
Pengurus Hans melirik pada Rica dan Niss. "Oh, dan dua gadis ini..."
"Sepupuku," potong Julia. dengan cepat "Mereka sepupu jauh ku. Mereka sama sekali tidak ada kaitannya dengan masalah ini. Lepaskanlah mereka."
"Itu tergantung pada keputusan Yang mulia sendiri," pengurus Hans menoleh pada Gerda yang diam.
"Gerda, aku sudah menjelaskan semuanya. Diantara kita cuman terjadi kesalah pahaman. Aku mohon kembalilah padaku Gerda dan hentikan semua ini," bujuk Julia dengan sangat.
"Aku..."
"Ingat semua rencana yang telah susah payah anda susun selama ini, Yang mulia. Anda tidak bisa membatalkannya begitu saja. Semuanya sudah sejauh ini dan sedikit lagi semua yang anda inginkan akan terwujud. Jangan mudah terhasut perkataan memelas dan penuh kasihannya! Itu cuman tipuan untuk menyelamatkan diri. Dia adalah musuh anda! Orang yang paling anda benci selama ini," kata pengurus Hans yang malah menjadi penghasut yang sebenarnya.
"Apa maksudmu berkata seperti ini? Aku sama sekali tidak berniat menghasut Gerda, malahan kau sendiri yang lebih membawa pengaruh buruk pada temanku. Apa yang selalu kau katakan padanya sampai teman ku yang lemah lembut ini bisa berubah menjadi tidak memiliki rasa berbelas kasihan lagi?" bentak Julia dengan nada tinggi.
"Anda lihat sendiri bukan, Yang mulia. Gadis ini berani sekali berbicara setinggi itu pada anda. Bukankan itu sudah menunjukan kalau dia sama sekali tidak menghargai anda sebagai temannya? Jika rencana ini berhasil, anda bisa mendapatkan puluhan teman yang seperti dia."
"Apa?! Sepertinya ada yang salah dengan otakmu. Aku itu membentakmu, bukannya membentak temanku," protes Julia
"Tidak perlu menghindar lagi. Gadis pengganggu sepertimu seharusnya segera dilenyapkan!"
"Sudah cukup pengurus Hans. Berhenti mengintimidasi nya. Serahkan dia padaku. Kau tidak perlu ikut campur."
"Baik, Yang mulia."
"Gerda, aku... Aku minta maaf padamu jika aku ada salah. Aku mohon hentikan penyerangan ke keluarga tersembunyi, Gerda. Kita bisa hidup berdampingan tanpa harus bermusahan seperti ini. Kita bisa kembali seperti dulu," kata Julia mencoba membujuk Gerda lagi.
"Julia. Aku membencimu. Sangat-sangat membencimu, karna..." satu bulir air mata mengalir di pipi Gerda. "Kau terlalu baik padaku."
__ADS_1
"Hah? Bagaimana bisa kebaikan menimbulkan benci?" tanya Julia dengan ekspresi bodohnya. Bersamaan dengan itu ada benda kecil tiba-tiba terlempar dan tepat mengenai dahinya. "Aduh!"
"Bisa tidak kebodohan mu itu jangan muncul sekarang?" kata Rica, si pelaku yang melemparkan benda tadi.
"Dasar Rica. Apa salahku?" gerutu Julia yang cemberut sambil masih mengusap dahinya.
"Hihi... Kau benar-benar tidak berubah Julia. Ada-ada saja tingkah mu yang bisa membuat orang tertawa," tawa kecil Gerda melihat tingkah Julia. Tak lama ia kembali tertunduk sedih. "Maafkan aku. Maaf karna aku telah salah selama ini. Aku yang menyebabkan mu kecelakaan sampai mengalami hilang ingatan tapi aku malah manganggap mu telah melupakan aku. Semua ini salah ku. Hiks... Hiks...."
"Gerda, jangan menangis. Kau tidak perlu menyalahkan semua ini pada dirimu sendiri. Semuanya telah lama berlalu."
"Setelah apa yang aku lakukan kau masih bersikap seperti ini padaku. Inilah yang membuatku membencimu. Kau terlalu baik padaku dan aku tidak mampu membalas semua kebaikanmu ini."
"Aku melakukannya bukan agar kau bisa membalasnya. Karna kau temanku, Gerda."
"Apa aku pantas menjadi temanmu lagi? Waktu itu aku benar-benar dilanda frustasi. Setelah kematian ibuku membuatku kehilangan tempat berpijak. Aku harus kemana? Bagaimana caranya aku bertahan hidup? Perna terbesit dalam pikiranku untuk minta bantuanmu tapi kau sudah banyak membantuku selama ini. Tidak mungkin aku selalu menyusakahmu. Kau temanku namun aku tidak bisa melakukan apa-apa sebagai teman. Aku cuman bisa membebanimu."
"Julia... Hiks... Hiks... Maafkan aku. Maaf, maafkan aku," Gerda menangis terseduh-sedah sambil terus minta maaf. Air matanya kini telah membanjiri pipinya.
"Tidak!" teriak pengurus Hans sambil tiba-tiba mengacungkan senjatanya. "Aku tidak akan membiarkan persahabatan bodoh kalian menghancurkan rencana ini!"
"Sudah aku duga ada yang tidak ada yang beres denganmu," kata Julia yang refleks mengangkat senjatanya dan mengarahkannya ke pengurus Hans.
"Diam! Lemparkan senjatamu atau temanmu ini mati!" ancam pengurus Hans yang mengacukan senjatanya ke Gerda.
"Baik."
Julia meletakan pistol nya di lantai lalu menendangnya ke arah Nisa. Walau kelihatannya Nisa masih terikat namun sebenarnya ia sendari tadi telah berhasil lolos. Dengan menggunakan belati yang Julia tinggalkan dibelakang tubuhnya, Nisa memotong tali yang mengikat tangan dan kakinya secara diam-diam, lalu berpura-pura seolah-olah ia masih terikat. Ada dua alasan ku Julia jauh memilih Nisa dari pada Rica. Yang pertama, pengurus Hans tidak akan mencurigai Nisa dan yang kedua, Nisa sudah perna menembak. Semuanya tergantung pada Nisa yang sanggup atau tidak menggunakan pistol itu untuk melukai seseorang.
__ADS_1
"Pengurus Hans, apa yang kau lakukan? Beraninya kau mengacukan senjatamu padaku!" bentak Gerda pada pengurus Hans.
"Dia bukan pengurus rumah. Kenapa tidak ungkapkan saja siapa jati dirimu yang sebenarnya? Lagi pula tidak ada gunanya berpura-pura lagi," kata Julia yang melirik tajam pada pengurus Hans.
"Apa maksudmu, Julia? Dia..."
"Apa kau tidak merasa janggal dengan semua ini, Gerda? Dialah yang terlihat paling menginginkan keberhasilan dari penyerangan ini. Dan lagi, kenapa kau merahasiakan beberapa informasi dari tuanmu?"
"Informasi rahasia apa yang yang kau maksud?" tanya pengurus Hans pura-pura tidak tahu.
"Misalnya tentang bahwa kepemimpinan dari Black Mamba adalah papaku, Tn. Flors."
"Benar juga. Pengurus Hans, kau sama sekali tidak memberitahu ku soal ini. Pada hal kau yang aku suruh untuk mencari semua informasi tentang kelompok mafia di ibu kota. Kenapa kau merahasiakan ini dariku?" Gerda menatap pengurus Hans minta jawaban.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1