
"Hati-hati! Apa kau mau merusaknya?" bentak Ducan sambil meraih kotak berisi batu giok tersebut.
"Itu cuman batu giok biasa. Paling harganya cuman 10 dolar atau tidak laku sama sekali," Violet melipat kedua tangannya sambil membuang muka. "Tidak aku sangka ternyata warisan ibu cuman seongok batu."
"Sabar Ducan. Kau harus sabar. Ingat rencananya," Ducan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan diri. "Apa sungguh kau tidak mau menerima batu giok ini?"
"Tidak, terima kasih," Violet berbalik hendak pergi. "Tidak ada satupun dari temanku yang mau giok jelek seperti itu."
"Violet!" bentak Ducan kali ini sambil menepak meja. "Berani sekali kau berniat memberikan giok ini pada teman mu. Ini adalah warisan dari ibumu! Tidak seharusnya kau memperlakukan barang pemberian ibu seperti itu!"
"Sudah aku katakan, biarpun aku memberikannya pasti tidak akan ada yang mau menerimanya. Jika ayah sangat menyayangi batu itu, simpan saja sendiri."
"Kau sungguh tidak tahu apa-apa! Semua orang bahkan rela saling membunuh hanya untuk mendapatkan batu giok ini," Ducan benar-benar meninggikan suaranya.
"Hanya orang bodoh yang mau mengorbankan nyawanya untuk mendapatkan batu jelek itu."
"Oh, benarkan. Apa kau tahu kalau sebenarnya giok ini merupakan Token kepemilikan dari rumah lelang Red Krisan?!!"
Violet tersentak kaget dan tidak percaya atas apa yang baru saja ia dengar. Ia berbalik dengan mata terbuka lebar. "A... A, ayah pas, pasti becanda, bukan? Ru, ru, rumah lelang i, itu. Maksud ayah rumah lelang yang itu. Yang terbesar itu. Rumah lelang Red Krisan!"
"Kau pikir aku perna becanda?" tatapan tajam Ducan arahkan pada Violet.
"Tidak. Ayah adalah tipe orang yang tidak bisa diajak becanda. Aku bahkan tidak perna melihat ia tersenyum."
"Karna batu giok ini Ariana sampai meninggal dunia. Dan kau sama sekali tidak menghargainya!! Kerjaanmu cuman menghamburkan uang saja! Membeli ini itu yang tidak berguna dan pergi ke tempat hiburan malam. Kau pikir aku tidak mengetahui hal itu? Ketahuilah Violet aku selalu mengawasimu!"
"Walau ayah bersikap acuh tak acuh padaku tapi ayah tidak perna semarah ini. Giok itu pasti sungguhan Token kepemilikan rumah lelang itu. Tidak kusangkah ibu begitu kaya dan memberikan warisan tak ternilai ini padaku. Aku harus membujuk ayah agar tidak marah lagi. Batu giok jelek itu adalah jalanku menuju puncak kejayaan," batin Violet. Dengan kecepatan merubah raut wajah seperti membalik buku, Violet bergegas menghampiri ayahnya kembali. "A, ayah aku tidak bermaksud begitu. A, aku cuman bercanda saja. Mohon maafkan aku."
"Aku pikir kau belum siap untuk menerima tanggung jawab ini. Sebaiknya aku memberikannya disaat kau telah mampu mengatur keuanganmu dan bisa menjadi pemimpin yang baik. Dengan sifat manjamu yang seperti ini, aku takut rumah lelang akan hancur di tanganmu," Ducan menyimpan kembali kotak perak itu di laci mejanya.
"Ayah, kau tahukan aku cuman becanda."
"Kau tadi bahkan sempat mau memberikannya pada temanmu. Pikirkan itu jika sampai terjadi. Candaanmu terlalu kelewatan, Violet."
__ADS_1
"Kenapa ayah tidak perna bilang kalau ibu adalah pemilik dari rumah lelang Red Krisan yang misterius itu? A, aku tentu tidak akan salah paham."
"Sebaiknya lupakan. Tunggulah sekitar dua sampai tiga tahun lagi atau sampai kau sudah cukup dewasa untuk mewarisi rumah lelang ini."
"Apa?! Aku tidak akan sanggup menunggu selama itu. Aku sudah tidak sabar lagi menikmati seluruh kekayaan rumah lelang Red Krisan," batin Violet. "Ayah... Aku janji akan berubah. Aku pasti bisa menjalankan perusahaan itu dengan sangat baik dan membawanya menuju kejayaan tertinggi. Aku mohon ayah. Percayalah padaku."
"Kau harus berjanji akan berubah. Kuberi waktu tiga bulan untukmu menjalankan perusahaan ini. Jika dalam kurun waktu tiga bulan kau tidak bisa menjalankan perusahaan ini dengan baik. Kau dipersilakan mencobanya lagi tahun depan."
"Baiklah-baiklah, aku berjanji. Sekarang berikan Token itu padaku," pinta Violet tergesa-gesa.
"Bersabarlah sampai besok pagi. Ikut aku menemui kepala penanggung jawab rumah lelang untuk mengurus penggantian kepemilikan."
"Besok pagi? Itu juga masih lama tapi dari pada menunggu dua sampai tiga tahun... Besok ya besok. Hanya butuh waktu kurang lebih 13 jam lagi aku akan resmi menjadi pemilik sah dari rumah lelang Red Krisan," senyum licik terukir samar di wajah Violet. "Terima kasih ayah. Selamat malam."
Violet memeluk ayahnya dengan mesra sambil mencium pipinya. Ia kemudian berlalu pergi ke kamarnya dengan hati riang berbunga-bunga.
"Aku harap rencana ini berhasil. Maafkan aku Violet. Sudah waktunya kau membalas budi dan melakukan tugasmu."
Dua hari kemudian. Lina sedang berjalan santai menuju kelasnya sambil melihat-lihat situs gelap di media sosial. Berita tentang Violet telah menjadi trending topik sejak pihak rumah lelang mengumumkan Violet sebagai perwaris dari rumah lelang Red Krisan. Tentunya ini menjadi berita yang sangat menggemparkan. Untuk pertama kalinya pemilik utama dari rumah lelang ilegal terbesar di ibu kota yang selalu di rahasiakan kini muncul ke publik.
"Para bajingan itu pasti telah mengetahui berita ini dan mulai bersiap bergerak. Sampai saat itu tiba, kalian semua akan tamat," gumang Lina pelan. Karna terlalu fokus memperhatikan layar hpnya, Lina tidak menyadari kehadiran Ira yang sudah ada di sampingnya.
"Lina! Apa yang sedang kau lihat?" panggil Ira mengagetkan Lina.
"AAAAH ! ! !" teriak Lina sangking kaget nya sampai-sampai hp yang ia pegang terlempar jatuh.
"Hahaha......." Ira tertawa melihat reaksi Lina yang terkejut.
"Ira....! Kau mau aku pukul!!"
"Hihi... Jangan marah Lina. Sebenarnya apa yang kau lihat di hpmu sampai kaget setengah mati begitu aku panggil."
Ira memungut hp Lina yang tergeletak di lantai. Ia melihat apa yang sendari tadi mengalikan fokus temannya itu dari semua yang ada di sekitarnya. Raut wajah Ira berubah bingung.
__ADS_1
"Bukankah ini Violet? Pemilik dari rumah lelang Red Krisan? Aku belum perna dengar tentang itu."
"Tidak perlu pedulikan itu," Lina merebut kembali hpnya.
"Hei, Lina. Situs apa yang kau buka itu? Terlihat begitu asing."
"Sebaiknya kau tidak perlu tahu. Karna banyak hal di dunia ini yang lebih baik tidak kau ketahui, atau nanti akan berdampak buruk terhadap dirimu sendiri," kata Lina menakut-nakuti Ira.
Mendengar itu membuat Ira menaikan alisnya. "Memangnya apa yang tidak boleh aku ketahui? Apa itu situs tempat para penjahat-penjahat seperti kelompok mafia, pembunuh bayaran dan penjual beli ilegal berkumpul?"
"E, Tebakanmu tepat sekali."
"Hah?!"
"Bu, bukan apa-apa."
"Kalian berdua berdua minggir. Jangan menghalangi jalanku," ujar seseorang membuat Lina dan Ira menoleh ke belakang.
"Violet."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1