
Delfa mengambil kesempatan mematungnnya Rica untuk merebut tongkat baseball itu kembali dan berhasil. Tidak sampai disitu, Delfa memukul kepala Rica sekuat tenaga. Rica meringkuk kesakitan sambil memengangi kepalanya. Julia dan Nisa cukup terkejut atas apa yang dilakukan Delfa. mereka tidak menyangka kalau Delfa benar-benar memukul Rica, temannya sendiri.
"Keterlaluan kau Delfa! Aww!" Rica masih merasakan sakit di kepalanya serta perih. Sepertinya pukulan tersebut telah membuat kepalanya terluka dan mengeluarkan darah.
Dengan tatapan dingin, Delfa mengatakan ujung tongkat baseball tepat dibawah dagu Rica. "Kau sudah tidak berguna lagi. Terima kasih telah membawa Julia untukku," kata Delfa pelan dan mungkin cuman di dengar oleh Rica.
Sambil menyeringai jahat, Delfa mengayunkan tongkat baseballnya, hendak memukul Rica lagi. Namun dengan sigap Julia menahan tongkat baseball itu. Tatapan tajam yang semulah ditujukan pada Rica kini berbalik ke Julia.
"Sudah cukup Delfa. Kau tidak boleh menghakiminya seperti ini. Kau terlalu berlebihan. Apa kau mau membunuhnya?"
"Kau tidak berhak melarangku melakukan apa yang aku mau!"
Delfa kini mala mengayunkan tongkat baseballnya sekuat tenaga ke arah Julia. Ia menyerang Julia secara bertubi-tubi tanpa memberi jeda bagi Julia untuk melawan.
"Delfa, hentikan ini! Kenapa kau menyerang ku?" Julia terus menghindari setiap ayunan tongkat baseball itu.
"Karna aku membencimu!" bentak Delfa.
Tanpa di duga Delfa ternyata menyembunyikan belati dan menyerang Julia menggunakan belati tersebut. Julia seketika menangkis belati tersebut menggunakan pistolnya lalu menerjang Delfa sampai termundur cukup jauh.
"Maafkan aku. Aku terpaksa melakukannya."
"Hehe... Kau masih bisa mengucapkan kata maaf. Simpan saja kata maaf itu karna aku sama sekali tidak membutuhkannya. Aku tidak akan perna memaafkanmu, Julia!"
"Hah? Bisa tolong jelaskan apa yang terjadi? Jujur saja aku sama sekali tidak mengerti dengan semua ini. Pertama Lady Blue meminta Rica untuk menculik Nisa agar aku datang kesini, tapi kau selaku teman Rica tiba-tiba datang dan mengatakan kalau kau bukan teman Rica lagi dan mau membantuku menyelamatkan Nisa. Tapi nyatanya kau malah menyerang ku karna kau benci padaku. Yang benar saja! Memikirkannya saja sudah membuat kepalaku pusing!" Julia mencoba meluruskan apa yang terjadi namun sepertinya tidak berhasil.
"Kau benar-benar tidak berubah Julia. Kau masih tetap konyol dan bodoh seperti dulu."
"Dulu?" Julia malah dibuat tambah bingung dengan kalimat tersebut.
__ADS_1
"Iya, dulu. Dulu kita berteman, bukan? Teman baik ku yang katanya melebihi saudara."
Delfa melepaskan rambut palsu yang menutupi rambut aslinya lalu ia juga menghapus riasan wajahnya. Wajah Delfa perlahan-lahan berubah menjadi sosok yang begitu dikenal Julia. Mata abu-abu itu, rambut hitam terurai panjang serta senyuman manisnya yang sempat terlupakan membuat Julia tidak bisa menahan air mata untuk lolos dari pelupuk matanya.
"Gerda... I, ini sungguh kau? Hiks... Kau masih hidup," Julia merasa tidak percaya atas apa yang dilihatnya.
"Tentu, aku masih hidup. Aku sengaja memalsukan kematianku agar bisa membalasmu," tunjuk Gerda ada Julia.
"Tunggu dulu. Gerda? Delfa? Lady Blue? Kalian merupakan satu orang yang sama?" tanya Rica memastikan karna gadis yang Julia panggil Gerda ini merupakan gadis yang sama yang mengaku sebagai Lady Blue.
"Lady Blue? Jadi Gerda, kau adalah wanita dibalik julukan Lady Blue?" Julia cukup kaget atas apa yang barusan ia dengar ini.
"Itu benar. Aku adalah Lady Blue, seorang wanita yang menggemparkan dunia bawah tanah di kota sebrang, yang memiliki kekuatan setara dengan keluarga tersembunyi di ibu kota," jelas Gerda dengan bangganya.
"Tapi Gerda, kenapa kau melakukan semua ini?"
"Kenapa? Tentu saja aku ingin menjadi satu-satunya wanita termuda yang menempati kedudukan tertinggi di dunia bawah tanah. Setelah berhasil mengalahkan keluarga tersembunyi, maka impianku itu akan tercapai. Tidak akan ada yang bisa mengalakanku termasuk keluarga Flors mu itu, Julia."
"Apa yang kau tahu tentang dunia bawah tanah? Kau itu cuman gadis yang berasal dari keluarga kaya, tidak lebih."
"Benar juga. Tidak seperti Nisa, Aku sama sekali tidak perna memberi tahu Gerda soal mafia Black Mamba berada dibawah kendali keluarga Flors. Sebab dulu Gerda adalah gadis yang lemah lembut, bahkan semut sekalipun tidak berani ia membunuhnya. Aku benar-benar tidak menyangkah ia bisa berubah menjadi seperti ini. Tapi ada yang aneh. Jika Gerda merupakan Lady Blue. Lantas kenapa dia tidak tahu soal ini?" pikir Julia.
"Sekarang kelompok Dragon sedang menyerang kediaman keluarga tersembunyi. Sebentar lagi aku akan mengirim kelompok lainnya untuk menyerang setiap markas cabang mereka dan akhirnya memusnahkan keseluruhannya. Keluarga tersembunyi bukanlah apa-apa. Tidak akan ada yang bisa menghetikanku. Hahaha..." tawa Gerda membuat Rica dan Nisa begidi ngeri.
"Padahal kau dulu tidak seperti ini. Kau gadis yang lemah lembut dan baik. Kenapa? Kenapa kau berubah, Gerda?"
"Itu juga karna dirimu. Kau itu pembohong besar Julia! Kau bilang kalau kau mengangapku sebagai temanmu, saudaramu, tapi nyatanya tidak. Kau sama sekali tidak menganggap ku sebagai teman apalagi saudara!"
"Apa yang kau bicarakan ini Gerda? Kau temanku. Sejak kapan aku membohongimu?"
__ADS_1
"Semua orang juga sudah tahu hal itu. Kau mendekati ku cuman mencari sensasi dari orang lain saja. Oh, Julia yang sangat baik, ramah ke semua orang, begitu royal ke rakyat kecil. Kau cuman mau semua pujian itu, kan?!!" bentak Gerda meluapkan emosinya.
"Aku bahkan sama sekali tidak memperdulikan perkataan mereka. Kenapa kau malah berpikir kalau aku mendekati mu cuman sekedar mencari sensasi?"
"Sudahlah Julia, tidak perlu mengelak lagi. Kau pura-pura baik di depanku tapi dibelakang ku... Kau cuman menganggap ku sebagai orang asing!"
"Siapa bilang seperti itu padamu?" Julia mlah semakin mengangkat sebelah alisnya.
"Semua orang di sekolah bilang seperti itu padaku. Sewaktu kita SMP. Mereka mengatakan kalau kau hanya berpura-pura menjadi temanku. Siapa aku? Aku cuman gadis miskin, sedangkan kau putri dari keluarga kaya. Mana mungkin orang sepertimu mau berteman denganku," nada bicara Gerda merendah.
"Kau termakan hasutan mereka. Aku sama sekali tidak memperlakukan mu seperti itu. Kau sungguh temanku, Gerda."
"Tidak! Aku tidak mempercayainya. Aku pikir kau berbeda, Julia. Satu-satunya orang yang menganggap ku ada dan mau berteman denganku. Tapi nyatanya kalian orang-orang dari kalangan atas itu sama saja. Kalian cuman menganggap kami sebagai orang rendahan yang tidak berguna dan selalu dicaci-maki dan dipermainkan sesuka hati kalian."
"Gerda..."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε