Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Mari kita lanjutkan


__ADS_3

Lina berbalik melihat Daniel yang sedang menggoyangkan gelas anggurnya dengan tatapan seperti ada sesuatu yang ingin diminta. Daniel segera tahu itu.


"Ada apa?" tanya Daniel sambil melirik Lina dari balik gelas anggurnya.


"Em... Boleh aku meminta senjata lain? Aku bosan bermain dengan pisau," kata Lina memohon dengan mata berbinar seperti boneka.


"Sediakan semua yang ia mau," perintah Daniel pada anak buahnya.


"Baik," beberapa anak buah Daniel pergi mencarikan semua senjata yang di perlukan Lina.


Tak lama mereka kembali dengan berbagai jenis peralatan. Dari yang kecil sampai besar. Butuh tiga orang membawakan semua peralatan tersebut. Dengan riang Lina melemparkan pisau itu ke sembarang arah, lalu ia segera memilih alat mainnya yang baru.


"Em... Aku harus menggunakan yang mana dulu ya?"


Seperti seorang anak kecil, Lina memilih mainannya yang tergeletak di lantai. Ia sedikit kebingungan. Lina mengambil palu, menentengnya dan berpikir sejenak.


"Tidak."


Diletakkannya palu itu lalu ia mengambil gergaji mesin.


"Tidak-tidak. Ini terlalu berat."


Lina kembali mengacak-acak semua peralatan itu sampai ia menemukan...


"Ini saja," Lina berbalik dengan tang ditangannya.


"Kau mau apa dengan tang itu?" tanya Rylie begitu Lina mendekatinya.


"Kita lewatkan dulu acara pemetikan buahnya. Aku cuman berpikir... Kukumu bagus," kata Lina sambil tersenyum.


Lina berdiri di belakang Rylie karna memang tangan Rylie terikat di belakang. Untuk mencegah teman main memberontak, Lina menginjak punggung Rylie sampai wajahnya menghantam lantai. Lina mengangkat tangan Rylie lalu mulai mencabuti kukunya satu persatu.


"AAAW..........! Hentikan itu gadis gila!!! AAW!! Sakit!" teriak Rylie di setiap Lina mencabut kukunya.


Setelah selesai mencabuti semua kuku di setiap jari-jemari Rylie, Lina menjatuhkan tang itu begitu saja dan tepat mengenai kepala Rylie.


"Aw!" Rylie berusaha melirik Lina dengan kesal.


"Maaf."


Lina merengangkan tubuhnya sambil menurunkan kakinya dari punggung Rylie. Ia menyekat keringat yang menetes di dahinya. Mencabut kuku Sungguh sangat melelahkan ditambah lagi Rylie yang terus saja menggeliat kesakitan. Lina kewalahan menahan tubuh Rylie agar tetap diam.

__ADS_1


"Fiuh.... Melelahkan sekali."


"Puas kah kau sekarang menyiksaku?!!!" bentak Rylie sambil memiringkan tubuhnya. Ia mantap benci pada Lina.


"Puas?" Lina berjongkok di depan Rylie. "Mau dibilang puas... Tidak. Kita masih belum membahas seluruh kesalahanmu. Contohnya..."


Lina berdiri untuk memilih alat mainnya lagi. Ia terlihat mencari sesuatu dan sepertinya tidak menemukannya. Raut wajah Lina terlihat sedikit kecewa.


"Hm.... Tidak ada cambuk ya?"


"Cambuk?" Daniel seketika melirik tajam pada anak buah yang di perintahkan membeli semua peralatan ini.


"Maaf tuang muda. Kami telah mencari ke setiap toko tapi tidak menemukannya. Semua persedian kosong," kata pria itu mencoba menjelaskan sambil membungkukkan badannya.


"Ambil cambuk yang ada di ruang koleksiku."


"Ba..."


"Tidak perlu," potong Lina sebelum pria itu mengucapkan katanya. "Jika tidak ada juga tidak apa-apa. Masih banyak alat lain disini."


Pria itu sedikit kebingungan mau mengikuti perintah tuan muda nya mengambilkan cambuk tersebut atau tidak karna Lina berkata demikian. Daniel memberi isyarat kepada anak buahnya itu untuk kembali ke tempatnya semula. Pria tersebut membungkuk sekali lalu melangkah mundur.


"Siapa yang membeli ini?" tanya Lina pada anak buah Daniel begitu ia menunjukan seprotan merica.


"E... Itu saya," salah satu pria di belakan Daniel mengacukan tangannya. "Saya berpikir mungkin anda akan tertarik menggunakannya."


"Terima kasih," Lina kembali mendekati Rylie.


"Untuk apa kau benda itu? Jika kau sangat membenciku langsung saja membunuhku!!!"


"Sangat mudah membunuhku tapi begitu menyenangkan bermain dengan mu. Kau satu-satunya teman mainku yang tidak merengek memohon ampun padaku. Kebanyakan teman mainku itu gadis cengeng. Mereka sok berani dan sangat sombong tapi begitu di hadapkan dengan rasa sakit mereka langsung nangis seperti anak kecil."


"Hah! Memohon ampun? Lebih baik aku mati dari pada memohon pengampunan darimu!!!" bentak Rylie dengan tatapan melotot.


"Iya, iya. Baiklah."


Tampa memperdulikan Rylie yang terus menoceh Lina langsung saja menyemprotkan semprotan merica itu ke mata Rylie yang terluka.


"AAAAA ! ! ! Periiiiiih.............! Perih sekali......! ! !"


Rylie berteriak begitu air merica itu mengunai luka dimatanya. Tidak hanya itu Lina juga menyemprotkan semprotan merica tersebut ke bagian luka Rylie yang lain. Rylie hanya menggeliat kesakitan seperti cacing kepanasan.

__ADS_1


"E? Habis?"


Lina mengguncang botol semprotan merica tersebut dan memang tidak terdengar masih berisi lagi. Ia membuang botol tersebut ke lantai.


"Bisa bantu ia duduk dan pastikan kakinya terjulur ke depan," pinta lembut Lina pada anak buah Daniel.


Mereka segera menjalankan tugas dari Lina persi seperti yang dinginkannya. Terlihat Rylie sudah lelah karna terus berteriak tapi seluruh lukanya saat ini masih jauh dapat membuat ia menghembuskan nafas terakhir. Semua lukanya belum menyerang titik fatal di tubuhnya. Walaupun begitu, sebenarnya Rylie sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit ini. Rasanya ia ingin cepat-cepat mati saja.


"Kau sudah duduk? Nah, sekarang baru kita mulai permainannya," kata Lina membuat semua orang dalam ruangan itu terkejut termasuk Daniel.


"Apa yang dikatakan kucing ini? Jika ia baru mulai, lantas semua tadi itu apa?" batin Daniel.


"Ada apa dengan mukamu itu? Kenapa terlihat kaget begitu? Apa kau berpikir kalau semua ini akan berakhir? Tidak. Sebenarnya aku baru mulai. Tadi itu cuman pemanasan."


Lina menyeret tongkat baseball. Tanpa peringatan ia menganyunkan tongkat tersebut tepat mengenai lengan atas kanan Rylie. Tulang lengan atas Rylie retak seketika akibat hantaman tongkat baseball kuat. Rylie tersungkur ke samping sambil memuntahkan darah. Pukulan itu pasti juga telah melukai organ dalam tubuh Rylie.


"Bangun! Kau baru mendapati satu kali pukulan."


Dengan tatapan berubah seketika dingin Lina menarik tangan Rylie menyuruhnya bangun. Belum hilang rasa sakit, tiba-tiba Lina mengayunkan lagi tongkat baseball itu tepat mengenai tubuh Rylie yang kali ini di bagian punggungnya dengan sangat kuat. Tulang rusuk belakang Rylie patah seketika.


"ARGH ! ! ! !"


Akibat pukulan itu Rylie memuntahkan darah begitu tongkat tersebut menghantam punggungnya. Semua orang dalam ruangan itu mulai begidik ngeri. Mereka tidak percaya gadis kecil semanis Lina bisa berubah menjadi begitu kejam. Pemandangan ini sangat berbeda dari yang sebelumnya. Lina masih seperti anak kecil dan bertingkah bodoh, tapi sekarang aura membunuhnya terpancar kuat dengan tatapan tajam yang begitu cocok di wajah manisnya. Daniel semakin tersenyum melihat pertunjukan yang disuguhkan Lina. Benar-benar tidak mengecewakan.


Lina terlihat lelah setelah memukul Rylie. Nafasnya mulai ngos-ngosan. Lina menjatuhkan tongkat baseball itu dengan tangan gemetar. Ia mencengkram lengan atasnya yang terasa semakin sakit akibat cambukan Rylie sebelumnya. Melihat raut wajah manis itu sepertinya sedang menahan kesakitan, Daniel bergegas menghampiri Lina lalu menopang tubuhnya.


"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat kesakitan begitu?" tanya Daniel khawatir.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2