
"Turunlah. Mereka ular-ular itu sudah pergi," pinta Julius pada Marjorie.
"A, apa itu yang kau sebut sudah pergi," dengan tangan gemetar Marjorie menunjuk ke satu ular putih yang ada dihadapan mereka.
"Itu Pieper. Peliharaan ku. Sepertinya ia terbangun dari tidurnya karna semua kebisingan ini."
"Kau memelihara seekor ular?"
"Iya. Ayok cepat turun. Dia tidak akan menggigitmu."
"Apa kau yakin? Dia terlihat mendesis marah padaku," bukannya turun, Marjorie malah mempererat pelukannya.
"Aku rasa dia marah karna kau merebut tempatnya."
"Merebut tempatnya?"
"Turun."
Dengan keadaan masih takut, Marjorie mencoba memberanikan diri perlahan turun. Ia segera bersembunyi dibalik tubuh Julius begitu kakinya menyetuh tanah, tapi ia sontak langsung mundur begitu Pieper mulai merayap naik ke tubuh Julius lalu melingkarkan dirinya diantara leher Julius.
"Yang benar saja. Bahumu itu adalah tempatnya yang kau maksud," tunjuk Marjorie pada Pieper.
Tidak terima, Pieper mendesis marah pada Marjorie. Ia membuka mulutnya lebar-lebar sambil memamerkan taringnya yang mungil.
"Sudah. Jangan menakutinya," Julius mengusap kepala Pieper untuk menenangkan nya.
"Dia bermanja sekali padamu," kata Marjorie sambil menatap kesal pada ular putih tersebut.
"Aku pikir ia cemburu karna kau mendekati ku."
"Apa ular juga memiliki perasaan seperti itu?" ujar Marjorie namun sepertinya ia lah yang terlihat cemburu pada Pierpe yang begitu bermanja pada Julius. "Yang benar saja aku dikalahkan oleh seekor ular. Sadar Marjoret! Apa yang baru saja kau pikirkan?!!"
"Kau kenapa?" tanya Julius yang bingung melihat Marjorie.
"Tidak ada. Ja, jangan beritahu siapapun soal ini atau aku akan memukulmu!" Marjorie segera berbalik untuk menyembunyikan wajahnya yang merah. "Ayok kembali," Ia bergegas melangkah pergi.
"Dia kenapa?"
Julius saling pandang sesaat dengan Pieper sebelum menyusul Marjorie kembali ke gubuk. Sampai disana terlihat semua orang telah berhasil dikalahkan oleh anak buah Marjorie yang tersisa. Sebagian yang tewas tergeletak begitu saja disana dan untuk beberapa yang selamat, mereka semua telah melarikan diri masuk ke hutan. Sementara Yusra. Kemungkinan ia sedikit trauma atas kejadian malam ini. Marjorie mendekati pria itu dan menanyakan bagaimana kondisi dari dua anak buahnya yang terluka.
"Luka yang mereka alami cukup serius. Mereka harus cepat dibawah ke rumah sakit."
__ADS_1
"Apa kau masih bisa menyetir?"
"Bisa, nona."
"Bagus. Kalau begitu cepat bawah mereka ke rumah sakit."
"Baik. Tapi bagaimana dengan anda?"
"Aku akan kembali bersama dia," Marjorie menoleh pada Julius.
Pria itu mengikuti arah pandang Marjorie melirik ke Julius yang terlihat hampir terjatuh karna tersandung kakinya sendiri. Ia membopong tubuh rekannya satu persatu menuju mobil diluar. Dengan pakaian yang masih berlumuran darah, ia melajukan mobilnya bergegas kembali ke kota. Ia harus cepat-cepat mengantar kedua rekannya menuju rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan medis.
Julius mengeluarkan hpnya lalu menghubungi papanya. Beberapa kali dicoba tetap sejak telponnya tidak diangkat. Julius beralih menghubungi mamanya namun sama saja begitu juga dengan paman nya, Samuel. Belasan kali mencoba menelpon dan masih tetap tidak diangkat. Tak berapa lama Julius malah mendapat telpon balik dari papanya. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera mengangkatnya.
"Hallo. Pa..."
"Ada apa Julius?"
"Papa ada dimana sekarang?" tanya Julius. Terdengar suara tembakan dari balik telpon. "Apa berada di kediaman keluarga tersembunyi?"
"Papa sedikit sibuk sekarang. Bisa kita bicara lain kali?"
"Kau tahu tentang penyerangan ini?"
"Iya. Dan aku juga tahu penyebab dan alasannya. Jangan sia-siakan peluru serta tenaga untuk penyerangan tipuan. Mereka sekarang belum mengincar kediaman."
"Maksudmu semua ini cuman tipuan agar mereka bisa menyerang... Markas?!"
"Iya."
"Baiklah Julius. Papa akan segera memberitahu kepalah keluarga tersembunyi untuk tidak mengirim sebagian besar anggotanya ke kediaman utama."
"Tidak perlu serang kelompok Dragon lagi. Yusra akan meminta ayahnya menarik seluruh anggota mereka yang tersisa."
"Yusra? Maksudmu putra Tn. Arlo? Dia ada bersamamu?" tanya Daniel memastikan.
"Iya."
"Disini Tn. Arlo berteriak-teriak tidak jelas. Ia mangatakan kalau keluarga tersembunyi telah menculik putranya."
"Itu bagian dari rencana Lady Blue. Ia ingin mengadu domba keluarga tersembunyi dengan kelompok Dragon agar bisa ia menyerang markas yang kemungkinan pertahanannya akan melemah."
__ADS_1
"Baiklah, papa mengerti. Papa akan menjelaskan semuanya pada kepalah keluarga tersembunyi."
Julius mematikan telponnya. Ia kemudian menghampiri Yusra yang baru saja ikatan pada tangan dan kakinya dilepas Marjorie.
"Yusra, kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?" ujar Julius dengan ekspresi dingin.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku masih shock atas kejadian ini."
Yusra langsung menghubungi ayahnya setelah menerima hpnya yang disita Marjorie. Telpon diangkat. Tn. Arlo seketika menghujani Yusra dengan semua pertanyaan kecamasan seorang orang tua pada anaknya. Yusra menjelaskan secara mendetail apa yang terjadi kepada ayahnya tanpa terkecuali, termasuk Marjorie yang menculiknya dan merupakan bawahan langsung Lady Blue sampai Julius menyelamatkannya serta pertarungan yang terjadi disekitarnya. Yusra juga meluruskan kesalah pahaman ini dan meminta ayahnya menarik mundur kelompok Dragon untuk tidak menyerang keluarga tersembunyi lagi.
Awalnya Tn. Arlo tidak percaya atas apa yang Yusra katakan. Lady Blue yang selama ini ia percaya ternyata mengkhianatinya. Ia sempat bertanya, apa ada orang yang mengancamnya untuk mengatakan semua itu. Yusra tentu menjawab tidak, tidak ada sama sekali orang yang mengancamnya. Tn. Arlo mempercayai semua itu. Ia yakin kalau putranya tidak akan mungkin berbohong. Tn. Arlo memerintahkan kelompoknya yang tersisa untuk menghentikan tembakan dan mundur. Dari pihak keluarga tersembunyi juga telah menghentikan serangan mereka.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
"Jangan percaya setiap kata-katanya, Yang mulia. Itu cuman alasan dia agar bisa melarikan diri darimu," kata seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Gerda.
"Pengurus Hans? Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau ada di kota sebrang?" tanya Gerda.
"Ah, maafkan saya. Saya cuman sedikit mengkhawatir anda."
"Siapa dia, Gerda?" tanya Julia sedikit ingin tahu.
"Dia pengurus Hans, atau lebih tepatnya tangan kananku. Dia lah yang membantuku dan mengurus semuanya selama aku tidak ada di vila," jelas Gerda memperkenalkan pengurus Hans.
"Kenapa aku merasa curiga dengan pria satu ini. Dari aura nya ia tidak terlihat seperti seorang pengurus rumah," pikir Julia yang sendari tadi terus memperhatikan pengurus Hans.
"Ternyata anda teman yang sering disebut-sebut Yang mulia. Ini merupakan pertemuan pertama kita. Salam kenal nona Flors," pengurus Hans membungkukan badanya memberi hormat pada Julia.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1