Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Balapan


__ADS_3

"Gadis tadi siapa?" tanya Julia.


"Tidak tahu. Sok kenal. Lebih baik kau ke tempat dudukmu, Julia," kata Marjorie tanpa melirik Julia. Matanya fokus ke jalanan yang ada di depannya.


"Iya, Julia. Bahaya..."


Belum selesai Nisa ngomong, tanpa peringatan tiba-tiba Marjorie menginjak rem secara mendadak. Karna hal itu membuat Julia terjungkal ke depan dengan wajah mendarat duluan di dashboard mobil.


"Julia! Kau baik-baik saja?" tanya Nisa sambil membantu Julia.


"Aduuuh.... Kepalaku pusing," Julia mengusap dahinya yang membentur dashboard itu. Tampak sedikit merah disana. "Marjorie, kenapa kau tiba-tiba berhenti?"


"Makanya lihat apa yang ada di depan kita. Gadis aneh tadi seketika memblokir jalan kita."


"Apa yang dimau gadis itu? Kita bahkan tidak mengenalnya."


"Sebaiknya kita tanya langsung padanya."


Marjorie keluar dari mobil dan menghampiri gadis itu yang juga keluar dari mobilnya. Nisa dan Julia ikut keluar dari mobil menyusul Marjorie.


"Apa-apaan maksudmu memblokir jalan kami?!!" bentak Marjorie.


"Sudah aku katakan, aku tidak ada urusannya dengan mu. Tapi aku mencari dia," tunjuk gadis itu pada Julia.


"Mencari ku?" Julia seketika bingung dengan maksud gadis tersebut. "Kenapa kau mau mencari ku? Kita saja tidak saling kenal. Aduh... Kepalaku masih sakit. Elus kepalaku dong, Nisa," ujar Julia minta dimanja.


Kalau sudah seperti ini mau tidak mau Nisa harus menurutinya. Ia mengelus kepala Julia dengan lembut beberapa kali. Marjorie yang melihat itu berusaha untuk memakluminya. Sedangkan gadis di depan mereka hanya mengangkat sebelah alisnya.


"Itu benar. Ini merupakan pertemuan pertama kita. Aku sengaja datang ke kota ini hanya untuk mencari dirimu. Aku dengar kau itu adalah gadis yang sedang mendekati kakak ku."


"Kau gila. Siapa sebenarnya kakak mu itu dan untuk apa juga aku mendekatinya?"


"Beraninya kau menghina nona muda ini! Aku adalah Veronica Arlo! Putri dari keluarga Arlo," teriak gadis itu marah-marah.

__ADS_1


"Veronica Arlo?! Aku perna mendengar tentangnya. Dia merupakan adik dari Yusra yang bersekolah di luar negeri," jelas Marjorie dengan suara pelan.


"Aku baru tahu kalau Yusra punya adik," kata Nisa.


"Karna adiknya jarang sekali pulang."


"Oo.... Ternyata kau adiknya Yusra. Tunggu dulu. Siapa yang bilang kalau aku yang mendekati kakakmu itu? Malahan dia lah yang terus menggaguku! Orang menjengkelkan seperti dia ingin sekali aku tonjok! Tapi aku masih memandang..." Julia melirik pada Majorie yang membuang mukanya kesamping.


"Ee...! Aku tak peduli siapa yang mengejar siapa! Yang pasti kau harus menjauhi kakak ku!! Wanita sepertimu tidak pantas masuk ke keluarga Alro!"


"Siapa juga yang mau?!! Memangnya sehebat apa keluargamu itu? Baru memimpin sebuah organisasi kecil saja sombongnya minta ampun," Julia melipat kedua tangannya di dada.


"Kau itu yang siapa?!! Asal kau tahu saja sekali telpon aku bisa membuat seluruh keluargamu sensara," Veronica mengeluarkan hpnya untuk menakut-nakuti Julia.


"Aku takut itu malah akan berdampak terbalik."


"Julia, jangan berlebihan. Keluarga Arlo bukanlah sesuatu yang dapat kita singgung untuk saat ini. Kekuatan dibelakangnya tidak bisa kita bayangkan," Marjorie menepuk pundak Julia dan memperingatkan nya. Ia tidak mau jika nanti si Tn. Arlo itu malahan memintanya melakukan sesuatu pada Julia atau keluarganya.


"Kekuatan dibelakang mereka? Maksudmu si Lady Blue?" kata Julia keceplosan.


"Eh... Itu... Em... Si, siapa yang tidak tahu dia? Bukan kah semua orang tahu itu dari rumor yang beredar. A, aku mengetahuinya deri rumor tersebut," dengan susah payah Julia mencari alasan agar Marjorie tidak curiga. "Bagaimana ini? Aku harap Marjorie tidak mencurigaiku. Aku lupa kalau dia adalah bawahan dari keluarga Arlo. Sudah pasti ia tahu tentang Lady Blue ini."


"Gelagat Julia benar-benar mencurigakan. Memang benar kalau Lady Blue saat ini terkenal di kalangan dunia bawah tanah. Tapi dari mana dia tahu kalau keluarga Arlo berkerja sama dengan Lady Blue? Apa Julia seorang mata-mata? Jika dilihat dari gaya bertarungnya dan kealihannya dalam mengakses sestem jaringan komputer, semua ini memang tidak mungkin dimiliki oleh seorang gadis SMA biasa. Sepertinya aku harus menjaga jarak dengan Julia maupun Julius mulai dari sekarang. Demi kebaikan bersama," batin Marjorie.


"Kenapa kalian diam saja disana? Apa sudah merasa takut?" kata Veronica dengan sombongnya.


"Siapa yang takut? Aku sama sekali tidak takut."


"Oh... Kalau kau sangat berani, bagaimana kalau kita balapan?"


"Balapan?" sudah lama Julia tidak mendengar ada seseorang yang menantangnya balapan. "Wah... Sudah lama sekali aku tidak melakukannya. Mama sangat melarangku balapan setelah kecelakaan itu. Aku bisa dihukum jika ketahuan balapan lagi."


"Itu benar. Saat ini, detik ini, di tempat ini juga! Bagaimana?"

__ADS_1


"Aku terima," Julia memasang senyum pada Veronica. "Toh, tidak siapapun juga disini. Mama tidak akan tahu kalau aku balapan. Cuman satu kali putaran saja aku rasa tidak apa-apa," batin Julia.


"Julia, serius kau mau menerima tantangannya?" bisik Nisa.


"Sangat yakin. Aku tidak akan kalah."


"Jangan bermimpi! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Jika kau kalah, kau harus menjauhi kakak ku dan bila perlu kau harus pindah dari sekolah Anthony!"


"Jika aku yang menang, aku minta kakak mu untuk berhenti menggaguku!"


"Sepakat."


"Kalau begitu artinya sama saja. Ini bukan taruhan namanya," kata Nisa dengan raut wajah datar.


Julia dan Veronica mulai bersiap-siap ke mobil masing-masing untuk balapan dengan Marjorie sebagai wasitnya. Mesin mobil dinyalakan, Marjorie yang berdiri diantara dua mobil itu perlahan mengangkat tangannya yang memegang saputangan dan mulai melakukan hitungan mundur. Setelah aba-aba serta saputangan diturunkan, Julia dan Veronica menancapkan gas mobil mereka. Mobil melaju dengan sangat cepat dan terus dinaikan lagi kecepatannya. Jalanan yang keadaannya sepi itu semakin menyempurnakan aksi balapan mereka yang terlihat sangat sengit. Saat ini Veronica memimpin, namun Julia tidak akan menyerah. Digunakannya keahlian berkendara yang dipelajarinya dari papanya. Menginjak pedal gas, menganti gigi dengan cepat, mengunakan rem tangan dan rem kaki secara berganti, Julia lakukan dengan begitu handal untuk melewati tikungan tajam dan berusaha mengejar lawannya.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


"Hei, tampan. Apa yang membawamu kemari?"


Sementara itu, di bar. Seorang wanita dengan pakaian merah merona yang sangat mengikuti lekuk tubuhnya itu datang menghampiri Julius. Ia duduk di kursi disebelah Julius sambil menggoyangkan cairan merah yang ada di gelas nya. Julius sama sekali tidak memperdulikan wanita itu walau bau parfum yang digunakannya sangat menyengat. Julius hampir bersin karna mencium bau parfum tersebut.


"Kalau boleh tahu, siapa namamu?" tanya Wanita tersebut namun tetap diabaikan Julius. "Apa kau mau minum sesuatu?"


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2