dan sekarang anak-anak tersebut sudah tumbuh menjadi remaja. Tiga tahun lagi mereka akan tamat dari SMA ini, lalu melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas dan akhirnya berkerja, mencari pasangan, kemudian membentuk keluarga sendiri. Perjalanan mereka masih panjang, seperti burung yang baru mengenal dunia.


Julius dan Julia berpencar menuju asrama masing-masing yang memang terletak di bangunan berbeda, namun bersebelahan. Di sepanjang perjalanan menuju kamar, semua mata tertuju pada mereka. Ada yang saling berbisik antar teman begitu mereka lewat. Ada juga yang cuman melihat sekilas atau tidak melirik sama sekali. Julia tidak memperdulikan hal itu. Ia lebih menantikan reaksi teman sekamarnya.


"Aku sudah tidak sabar melihat raut wajah teman-teman sekamarku," batin Julia.


Sampai di depan pintu, ia langsung mengetuknya, seharusnya. Tidak, Julia malahan masuk begitu saja sambil menyapa dengan penuk energik.


"Halo semuanya! Namaku Julia!"


"AAAH ! !" teriak dua gadis di kamar itu sangking kaget nya.


"Oo... Maafkan aku. Aku sangat senang sekali bertemu dengan teman baru."


"Aku pikir tadi itu siapa," ujar gadis berambut keriting.


"Kau membuat kami hampir terkena serangan jantung," sambung gadis berambut pirang. Ia masih mengatur nafasnya.


"Hihi... Maaf. Aku cuman ingin membuat kesan baik."


"Namamu tadi Julia ya?"


"Iya, Julia Francesca," kata Julia menyebutkan nama lengkapnya tanpa marga.


"Nama yang bagus. Kalau namaku Febby," kata gadis berambut keriting itu memperkenalkan diri


"Perkenalkan, aku Wendy. Aku sangat suka pakaianmu, sangat menawan."


"Hm... Sepertinya aku perna melihatnya di mejalah," Febby memperhatikan lebih seksama mini dress hitam yang dikenakan Julia. "Kalau tidak salah ini dari brend..."


"Haha... Cuman mirip saja mungkin," potong Julia seketika. "Aku membelinya di toko pakaian biasa."


"Ayoklah Julia, jangan merendah begitu. Mau setinggi atau serendah apapun derajat keluarga kita, diantara kita tetap sama, bagaimana?" Wendy merangkul bahu Julia dan Febby.


"Setuju," jawab Febby.


"Itulah yang aku mau."

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Suara pintu diketuk namun terdengar begitu ragu-ragu. Itu pasti teman sekamar mereka yang lainnya. Setiap satu ruang kamar memang berisi empat orang. Julia menhapiri pintu lalu membukanya.


"Ha, halo..." sapa seorang gadis berkaca mata bundar dengan malu-malu.


"Oh, hai. Kau pasti teman sekamar kami juga, kan?" Julia seketika menarik tangan gadis pemalu tersebut masuk. "Namaku Julia, salam kenal."


"Ju-Julia?" gadis itu tampak terkejut mendengar nama tersebut. Sepertinya ia mengenal Julia.


"Siapa namamu?" tanya Julia tidak memperdulikan raut wajah terkejut gadis di depannya.


Gadis tersebut dengan cepat menepis pikirannya itu. Mana mungkin Julia dari keluarga Flors memilih asrama biasa. "Namaku Nisa Pinkston," katanya memperkenalkan diri.


"Tu, tunggu dulu. Kau adalah Nisa? Nisa dari keluarga Pinkston, salah satu keluarga paling berpengaruh di kota ini," Wendy tampak tidak percaya begitu mendengar nama gadis pemalu ini.


"I, iya."


"Wah... Aku sungguh tak percaya aku akan satu kamar denganmu," Wendy tambah riang. Hampir saja ia mau melompat sangking senangnya.


"Ini benar-benar luar biasa. Aku pikir kau lebih memilih asrama khusus ketimbang asrama biasa," kata Febby.


"Nama keluargamu tadi Pinkston, kan? Apa keluargamu memiliki suatu usaha di ibu kota, atau sejenisnya?" tanya Julia. Ia sendari tadi mengingat-ingat nama keluarga dari Nisa ini. Ia merasa kalau perna berjumpa dengan keluarga Pinkston disuatu acara namun ini pertama kalinya ia bertemu dengan Nisa.


"Em... I, iya. Ayah memang memiliki beberapa cabang restoran disana. Tapi, aku dengar ayah adalah salah satu pemegang saham di perusahaan Flors," jelas Nisa.


"Ooh... Perusahaan Flors," butuh waktu beberapa detik bagi Julia tersadar. Ia menepuk jidat nya sendiri. "Astaga, bagaimana aku bisa lupa? Keluarga Pinkston kan memang salah satu dari pemegang saham di perusahaan papa. Tapi kenapa di pejamuan pemegang saham waktu itu aku tidak melihat Nisa?"


"Hebat. Berarti ayahmu kenal dong dengan Tn. Flors yang dikenal sangat dinggi itu?" tanya Febby.


"Aku dengar-dengar keluarga Flors memiliki sepasang anak kembar yang seumuran dengan kita. Andai saja ia juga satu kamar dengan kita. Aku tidak bisa membayangkannya."


"Mimpimu terlalu jauh, Wendy. Walaupun mereka bersekolah disini, mereka tidak akan memilih asrama biasa. Orang kalangan atas seperti mereka pasti lebih memilih asrama khusus."


"Tidak juga. Buktinya aku ada disini," batin Julia.


"Hei, hei. Kalian tidak berpikir itu aku, bukan?"

__ADS_1


"Aku cuman sedikit ragu. Sebelumnya tadi kau bertanya pada Nisa 'Apa keluarganya memiliki usaha di ibu kota atau tidak?' Kenapa ke bertanya seperti itu?"


"Apa salahnya aku bertanya seperti itu? Secara harfiah, keluarga Nisa kan salah satu keluarga paling berpengaruh. Hal wajar kalau aku merasa perna mendengar nama keluarganya itu di ibu kota. Aku kan berasal dari ibu kota," kata Julia mencari alasan.


"Kau berasal dari ibu kota?"


"Iya. Baru tiba kemarin."


"Hah... Memang sesuatu yang tidak mungkin kalau Julia dari keluarga Flors satu kamar dengan kita."


"Kau benar, Febby. Nona muda dari keluarga Flors mana mungkin mau bergaul bersama kita-kita ini."


"Walau diberi kesempatan satu kali saja, aku teringin sekali berjumpa dengan keluarga Flors."


"Aku juga. Keluarga Flors dikenal cukup misterius dan jarang sekali terekspos ke publik. Kau sangat beruntung Nisa dapat bertemu langsung dengan mereka."


"Em..." Febby mendekatu Nisa lalu berbisik. "Ngomong-ngomong Nisa, bisa kau terangkan rupa dari putra pertama tuan Flors? Seberapa tampan dia?"


"Maaf, aku belum pena bertemu langsung dengan mereka," kata Nisa.


"Oh... Sangat disayangkan," Febby terlihat kecewa.


"Tapi yang aku tahu, kalau nama putra dari Tn. Flors adalah Julius, sedangkan putrinya bernama Julia," jelas Nisa sambil melirik Julia yang ada disampingnya.


Febby dan Wendy tersentak mundur begitu mendengarnya. Mereka menatap Julia dengan raut wajah sangat terkejut.


"Fiuuh... Untunglah Nisa belum perna melihat wajahku. Kalau tidak... Rencanaku pasti akan gagal," Julia menghembuskan nafas lega.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2