
"Aku baru tahu kalau kau bisa menjahit, Daniel?" tanya Briety sambil berjanji mendekat bersama yang lain.
"Bukan hal mudah bagiku melakukan kegiatan yang penuh ketelitian itu. Sejujurnya boneka itu adalah percobaan yang ke 42 dan tak terhitung jumlahnya jariku tertusuk jarum. Aku hampir prustasi dan hendak menyerah. Tapi begitu aku melihat senyum manis istriku ini, ia seperti memberi semangat untukku terus mencoba. Aku senang ia menyukainya."
"Kau sudah berusaha keras, dan boneka ini sangat sempurna."
"Baiklah, mama dan papa sudah puas dengan hadiahnya, bagaimana kalau kita makan kuenya? Aku sudah lapar," kata Adelia.
"Ya sudah, kita makan kue sekarang," Lina mengelus lembut rambut Adelia.
Mereka semua berjalan menuju meja makan yang telah tersedia. Sebuah kue tiga tingkat berhiaskan berbagai macam buah bery dan dikeliling cupcake dipinggiran kue paling bawahnya sungguh sangat sayang jika harus dimakan. Lina membutuhkan waktu seharian ini membuat dan menghias kue tersebut. Potongan pertama yang cukup besar diletakan dalam satu piring untuk Lina dan Daniel santap bersama, potongan selanjutnya diberikan masing-masing pada Julius, Julia, Adelia dan Adelio, kemudian Rayner, Briety, Ducan, Via dan Kaito, suami Via yang menikah 3 tahun lalu. Sisanya dibagikan pada pelayan dan penjaga rumah untuk dinikmati bersama-sama.
Setelah makan kue, kegiatan malam itu berlanjut ke lantai dansa. Karna Qazi tidak ada untuk bermain piano seperti dulu, maka putra-putri Daniel dan Lina lah yang akan menggantikan bermain musik. Julius bermain biola, Julia bermain suling giok yang baru ia dapat di acara pelelangan seminggu yang lalu, Adelia bermain piano dan Adelio bermain harmonika. Rencana yang telah disusun sedemikian rupa berjalan lancar dan persis seperti apa yang diharapkan.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Keesokan paginya Lina terbangun dan mendapati satu kotak hadiah tepat di atas selimut dihadapannya. Lina sedikit bingung dengan kotak itu. Siapa yang memberikan hadiah ini? Apa Daniel? Tapi bukankah Daniel sudah memberikan hadiahnya semalam? Lina melirik ke sebelahnya dan tidak mendapati Daniel disampingnya. Ia bangkit lalu menyadarkan tubuhnya. Diperhatikannya kotak tersebut, dibolak-balik dan sedikit Lina kuncang. Lina cukup penasaran dengan isinya. Baru hendak membukanya, Daniel melangkah masuk ke kamar.
"Kau sudah bangun. Apa kau suka hadiahnya?" tanya Daniel sambil mengambil tempat duduk di tepi tempat tidur.
"Oh, hadiah ini darimu?"
"Iya. Itu hadiah keduamu. Bukalah."
Lina segera membuka kotak tersebut. Sebuah cambuk pink bergagang hitam Lina dapatkan dari dalam kotak itu.
"Wah... Ini sungguh cantik. Tapi kenapa kau sebuah cambuk?"
"Untukmu bermain," bisik Daniel membuat mata Lina melebar. "Aku sudah berhasil menangkap dalang dibalik kerusuhan di acara pelelangan minggu lalu."
"Sungguh? Dimana dia sekarang?"
"Di pantai. Ia baru saja melewati malam yang panjang disana."
"Aku sudah tidak sabar. Sudah lama aku tidak bermain."
"Aku akan mengantarmu, tapi sebelum itu kau mandi dulu."
Lina merentangkan kedua tangannya pada Daniel. "Gendong."
__ADS_1
"Kau sudah besar masih minta digendong."
"Siapa suruh kau terlalu kasar semalam. Pinggangku masih terasa sakit tahu."
"Baiklah. Maafkan aku ya. Habis kau begitu lezat."
Daniel menggendong tubuh kecil Lina dan mengantarnya ke kamar mandi. Selesai mandi dan berpakaian, mereka turun untuk sarapan. Jam 10.49 Daniel dan Lina berangkat menuju vila Krisan bersama ke-empat anak mereka. Sampai disana, tepat di pinggir pantai sudah terlihat seorang pria yang terikat di sebatang kayu dari kejauhan. Pria itu sudah lemas akibat semalaman merasakan hembusan angin dingin yang berasa dari laut. Ia sepertinya mengalami hipotermia. Pria itu mengangkat wajahnya begitu melihat Daniel dan Lina mendekat.
"Selamat pagi. Bagaimana rasanya angin sejuk semalam?" sapa Daniel.
"Kau..." pria itu menatap tajam pada Daniel penuh kebencian. "Lepaskan aku!"
Bugk!
Satu cambukan Lina hadiahkan sebagai sapaan pertamanya.
"Selamat pagi. Bagaimana perasaanmu di pagi cerah menjelang siang ini? Siapa namamu?" tanya Lina dengan polosnya.
"Apa kau sudah gila?!! Siapa kau sebenarnya?" bentak pria itu pada Lina.
"Siapa aku? Kau bisa memanggilku Lina atau... Pemilik dari tempat dimana kau buat kerusuhan seminggu yang lalu."
"Tidak mungkin! Aku tidak percaya pemilik dari rumah lelang terbesar di kota ini adalah gadis kecil seperti mu! Jangan membual!"
"Tcih!" pria itu membuang muka dari Lina. Ia tidak sadar mengakuinya sendiri tanpa ancaman sedikitpun.
"Kenapa kau melakukannya? Apa tujuanmu?" tanya Lina sambil mengelus cambuknya lalu melirik kembali pria itu
"Hm! Kau tidak perlu tahu alasannya. Mau sampai mati pun aku tidak akan memberitahu mu!"
"Baiklah, akan aku kabulkan."
Lina mengayunkan cambuknya bertubi-tubi. Ujung cambuk yang terbuat dari besi itu semakin menambah parah luka yang dialami pria tersebut. Tangan, bahu, perut, dada, pinggang, paha, betis bahkan wajah kini dipenuhi darah segar. Suara teriakan kesakitannya terdengar acak bersamaan dengan hemburan obak dan hembusan angin hangat bertiup kencang.
"Aku masih memberimu satu kesempatan. Mau bicara atau tidak?" Lina menghentikan cambukannya.
"Tidak akan!" bentak pria itu terdengar menyedihkan.
"Kalau begitu..."
__ADS_1
"Mama lihat! Kami dapat banyak sekali bulu babi" teriak Adelia sambil berlari menghampiri mamanya dengan satu bulu babi ditangannya.
"Adelia jangan menyentuh bulu babi dengan tangan kosong. Tanganmu bisa tertusuk duri nya loh," ujar Daniel.
"Tidak sakit juga, kok," Adelia memainkan bulu babi tersebut seperti mainan yang tak berbahaya.
"Memang berapa banyak bulu babi yang kalian dapat?" tanya Lina.
Lina melirik Julius, Julia dan Adelio yang ada disamping kanan tidak terlalu jauh darinya. Mereka terlihat bersenang-senang mencari hewan-hewan kecil yang terjebak dicela bebatuan karang akibat pasang surut air laut, saling menciprati air antara satu sama lain dan sesekali berfoto riang.
"Satu ember penuh, dan ada beberapa binatang kecil lainnya seperti ikan, kelomang, kepiting, udang, kerang dan banyak lagi."
"Boleh mama meminta seember bulu babinya?"
"Tentu saja boleh."
Setelah menyerahkan satu bulu babi yang ada di tangannya, Adelia berlari kembali menuju saudara-saudarinya. Sambil menunggu anaknya membawakan seember bulu babi, Lina kembali ke mobil untuk mengambil sesuatu. Sebuah kotak putih berkunci sandi nomor.
"Ini bulu babinya ma," kata Julius sambil meletakkan ember yang berisi bulu babi itu di pasir pantai.
"Untuk apa mama dengan bulu babi itu?" tanya Julia yang baru menghampiri bersama Adelio dan Adelia.
"Tentu saja untuk orang yang terikat disana. Karna ia tidak mau memberitahukan tujuannya membuat kerusuhan di rumah lelang, mama ingin membuat ia merasakan sedikit racun manis dari bulu babi ini," jelas Lina sambil menyeringai.
"Ha! Kau pikir racun bulu babi itu bisa membuatku membuka mulut?!! Racunnya tidak lebih dari sengatan seekor serangga!"
"Itu menurutmu?"
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε