
"Keponakanku yang malang. Apa kau masih mengingat kejadian itu? Jangan takut. Aku tidak akan memotongmu jika kau memberikan sesuatu yang aku mau."
"A, apa yang paman mau dariku?" tanya Violet gemetar.
"Serahkan Token rumah lelang itu padaku dan tanda tangani surat pernyataan bahwa kau telah memberikan hak kepemilikan rumah lelang secara sah padaku. Maka aku akan melepaskan mu hidup-hidup."
"Token rumah lelang?"
"Iya. Tapi kalau kau tidak mau menyerahkannya juga tidak apa-apa," Stevan mengacukan pistol nya ke dahi Violet. "Kematianmu lah yang akan memberikan Token tersebut padaku secara cuma-cuma. Karna kau belum memiliki perwaris secara sah, otomatis kepemilikan rumah lelang akan jatuh pada orang yang mendapatkan Token itu."
"Aku mohon jangan bunuh aku. Baik, baiklah. Token rumah lelang ada dalam tasku dan aku bersedia menyerahkan kepemilikan rumah lelang padamu, tapi aku mohon jangan bunuh aku. Hiks... Hiks..."
"Sudah, sudah. Berhentilah menangis. Kau sudah bersedia saja sudah cukup," kata Stevan sambil menurunkan pistol nya. "Bawakan tasnya kemari!" perintah Stevan pada salah satu bawahannya.
"Ini bos," pria itu menyerahkan tas Violet pada bos nya.
Stevan menerima itu. Ia mengeluarkan semua isi tas Violet sampai mendapati Token rumah lelang yang dicarinya selama ini ada di dalam sana.
"Akhirnya Token ini menjadi milikku juga. Penantian sekian tahun ini akhirnya terbayarkan. Tunggu dulu," Stevan menyadari ada bagian yang hilang di Token tersebut. Ia mengarahkan pistol nya lagi ke dahi Violet. "Dimana bagiannya yang lain? Token ini tidak utuh sama sekali!!"
"Aku, aku tidak tahu itu. Ayah cuman memberiku batu giok itu saja. Aku sungguh tidak tahu. Jangan bunuh aku."
"Ducan!!!" teriak Stevan meluapkan amarahnya. "Padahal dia sama sekali bukan bagian dari keluarga tersembunyi tapi kenapa dia selalu mengacaukan semua rencanaku!! Aku akan membunuh mu!"
"Wah... Wah... Sepertinya ada yang sedang marah."
"Siapa itu?" Stevan yang terkejut mendengarnya lantas ia menoleh ke atas.
Seluruh anak buah Stevan dengan sigap mengarahkan senjata mereka ke sumber suara. Lina yang ada di atas tetap tenang dengan senyum tidak berubah dari wajahnya. Ia ditemani Judy dan Emma yang ada disisi kiri dan kanannya.
"Senang bertemu dengan mu lagi Tn. Stevan," sapa Lina.
"Lina?! Apa yang kau lakukan disini?" tanya Violet yang sama terkejutnya dengan Stevan.
"Menyelamatkan mu sayang."
"Siapa kau? Bagaimana bisa kau masuk?"
"Ternyata kau orang yang pikun ya Tn. Stevan. Tapi aku maklumi itu karna kita cuman pernah sekali bertemu di pesta perjamuan."
"Apa yang dilakukan gadis lugu ini? Dia sama sekali tidak tahu siapa yang ia hadapi. Dia pasti dicincang habis oleh paman Stevan," batin Violet.
__ADS_1
"Pesta perjamuan? Oh... Aku mengingatmu gadis kecil. Kau adalah istri Daniel. Tidak aku sangkah kau gadis yang berani juga ya," Stevan memberi isyarat pada seluruh anak buahnya menurunkan senjata.
"Itulah daya tarikku. Apa kau menyukainya?"
"Menyukainya? Kau memang gadis yang menarik. Tidak heran Daniel yang dingin dan kejam itu dapat jatuh hati padamu. Nah, sayang. Apa boleh aku tahu apa maksud kau menyempatkan diri berkunjung ke markasku ini? Atau lebih tepatnya menerobos," tatapan tajam Stevan tujukan pada Lina. "Aku harap kau memberikan jawaban yang memuaskan, kalau tidak... Aku belum pernah bermain dengan wanita hamil sebelumnya."
"Bermain?" Lina mengelus perutnya dengan padangan menggoda.
"Oh... Tidak, tidak. Yang aku maksud adalah permainan berdarah. Aku rasa kau tidak mengerti maksudku. Kau hanyalah gadis kecil yang polos."
"Ah... Permainan itu" Lina menjentikkan jarinya. "Kebetulan sekali aku juga menyukainya, dan aku sekarang ini sedang mencari teman bermain. Mau membantuku?"
"Apa yang sebenarnya kalian berdua ini bicarakan? Pemainan apa yang kalian maksud?" tanya Violet yang sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan Lina dan Stevan.
"Ppff...... Hahaha.... Aduduuh.... Keponakanmu ini sungguh lucu sekali Tn. Stevan. Hahaha....." tawa Lina terbahak-bahak.
"Dia memang memalukan. Aku benar-benar tidak percaya Ariana bisa memiliki putri yang penakut seperti ini," lirik Stevan pada Violet.
"Karna dia memang bukan putri kandung dari Ariana," nada suara Lina tiba-tiba berubah serius.
"Apa?!" Violet tersentak kaget mendengarnya.
"Apa maksudmu?" pandangan Stevan kembali ke Lina.
"Paman? Kau... Apa tujuanmu datang kesini?!!" nada bicara Stevan meninggi.
"Tidak ada, cuman mau membalas dendam atas kematian ibuku. Dan aku yakin kau sedang mencari ini," Lina menunjukan liontin kunci nya pada Stevan.
"Liontin itu?! Aku ingat betul liontin itu adalah milik Ariana. Kau putri kandung yang sesungguh dari Ariana."
"Tepat sekali."
"Tidak. Apa-apa ini. Bagaimana mungkin Lina putri kandung ibu? Kalau begitu siapa aku?" pikiran Violet kacau begitu mengetahuinya. "Tidak!!! Aku tidak percaya kalau kau putri kandung ibu! Hanya aku satu-satunya putri kandung dari Ariana dan Ducan, putri dari keluarga Cershom. Kau tidak bisa mengaku-ngaku sebagai aku dengan hanya mengandalkan liontin itu saja!"
"Oo.... Sepertinya nona Cershom tidak terima dengan kenyataan ini. Kau bisa berbicara dengan ayah nanti."
"Sudah! Aku tidak peduli siapa putri kandung Ariana yang asli. Sebaiknya kau serahkan liontin itu atau aku akan menembak mu!" ancam Stevan dengan mengacukan pistol pada Lina.
"Baiklah," Lina melepaskan liontinya lalu melemparkannya ke udara. "Tangkap!"
Stevan mengambil ancang-ancang untuk menangkap liontin tersebut.
__ADS_1
"Sekarang Judy, Emma," perintah Lina pada mereka.
Judy dan Emma menggaguk. Dengan laras panjang di tangan mereka yang telah berisi peluru khusus buatan Lina sebelumnya. Emma dan Judy mengacukan senjata mereka dan dengan cepat menembak ke arah para bawahan Stevan.
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan tiada henti mengisi ruangan tersebut namun tidak ada satupun peluru yang mengenai seluruh bawahan Stevan. Bukan karna tembakan Emma dan Judy yang payah cuman memang disegaja. Setiap peluru yang di luncurkan dari laras panjang tersebut begitu menghantam lantai atau dinding akan mengeluarkan asap beracun. Bila asap itu terhirup maka kandungan racun di dalamnya akan melemahkan otot-otot tubuh. Racun ini tidak mematikan, hanya saja berdampak kehilangan tenaga pada korbannya.
"Uhuk! Uhuk!"
"Uhuk!"
"Uhuk!"
"Asap apa ini? Uhuk!"
"Kenapa kaki ku tiba-tiba lemas?"
"Aku juga."
"Seluruh tubuhku terasa lemas sekali."
"Ini gas beracun. Tutup mulut dan hidung kalian! Jangan hirup gasnya! Tembak mereka selagi efek racunnya belum berkerja!" perintah Stevan sambil meluncurkan tembakan, namun sudah terlambat. Para anak buahnya terlanjur menghirup gas tersebut.
Dor! Dor! Dor!
Tembakan yang mereka luncurkan sama sekali tidak tepat sasaran. Tangan mereka terlalu lemah untuk mengangkat senjata mereka agar tetap tegap.
Dor! Dor! Dor!
Emma dan Judy membalas tembakan setelah mengisi senjata dengan peluru yang asli. Lina juga tidak tinggal diam. Ini saat yang tepat untuk menguji kemampuannya menggunakan senjata. Dengan pistol ditangannya Lina menembaki anak buah Stevan. Satu persatu dari mereka tersungkur ke lantai, tewas bersimbah darah.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε