Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Penyerangan


__ADS_3

"Ini saatnya. Serang mereka dan rebut robot tersebut!" perintah Lady Blue pada ketiga anak buahnya melalui Handsfree. Saat ini ia ikut menyaksikan pertunjukan tersebut.


"Baik."


Ketiga pria yang menjadi bawahan Lady Blue mulai bergerak. Mereka yang menyamar diantara para penonton seketika berdiri sambil mengacungkan pistol mereka pada Julius, Julia dan Nisa. Para penonton tidak terlalu dibuat terkejut karna mereka menganggap semua itu bagian dari pertunjukan. Namun tidak bagi yang tahu kalau itu bukanlah bagian dari pertunjukan. Nisa sangat ketakutan begitu melihat senjata yang diarahkan padanya. Julia dengan sigap menarik Nisa kebelakang tubuhnya, sedangkan Julius sudah berdiri di depan adiknya. Lina yang melihat peristiwa itu dari atas tentu naik pita, ia hendak turun ke bawah sana tapi dengan cepat dicegat suaminya. Daniel menyakinkan istrinya kalau Julius dan Julia pasti bisa menangani masalah kecil itu.


"Serahkan rancangan robot itu!" bentak pria yang paling depan sambil mengacukan pistol nya.


"Coba saja ambil!"


Julia merebut remot kontrol yang ada pada Julius. Ia menekan tombol merah yang tersembunyi di balik remot kontrol tersebut disaat ia menarik kedua sisi remot sampai memunculkan layar monitor transparan bertuliskan mode serang. Begitu tombol ditekan, ke delapan robot yang tadinya masih melayang di udara seketika menyatu menjadi empat robot dan kemudian menembaki ketiga pria itu menggunakan suntikan obat bius. Karna memang salah satu dari ketiga pria itu sudah siap menembak, memuat ia reflek menarik pelatuk pistol tersebut sebelum akhirnya terbaring di lantai tidak sadarkan diri karna obat bius. Tima panas meluncur cepat ke arah Julius, Julia dan Nisa. Julius yang segera menyadari itu seketika mendorong Julia dan Nisa menghindar. Beruntung karna gerak reflek yang cepat dari Julius membuat mereka tidak mengalami luka, tapi tidak bagi Julius itu sendiri. Ia mendapat sedikit goresan di lengannya akibat peluru tersebut. Darah mengalir dari balik seragam Julius yang sobek. Menyadari kalau senjata yang digunakan ketiga pria itu asli membuat para penonton seketika panik setelah mendengar suara tembakan.


"Harap tenang semuanya. Ini cuman bagian dari pertunjukan. Semua barang yang digunakan hanyalah sekedar properti saja. Jangan panik dan diminta semuanya kembali ke tempat duduknya masing-masing," teriak Via mencoba menenangkan semua orang yang ada.


"Sam, bereskan semuanya!" perintah Samuel pada bawahannya yang memang selalu ada disekitarnya.


Beberapa orang pria bergegas mengamankan ketiga pria bersenjata itu dan membawanya keluar. Lady Blue yang menyaksikan secara langsung kegagalan telak itu benar-benar dibuat kesal, tapi ia harus menahan diri agar identitasnya tidak terbongkar pada temannya yang duduk disebelahnya. Semua orang yang tadi hendak berlari keluar menyelamatkan diri kini merasa tenang dan telah kembali ke kursi masing-masing.


"Bikin kaget saja."


"Ternyata ini memang bagian dari pertunjukan."


"Sudah aku duga, tapi tetap saja mengejutkan."


"Mereka benar-benar niat melakukanya sampai membuat skenario yang begitu nyata."

__ADS_1


"..."


Bisik sana sini diantara para penonton. Padahal mereka tidak tahu kalau sebenarnya penyerangan tadi itu benar-benar nyata. Lina menarik nafas lega begitu melihat semuanya sudah selesai dan putra serta putrinya baik-baik saja. Yang masih ketakutan disini cuman Nisa. Tubuhnya yang gemetar bisa dirasakan jelas oleh Julia.


"Nisa, kau bisa berdiri?" tanya Julia pada temannya itu.


"Apa yang terjadi? Ki, kita tidak membuat skenario seperti ini. Siapa mereka?" kata Nisa pelan.


"Tenangkan dirimu, okey. Semuanya sudah dalam kendali kami. Bersikaplah seolah-olah ini cuman bagian dari pertunjukan kita. Kau pasti tidak mau jika semua orang diruangan ini tahu kalau tadi itu bukanlah settingan. Mereka bisa panik dan akan terjadi kekacawan disini."


"Aku cuman kaget saja."


Julia membantu Nisa berdiri. Kaki Nisa yang masih sedikit gemetar membuat ia kesulitan menyeimbangkan diri dan hampir membuatnya terjatuh. Untungnya Julia masih menggegam tangan temannya itu. Setelah Nisa berdiri tegap, Julia mengambil mic yang sepat jatuh disaat Julius mendorong mereka tadi.


"Maafkan kami semuanya atas kejadian barusan. Kalian pasti kaget karna hal ini. Kami sedikit berlebihan. Sebenarnya kami cuman ingin menunjukan kalau robot ini juga bisa berguna untuk melindungi diri dari bahaya. Jika sistem robotik mendekteksi ada ancaman, maka secara otomatis robot ini akan menembakan obat bius yang membuat penjahat lumpuh seketika," jelas Julia mencari alasan.


Julia dan Nisa menoleh begitu mendengar kalimat tersebut. Terlihat salah satu robot sudah melayang dihadapan Julius. Robot tersebut menampilkan hologram sebuah gambar sebagian tubuh manusia yang menunjukan titik merah persis sama dimana Julius mengalami luka.


..."Terdapat luka gores sepanjang 3 cm di lengan atas sebelah kiri. Disarankan untuk segera membersikan luka dengan antiseptik lalu memperbannya. Pastikan luka tidak terkena air selama penyembuhan dan perbannya diganti setiap hari."...


"Kakak terluka?" tanya Julia.


"Aku rasa begitu. Aku tidak menyadarinya."


Julius melirik ke lengannya yang terluka. Tepat dibalik sobekan di jas seragam sekolahnya ada bekas darah begitu Julius menempelkan telapak tangannya disana.

__ADS_1


"Cuman luka kecil. Bukan masalah serius."


"Baiklah, ini dia contoh pasiennya," teriak Julia pada hadirin.


"Kenapa aku?"


"Jangan banyak protes, lakukan saja apa yang aku katakan. Sekarang cepat lepaskan baju kakak."


Tanpa persetujuan lagi Julia langsung melepaskan jas seragam Julius. Julius tidak bisa menolak dan dengan pasra mengikuti keinginan adiknya itu. Warna merah darah semakin tampak jelas di kemeja putih Julius. Dengan cekatan Julia menggulung lengan kemeja kakaknya sampai menampakan lukanya. Satu robot mulai membantu mengobati luka pada lengan Julius. Dengan dilengkapi lengan robot yang dapat disimpan, memungkinkan mempermudah melakukan pengobatan.


Walau terjadi sedikit kendala tapi presentasi mereka berjalan lebih dari yang diharapkan. Berkat fitur tambahan yang Julia letakan pada robot tersebut menjadi poin tambahan pula bagi project sains mereka. Kini semua peserta dikumpulkan di atas panggung dengan ketua kelompok masing-masing berdiri di barisan paling depan. Para juri telah saling sepakati dan menetapkan siapa pemenangnya dari juara satu sampai tiga. Degdegan dirasakan oleh setiap peserta begitu juri mengumumkan siapa pemenangnya. Saat yang dinantikan telah tiba. Usaha mereka selama sebulan ini akan terbayar jika mereka memenangkan lomba dan untuk yang kalah... Silakan coba lagi tahun depan.


"Setelah perhitungan yang matang dan disetujui oleh seluruh juri, didapatlah hasil pemenang dari perlombaan sains dan teknologi tahun ini," dengan kertas ditangannya, Via kini mengumumkan. "Juara ketiga diraih oleh... Kelompok Evely!"


Tepuk tangan yang meria diberikan kepada kelompok tersebut. Kelompok yang terdiri dari para wanita tersebut terlihat melompat kegirangan karna telah berhasil menempati juara ketiga.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2