
"Kenapa kita satu meja dengan wanita menjengkelkan itu?" tanya Lina pelan sambil menatap tidak senang pada Violet.
"Mau bagaimana lagi. Tn. Michael yang menetapkan tata nama dimana meja kita berada."
"Tidak apa kak Lina, lagi pula kita juga tidak akan lama duduk bersama mereka," ujar Via yang mengambil tempat duduk di samping Violet.
"Tidak perlu berakting lagi juga aku sudah sakit kepala melihatnya."
"Sabaiknya kita duduk dulu sebentar."
Daniel menarik kursi untuk Lina dan mempersilakan dia duduk di samping Via, lalu menarik kursi untuk dirinya sendiri dan tentunya bersebelahan dengan Lina.
"Apa anda sedikit kurang sehat nona Lina? Wajah anda pucat," tanya Ducan.
"Terima kasih atas perhatiannya Tn. Cershom. Saya memang sedikit kurang sehat hari ini."
"Mungkin anda mau istirahat sebentar? Saya yakin Tn. Michael menyediakan kamar untuk tamu yang ingin beristirahat."
"Sekali lagi terima kasih Tn. Cershom, mungkin saya akan membutuhkannya nanti."
"Cih! Kenapa ayah menaruh perhatiannya pada Lina. Ia kan tahu kalau gadis itu telah merebut tunangan putrinya sendiri. Eee...! Kehadiran Lina menjadi penghalang terbesarku. Aku harus menyingkirkannya secepatnya!" gerutu Violet dalam hati. "Menjadi ibu hamil sangat menyusahkan nya."
"Kan mulai," Lina berusaha untuk sabar melihat tingkat Violet. "Tidak juga. Walau memang sedikit menghambat aktivitas ku namun aku sangat menyukai masa kehamilanku ini. Menjadi seorang ibu merupakan hal terindah yang perna terjadi dalam hidupku."
"Dasar kau Lina!! Apa maksudmu berbicara seperti itu? Kau pikir kau sudah merasa menang karna telah berhasil merebut Daniel dariku? Tidak. Aku belum kalah!"
Pembawa acara memulai pesta perjamuan. Kata-kata sambutan ia berikan sebagai pembuka. Ia mulai memasuki tujuan dari diselenggarakannya perjamuan tersebut. Lina tidak terlalu memperhatikan apa yang sedang berlangsung di sekitarnya. Hidangan yang disajikan pelayan tidak menarik di matanya. Ia cuman mencicipinya sekali lalu tidak disentuhnya lagi.
"Hanya ada Tn. Stevan dan Tn. Michael saja yang hadir malam ini?" tanya Lina disaat melihat mereka berdua naik ke atas panggung.
"Tn. George tidak bisa hadir karna ada urusan di luar negeri," jelas Ducan.
"Oh..."
"Dan asal kau tahu Lina, mereka berdua itu adalah pamanku," kata Violet dengan nada sombong.
"Aku tidak bertanya," jawab Lina datar.
"Kau... Apa kau tahu, aku bisa saja meminta mereka mengusirmu dari sini!!" Violet sedikit meninggikan suaranya karna geram melihat Lina.
"Kau lah yang akan diusir jika terus berteriak nona Violet."
__ADS_1
"Violet, Diam!" tegur Ducan.
"Tapi ayah, dia yang memulai."
"Jaga tata karma mu disini. Sudah aku bilang untuk meminta meja lain tapi kau bersikeras mau duduk bersama mereka."
"Kenapa ayah sama sekali tidak mau membelaku? Aku ini putrimu, dan dia itu telah mencuri tunangan dari putrimu ini!"
"Nona Cershom, mohon jaga sikap adan pada istri saya," kata Daniel yang membuat Violet memalingkan muka dengan kesal.
"Pertunangan itu tidak bisa sepihak, Violet. Jika Daniel tidak mau, aku tidak bisa memaksa."
"Aku merasa ragu kalau aku ini benar putri kandungmu!"
"Jika kau bukan putriku, kau pikir aku mau mengikuti semua keinginanmu itu?"
"Perlakuan ayah pada Violet sungguh berbeda. Tidak heran hubungan mereka bisa jadi seperti ini," pikir Lina.
Di perempatan acara yang sedang berlangsung. Tiba-tiba Lina merasakan pusing di kepalanya. Ia sedikit memijit dahinya untuk menghilangkan rasa pusing itu namun tidak berhasil. Daniel yang menyadari itu pertama kali segera bertanya pada Lina.
"Ada apa kucing kecil? Apa kepalamu terasa pusing?"
"Iya."
"Boleh."
Daniel membantu Lina berdiri lalu membopongnya pergi.
"Ah! Daniel, tidak perlu sampai seperti ini."
Pipi Lina seketika memerah karna Daniel membopongnya lewati meja-meja tamu undangan. Beberapa diantara mereka berbisik sambil tersenyum kecil begitu melihat perlakuan Daniel terhadap Lina.
"Kakak! Tunggu aku," Via berjalan cepat mengejar Daniel dan Lina.
"Gadis itu sungguh tidak memiliki sopan santun," gumang Violet dengan wajah masih cemberut.
Sampai di kamar no 26. Daniel membuka kunci kamar menggunakan kartu kunci yang diberikan oleh seorang staf yang bertugas disana. Di dalam, Daniel mendudukan Lina di atas tempat tidur.
"Beristirahatlah."
"Suharusnya kau tidak perlu sampai seperti itu," kata Lina yang pipinya masih merona.
__ADS_1
"Istri ku benar-benar pemalu."
"Sudahlah kak, berhentilah berakting. Saatnya memulai aksi."
Via mengeluarkan leptopnya dan mulai mengakses sistem keamanan gedung tersebut. Ia mengambil tempat duduk disamping Lina. Dengan cekatan jari-jarinya bermain di atas setiap tombol keyboard. Lina memperhatikan terus bagaimana cara Via menerobos sistem keamanan tersebut.
"Via memang sangat hebat. Diusiamu ini kau sudah sangat ahli dalam hal seperti ini," puji Lina.
"Dia memang hebat jika berurusan dengan menerobos sistem keamanan. Aku jadi ingat dengan misi pertamanya dulu. Ia ditugaskan untuk menyusup ke kantor kepolisian agar bisa menghapus seluruh data keterlibatan keluarga Flors dalam bisnis senjata ilegal," ujar Daniel
"Dan aku berhasil dengan nilai sempurna dari ayah," kata Via tanpa memalingkan pandangnya dari layar leptop.
"Kau tidak hanya menghapus data itu tapi kau juga meledakan kantor polisinya sekalian."
"Aku menolak untuk gagal. Jadi disaat aku hampir tertangkap, aku meluncurkan rencana C. Yaitu meledakan habis kantor kepolisian itu. Aku menempatkan beberapa dinamit selama perjalanan menyusupku ke ruangan dimana mereka menyimpan semua data itu."
"Kalau boleh tahu, umur berapa kau menjalankan misi pertama mu, Via?" tanya Lina.
"Umur 10 tahun," jawab Via.
"Di usia yang semuda itu kau telah meledakan kantor polisi. Aku jadi penasaran, bagaimana dengan misi pertama mu, Daniel?" Lina berbalik bertanya pada Daniel.
"Oh, kalau misi pertamaku. Aku diminta membunuh bandar narkotika yang ingin berkhianat. Aku berhasil membunuhnya disaat perjalanannya menuju kantor polisi. Aku menembaknya tepat melalui jendela kaca mobil."
"Bagaimana dengan kakak?" tanya Via pada Lina. "Siapa orang pertama yang kakak bunuh?"
"Aku... Em... Orang pertama yang aku bunuh seorang wanita glamor. Dulu Ramona perna meminjam uang padanya untuk mendaftakanku masuk sekolah dan membeli keperluan sekolah lainnya. Setiap bulan Ramona berkerja keras agar bisa membayar hutang tersebut tepat waktu setiap bulannya. Dan pada bulan terakhir pembayaran, Ramona telat membayar hutang. Bukan tanpa alasan, uangnya terpakai karna aku jatuh sakit sampai harus dilarikan ke rumah sakit.
Wanita itu marah-marah pada Ramona karna telat membayar hutang. Ia sampai mendorong Ramona dan mengancamnya jika dalam tiga hari hutang nya tidak dibayar. Saat itulah aku menaruh benci pada wanita itu. Timbul niat untuk membalasnya, namun aku tidak bermaksud membunuhnya. Itu kecelakaan. Setelah berhasil memacingnya masuk ke hutan dengan alasan mencari Ramona yang sedang mencari kayu bakar. Di dekat jurang, aku telah memasang jebakan untuknya. Tapi yang tidak aku duga di dalam lubang itu ada seekor ular king kobra."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε