Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Melupakan seseorang


__ADS_3

Setelah jam makan siang, sekantong darah golongan O negatif diantarkan ke ruangan inap dimana Julia berada. Salah satu perawat segera membantu Lina mentrasferkan darah tersebut ke tubuh Julia. Melalui selang kecil, darah mengalir dari kantong darah masuk ke tubuh Julia. Keadaan Julia semakin membaik setelah menerima darah tersebut. Tubuhnya sedikit mulai bertenaga. Cuman terjadi percakapan biasa diantara mereka saat ini seperti mengenai keadaan setelah penyerangan yang terjadi. Julius sudah terjaga dari tidurnya dan telah menerima rangkaian bunga yang Adelio buat untuknya. Di suasana yang tenang itu, Lina terlihat termenung memikirkan sesuatu.


"Ada apa kucing kecil? Apa yang kau pikirkan?" tanya Daniel yang duduk di sofa sebelah istrinya.


"Aku cuman merasa ada satu orang yang aku lupakan, tapi siapa?" kata Lina sambil berusaha mengingat orang tersebut.


"Memangnya siapa? Samuel? Dia tadi sempat telpon kalau masih dalam perjalanan kesini," ujar Daniel mencoba menebak-nebak.


"Bukan. Bukan dia."


"Kalau ayah dan ibu kemungkinan besok akan datang."


"Jika soal itu aku sudah tahu. Ibu mertua sendiri yang bilang padaku akan datang besok pagi."


Lina terus berpikir siapa orang yang ia lupakan namun tetap tidak bisa mengingatnya. Tiba-tiba tiada angin dan hujan pintu ruangan tersebut terbuka paksa yang membuat semua orang menoleh.


"Julius!!" teriak orang yang menerobos masuk begitu saja ke ruang inap.


"Ha?! Bibi Via?!" Julius seketika kaget lalu bersembunyi dibalik tubuh Marjorie.


"Via? Oh astaga, bagaimana aku bisa melupakan dia. Karna semua kekacawan ini aku tidak sadar kalau Via tidak ada," kata Lina yang akhirnya ingat siapa yang ia lupakan.


"Darimana saja kau? Bukankah kau kan diminta menjaga Julius dan Julia?" tanya Daniel


"Kenapa kakak tidak tanyakan saja pada putramu?" tunjuk Via pada Julius. "Bisa-bisa nya dia memberiku obat tidur dan mengunciku di salah satu kamar di vila. Aku baru keluar dari kamar tersebut setelah kak Samuel pulang. Kalian tidak tahu betapa terkejutnya aku mengetahui kalau Julius dan Julia terluka parah."


"Selamat siang semuanya. Maaf karna kami terlambat kami mampir sebentar di restoran sebentar untuk makan siang," kata Samuel yang baru masuk. "Bagaimana keadaan Julius dan Julia?"


"Seperti yang kau lihat, mereka sudah sadar tapi keadaan mereka masih lemah," kata Daniel.


Samuel menghampiri tempat tidur Julia. "Bagaimana perasaanmu, Julia?"


"Sudah lebih baik," jawab Julia.


"Cepat sembuh ya, Julia. Oh, iya. Ini sedikit oleh-oleh dari kepalah keluarga tersembunyi," Samuel meletakan sebuah bingkisan diatas meja disebelah ranjang Julia.


"Julia saja. Apa untukku tidak ada? Dan lagi paman Samuel sepertinya cuman mengkhawatirkan Julia," ujar Julius yang masih menahan tubuh Marjorie agar ia bisa menyembunyikan wajahnya dari Via.


"Untuk apa aku mengkhawatirkan mu? Kau terlihat baik-baik saja."


"He, selama ada kekasihnya yang merawatnya tentu saja dia akan baik-baik," kata Via sambil melipat tangannya di dada.

__ADS_1


"Bibi Via seperti masih marah padaku," kata Julius pelan.


"Kau bilang Prof. Via menyelamatkan kakak ku yang disandera oleh Lady Blue, tapi nyatanya kau menguncinya di kamar vila," tanya Marjorie pada Julius.


"Mana ada! Kakakmu itu sama sekali tidak disandera oleh Lady Blue. Itu cuman akal-akalan Lady Blue untuk mengancamu," jawab Via memberitahu yang sebenarnya pada Marjorie.


"Jangan menyalahkan ku. Itu karna bibi Via bersikeras mau ikut. Aku terpaksa melakukannya," kata Julius membela diri.


"Sudah seharusnya karna tugasku melindungi mu."


"Kehadiran bibi Via juga akan mengganggu ku. Aku lebih leluasa bergerak sendiri."


"Kau mengangapku tidak mampu melawan mereka? Ayoklah, selain ahli dalam menyusup ke jaringan komputer, aku juga lihai bertarung jarak dekat."


"Dengan kondisi bibi yang hamil, aku tidak yakin membiarkan bibi bertarung melawan mereka."


Semua orang tersentak kaget dan melirik ke Via yang terdiam begitu mendengar kalimat yang meluncur keluar dari mulut Julius.


"Via, kau hamil? Kenapa kau tidak memberitahu kami?" tanya Daniel


"Sengaja. Aku ingin memberi kejutan untuk kalian."


"Jika kau benaran hamil, kenapa kemarin malam kau malah minum minuman beralkohol sampai mabuk? Itu bisa membahayakan janinmu," ujar Lina yang ingat betul aksi Via meminum anggur langsung dari botol nya.


"Wow... Ini berita yang mengejutkan," kata Julia dengan senyuman. Ia masih terlalu lemah untuk berekspresi lebih saat mendengar kabar bahagia tersebut.


"Iya, sangat mengejutkan," Lina mendekati Via lalu meletakan tangannya di perut Via kemudian mengelusnya. "Jadi kau hamil. Sudah berapa bulan?"


"Sudah hampir masuk bulan keempat."


"Oh... Pantas saja perutmu sudah sangat menonjol, ya."


"Kak Lina," Via merasakan firasat tidak enak melihat senyum Lina yang diarahkan padanya.


"Aku sudah lama menantikan ini. Saatnya membalas dendam! Sewaktu aku hamil dulu kau selalu mengelus peruku, sekarang kau rasakan sendiri bagaimana rasanya!"


Via hendak melangkah pergi namun ia tidak cukup cepat, Lina berhasil menahannya. Lina lalu memeluk pinggang Via dan mengeluarkan pipinya dengan ke perut Via dengan gemas, sama seperti yang sering Via lakukan dulu ketika ia hamil.


"Uhaaaa...... Ini alasannya kenapa aku tidak mau memberitahu kalian!"


"AAH.... Dia sangat mengemaskan. Aku harap kau juga hamil bayi kembar."

__ADS_1


"Aku bukan dirimu yang setiap hamil selalu melahirkan bayi kembar."


Apa yang dilakukan Lina pada Via malah menjadi hiburan tersendiri bagi yang lain. Mereka tertawa melihat tingkah dari keduanya, sedakan Daniel tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan istrinya.


"Sekarang aku tahu kau mendapatkan watak anak-anak itu dari siapa. Itu dari mama mu, kan?" tanya Nisa pada Julia.


"Kalau ini sih masih belum seberapa. Ini masih normal."


"Normal? Apa kau yakin?" Nisa tidak tahu harus mau bilang apa lagi. Baginya keluarga Flors ini penuh kejutan.


"Astaga, ini tidak seperti di rumah sakit. Seharusnya jumlah orang di ruangan ini dibatasi," Julius meletakan lengannya di atas matanya.


"Sebenarnya jumlah orang di ruangan ini sudah pas 6 orang. Kakek dan dua adikmu bukankah sedang pergi sebentar."


"Iya, setidaknya tidak berisik juga. Oh, iya. Dimana Pieper?" Julius mengangkat tangannya lalu melirik ke Marjorie.


"Dia ada disini," Marjorie melepaskan penyangga tangannya dan memperlihatkan Pieper yang sedang tertidur melingkari tangan kirinya.


"Bukannya kau takut ular?"


"Mungkin Pieper satu-satunya ular yang tidak membuatku takut mulai dari sekarang," Marjorie memasang kan kembali penyangga tangannya.


"Awal bertemu kalian terlihat tidak akur tapi sekarang dia malah begitu bermanja padamu."


"Semalam ia bersikeras ingin masuk ke rumah sakit. Karna tidak mungkin membiarkan dia merayap sendiri masuk menemui mu, aku memberanikan diri membawanya masuk secara diam-diam. Sejak itu ia selalu bersamaku."


"Tidak seperti biasanya. Pieper sebenarnya tidak mau disentu siapapun selain Adelio. Tapi sekarang sepertinya ia menemukan kenyamanan pada dirimu."


"Asalkan dia tidak menggigit ku, aku rasa akan mulai terbiasa dengan ular."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2