Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Kehadiranmu


__ADS_3

"AAA ! ! !" dengan kesal Richard memukul dinding rumah sakit. "Tega sekali kau Lina. Kau jauh lebih memilih dia dari pada aku. Apa kelebihan dia sampai kau meninggalkanku! Apa aku kurang baik dimatamu? Aku bisa memberimu apapun yang kau inginkan di dunia ini!"


Tiba-tiba muncul beberapa orang mengepung Richard dari berbagai sisi. Richard sungguh kebingungan dengan mereka yang muncul di sekelilingnya.


"Mau apa kalian?"


"Dia orangnya. Bawa dia!" perintah Jony pada anggota kelompoknya.


"Lepaskan aku!!" bentak Richard sambil berusaha melepaskan diri. Tapi percuman, seberapa keras ia berusaha ia bukan tandingan bagi keempat orang itu. Berteriak juga percuma. Tidak ada arang lain yang dapat membantunya.


"Diam! Jangan melawan!!" bentak Jony lebih garang dari Richard.


"Siapa kalian? Kenapa tiba-tiba menangkap ku? Apa kalian tahu aku siapa? Aku adalah Richand Annerad, putra dari Pram Annerad. Salah satu dari 10 orang terkaya di ibu kota! Aku pasti akan menuntut kalian jika berani macam-macam denganku!!"


"Kami tidak peduli seberapa tinggi status keluargamu. Jika tuan muda kami tidak menyukaimu itu artinya kau hanya sial. Hajar dia!"


Perintah Jony setelah mereka berhasil menyeret Richard sampai di gang sempit dan sepih. Sesuai yang di perintahkan mereka menghajar Richard disana. Memukul wajah, perut dan sampai menendangnya hingga mengalami luka yang serius. Richard tidak bisa bela diri jadi ia tidak bisa melawan balik serangan yang diluncurkan mereka. Richard berakhir babak belur dihajar anak buah Daniel.


"Sudah, sudah cukup. Tuan muda tidak ingin kita membunuhnya. Ayok pergi," ujar Jony pada anggota kelompoknya. Jony menelpon tuan mudanya untuk melaporkan tugasnya. "Hallo tuan muda. Perintah anda sudah selesai dilaksanakan."


Mereka meninggalkan Richard begitu saja yang meringkuk kesakitan disana. Richard tidak bisa bangkit, ia terbaring di tanah sambil memengagi perutnya yang sakit akibat mendapat pukulan beberapa kali. Wajahnya juga memar dengan luka di dahinya yang mengalirkan darah. Richard juga beberapa kali muntah darah. Itu mungkin karna telah terjadi cedera pada organ dalam tubuhnya.


"Richard, Richard," seorang wanita berjalan mendekati Richard yang masih terbaring di gang tersebut.


"Stt... Siapa, kau?" tanya Richard begitu melirik wanita itu.


"Kau tidak mengenali ku? Apa karna dipukul sekarang matamu jadi rabun?"


Richard menyipitkan matanya mencoba meneliti wajah wanita itu. "Violet?! Apa mau?"


"Mauku? Em... Sebenarnya aku mau membunuh Lina..."


"Jangan coba-coba menyentuhnya!!!" potong Richard dengan nada tinggi.


"Dengarkan dulu. Aku belum selesai. Aku datang kesini untuk menawarkan kerja sama denganmu."


"Kerja sama? Kenapa kau mau menawarkan kerja sama denganku?"


"Karna kita memiliki tujuan yang sama yaitu memisahkan Lina dan Daniel."


"Kenapa kau menginginkan mereka berpisah?"

__ADS_1


"Sebab... Daniel adalah tunangan ku. Dan Lina merebutnya dariku. Sebenarnya aku ingin mencabik-cabik gadis polos itu dan melemparkannya masuk kandang buaya yang ada di rumah. Kebetulan para buaya itu sudah lama tidak mencicipi daging manusia."


Richard seketika merinding mendengarnya. Gadis di depannya ini sangat kejam


"Tapi... Mengingat kau sangat menyukai gadis itu, bagaimana kalau kau membantuku memisahkan mereka? Kau bisa mengambilnya sebagai hadiah dan aku bisa mendapatkan tunangan ku kembali. Bukankah ini saling menguntungkan bagi kita berdua?"


"Bagaimana aku bisa mempercayai mu?"


"Percaya atau tidak, kau tidak punya pilihan. Hanya ini satu-satunya kesempatanmu untuk mendapatkan Lina. Kau tidak akan dapat membayangkan seberapa mengerikan kekuatan yang ada di belakang Daniel. Keluarga kecilmu itu hanya semut di matanya."


Richard terlihat berpikir sebentar. "Baik. Aku terima kerja sama ini. Apa rencanamu?"


"Aku akan memberitahu mu nanti. Sembuhkan dulu cedera di tubuhmu, kau tidak akan bisa melakukan bagianmu jika kau terluka. Sampa jumpa," Violet berbalik melangkah meninggalkan Richard begitu saja.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Beberapa hari berlalu. Lina terus memperhatikan bayangan dirinya dicermin yang lebih tinggi dari tubuhnya. Dengan hanya menggunakan senglet hitam yang begitu pas mengikuti leku tubuhnya, Lina mendapati kalau perutnya sudah tampak membuncit. Itu mengadakan janin dalam perutnya telah berkembang. Beberapa kali ia mengelus perutnya itu.


"Baru habis tiga bulan dia sudah sebesar ini. Bagaimana sembilan bulan nanti? Apa aku masih bisa menutupinya?"


Karna terus memperhatikan bayangan perutnya, Lina tidak menyadari kalau Daniel masuk ke kamarnya. Daniel berjalan mendekati Lina dan langsung memeluk Lina dari belakang dengan kedua tangannya ikut mengelus lembut perut Lina.


"Apa yang kau pikirkan?" bisik Daniel ditelinga.


"Perutmu sudah mulai menojol. Ia berkembang cepat di dalam sana."


"Apa ini normal?"


"Bukankah dokter sudah mengatakan kau dia sangat sehat. Tapi jika kau ragu aku bisa memanggilnya kemari untuk melakukan pemeriksaan."


"Sore ini."


"Baiklah."


"Bisa lepaskan pelukanmu? Aku harus bersiap-siap untuk pergi kuliah. Aku tidak mau terlambat."


"Biarkan aku memelukmu sebentar lagi."


Lina tidak bisa menolak dan juga ia sebenarnya


Merasa nyaman dipeluk seperti ini. Kehangatan tubuh Daniel menyatu dengan suhu tubuhnya. Setiap sentuhan tangan Daniel mengusal lembut perutnya membuat Lina semakin menyukai kehamilannya ini. Ia belum perna di perlakukan selembut ini oleh seorang laki-laki selain Daniel. Ya itu karna hanya Daniel seorang yang Lina bersedia dipeluk dan dicium dengan mesranya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu," bisik Daniel sambil mengecup leher Lina.


Lina sedikit tersentak setelah mendengarnya. Ini baru pertama kalinya Daniel menyatakan perasaannya padanya. Ia cukup kebingungan harus bereaksi bagaimana. Lina menoleh pada Daniel untuk menatap langsung matanya.


"Seharusnya aku mengatakan ini sejak lama tapi aku takut kau akan menolak ku."


"Hah? Seorang Daniel Alcander Flors, CEO muda dari perusahaan Flors serta juga tuan muda dari kelompok Mafia Black Mamba yang dikenal berdarah dingin dan kejam masih memiliki rasa takut ditolak cintanya."


"Itu semua karnamu. Kehadiranmu dalam hidupku membuatku merasakan semua perasaan yang belum perna aku rasakan sebelumnya. Takut, senang, gelisah, panik, malu, rindu, cemburu, tak berdaya, bahkan sedih."


"Padahal semua gadis bermimpi untuk jadi pacarmu. Kenapa kau takut ditolak?"


"Tapi kau tidak, kan?"


"Iya, awalnya aku tidak menyukaimu karna aku tahu dirimu ini pasti banyak dilirik oleh para gadis dan aku akan sangat kesulitan menjagamu hanya untukku."


"Oh... Karna alasan itu kah kau tidak mau jatuh hati padaku? Kau takut para gadis itu akan menggodaku dan membuatku berpaling darimu? Kau cemburu pada mereka?"


"Salahkan dirimu yang sangat tampan ini, sampai-sampai seluruh gadis itu tertarik padamu seperti magnet."


"Aku hanya mencintaimu seorang. Kau sangat berbeda dengan seluruh gadis lain diluar sana. Kau seperti mawar hitam yang begitu elegan dan mempesona di antara seluruh mawar merah dan putih itu."


"Mawar hitam ya. Bolehlah."


"Kau belum menjawab ku. Apa kau juga mencintaimu?"


"Cinta? Aku sebenarnya masih meragukan, cinta kah aku padamu? Kau perhatian, lembut dan peduli padaku. Walau kau sering membuatku kesal dengan tingkahmu ini. Tapi sekarang aku yakin kalau hatiku kini milikmu," jari kecil Lina mulai nakal memaikan dasi Daniel. "Ditambah lagi kehadiran dia dalam hidupku."


Mendengar jawaban itu, Daniel hanya diam menatap dalam mata Lina. Lalu Daniel menarik Lina sampai tubuh mereka bersentukan. Dikecupnya bibi Lina dengan lembutnya. Kemudian Daniel berjongkok di depan Lina sambil memeluk pinggang ramping Lina. Dikecupnya sekali perut Lina lalu ia berkata.


"Terima kasih telah hadir. Berkatmu aku bisa mendapatkan cinta ibumu."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2