
"Mohon maaf nyonya, anda tidak diperbolehkan berada disini," ujar seorang perawat yang mencegatnya.
"Tidak ada yang bisa melarangku menolong putraku! Lepaskan aku!" bentak Lina pada perawat tersebut.
"Biarkan dokter berkerja. Saat ini mereka sedang berusaha menyelamatkan nyawa putra anda. Jika anda menggangu..."
"Selagi aku ada disini, kenapa aku harus diam dan mempercayakan putraku pada kalian? Lepaskan aku!"
"Ada apa ini? Kenapa membuat keributan di depan pintu ruang operasi?" tanya seorang perawat yang baru keluar dari ruang operasi.
"Mohon maaf, wanita ini mencoba menerobos masuk," jelas salah satu perawat yang mencegat Lina.
"Siapa anda?"
"Saya ibunya remaja yang sedang terbaring di dalam."
"Anda dipersilakan untuk menunggu diluar. Biarkan kami berkerja. Kami akan berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan putra anda. Jangan khawatir. Kami mengerti perasaan anda."
"Kau mau mengusirku? Tidak ada yang bisa menghalangi ku untuk menyelamatkan putraku. Aku mengambil alih operasi ini!"
"Orang biasa tidak bisa mengambil alih operasi sesuka hati. Ini bukanlah permainan. Nyawa seseorang sedang dipertaruhkan disini!"
"Kau pikir aku orang biasa? Aku adalah dokter Veliana, dari rumah sakit Ramona," ujar Lina sambil menunjukan kartu pengenalnya.
"Apa?! I, ini sungguh anda. Alih bedah yang terkenal dengan kecepatan tangannya dalam melakukan operasi dan tidak pernah melakukan kesalahan. Ma, maafkan saya karna tidak mengenali anda," perawat tersebut menundukan kepalanya minta maaf.
"Maka dari itu izinkan aku mengambil alih operasi ini."
"Baik. Saya akan memberitahu dokter segera. Anda dipersilakan untuk bersiap-siap."
__ADS_1
Dibantu salah satu perawat, Lina segera bersiap-siap. Ia mengenakan pakaian khusus untuk melakukan operasi, sarum tangan karet, penutup kepala dan masker bedah. Ia segera masuk ke ruang operasi tersebut. Tepat di atas ranjang operasi itu Lina menatap Julius yang terbaring lemah dengan wajah pucat. Biarpun bukan pertama kalinya Lina mengobati putra atau putrinya saat terluka, tapi melakukan operasi besar seperti ini cuman Julia lah yang perna ia operasi selama ini. Setelah menarik nafas panjang, Lina mengambil alih dokter bedah yang sempat mengoperasi Julius. Memang suatu kesalahan mengambil alih operasi seperti ini, namun itu tidak berlaku pada Lina. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Rica baru memperlambat kan mobilnya begitu memasuki kawasan rumah sakit. Ia menginjak rem tepat di depan pintu utama rumah sakit tersebut.
"Kita sampai! Nisa..."
Rica terdiam saat menoleh ke kursi belakang. Kondisi Julia semakin mengkhawatirkan dengan tangan telah terkulai dan nafas yang tanpa sudah hampir menghilang. Apa masih ada harapan setelah melihat kondisinya saat ini?
Plak!
Satu tamparan Rica lakukan pada wajah sendiri untuk menghalau pikiran jahat dalam kepalanya. Nisa yang sendari tadi diam menatap wajah Julia kini menoleh ke arah Rica.
"Sudah sejauh ini. Jangan sia-siakan usahaku atau aku akan menghajarmu di alam sana!"
Rica keluar dari mobil lalu bergegas masuk mencari pertolongan. Dengan histeris ia meminta dokter untuk segera menolong Julia. Ia beralasan kalau temannya telah diserang oleh seseorang yang tidak dikenal dan dalam kondisi memprihatikan saat ini. Beberapa perawat yang ada segera keluar dengan membawa tempat tidur beroda. Dengan cekatan mereka membantu mengeluarkan Julia dari mobil lalu membawanya menuju ruangan UGD. Salah satu dokter langsung memeriksa kondisi Julia.
"Jangan khawatir Nisa. Percayalah kalau dia akan baik-baik saja."
Rica meraih tangan Nisa dan menggenggamnya erat namun masih tidak ada respon dari Nisa. Tak berapa lama dokter keluar dari ruangan tersebut. Rica lekas berdiri dan menanyakan keadaan Julia.
"Bagaimana kondisi teman saya, dok?"
"Kondisinya sangat kritis. Luka pada perutnya memang tidak terlalu dalam namun ia kehilangan banyak sekali darah. Inilah yang cukup mengkhawatirkan karna kami kekurangan stok darah yang cocok untuknya. Apa lagi ia harus menjalani operasi," jelas dokter itu.
"Apa? Bagaimana bisa kalian kekurangan stok darah? Apa kalian selalu membiarkan persediaan darah kosong?"
"Tentu saja tidak. Kebetulan persediaan darah yang cocok untuk teman anda baru saja digunakan untuk menjalani sebuah operasi pada seorang remaja laki-laki."
__ADS_1
"Lalu, apa tidak ada yang bisa kalian lakukan? Hubungi rumah sakit lain untuk menanyakan apa mereka ada stok darah yang kalian perlukan, atau bila perlu minta dari rumah sakit di kota sebrang untuk mengirimkannya ke pulau ini. Aku mohon selamatkan dia kalau tidak adikku akan depresi karna kehilangan temannya," tunjuk Rica pada Nisa.
"Tenangkan dirimu, nona. Kami masih memiliki persediaan dua kantong darah lagi. Itu mungkin cukup membuat teman anda bertahan sampai stok darah yang kami pesan di bank darah datang. Dan mungkin anda bisa membantu dengan mencari pendonor yang tepat untuk teman anda."
"Pendonor? Benar. Benar juga. Aku harus mencari pendonor darah yang cocok untuk Julia."
"Ambil darahku," kata Nisa membuat Rica menoleh.
"Nisa."
"Golongan darahku O negatif."
"Nona bisa ikut saya untuk pemeriksaan lebih lanjut."
Nisa menganguk. Ia berdiri lalu berjalan mengikuti dokter itu. Sepuluh menit kemudian Nisa kembali ke tempat dimana Rica menunggu. Dengan tubuh tampak lesuh, Nisa mengambil tempat duduk di sebelah Rica. Ia baru saja menyumbangkan darahnya untuk Julia. Tidak ada percakapan yang terjadi diantara mereka. Semuanya senyap sibuk dengan pikiran masing-masing. Julia saat ini telah dipindahkan ke ruang operasi untuk menjalani pengobatan selanjutnya.
Tak berapa lama seorang perawat datang untuk mengantarkan barang-barang pribadi Julia seperti hp, jam tangan, perhiasan dan seragam sekolahnya. Setelah menerima barang-barang tersebut Rica berinisiatif menelpon orang tua Julia melalui hp Julia sendiri. Ia menggapai hp itu dan langsung mencari nomor telpon Tn. Flors atau Tn. Flors namun yang pertama ia temukan adalah nomor telpon Julius. Tanpa pikir panjang Rica segera menghubungi nomor tersebut.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε