
Berhubung Marjorie tidak membawa laptopnya, tanpa meminta izin lagi ia langsung menggunakan komputer milik kepalah sekolah. Tn. Vincent awalnya hendak melarang karna di dalam komputer tersebut berisi data-data penting sekolah. Namun Yusra menyakinkan kalau seluruh data tersebut akan aman. Dengan sedikit kekhawatiran Tn. Vincent terpaksa memperbolehkan.
Jari-jemari Marjorie mulai memainkan keyboard dan mouse secara bergantian dengan begitu lincahnya setelah flashdisk tersemat. Pandangan matanya lurus menatap layar komputer yang telah menampilkan gambar berbeda dan hanya bisa dimengerti olehnya. Sementara itu, tepat di atas bangunan sekolah. Julia yang baru saja menyerumput minuman kemasannya dibuat tersenyum begitu melihat ada seseorang yang mencoba menerobos akunnya lagi.
"Wah, wah, wah... Ada yang mau mencoba menerobos sistem keamanan akun ku lagi. Kita lihat, apakah ia sama seperti pecundang yang lainnya atau tidak. Jangan membuatku kecewa."
Julia mulai beraksi meladeni teman bermainnya. Dengan Headphone diteliga dan keripik kentang yang sesekali masuk ke mulutnya, Julia berusaha menghalangi orang tersebut menerobos sistem keamanan akunnya. Marjorie juga ikut tersenyum begitu mengetahui kemampuan lawannya lumayan hebat dari semua Cracker yang perna bersaing dengannya. Sudah lama Marjorie tidak merasa sesemangat ini disaat diminta melacak seseorang.
"Orang ini cukup menjanjikan, tapi aku pasti akan menjebol akun mu itu!" kata Marjorie dalam hati semakin bersemangat.
"Hm... Aku sedikit penasaran, siapa orang ini? Dia orang pertama yang bisa sampai sejauh ini dalam melacak akun ku," Julia kembali menyeruput minumannya. "Mari kita lihat siapa dia. Pippo, luncurkan drone lebahmu ke ruang kepalah sekolah."
"Pip po!"
Satu robot kecil berbentuk lebah dan berukuran sama keluar dari bagian cela kecil bundar di robot Pippo. Robot lebah itu terbang keluar batas pagar pengaman atap sekolah, kemudian menukik kebawa menuju jendela ruang kepalah sekolah. Dari kamera yang dipasang pada robot tersebut Julia bisa mengamati seisi ruangan tanpa khawatir ketahuan.
"Rupanya masih seorang siswi," Julia cukup terkejut begitu mengetahui lawannya ternyata seumuran dengannya. "Tidak salah lagi, cuman dia yang menyentuh komputer disini dan lokasi yang mencoba menerobos akun ku, benar berada di ruang kepalah sekolah."
Julia mengezoom gambar yang ditampilkan kamera di drone lebah untuk melihat lebih jelas wajah lawannya. Ia mencoba mengingat-ingat wajah tersebut karna merasa wajah itu tidak begitu asing.
"Hei, bukankah ini gadis datang menggunakan helikopter pada acara pembukaan kemarin? Itu memang dia. Kalau begitu..."
Julia mengalihkan fokus kamera ke sisi lain ruangan. Baru sedetik menyorot wajah siswa yang duduk di sofa... Tiba-tiba di layar laptopnya muncul tanda 'Peringatan'. Bukannya terkejut, Julia malahan terlihat santai-santai saja menagapinya.
"Oh, rupanya kau sudah hampir berhasil menerobos akun ku, tapi itu tidak penting lagi. Aku lebih penasaran dengan identitas mu, cantik."
Julia tidak peduli lagi kalau Marjorie berhasil membobol akunnya atau tidak. Ia lebih fokus mencari tahu seluruh data identitas, masa lalu dan infomasi apa saja yang bisa ia dapat dan berkaitan dengan Marjorie. Julia cukup kesulitan mencari data-data tersebut karna dipasang sistem keamanan yang sangat ketat. Namun, walaupun begitu Julia semakin dibuat penasaran dengan identitas misterius dari Marjorie yang sebenarnya.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
__ADS_1
"Rica, apa kau yakin gadis ini bisa melakukannya? Ia terlihat tidak jauh berbeda dengan gadis biasa," bisik Delfa. Ia meragukan keahlian Marjorie.
"Sutt... Diam. Apa kau mencoba meragukan bawahan tuan muda Arlo?"
Setengah jam kemudian. Dalam kesenyapan ruangan, mereka dibuat menoleh begitu mendengar Marjorie berkata...
"Berhasil! Video nona Pinkston berhasil dihapus dari situs resmi sekolah. Tapi sayangnya saya gagal melacak siapa yang menyebarkan video tersebut," Marjorie mencabut flashdisk nya lalu melangkah menghampiri Yusra.
"Dia pasti bukan Cracker sembarang dan bahkan bisa dibilang lebih hebat darimu. Aku minta kau untuk kembali menyelidikinya dan cari tahu siapa dia sebenarnya!" pinta Yusra.
"Baik tuan. Ini kegagalan pertama saya. Saya akan menebusnya."
Sedikit cacatan. Kenapa aku menggunakan istilah Cracker dari pada yang sering kita dengar adalah Harcker? Karna terdapat perbedaan terbalik diantara keduanya. Perbedaan ini ada pada sifat Cracker dan Hacker.
Aksi yang dilakukan Hacker bersifat baik. Sementara aksi yang dijalankan Cracker bersifat menyimpang atau merugikan pihak lain. Kerja Hacker hanya masuk ke sebuah sistem untuk menemukan kelemahan keamanan, bug dan masalah lain dalam sistem. Sementara kerja Cracker bersifat merusak, penyerangan, atau destruktif. Cracker memasuki sistem jaringan secara paksa dan ilegal. Setelah itu, Cracker melakukan tindakan kejahatan seperti memasukkan malware, mengambil data, dan sebagainya.
"Oh, terima kasih telah menolongku tuan muda Arlo..."
"Baiklah, Yusra," Rica semakin bahagia mendengarnya. Bukankan dengan panggilan ini membuat hubungan mereka semakin akrab. "Sekali lagi terima kasih. Aku tidak tahu harus apa. Kalau tidak ada dirimu tadi, aku pasti sudah sangat dipermalukan oleh gadis rendahan si Julia itu."
"Tunggu, Julia?" Yusra tampak kaget disaat mendengar nama tersebut.
"Iya. Jangan tertipu dengan namanya. Dia bukankah Julia, putri dari keluarga Flors. Nama mereka kebetulan sama," jelas Delfa dengan cepat sebelum Yusra salah paham.
"Oh... Jadi, maksud kalian si Julia inilah yang menyebarkan video itu?"
"Tentu saja! Siapa lagi? Cuman dia yang memiliki video itu dan dia malah menyewa seseorang untuk menyebarkannya!!" Rica kembali kesal begitu mengingat Julia.
"Itu berarti gadis itu tahu siapa Cracker ini. Aku harus segera menemuinya, mungkin dengan begitu dia mau memberitahu ku dan juga sambilan mengajaknya berkencan. Dengan status sosial dan kekuasaan yang aku miliki, tidak akan ada gadis di dunia ini yang mau menolak ajakan ku," pikir Yusra.
__ADS_1
"Saya juga berterima kasih pada anda, tuan muda Arlo. Berkat dirimu, nama baik sekolah ini terjaga," ujar Tn. Vincent.
"Bukan masalah. Ayok pergi, Marjorie."
Yusra bangkit dari tempat duduknya dan hendak melangkah pergi bersama Marjorie sebelum Rica tiba-tiba mencegatnya. Sontak hal itu membuat langkah Yusra dan Marjorie terhenti.
"Yusra!" panggil Rica.
"Ada apa?"
"Em... Maukah kau datang ke pesta pejamuan yang diadakan pamanku di restoran Moon malam minggu ini? Pamanku punya sahabat dari anggota elit Black Mamba yang akan menjadi tamu istimewa di pesta itu," ajak Rica sedikit malu-malu.
"Anggota elit Black Mamba?" Yusra terlihat berpikir sebentar sebelum memutuskan. "Baiklah, aku akan datang."
"Wah... Terima kasih tuan muda Arlo," keriangan Rica semakin bertambah, hampir saja ia melompat sangking senangnya.
"Pamanmu hebat sekali, Rica. Ia bisa memiliki jaringan ke salah satu anggota elit Mafia yang terkenal di ibu kota," puji Delfa.
"Siapa dulu dong, pamanku. Paman Zack memang sangat hebat," ujar Rica dengan sombongnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε