Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Teman-teman


__ADS_3

"Waktu itu kau bilang mau bersama temanmu itu tapi nyatanya kau masih ada disini," ujar Rica karna sempat teringat kalimat terakhir Julia sebelum tidak sadarkan diri saat perjalanan ke rumah sakit.


Wendy menghadiahkan satu pukulan dibelakang punggung Rica. "Apa maksud perkataanmu itu, Rica? Apa kau menginginkan Julia pergi?"


"Aw! Maaf, aku tidak bermaksud begitu."


"Aku diusir," kata Julia membuat mereka terdiam dan menoleh padanya. "Gerda mengusirku. Dibilang, 'apa yang kau lakukan disini? Sudah aku katakan jangan mengikutiku!' lalu dia mendorongku pergi. Awalnya aku bersikeras mau bersamanya tapi tiba-tiba ibunya datang. Ibu Gerda memarahiku habis-habisan. Dia bilang, kehidupanku itu masih panjang dan belum saatnya aku ada disana. Dia menasehatiku untuk segera kembali karna aku telah membuat khawatir keluarga dan teman-teman ku."


Semuanya terdiam sesaat begitu mendengar itu. Angin lembut perlahan bertiup menerpa rambut mereka. Julia membetulkan helaian rambutnya yang menutupi wajahnya.


"Kehilangan seseorang yang kita sayang, baik itu keluarga maupun teman, sahabat sejati memang menyakitkan. Tidak ada yang mau menginginkannya. Tapi kita juga tidak boleh menyerah untuk hidup ini. Orang-orang yang pergi meninggalkan kita pasti tidak mau melihat kita terus terpuruk dalam kesedihan," kata Febby memecah keheningan.


"jangan bersedih Julia. Kan masih ada kami yang akan selalu menjadi temanmu," sambung Marjorie.


"Sewaktu kecil mamaku sering bilang kalau orang yang telah meninggal dunia akan berubah menjadi bintang di langit. Jadi jika kau merindukan mereka, kau tinggal melihat bintang-bintang tersebut," ujar Nisa.


"Bintang?"


"Iya. Saat aku merindukan ibuku, setiap malam aku selalu memandangi bintang."


"Baiklah, akan aku coba."


"Hei, hei, Julia. Bagaimana kalau kita balapan setelah pulang ini?" ajak Rica mencoba mengalihkan perhatian Julia.


"Balapan sepeda?"


"Bukan. Tentu saja balapan yang sesungguhnya. Apa kau lupa dengan tantangan ku waktu itu?"


"Tantangan? Kapan kau mengatakannya?" tanya Julia sambil mengingat-ingat.


"Kak Rica, bagaimana Julia tahu soal tantangan itu? Sewaktu kau mengatakannya saja Julia sudah tidak sadarkan diri," ujar Nisa.

__ADS_1


"Hah? Tidak sadarkan diri? Memangnya kapan sih kau menantang ku balapan?" Julia malah semakin dibuat bingung. Dia memang sedikit tidak terlalu ingat percakapan mereka sewaktu Rica mengantarnya ke rumah sakit.


"Salahku, tapi kau tidak juga harus menunjukan ekspresi bodohmu itu!" Rica berusaha menahan amarahnya. Entah mengapa itu membuat ia kesal melihat raut wajah Julia. "Baiklah. Bagaimana kalau kita balapan hari ini? Aku menantangmu."


"Siapa takut. Aku terima tantanganmu," jawab Julia dengan tegas.


"Julia, apa kau yakin? Kakakmu bisa marah loh jika tahu kau balapan," kata Marjorie mengingatkan.


"Tidak akan. Kakak ku itu tidak akan tahu selama tidak ada yang memberi tahukannya."


"Tidak diberi tahu juga dia akan tahu," batin Marjorie.


"Jangan mencoba melarangnya Marjorie, atau kau juga mau ikut balapan bersama kami? Aku ingin tahu kemampuan mengemudi dari anggota elit sebaik apa. Atau jangan-jangan kau tidak bisa mengendarai mobil sama sekali?" pancing Rica agar Marjorie juga mau ikut.


"Jaga kata-kata mu, Rica! Aku belajar mengemudi dari ahlinya. Aku terima tantanganmu dan akan kutunjukan kehebatan ku," dengan mudah Marjorie terpancing.


"Kalau begitu ayok. Jangan banyak ngomongnya. Kita buktikan sekarang siapa yang lebih hebat."


"Nanti dulu. Jika kalian sungguh mau balapan, dari mana kalian mendapatkan mobilnya? Apa kalian lupa kalau tidak ada satupun dari kita yang bawa mobil?" kata Wendy.


"Kan ketiga tuan muda itu masing-masing bawa mobil. Kita tinggal pinjam mobil mereka saja," ujar Rica.


"Maksud kak Rica ketiga tuan muda itu, Alwen, Sean dan Yusra?" tanya Nisa memastikan.


"Siapa lagi?"


"Tapi apa mereka mau meminjamkan mobil mereka?" tanya Wendy merasa ragu.


"Pasti mau. Aku yang akan bicara pada mereka."


Karna sepakat untuk balapan sore ini, mereka bergegas kembali ke penginapan. Selesai makan siang, mereka pergi ke garasi untuk memilih mobil mereka. Rica telah menceritakan rencana balapan ini dan maksud ingin meminjam mobil ketiga tuan muda, Yusra, Alwen dan Sean. Mendengar para gadis mau balapan, mereka langsung tertarik untuk melihatnya. Sesuatu kegiatan yang cukup unik yang jarang dilakukan oleh kebanyakan para gadis pada umumnya. Mereka bertiga segera menyetujui untuk meminjamkan mobil mereka. Sampai di garasi sudah ada tiga mobil sport menyambut mereka. Julia terlihat sangat kegirangan mengitari ketiga mobil tersebut.

__ADS_1


"Wah... Mobil kalian sungguh keren-keren. Aku mau pakai yang ini," tunjuk Julia pada salah satu mobil berwarna merah. "Punya siapa ini?"


"Mobil itu milik..." Alwen tidak meneruskan jawabannya. Ia cuman melirik ke si pemilik mobil.


"Punyaku," jawab Sean.


"Oh, ternyata punyamu, Sean. Aku pinjam, boleh ya?" tanya Julia sambil tersenyum.


Melihat senyum manis itu membuat Sean memalingkan wajahnya. "Tentu saja boleh."


"Terima kasih," dengan gembira Julia menerima kunci mobil dari Sean.


Balapan mereka bertiga diadakan di jalanan yang tidak jauh dari penginapan. Mereka mulai bersiap-siap di mobil masing-masing. Julia menggunakan mobil Sean, sedangkan Marjorie menggunakan mobil Yusra yang berwarna silver dan Rica menggunakan mobil Alwen dengan warna hijau. Ketiga mobil berwarna mencolok itu siap di jalur star dan dengan mesin yang telah menyala. Sorak dari Wendy, Febby, Nisa, Alwen dan Sean yang menjadi penonton begitu bersaut-saut mendukung para pembalap, yaitu Julia, Rica dan Marjorie.


"Kalian siap para gadis?" kata Yusra yang kali ini menjadi pemegang bendera. "Siapa yang sampai kesini dalam satu kali putaran dia lah pemenangnya."


Hitung mundur dilakukan, bendera berkibar penanda balapan dimulai. Dengan kealihan berkendara yang mereka miliki, Julia, Rica dan Marjorie menancap gas secepat mungkin. Ketiga mobil itu melesat cepat di jalanan beraspal dan terlihat sengit saling mendahului. Sejauh ini mereka masing terlihat seimbang. Sementara itu di dalam penginapan, Julius dibuat bingung dengan senyapnya penginapan tersebut. Tidak ada seorangpun yang ia temui selain para pelayan. Julius mencoba mencari mereka di setiap ruangan namun tidak ketemu. Saat ia menuju dapur, Julius mendapati Kety disana sedang bertanya-tanya tips dan trik soal memasak pada koki. Ia sangat menyukai setiap hidangan yang disajikan dan teringin mempelajari. Kebetulan koki di penginapan itu sangat baik dan mau membagi ilmunya pada Kety.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2