Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Kasih sayang


__ADS_3

"Pipimu terluka," Via mengeluarkan plester luka lalu menempelkannya di luka Julius. "Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Ceritanya cukup panjang. Yang pasti aku harus mencari Death knell sekarang."


"Death knell? Bukankah dia sudah tewas akibat kecelakaan? Apa kau masih bermimpi Julius?"


"Tidak bibi, aku tidak sedang bermimpi. Death knell yang aku maksud itu adalah Marjorie."


"Marjorie adalah gadis dibalik julukan Death knell?"


"Em... Iya. Dan aku harus mencarinya."


Krrrriiiing......


Sesaat setelah Julius berdiri, hp Via tiba-tiba berbunyi. Via segera mengangkatnya begitu tahu itu dari Lina. Julius juga lantas berhenti karna sedikit penasaran kenapa mamanya menelpon.


"Halo. Ada apa kak Lina?"


"Via, bisa minta tolong jaga Julius dan Julia? Dan katakan pada mereka kalau kami sangat minta maaf karna tidak hadir di pertunjukan musik mereka sore ini."


"Memangnya kalian ada dimana? Kenapa suara kak Lina terdengar tergesa-gesa begitu?" tanya Via mulai cemas.


"Ada masalah serius di ibu kota. Kami harus kembali sekarang."


"Masalah serius?!" ulang Via sangking kaget.


"Apa yang ter... Hmph!"


"Sustt..." belum selesai Julius bertanya telapak tangan Via sudah mendarat di mulut Julius.


"Kami mendapat kabar kalau kediaman dari keluarga tersembunyi tiba-tiba diserang oleh kelompok mafia Dragon," jelas Lina.


"Mafia Dragon bukannya dibawah pimpinan Tn. Arlo? Kenapa kelompok mafia kecil itu dengan nekat nya tiba-tiba menyerang kediaman keluarga tersembunyi? Mereka seperti mengantarkan nyawa mereka ke lubang kuburan."

__ADS_1


"Kami juga tidak tahu alasannya. Yang pasti kami harus kembali karna kemungkinan ini merupakan permulaan dari Lady Blue. Kami harus bersiap segera menghadapi serangan mereka."


"Lalu, bagaimana dengan Adelia dan Adelio?"


"Mereka merengek ini ikut, jadi kami terpaksa membawa mereka. Jangan khawatirkan kami."


"Apa kak Samuel sudah tahu hal ini?"


"Dia orang pertama yang tahu. Sudah dulu ya. Kami sudah mau naik pesawat."


"Berhati-hatilah."


"Iya," Lina mematikan telponnya.


"Apa yang terjadi sebenarnya bibi Via?" tanya Julius.


"Mafia Dragon tiba-tiba menyerang kediaman keluarga tersembunyi. Papa dan mama mu terpaksa kembali ke ibu kota," jelas Via secara singkat.


"Ini pasti rencana Lady Blue dan berkaitan langsung dengan Death knell," batin Julius. Ia bergegas turun dari dari atap sekolah. "Aku memang tidak menduga kalau dia akan menyerang ku dengan obat bius tapi aku sudah menebak dia akan mengambil kembali loncengnya. Untungnya aku sudah meletakan alat pelacak di lonceng tersebut, jadi aku dapat tahu dengan pasti lokasi dia sekarang."


"Aku harus mencari Death knell."


"Nanti!" hadang Via. "Apa penyerangan ini ada hubungannya dengan gadis itu?"


"Bibi tidak bisa menghentikan ku!"


"Aku tidak akan menghentikan mu, Julius. Aku disini mau membantumu. Aku tahu Marjorie sangat berarti untukmu."


"Tidak. Bagaimana dengan Julia? Harus ada yang menjaganya."


"Selama Julia berada di lingkungan sekolah, aku yakin dia akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang berani mengusik gadis kecil mu itu."


"Kenapa kalian sangat percaya kalau dia akan baik-baik saja? Aku merasa kalau cuman aku dan mama yang mengkhawatirkan dia. Padahal Julia itu ceroboh, selalu membuat masalah serta suka menatang bahaya. Dia sama sekali tidak perna peduli dengan nyawanya sendiri."

__ADS_1


"Lihatlah dirimu, mengkhawatirkan adikmu itu lebih dari dirimu sendiri."


"Itu sudah pasti. Walau Julia itu terkadang menjengkelkan namun dia tetap saja adikku."


"Inilah alasannya kenapa aku tidak terlalu mencemaskan Julia. Ia memiliki pengawal yang senantiasa menjaganya kapanpun dan dimanapun. Aku jadi bertanya-tanya, apa kau meletakan alat pelacak pada adikmu itu sampai-sampai kau bisa menebak dengan pasti kalau ia sedang dalam bahaya dan datang tepat waktu?"


Julius mengalihkan pandangannya dari bibi nya sambil merogo saku celananya. Ia bisa merasakan kalau hpnya masih ada di tempatnya. "Sebenarnya lebih dari sekedar alat pelacak."


"Sebab itu aku harus menjagamu. Jika kau dalam bahaya, maka tidak akan ada yang menyelamatkan mu dan juga kau tidak akan bisa melindungi Julia," tunjuk Via ke Julius.


"Cikh! Baiklah."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Karna tidak diizikan membawa mobil lagi, Julia terpaksa kembali ke vila menggunakan taksi untuk sampai disana. Tiba di vila, Julia sedikit dibuat curiga dengan kondisi vila yang sepi. Tapi ia tidak terlalu menghiraukannya. Ia bergegas masuk dan naik menuju kamarnya untuk mengambil perlengkapan yang ada di dalam lemari. Setelah mengetahui lokasi Nisa dari melacak hpnya, Julia berpikir untuk membawa serta senjata dan belati untuk berjaga-jaga.


Sebenarnya selama perjalanan menuju vila, sendari tadi Julia telah melakukan pencarian lokasi Nisa melalui hpnya sendiri. Tidak dibutuhkan peralatan elektronik apapun bagi Julia untuk dapat dengan mudah mengetahuinya selama hp Nisa dalam keadaan aktif dan terjangkau sinyal. Lokasi Nisa berhasil dilacak ada di ujung pulau Balvana yang minim sinyalnya. Tanpa pikir panjang lagi Julia segera menuju kesana dengan menggunakan mobil yang tersimpan di garasi vila. Julia memanfaatkan ketidak adaan orang di vila tersebut. Dengan masih menggunakan seragam sekolah, Julia semakin menancap gas menuju lokasi.


Hampir dua jam Julia berkendara, akhirnya ia sampai di sebuah bangunan tiga tingkat. Tempat itu seperti vila terbengkalai dengan dinding yang usam, kaca-kaca jendela yang pecah dan tumbuhan merambat memenuhi sisi kiri dan kanan. Tidak ada satupun penjagaan sama sekali di depan pintu atau terdekteksi bersembunyi di suatu tempat. Vila ini terlihat kosong namun yang membuat Julia yakin kalau ada orang di dalamnya adalah selibat bayangan hitam yang terlihat lewat di jendela kaca.


Julia tidak segera masuk ke bangunan tersebut. Ia lebih menunggu matahari terbenam sepenuhnya dan menyisakan sinar kejingaan di langit. Dibutuhkan waktu sekitan lima menit sampai keadaan mulai gelap. Julia keluar dari mobilnya yang terparkir cukup tersembunyi. Ia berjalan mengendap-endap menuju pintu masuk bangunan itu. Tepat berdiri di lantai teras yang berdebu, Julia perlahan memutar knop pintu yang tidak terkunci itu. Pintu terbuka dan betapa terkejutnya ia mendapati ruangan terang yang menyambutnya dipenuhi dengan puluhan foto. Satu titik air mata mengalir di pipi Julia.


Bagaimana tidak. Semua foto yang terpajang dinding bangunan tersebut merupakan foto-fotonya bersama teman lama yang ia tahu telah meninggal dunia. Dengan kaki gemetar Julia melangkah masuk lebih dalam ke bangunan itu. Selain foto, ada juga berapa barang-barang kenangan mereka saat bersama dulu. Digapainya salah satu foto yang terletak di atas meja laci dan dipandanginya. Julia mengusap foto tersebut yang menampakan dua gadis kecil yang dengan begitu bahagianya bermain di taman sambil tertawa riang.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2