Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Uji coba racun


__ADS_3

Lina menerima paper bag itu dan mengeluarkan isinya. Sebuah smartphone keluaran terbaru ada ditangan Lina sekarang. Lina cukup terkejut melihat itu. Daniel baru saja memberikan smartphone untuknya? Ini serius? Walau barang itu bernilai kecil bagi Daniel tapi untuk Lina itu pemberian paling berharga dalam hidupnya. Butuh waktu satu tahun gajinya di kafe agar dapat membeli smartphone itu.


"I, ini sungguh untukku?" tanya Lina masih tak percaya.


"Kenapa? Tidak suka?"


"Tidak, tidak. Aku sangat menyukainya. Terima kasih."


"Bukan apa-apa. Akan sangat memalukan jika orang ku menggunakan barang-barang murahan. Bahkan pelayan di rumah ini menggunakan semua barang dari brand-brand internasional," ujar Daniel tanpa ekspresi.


"Hah, iya. Kau seolah-olah mengatakan hanya aku yang paling miskin disini," kata Lina dalam hati.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Daniel pergi ke ruang bawah tanah bersama dua bawahannya. Saatnya menguji coba racun yang baru saja ia dapat dari Lina. Tapi sebelum itu Lina berpesan agar mengunakan sarum tangan karet ketika mau menggunakan bubuk racun tersebut. Racun itu termasuk dalam jenis racun kuat yang sulit dihilangkan jika bersentuhan langsung dengan kulit. Paling tidak membutuhkan tiga hari sampai bubuk racun itu hilang dan itupun masih harus sering-sering mencuci tangan.


Daniel masuk ke dalam sel yang dibuat khusus di ruang bawah tanah rumahnya. Seorang pria yang sudah terlihat lemah dengan berbagai luka ditubuhnya terantai kuat dalam sel tersebut. Ia mengangkat wajahnya begitu melihat Daniel berjalan menghampiri.


"Apa kau masih tidak mau memberitahu ku siapa yang mengutusmu untuk memberikan obat perangsang itu padaku?" tanya Daniel.


"Tidak akan pernah! Mau siksaan seperti apapun lagi, kau tidak akan mendapat informasi sedikitpun dariku," tegas pria itu dengan tatapan menantang.


"Kalian berdua, berikan racun itu padanya," perintah Daniel pada anak buahnya di belakannya.


"Baik tuan muda."


Kedua anak buahnya itu sudah siap dengan sarum tangan karet berwarna hitam. Salah satu dari mereka memaksa membuka mulut pria tersebut dan yang satunya lagi bertugas memberi racun itu sampai pria tersebut benar-benar menelannya. Begitu tugas terlaksana dengan baik mereka berdua segera melepas sarum tangan karet tersebut secara hati-hati dan langsung dibakar ditempat.


"Uhkuk! Ukhuk! Apa yang kau berikan padaku?!!" bentak pria itu.


"Kau akan tahu."

__ADS_1


Selang lima menit racun itu mulai beraksi. Sekujur tubuh pria itu muncul bentol-bentol kecil dan diiringi rasa gatal yang hebat. Ia hanya bisa menggeliat akibat sensasi rasa gatal tak tertahankan. Ia tidak bisa mengaruknya karna tangannya dirantai. Ya sudah, teriak saja.


"Aaaa.........!!! Gatal sekali!! Kenapa sekujur tubuhku bisa segatal ini?!!" pekik pria itu mengisi ruang bawah tanah.


"Mau bicara atau tidak?" tanya Daniel.


"Tidak!! Aku tidak akan bicara! Ini cuman rasa gatal biasa. Ini sama sekali tidak bisa membuatku membuka mulut. Apa sekarang kau telah kehabisan cara sampai menggunakan siksaan kecil ini?!!" bentak pria itu meremehkan racun buatan Lina.


"Buka rantainya," perinta Daniel.


Daniel berjalan keluar dari sel tersebut kemudian di ikuti kedua anak buahnya. Pintu sel kembali dikunci dengan pria itu di dalamnya.


"Apakah kini seorang Daniel yang dikenal kejam telah menjadi bodoh? Kenapa kau tiba-tiba melepaskan rantai yang mengikatku?" caci pria itu sambil terus mengaruk sekujur tubuhnya yang gatal.


"Aku cuman merasa kasihan, kau pasti tidak tahan dengan rasa gatal itu, bukan? Aku membiarkanmu mengaruknya sepuas hatimu."


"AAAAAA ! ! ! Gatal sekali! Kenapa semakin gatal!!"


Senyum kecil terukir diwajah Daniel. Ia tahu betul efek racun tersebut, semakin menggaruknya maka semakin gatal pula rasanya. Dan seperti yang diharapkan pria itu menggaruk punggung, perut, tangan, kaki serta wajahnya untuk menghilangkan rasa gatal tersebut dan tentu saja usahanya itu sia-sia. Tapi pria itu tidak punya pilihan lain. Ia tidak tahan untuk tidak menggaruk kulitnya sampai terluka dan menggeluarkan darah. Jauh dari rasa perih yang ia rasakan, rasa gatal itu lebih menyiksa tubuhnya. Melihat itu senyum Daniel semakin mengembang.


"AAAAAH ! ! ! Gatal sekali!! Aku tidak tahan! Tidak tahan lagi!!" pekiknya sambil terus menggaruk atau lebih tepatnya mencakar tubuhnya sendiri sampai berguling-guling di lantai penjara.


"Aku memiliki obat penawarnya disini," Daniel menunjukan bukusan plastik putih berisi bubuk penawar di tangannya.


"Obat penawar? Berikan padaku!!! Cepat berikan itu padaku!!" pria itu berusaha mengapai obat penawar tersebut dari sela-sela besi jeruji namun jaraknya dangan Daniel tidak memungkinkan ia bisa mengambilnya.


"Aku akan memberikannya padamu setelah kau memberitahu apa yang aku inginkan, dan juga mungkin aku akan melepaskanmu."


"Baik, baiklah. Aku akan memberitahukannya padamu. Cepat berikan obat penawar itu padaku!"


"Katakan!"

__ADS_1


"Eh, itu. Aku, aku kurang tahu siapa dia tapi ia memberiku uang yang banyak dan akan menambakan 1000 dolar lagi jika aku tidak membocorkan rahasianya. Ia seorang gadis yang tergila-gila padamu, memiliki tato bunga Anyelir putih di belakang lehernya, rambut pirang keriting dan suka mengunya permen karet," jelas pria itu.


"Tato bunga Anyelir putih?" Daniel mencoba mengingat-ingat siapa gadis dengan ciri-ciri yang telah disebutkan barusan. "Em... Semua gadis yang aku temui tergila-gila padaku, kecuali yang satu itu."


"Apa mungkin Lexi?" kata salah satu anak buah Daniel begitu ia mengingat gadis yang memiliki tato bunga Anyelir putih.


"Iya, benar! Aku dengar gadis itu bernama Lexi," kata pria itu membenarkan.


"Lexi? Siapa dia?"


"Tuan muda mungkin belum dengar. Baru-baru ini muncul dua gadis pembunuh bayaran profesional di ibu kota. Mereka cepat terkenal di dunia bawah tanah berkat aksi mereka membunuh dengan cepat dan bersih. Diketahui dua gadis itu bersaudara dengan sang adik bernama Lexi dan kakaknya bernama Rylie. Ciri khusus mereka berdua memang tato bunga Anyelir putih yang melambangkan kematian. Dan yang saya tahu Lexi lah yang memiliki tato itu di belakang lehernya," jelas anak buahnya.


"Hah! Anak baru sudah berani sombong di wilayahku. Aku harus memberi peringatan pada mereka. Undang nona Lexi untuk makan malam besok," Daniel berlalu tapi sebelum itu. "Oh, iya aku lupa. Obat penawarmu. Ini, ambilah," Daniel melemparkan bukusan berisi obat penawar itu pada pria tersebut.


"Terima, terima kasih."


Pria itu langsung merangkak mengambil obat penawar itu yang tergeletak di lantai, tapi belum sempat ia merainya dua tima panas sudah bersarang di kepalanya. Pria tersebut tewas seketika.


"Langsung bakar mayatnya."


"Baik."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2