
"Tentu saja. Tapi maaf, aku tidak bisa mentraktirmu Nisa. Mungkin lain kali," ujar Wendy pada Nisa.
"Aah... Jangan pedulikan itu. Aku juga akan mentraktir Julia."
"Baiklah. Terima kasih teman-teman," kata Julia sambil tersenyum lebar.
Tidak mau merusak kesenangan kedua temannya karna dirinya, Julia berusaha menikmati semua bazar yang ramai ini. Toh, untuk apa juga berlarut-larut dalam kesedihan, lagi pula Wendy dan Nisa juga tidak jauh berbeda dengang Julia. Keluarga Wendy juga tidak bisa hadir hari ini sedangkan keluarga Nisa, mereka jauh lebih peduli pada Rica ketimbang dirinya. Lorong di bazar ini dibagi menjadi tiga baris panjang. Lorong pertama menjual anekah produk dari Amerika, lorong kedua dari Asia dan lorong terakhir adalah Eropa. Saat ini Julia, Nisa dan Wendy ada di lorong jajanan Asia.
"Wah... Jajanan dari benua asia. Kita mau coba yang mana dulu nih?" tanya Wendy bersemangat.
"Cumi bakar saus pedas khas korea," tunjuk Julia pada kedai yang tidak jauh dari mereka.
"Aku juga mau makan yang itu."
Mereka bertiga pergi menuju kedai yang menjual makanan yang mereka inginkan. Berpindah dari kedai satu pindah ke kedai yang lainnya. Yang mana jajanan yang belum perna mereka cicipi dicoba semua. Mulai dari makanan khas Jepang, Korea, Tiongkok, India, Turki dan masih banyak lagi. Kalau sudah urusan makanan semua rasa sedih teralihkan seketika. Disaat mereka menyulusuri bazar diantara orang-orang, pandangan Julia tiba-tiba tertuju pada satu kedai. Ia mengajak Wendy dan Nisa kesana.
"Selamat siang. Kalian jual apa disini?"
"Kami menjual jajanan khas Indonesia, salah satunya seblak," jawab seorang gadis penjaga kedai tersebut.
"Apa? Sebak? Apa itu sebak?" ulang Julia namun lidahnya tidak terbiasa dengan bahasa Indonesia
"Bukan sebak tapi seblak. Seblak adalah sama satu makanan yang paling digemari kebanyakan perempuan di tempat asalku."
"Seb... Sebak... Se-lak. Se-bek. Aah... Susah, apa sajalah itu namanya. Boleh aku coba satu?"
"Hihi... Tentu saja. Kami sudah menyiapkan cup kecil bagi pelanggan yang mau mencoba. Ini seblaknya, selamat menikmati."
Gadis itu memberikan masing-masing cup kecil yang berisi satu kerupuk seblak kepada Julia, Wendy dan Nisa untuk dicoba.
"Hei, Lihat ini Wendy, Nisa. Bentuknya seperti rambut Febby tapi ini warnanya putih," kata Julia sambil menunjukan bentuk dari kerupuk basah tersebut pada kedua temanya.
"Haha... Kau benar juga Julia. Apalagi disaat rambutnya kusut tak karuan."
"Mirip sekali."
"Hahaha..." tawa Julia dan Wendy malah mengejek rambut Febby yang keriting.
"Hah... Dasar kalian berdua ini," Nisa mencoba mencicipi seblak tersebut begitu melihat kedua temanya memakannya. Tapi saat sudah masuk mulut... "Uwaaah....! Pedas! Ini pedas sekali!" teriaknya kepedasan.
"Seblak memang dikenal dengan rasa pedas nya. Sebenarnya itu rasa standar. Bagi kami orang indonesia biasanya suka menambahkan sambal lagi," dengan senyum yang tidak memudar gadis itu meletakan satu toples berisi cabai rawit giling di hadapan mereka. "Ini sabalnya."
__ADS_1
"Hah?! Apa sebanyak itu?" tanya Wendy yang kaget melihat cabai giling sebanyak itu.
"Tidak, cuman satu atau dua sendok saja."
"Itu masih banyak. Apa perut kalian baik-baik saja setelah memakannya?"
"Malahan semakin pedas semakin nikmat."
"Kalau aku pasti sudah masuk rumah sakit karna makan cabai sebanyak itu. Aku memang tak bisa makan pedas," ujar Nisa setelah meminta segelas air minum untuk meredakan rasa pedas di lidahnya
"Oh, kami memiliki tantangan bagi yang bisa menghabiskan seblak terpedas kami maka dia boleh makan gratis. Jika tidak habis maka diharuskan membayar. Apa kalian mau coba?"
"Tidak. Terima kasih. Aku tidak mau terkena diare besok," tolak Wendy.
"Aku mau beli satu tapi yang rasa standar saja. Walau memang pedas tapi aku suka dengan makanan ini."
"Baiklah. Dinda, satu porsi seblak komplit," teriak gadis itu menggunakan bahasa indonesia.
"Okey," jawab salah satu rekannya.
Tidak butuh waktu yang lama bagi pesanan Julia sampai dihadapannya. Satu porsi seblak komplit dengan berbagai toping sosis, ceker, udang dan cumi. Dengan lahap Julia memakan seblak tersebut. Wendy dan Nisa cuman melihat saja Julia yang begitu menikmati makanan tersebut. Mereka tidak terlalu suka mantan pedas terutama Nisa.
"Mau pesan apa lagi?" tanya siswi itu pada Nisa dan Wendy.
"Kami punya gorengan seperti bakwan sayur, bakwan jagung, tahu, tempe, pisang goreng..."
"Aku mau yang tadi," potong Nisa.
"Apa? Bakwan, tahu, tempe?"
"Iya, yang terakhir itu. Tem-pe."
"Baik. Satu porsi tempe goreng," gadis itu memberikan wadah plastik berisi susunan dari tempe goreng berbalut tepung yang diberi bumbu.
"Apa rasanya enak?" tanya Julia penasaran.
"Enak sekali. Sewaktu kecil aku perna mencobanya di restoran. Kalian mau coba?" kata Nisa menawarkan.
"Coba satu dong."
"Aku juga mau."
__ADS_1
"Kenapa ada cabai kecil disini?"
"Oh, itu dimakan bersama tempenya. Cobalah."
"Tapi ini cabai metah. Apa tidak dimasak dulu?"
"Tidak. Memang seperti itu cara makannya."
Julia mencoba jajan yang belum perna dirasakannya sebelumnya, dan ternyata... "Benar. ini enak sekali. Aku juga mau satu porsi."
"Baik," siswi itu meletakan satu porsi tempe goreng disamping mangkuk seblak Julia. "Dimakan dengan seblak enak juga loh."
"Benarkah?"
Julia segera mencobanya dan ternyata ia menyukainya. Selesai mencicipi makanan Indonesia, mereka bertiga melanjutkan berkeliling, tapi sebelum itu Julia menyempatkan diri membeli hidangan manis untuk meredakan rasa pedas di lidahnya.
"Hei Julia, kau beli apa itu?" tanya Wendy
"Jajanan manis dari indonesia juga. Apa ya namanya tadi? Mar-cabak."
"Bukan marcabak julia tapi martabak," kata Nisa membenarkan kalimat Julia.
"Ah, iya itu dia namanya. Sepertinya aku harus belajar bahasa indonesia dulu agar bisa menyebutkan makanan ini dengan benar."
"Sekarang kita kemana lagi?"
"Ke jajanan Eropa saja yuk. Jajanan Asia terlalu pedas. Aku tak tahan makan makanan pedas," ajak Nisa.
"Tapi aku suka. Jajanan Asia kaya akan bumbu yang membuatnya terasa lebih enak."
Tanpa merasa lelah, mereka kini menjajal jajanan dari benua Eropa. Tapi tidak seperti di lorong jajanan Asia, tidak terlalu banyak jajanan yang Julia minati dan lagi Julia sudah merasa kenyang. Ia sungguh sudah banyak makan camilan hari ini. Disaat berkeliling tiba-tiba ada seorang gadis kecil menyenggol Julia. Karna keadaan bazar ini semakin ramai, Julia kesulitan mengenali gadis kecil yang menyenggolnya tadi. Cuman sweater ungu dan topi rajut senada itu lah yang bisa Julia perhatikan menghilang diantara kerumudan.
"Siapa gadis kecil itu tadi? Kenapa aku merasa dia adalah Adelia? Tidak. Tidak mungkin. Dia ada di ibu kota sekarang dan tak mungkin ada disini. Sepertinya aku terlalu mengharapkan mereka datang sampai menganggap gadis seumurannya sebagai dirinya," Julia menepis pikirannya itu walau mulai menggagunya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε