Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Dipertemukan dengan singkat


__ADS_3

"Hmp!" Violet menahan mulutnya disaat ada sesuatu yang hendak keluar.


"Kau kenapa?" tanya Daniel yang menyadari hal tersebut.


"Tidak apa-apa," Violet masih berusaha untuk tersenyum di sela-sela gejolak rasa mual menghampiri. Ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi dan akhirnya... "Hooek!"


Muntahan hangat keluar dari mulut Violet tumpah ke lantai. Daniel yang sudah tahu ada yang tidak beres dengan Violet dengan cepat menghindar. Beruntung pakaiannya tidak terkena muntah Violet. Semua mata orang-orang yang ada di pesta itu tertuju pada Daniel dan Violet. Mereka semua mulai saling berbisik antara satu sama lain.


"Lina, kau baik-baik saja?" tanya Ira khawatir.


Violet tidak menjawab. Ia menahan perutnya dengan sebelah tangan dan tangan yang lain menutup mulutnya sebelum muntahan lainnya keluar. Ia bergegas pergi menuju toilet. Ira segera menyusulnya. Sampai di toilet, Violet segera muntahkan semua isi perutnya.


"Hooek! Hoek!"


Rasa sedikit lega ia rasakan di perutnya setelah muntah berkali-kali. Tapi itu menyebabkan tubuhnya lemas dan rasa pusing menyerang kepalanya.


"Aduuh... Kenapa tiba-tiba perutku terasa mual sekali di waktu seperti ini?" Violet menggosok bagian atas perutnya sebentar.


"Mungkin kau ada salah makan?" tebak Ira. Ia sedikit memijit tekuk Lina (Violet).


Setelah agak mendingan ia baru keluar dari toilet. Ia mencuci tangannya di wastafel, berkumur-kumur, merapikan riasan wajahnya dan menyemprotkan parfum untuk menghilangkan bau muntah yang menempel di gaunnya. Sementara itu, Daniel juga pergi ke toilet pria.


"Rupanya ini sebabnya Julius memberiku sapu tangan tambahan. Untungnya aku cepat sigap menghindar. Kalau tidak..."


Daniel keluar dari toilet, kembali ke dalam pesta. Para pelayan terlihat baru selesai membersikan lantai tempat dimana Violet muntah tadi. Ini benar-benar memalukan bagi Daniel. Tapi ia tidak terlalu memikirkan hal itu. Toh, bukan dirinya juga. Lagi pula siapa yang berani menggosipkan hal ini keluar. Kalaupun ada yang berani, coba saja.


"Cepatlah kembali."


"Iya. Kau jangan kemana-mana. Tetaplah disini."


"Kau tidak perlu mengingatkannya berulang kali. Aku bukan anak kecil!"


Daniel mengenal betul salah satu suara yang berasal dari belakangnya itu. Suara yang ia rindukan selama ini. Dengan cepat Daniel menoleh dan mencari sumber suara itu untuk memastikan pendengaran nya. Tepat di sudut ruangan, area yang sepi dari para tamu undangan. Ia mendapati seorang wanita berambut hitam terurai panjang melewati pinggangnya. Daniel tersentak begitu wanita itu menoleh. Ia bergegas menghampirinya dan langsung memeluknya dengan sangat erat.

__ADS_1


"Kucing kecil. Syukurlah, akhirnya aku menemukan mu. Aku sangat merindukanmu. Kau baik-baik saja, kan? Dimana kau selama ini?" beberapa pertanyaan Daniel ajukan untuk meluapkan emosinya.


Lina terpaku diam didekap mesra oleh Daniel. "Kenapa disaat pria ini memelukku tubuhku tidak menolak sama sekali. Dipeluk olehnya terasa begitu nyaman. Aku mala ingin dipeluk terus olehnya. Aroma ini... Nyaman sekali. Perasaan dan kehangatan dari tubuhnya membawa suatu kerinduan."


Daniel baru sadar dengan kehamilan Lina. Ia melepaskan pelukannya lalu melihat perut Lina. Dengan tangan sedikit gemetar, Daniel meletakkan tangannya di perut Lina yang tersembunyi dibalik pita lavender itu lalu mengusapnya dengan lembut. Aliran panas seketika naik dan menyebar ke seluruh tubuh Lina disaat merasakan usapan tersebut. Iya, dia mengingat usapan lembut itu.


"Kau, kau ternyata hamil."


Daniel sangat bahagia begitu mengetahuinya. Namun kebahagian itu memudar ketika Lina dengan berat hati harus mundur selangkah. Daniel menatap binggung wajah yang tidak berani menatapnya itu.


"Maaf tuan. Si, siapa anda?" tanya Lina tanpa mengangkat wajahnya. Ia lebih memilih menatap kandungannya yang ia usap mengikuti lekukan perutnya.


"A, apa maksudmu? Ini aku, Daniel, suamimu. Apa kau ingat?"


"Da-niel," Lina mengangkat wajahnya menatap wajah pria yang ada di depannya. "Ternyata dia yang bernama Daniel. Bayangan yang selalu muncul di dalam pikiranku. Pria yang ingin aku temui hari ini sekarang ada di depanku. Dan dia... Dia tadi baru saja mengaku sebagai suamiku," satu titik air mata tanpa sadar mengalir di ujung mata Lina.


"Iya, kucing kecil. Aku Daniel. Kau mengingat ku sekarang?"


"Kucing kecil. Iya. Dia memang selalu memanggilku begitu," Lina tidak segera mengingat semuanya. Pecahan ingatan acak yang menerobos kepalanya, ia coba biarkan mengalir perlahan. Lina mengatur nafasnya untuk meredakan rasa sedikit sakit di kepalannya.


Lina mengangguk dan memberi isyarat pada Daniel untuk tidak mendekat. Tapi... Tiba-tiba Samuel datang dan langsung merangkul bahu Lina sambil berteriak memanggil namanya.


"Velia!"


"AAAH!!" teriak Lina sangking kagetnya. Ia meletakan tangannya di jantungnya yang berdegup kencang. Karna sangat terkejut, semua potongan ingatan Lina buyar seketika.


"Aku tidak membuatmu lama menunggu, kan? Kau sedang berbicara dengan siapa?"


"Samuel?!" Daniel juga sangat terkejut melihat kedatangan Samuel dan begitu dekat dengan Lina.


Samuel melirik Daniel. "Oh... Tenyata ada tuan muda dari keluarga Flors."


"Samuel! Lepaskan tanganmu dari..."

__ADS_1


Belum sempat Daniel membentak Samuel menyuruhnya melepaskan rangkulannya, Lina sudah meraih tangan Samuel yang telah berpindah ke pinggangnya itu lalu membanting tubuh Samuel dengan keras ke lantai. Semua orang menoleh begitu mendengar suara keras tersebut.


"Aku sudah bilang jangan meyentuhku!" Lina berlalu pergi dengan kesal. Ia perlu tempat yang lebih sepi untuk menenangkan dirinya.


"Aduuuh.... Dia selalu saja galak seperti biasa," rintih Samuel sambil mengusap punggungnya yang sakit.


Daniel terpaku diam dan cukup ngeri melihat apa yang terjadi barusan. "Untung kucing kecil tidak perna melakukan itu padaku."


Setelah terkejut dengan apa yang terjadi, Daniel melirik tajam ke Samuel. Ia menarik krah jas Samuel sampai ia berdiri. Kemudian Daniel menarik Samuel menjauh dari pandangan semua orang.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada kucing kecil? Bagaimana bisa kau mengenalnya?"


"Kucing kecil? Oh... Jadi itu panggilan untuknya. Pantas saja waktu aku memanggilnya kucing kecil ia langsung mengingat mu. Dia memang seperti kucing kecil yang imut."


"Berhentilah mengocekan hal lain. Jawab saja pertanyaan ku barusan!" Daniel masih mencengkram krah jas Samuel dengan geram.


"Seharusnya kau berterima kasih padaku, Daniel. Kalau bukan karna aku yang menyelamatkan Velia, mereka pasti sudah mati tenggelam."


"Apa? Te, tenggelam?" mendengar itu membuat Daniel melepaskan cengkeramannya.


"Kau bahkan tidak tahu hal itu. Kenapa kau tiba-tiba peduli padanya? Dimana kau disaat ia dalam bahaya? Apa kau tahu, terlambat sedikit saja mungkin dia sudah diterkam buaya di sungai itu!"


"Ini... Ini memang semua salahku. Aku tidak bisa menjaga kucing kecil dengan baik. Ini kedua kalinya aku tidak ada disaat ia dalam bahaya. Maafkan aku, sayang. Maafkan aku."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2