Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Saingan


__ADS_3

"KYAAAAA.........! ! !"


Pekik seorang gadis menggema di seluruh rumah. Ia berlari turun mencari kakaknya yang ia dapati di ruang santai sambil membersikan senjata rakitannya.


"Ada apa Lexi? Kenapa kau berteriak hesteris begitu?" tanya Rylie tampa melirik adiknya.


"Kakak coba lihat ini," Lexi dengan senyum lebar menunjukan layar hpnya pada Rylie. "Pria yang kutaksir hari itu mengirim email untuk mengajakku makan malam. Aaa.... Senangnya."


"Sudah kuduga dia akan jatuh hati padamu. Siapa menduga adikku begitu cantik sampai membuat meleleh hati seluruh pria di dunia ini," puji Rylie sambil mencubit pipi Lexi.


"Aah... Kakak, aku jadi malu," seketika wajah Lexi merona. "Tapi aku benar-benar tidak menyangka kak. Setelah rencana hari itu gagal, hari ini ia mala berinisiatif sendiri mengajakku makan malam."


"Mungkin ia sudah tergila-gila padamu."


"Aku harus tampil sempurna untuk acara makan malam ini. Aku harus pergi ke salon kecantikan dan membeli gaun yang paling mewah serta perhiasan. Akan kubuat ia semakin tergila-gila padaku dan mungkin ia akan segera melamarku."


"Berhentilah menghayal disini. Sebaiknya kau cepat-cepat pergi bersiap. Lakukan apa yang kau mau."


"Terima kasih kak. Kakak yang terbaik," Lexi mengecup sekali pipi kakanya itu lalu berlari pergi.


"Oh, iya Lexi. Siapa nama pria yang kau taksir itu? Aku lupa," teriak Rylie membuat langkah adiknya terhenti di pintu.


"Namanya Daniel. Aku pergi dulu kak. Sampai jumpa," Lexi lekas pergi sambil melambaikan tangan.


"Daniel? Nama ini seperti perna aku dengar sebelumnya," pikir Rylie sambil memutar matanya ke atas.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Pagi ini Lina diantar Qazi pergi ke kampusnya. Qazi kini tidak berani lagi meremehkan Lina, apalagi setelah mengetahui Lina dapat membuat racun yang begitu mengerikan. Bisa-bisa nyawanya berakhir ditangan gadis kecil ini. Tapi Qazi tetap menjalankan tugasnya mengawal Lina kemanapun ia pergi. Dengan status Lina yang mulai menyebar sebagai kekasih dari Daniel membuat ia menjadi incara semua orang yang menjadi musuh Daniel, baik itu musuh dalam urusan bisnis ataupun dunia bawah tanah yang kejam. Mereka masih menunggu kesempatan untuk menyerang.


Lina yang tadinya sangat membenci Daniel juga kini tidak lagi menganggap Daniel sebagai pria brengsek. Perlakuan Daniel yang telah berubah sedikit baik walau masih suka ngeselin membuat Lina menarik padangan buruknya terhadap Daniel. Di tambah lagi semua bawahan Daniel yang jauh dari bayangannya tentang dunia Mafia yang kejam. Mereka semua memang bersikap disiplin, tegas dan dingin namun tidak ada satupun diantara mereka yang bersikap kasar padanya. Sedangkan dua pelayan wanita itu telah menjadi teman Lina di rumah Daniel. Saat Daniel tidak ada mereka bercengkrama seperti seorang teman biasa. Becanda tertawa bersama saling bercerita layaknya teman perempuan.


Lina tidak menyangka selama ia tinggal dikota selain Ira temanya dikampus tidak ada lagi yang memperlakukan dirinya sebaik ini. Semua orang menganggap ia cuman gadis miskin yang beruntung. Dirinya sering di caci oleh mereka karna memakai pakaian yang kusam dan lusuh atau memakai barang-barang murahan. Sebab itu lah Lina akan menyiksa mereka dengan keji jika perlakuan mereka sudah kelewatan batas.

__ADS_1


"Lina!"


Panggil seseorang membuat Lina menoleh. Bukan Ira yang selalu menyapanya tapi kali ini seorang pria. Pria tinggi berambut pirang kecoklatan berlari menghampirinya.


"Richard?! Kapan kau kembali dari luar negeri?" sapa balik Lina pada pria itu.


"Kemarin malam. Aku benar-benar merindukan tempat ini."


"Alah, baru lima hari kau keluar negeri sudah rindu tempat ini."


"Em... Siapa pria itu? Ia terlihat akrab dengan Lina," gumang Qazi yang memperhatikan mereka sambil bersandar di mobil.


Mari kuberitahu padamu Qazi. Pria itu bernama Richard, salah satu mahasiswa terpopuler di Universitas kedokteran ini. Baru pulang dari Australia karna menghadiri acara pernikahan saudara. Berwajah menawan membuat semua gadis tergila-gila padanya namun ia sudah memiliki dambahan hati. Siapa dia? Tentu saja orang yang sedang bersamanya saat ini, Veliana. Entah sudah berapa kali Richard menyatakan cintanya pada Lina tapi selalu ditolak. Selain Lina memang tidak memiliki perasaan terhadap Richard, ia cuman mau menjalankan kehidupan kampusnya yang tenang. Mengetahui Richard menyukainya saja hampir seluruh gadis di kampus nya menaruh tatapan benci pada Lina. Benar-benar bukan hal menyenangkan jika kau selalu mendapat ancaman dan teror dari para gadis yang kecewa, bukan? Lina sedikit kewalahan membalas mereka.


"Hei... Kau punya oleh-oleh untuk tidak?" Lina menyenggol Richard menggunakan siku nya.


"Tentu saja. Khusus untuk mu aku belikan kau... Ini"


Richard menyodorkan sebuah kotak persegi panjang berwarna gelap. Lina menerima itu dan langsung membukanya. Isi dari kotak tersebut iyalah sebuah Bumerang dengan motif cantik menghiasinya. Lina mengeluarkan Bumerang itu dan hendak melemparkannya.


"Mencobanya, menurutmu?" dengan wajah polos Lina berkata.


"Itu cuman untuk pajangan. Jika kau lempar disini nanti mengenai orang bagaimana?"


"Oh..." Lina kembali menyimpan Bumerang itu lalu menutup kotaknya. "Aku mungkin bisa mencobanya di tempat lain."


"Em... Lina, sebenarnya aku masih mengharapmu. Aku tahu kau cuman menganggap hubungan kita ini hanyalah hubungan pertemanan, namun aku tidak akan menyerah Lina. Aku benar-benar mencintaimu dan akan selalu menunggumu menerima ku," Richard menggegam tangan Lina sambil menatap dalam mata gadis yang dicintainya itu.


"HAH............!!! Apa-apaan ini?!! Tuan mudaku memiliki saingan! Aku harus memberitahu tuan muda hal ini," Qazi mengeluarkan hpnya mencoba menghubungi tuan mudanya. "Tapi, tunggu. Jika aku memberi tahu tuan muda... Ia pasti akan mengamuk dan mungkin saja akan melenyapkan keluarga pria ini. Mengingat pria ini salah satu teman Lina... Ia pasti tidak senang jika tuan muda melenyapkannya. Itu pasti buruk untuk hubungan mereka. Eh? Kenapa aku bisa berpikiran seperti itu? Sadarlah Qazi! Kau itu anggota elit dari Black Mamba. Kenapa kau bisa bersikap berbelas kasihan begini!! Hah! Keputusannya ada pada Lina. Jika ia ingin temannya itu selamat sebaiknya ia tidak akan perna menerima pernyataan pria itu!"


"Aku sudah perna bilang padamu berkali-kali Richard, aku tidak memiliki perasaan padamu. Aku sungguh mengangapmu hanya sebagai teman baik ku. Aku mohon berhentilah. Aku yakin kau bisa mendapatkan yang lebih baik dari pada aku," Lina menepuk pundak Richard berusaha menyakinkan dia untuk berhenti mengejarnya.


"Aku tidak akan menyerah mau sampai kapanpun itu. Aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta padaku."

__ADS_1


"Terserah kau saja, jawabanku tetap sama," batin Lina.


"Selamat pagi kalian berdua!!" kata Ira muncul tiba-tiba mengagetkan mereka berdua.


"Aaaa! Ira..........!" bentak Richard dan Lina bersamaan.


"Hihi....... Maaf. Hei Richard, sejak kapan kau pulang? Apa kau bawa oleh-oleh untukku?" tanya Ira dengan tatapan berharap.


"Tadinya ada sekarang tidak ada lagi," kata Richard sambil memalingkan muka dengan kesal.


"Kenapa bisa?!! Kau pelit sekali."


"Salah sendiri membuat kami hampir jantungan."


"Cuman dikagetkan begitu saja sudah ngambek. Pria macam apa kau? Cepat berikan padaku!" Ira mengejar Richard meminta oleh-olehnya.


"Cobalah tangkap," Richard berlari menghindari kejaran Ira sambil mengejeknya.


"Kemari sini kau!!"


"Hihi...." Lina cuman tertawa melihat tingkah kekanak-kanakan dua temannya itu. Mereka jauh lebih serasi jika menjadi pasangan.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2