Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Kehilangan seorang teman


__ADS_3

"Tak akan kubiarkan!"


Gerda bangkit dan menyerang Hans. Ia mencoba merebut remot kontrol tersebut sebelum Hans berhasil menekan tombolnya. Terjadi sedikit perkelahian antara keduanya. Dengan kemampuan Gerda yang terbatas tentu tidak sebanding dengan Hans tapi ia berhasil membuat remot kontrol tersebut terlepas dari gengaman tangan Hans walau harus menerima beberapa sabetan dari pisau beracun milik Hans. Tidak seperti Julia yang kebal terhadap semua jenis racun mematikan. Racun tersebut dengan cepat menyebar ke aliran darah Gerda. Ia tiba-tiba tersungkur ke lantai setelah melakukan serangan terakhirnya pada Hans.


"Gerda!"


Julia bergegas menghampiri temannya itu. Ia tidak mempedulikan lagi rasa sakit di perutnya. Ia meraih tubuh Gerda yang sudah melemah ke pangkuannya dengan air mata mengalir di pipinya.


"Gerda, bertahanlah. Jangan tinggalkan aku lagi. Hiks... Hiks..."


"Ja, jangan menangis Julia," dengan lemahnya Gerda berusaha mengusap air mata Julia. "Ini merupakan bentuk penebusan dosaku. Maaf karna aku selalu menyusahkan mu. Aku bukan teman yang baik untukmu dan juga bukan putri yang baik bagi ibuku. Mungkin, dengan kematian ku ini, aku tidak akan menyusahkan mu lagi. Terima kasih, untuk apa yang kau berikan padaku selama ini. Aku... Sangat senang... Memiliki... Teman seperti dirimu... Julia. Jangan menyusul ku," Gerda menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Julia.


"Tidak! Gerda, kembali lah. Aku mohon kembali lah. Jangan tinggalkan aku lagi. Hiks... Hiks... Huaaaahh..........aah..... Gerda ! ! !"


Tangis Julia pecah sambil memeluk temannya yang sudah tak bernyawa. Kehilangan seseorang yang sangat berharga tidaklah diinginkan oleh siapapun. Seorang teman yang telah menemani kesehariannya sejak memasuki sekolah dasar. Julia sudah menganggap Gerda seperti saudaranya sendiri. Sekarang dia sudah pergi meninggalkan beberapa kenangan yang tak terlupakan.


"Sungguh mengharukan. Tapi itu merupakan pengorbanan yang sia-sia," ujar Hans. Ia meraih remot kontrol yang terlempar cukup jauh dari tempat ia terjatuh.


"Selamat jalan teman sekaligus saudariku," Julia membaringkan tubuh Gerda perlahan. Ia berdiri lalu berbalik menatap tajam pada Hans.


"Jangan menangis lagi. Kita juga akan segera menyusulnya ke alam sana."


Tanpa Hans duga, Julia tiba-tiba melesat cepat ke arahnya kemudian melakukan tendangan berputar menerjang wajah sebelah kiri Hans. Hal hasil Hans harus tersungkur ke lantai dengan sangat keras dan satu giginya depannya copot. Hans benar-benar tidak menyangkah kalau Julia masih sanggup membuat ia terjatuh dalam sekali serangan. Namun karna gerakan tersebut luka pada perut Julia malah semakin parah sampai-sampai Julia memuntahkan darah dari mulutnya. Daya tahan tubuhnya seketika turun drastis. Julia terbaring di lantai dan sangking lemahnya ia bahkan tak mampu mengangkat tangannya lagi.


"Sial! Apa sungguh kau itu cuman gadis SMA?" terlihat jelas raut wajah Hans yang merasa kesakitan di rahang serta lehernya akibat tendangan Julia tadi. "Tapi aku yakin kalau itu pasti tenaga terakhir mu. Kau tidak akan mampu menghentikan ku lagi."


Hans menekan tombol pada remot kontrol yang tergeletak dihadapannya disaat tiba-tiba sebuah peluru menembus pergelangan tangannya. Remot kontrol yang ia pegang kembali terlempar. Sambil mencengkram pergelangan tangannya yang meneteskan darah, Hans melirik ke orang yang melepaskan tembakan tersebut. Terlihat Nisa sudah berdiri di depan pintu dengan tubuh gemetar.


"Julia!" panggil Rica yang muncul dibelakang Nisa lalu berlari menghampiri Julia. "Maaf, kami terlambat Julia. Kau lupa mengisi ulang peluru pistol mu. Kami terpaksa kembali ke mobilmu untuk mencari peluru cadangan."

__ADS_1


"Aku meminta mu mengaja Nisa pergi. Kenapa kalian malah kembali lagi?" kata Julia dengan lemahnya.


"Seharusnya kau tahu kalau Nisa tidak akan perna mau meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini."


"Dan kau?"


"Sekali ini saja. Lagi pula kau terluka karna aku. Aku tidak sudih memiliki hutang budi," kata Rica sambil memalingkan mukanya.


"Ha... Terima kasih, telah mau datang."


"Berhentilah berbicara. Ku bantu kau keluar dari tempat ini," Rica merangkulkan tangan Julia ke bahunya lalu membantunya berdiri.


"Kalian serangga dari keluarga Pinkston sungguh pengganggu!!" bentak Hans.


"Kau telah melukai temanku! Rasakan ini!!!" teriak Nisa sambil menarik pelatuk pistol yang ada digenggamannya.


"Sudah cukup Nisa. Dia sudah tewas. Ayok pergi dari sini. Kita harus segera membawa Julia ke rumah sakit."


"Iya."


Nisa segera mambantu Rica menuntun Julia keluar dari bangunan vila. Namun baru melangkah keluar dari ruangan tersebut, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang membuat bangunan vila berguncang. Rica dan Nisa seketika panik dan mempercepat langkah mereka keluar dari bangunan itu. Sepertinya Hans berhasil mengaktifkan bom tersebut sebelum kematiannya atau remot kontrolnya mengalami kerusakan setelah terbentur beberapa kali. Terjadi percikan listrik yang menyebabkan timbulnya api lalu membakar benda-benda yang mudah terbakar. Dan karna ini juga membuat mereka bertiga cukup kesulitan mencari jalan keluar. Apa lagi ditambah dengan ledakan susulan yang lebih besar.


Mereka bertiga berhasil selamat keluar dari bangunan yang mulai dilahap api tersebut. Nisa dan Rica segera membantu Julia masuk ke mobil. Julia menolak berbaring, ia lebih memilih bersandar di kursi belakang. Rica dan Nisa tidak memaksa jika Julia tidak mau. Rica menancap gas mobil dengan kecepatan tinggi meninggalkan bangunan vila. Tidak disangka ternyata Rica memiliki kemampuan yang lumayan hebat juga di depan kemudi. Keahliannya mengendarai mobil di jalanan dengan kecepatan yang terus bertambah.


"Hosh... Hosh... Kau, rupanya pengemudi gila, Rica," kata Julia masih sempat-sempatnya mengejek.


"Aku anggap itu sebagai pujian."


"Aku jadi teringin balapan denganmu."

__ADS_1


"Kau harus hidup dulu jika kau menginginkannya."


Julia tidak sanggup lagi menahan tubuhnya tetap duduk tegak. Nisa yang menyadari itu langsung melepaskan sabuk pengaman Julia lalu membaringkan kepala Julia di pangkuannya. Tubuh Julia sudah semakin melemah karna telah kehilangan banyak darah.


"Julia, bertahanlah. Sebentar lagi kita akan memasuki permukiman terdekat."


"Nisa, apa kau takut?" tanya Julia menatap Nisa dengan redupnya.


"Jika soal membunuh pria tadi, aku sama sekali tidak takut. Ia memang pantas mendapatkannya. Tapi aku takut kehilanganmu. Jadi aku mohon bertahanlah."


"Bertahan? Aku jadi ingat, kata itulah yang aku ucapkan pada Gerda namun ia tetap saja meninggal."


"Aku turut berduka atas kehilangan temanmu, tapi bukan berarti kau juga harus menyusulnya. Hisk... Hiks... Aku tidak mau kehilanganmu, Julia. Kau yang telah membawa kembali kehangatan dalam hidupku," tangis Nisa sampai air matanya menetes di pipi Julia.



.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2