Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Akhir pekan


__ADS_3

Pagi yang cerah. Dengan mata masih terpejam Lina meraba-bara tempat tidur di sampingnya. Lina membuka matanya perlahan begitu tangannya tidak menemukan apa yang ia cari.


"Eh? Dia sudah bangun. Huam....." Lina menguap sambil menggeliatkan tubuhnya. Ia melirik jam yang ada di atas meja laci tepat di samping tempat tidur. "Ini baru jam 06.14. Kemana dia pergi seawal ini, diakhir pekan pula?"


Lina beranjak dari tempat tidur lalu melangkah pergi ke kamar mandi. Ia mencuci mukanya agar tampak segar dan tidak lupa gosok gigi. Ia keluar dari kamar mandi kemudian duduk kembali di atas tempat tidur ketika ia melihat ada pesan masuk ke hpnya. Pesan itu berasal dari Daniel.


"Maaf aku buru-buru pergi pagi ini, ada masalah mendadak di perusahaan yang membuat ku harus keluar kota untuk mengurusnya."


"Ternyata ia pergi keluar kota. Hah... Aku sendirian diakhir pekan ini," Lina membaringkan tubuhnya kembali ke atas kasur yang empuk. Ia melihat layar hpnya lagi, kemudian membalas pesan dari Daniel. "Tidak apa-apa. Urus lah pekerjamu dengan baik. Jangan khawatirkan aku."


Lina beranjak dari tempat tidur lalu berjalan turun ke bawah menuju dapur untuk mengisi perutnya. Sampai di ruang makan Lina tidak menemukan siapapun. Hanya ada makanan di atas meja berserta sebuah pesan.


"Aku dan Emma dipanggil ke kediaman utama hari ini. Kami sudah menyedikan sarapan untuk nona Lina diatas meja."


"Mereka pergi juga. Apa yang harus aku lakukan di akhir pekan ini?" sambil berpikir Lina menyantap serapannya yang telah disiapkan Judy dan Emma sebelum mereka pergi. "Apa aku coba hubungi Ira saja untuk mengajak berkunjung hari ini?" pikir Lina. Ia segera mencari no Ira di layar hpnya lalu menelponnya.


Telpon diangkat.


"Hallo. Lina ada apa kau meneleponku pagi ini?"


"Tidak ada. Aku cuman mau tanya, apa kau ada kegiatan akhir pekan ini?"


"Tidak, tidak ada kegiatan hari ini. Kenapa?"


"Aku sedang bosan hari ini, tidak ada siapapun di rumah. Bagaimana kalau kau kesini, temani aku? Kita bisa menonton bersama atau melakukan kegiatan lainnya."


"Boleh. Lagi pula aku sangat penasaran tempat tinggal mu sekarang. Tapi, apa tidak mengapa aku berkunjung ke rumahnya?"


"Tentu saja tidak. Dia tidak perna mengatakan aku tidak boleh mengajak seorang teman berkunjung."


"Okey kalau begitu. Kirimkan aku alamatnya. Aku akan datang kesana kurang dari lima menit."


"Aku tunggu," Lina memutuskan telponnya kemudian mengirim alamat rumah Daniel ke Ira.


10 menit kemudian, bell rumah berbunyi. Lina yang sedang memainkan hpnya segera beranjak dari sofa ruang tengah menuju pintu depan. Di bukan nya pintu tersebut, seorang gadis berdiri tepat di depan pintu dan langsung memeluk Lina begitu ia melihatnya. Lina berusaha menghalangi perutnya menggunakan tanganya agar Ira tidak langsung menyentuh perut hamil nya. Dan sepertinya itu berhasil, Ira tampak tidak menyadari sesuatu.

__ADS_1


"Lina, kenapa kau tidak perna membertahuku kalau sebenarnya kau tinggal di kawasan perumahan elit ini?"


"Tidak ada gunanya juga memberitahu mu. Ayok masuk. Jangan berdiri di depan pintu," Lina mempersilakan Ira masuk.


"Wow... Rumah ini sungguh mewah sekali. Tidak heran bisa dijuluki sebagai kawasan terelit yang ada di ibu kota. Keluarga Flors memang sangat kaya raya."


"Kau putri tunggal dari salah satu keluarga terpandang juga bisa terkesima dengan rumah ini?"


"Tentu saja. Kawasan perumahan elit permata hijau merupakan salah satu kawasan perumahan paling mewah di ibu kota. Keluargaku saja tidak memiliki satupun properti di kawasan perumahan ini. Kau sungguh beruntung Lina," Ira menyandarkan tubuhnya di sofa setelah Lina mempersilakan duduk.


"Beruntung. Bisa dibilang begitu," Lina mengambil tempat duduk di samping Ira.


"Tapi sangat disayangkan juga kalau rumah sebesar ini hanya ada dirimu seorang. Kemana dia? Jujur saja aku sangat penasaran sekali rupa dari pria yang bisa menarik hati kucing kecil sepertimu ini."


"Kenapa kalian selalu saja suka memanggilku kucing?"


"Karna kau memang kau mirip sama hewan berbulu itu. Apa lagi disaat kau cemberut," Ira mencubit pipi Lina dengan gemas.


"Ira... Hentikan itu! Sakit tahu," Lina berusaha menepis tangan temannya itu dari pipinya.


"Bagaimana kalau kita melakukan permainan papan? Yang kalah wajahnya akan dicoret menggunakan spidol," saran Lina.


"Okey. Siapa takut. Asalkan ada camilan untukku."


"Dasar kau ini kerjaanmu makan saja. Tapi memang enak kalau ada camilan. Baiklah, kau ambil camilan nya dalam lemari dapur disamping kulkas. Aku akan menyiapkan papan permainannya."


"Siap nona."


Mereka berdua menyiapkan semua keperluan untuk memulai hari santai mereka. Sambil menikmati udara segar, di pondok kayu yang berada di taman menjadi pilihan terbaik. Permainan pertama yang mereka pilih adalah permainan tic tac toe. Mereka memulai pertandingan dengan Lina sebagai X dan Ira adalah O.


"Hore, aku menang," teriak Ira riang. "Saatnya kau menerima hukumanmu sesuai perjanjian," Ira mulai menyoret tanda silang di pipi Lina menggunakan spidol.


"Sial. Lihat saja nanti, aku akan membalasmu."


Mereka memulai permainannya lagi. Tiga kali seri dan kali ini Lina yang menang.

__ADS_1


"Rasakan itu Ira. Saatnya kau yang menerima hukuman," Lina membalas membuat tanda O besar di sekeliling wajah Ira.


"Kau curang Lina! Ini berlebihan," protes Ira sambil hendak menghapus tinta spidol itu dari wajahnya.


"Jangan dihapus. Sesuai perjanjiannya, jika kau hapus maka aku akan mencoret wajahmu dua kali."


"Baik. Ini masih belum berakhir. Ayok mulai lagi."


Mereka memulai kembali permainan tic tac toe. Entah sudah berapa ronde mereka memainkannya, yang jelas wajah mereka berdua kini di penuhi coretan.


Ting!


Satu pesan masuk ke hp Lina. Ia segera melihat siapa yang baru saja mengirim pesan padanya. Pesan itu berasal dari Daniel.


"Bagaimana keadaanmu? Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Apa kau sudah minum susumu? Apa kau sudah makan? Maaf baru bisa menghubungi mu sekarang. Masalah disini cukup rumit. Aku dengar Emma dan Judy di panggil ke kediaman utama. Apa kau merasa kesepian? Kau merindukanku? Aku disini sangat merindukanmu..." dan beberapa kalimat lainnya.


"Pesannya cuman satu tapi pertanyaannya ada puluhan. Kalau begini bagaimana aku menjawab semuanya?" batin Lina begitu membaca pesan tersebut. "Aku baik. Aku mengundang temanku Ira untuk menemaniku. Kami sedang bermain permainan papan di rumah. Aku juga merindukanmu," setelah menambah emoji sebagai hiasan, Lina membalas pesan dari Daniel.


"Kau kau membalas pesan dari siapa? Pasti dari pacarmu itu, kan?"


"Ira..." Lina memalingkan wajahnya yang merona.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2