Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Saatnya beraksi


__ADS_3

"Ular itu mematuk kaki nya. Karna hal itu sebenarnya aku berusaha menolongnya. Namun setelah ia berhasil keluar dari lubang tersebut ia mala mau membunuhku. Ia hendak mencekiku, tapi aku berhasil menghindar dan aku msla mendorongnya jatuh ke jurang yang tepat di bawahnya adalah sebuah sungai. Aku benar-benar ketakutan saat itu. Aku berlari pulang. Aku tidak menceritakan kejadian tersebut pada siapapun termasuk Ramona. Sampai besoknya mayatnya ditemukan penduduk sekitar yang sedang memancing.


Polisi menyelidiki penyebab kematian wanita itu. Mereka sempat datang ke rumah dan menanyakan beberapa hal padaku, karna mereka mendapat informasi kalau interaksi terakhir wanita itu adalah dengan aku. Aku tidak menjawab apa-apa. Aku terlalu takut di tuduh sebagai pelaku pembunuhan. Aku menangis dikala polisi-polisi itu bertanya. Penyelidikan mereka berakhir setelah mendapat laporan dari rumah sakit penyebab kematian korban karna tenggelam dan bisa ular king kobra. Tidak ditemukan luka karna tindak kekerasan dan semua barang berharga nya masih utuh. Mereka tidak mencurigai kalau gadis kecil yang menangis di depan mereka adalah penyebab utama kematian korban," cerita Lina sedikit.


"Itu adalah pembunuhan yang tidak di sengaja" kata Daniel.


"Aku tidak menyesalinya. Dia memang pantas mendapatkannya. Siapa saja yang berani mengusik keluargaku, bagiku mereka memang pantas mati."


"Oke, berhasil. Sekarang seluruh sistem keamanan di gedung ini sudah dalam gengaman kita," Via meletakan leptopnya di pangkuan Lina. "Sekarang tugas kakak tinggal membukakan pintu bagi kami agar bisa menyusup ke ruangan tertentu, dan kakak juga bisa mengunci beberapa cctv yang menggangu."


"Mengunci cctv? Bukannya seharusnya mematikannya," tanya Lina sedikit bingung.


"Tidak. Jika mematikan cctvnya itu akan mudah diketahui oleh pengawas cctv. Dengan mengunci layar cctv itu akan mengecoh para pengawas itu. Mereka akan berpikir kalau cctv itu masih mengawasi ruangan atau lorong tersebut tapi mereka tidak tahu kalau sebenarnya yang mereka lihat hanyalah gambar tidak bergerak," jelas Via.


"Via memang jenius. Tidak heran bisa menyusup ke kantor polisi di usia sepuluh tahun."


"Kakak terlalu memuji. Baiklah, kakak tinggal menekan ini dan jika tandanya sudah berubah merah itu berarti kunci pintu atau keamanan lainnya akan nonaktif. Dan untuk mengunci cctv..." Via menunjukan cara-caranya pada Lina.


"Siap dimengerti guruku," kata Lina begitu telah memahami semuanya.


"Oh, aku sudah menyiapkan sedikit kejutan untuk mereka. Setelah semua ini selesai, kak Lina bisa tolong tekan tombol ini?" tunjuk Via pada simbol likaran merah yang ada di ujung layar leptopnya.


"Apa gunanya itu? Apa itu semacam bom yang telah kau pasang?" kata Lina mencoba menebak.


"Tidak, bukan itu. Aku tidak bisa menyelundupkan bom ke dalam pesta jika melalui pintu depan,"


"Lalu?"


"Kakak akan tahu nanti," Via berdiri kemudian melangkah menuju kamar mandi. "Kalau begitu aku mau ganti baju dulu dan bersiap-siap beraksi."


"Via, sepertinya kau melupakan sesuatu," tanya Daniel membuat langkah Via terhenti.

__ADS_1


"Lupa apa?"


"Kau lupa kalau kakakmu ini laki-laki. Masa iya aku harus mengenakan pakaian pelayan wanita," Daniel menujuk satu set seragam pelayan wanita yang tergeletak di sampingnya.


"Ah, itu karna hanya ada seragam pelayan wanita di dalam lemari. Tapi tenang saja kak. Aku sudah memanggil seseorang untuk membawakan seragam pelayan pria untukmu."


"Seseorang?"


"Tunggu saja, sebentar lagi dia datang," Via menutup pintu kamar mandi.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara pintu diketuk. Itu pasti orang yang dimaksud Via yang mengantarka seragam pelayan untuk Daniel.


"Permisi, saya disini ingin mengantarkan camilan dan coklat panas," kata seseorang sari balik pintu itu setelah mengetuk pintu. Dari suaranya ia seorang pria.


"Hah... Ternyata dia. Pemikiran yang sangat cepat adikku."


"Sepertinya pakaian pelayan itu akan terasa sempit ditubuhmu," kata Lina setelah membandingkan ukuran tubuh Daniel dengan pelayan tersebut.


"Iya, mungkin memang sedikit sempit. Tapi tidak ada pilihan lain."


Via keluar dari kamar mandi. Seragam pelayan itu begitu pas ditubuhnya. Rambutnya keritingnya terurai berhias empat jepit rambut kecil berwarna putih disisi kiri dan kanannya. Riasannya juga telah berganti lebih natural. Via sedikit kaget melihat Daniel telah berganti pakaian.


"Kak, sejak kapan kau berganti pakaian?"


"Aku bukan sepertimu yang lambat."


"Hal wajar karna aku harus mengganti riasanku. Akan mencurigakan jika mereka melihat seorang pelayan dengan riasan seperti tuan putri. Lalu dimana pelayan pria itu?"


"Dalam lemari. Dia akan tertidur sampai fajar menjelang."

__ADS_1


Daniel dan Via siap beraksi. Dengan Handsfree kecil tersemat di telinga mereka yang sebagai alat komunikasi. Mereka melangkah keluar secara bergantian dengan waktu berjarak lima menit. Tugas Lina selain membukakan kunci pintu, ia juga memberi informasi kalau-kalau ada orang yang berpontesi menggangu. Untuk sekarang semuanya berjalan lancar. Daniel berhasil menyusup ke ruang kantor Tn. Michael yang ada di lantai atas. Ia memakai sarum tangannya lalu mulai mengotak-atik komputer Tn. Michael yang ada di atas meja. Sedangkan Via masih belum bisa masuk ke ruang kantor Tn. Stevan dikarenakan ada seseorang diruang tersebut. Ia harus menunggu orang itu pergi dulu. Cukup lama menunggu akhirnya wanita itu keluar. Via bergegas masuk ke ruangan tersebut setelah Lina membukakan pintunya dan mengunci cctv yang mengarah ke pintu masuk. Setelah masuk Via mulai mencari informasi yang bisa di dapat.


"Tidak ada informasi yang berguna disini. Semuanya berisi data tentang perusahaan. Tidak ada satupun data yang berhubungan dengan dunia bawah tanah," ujar Daniel sambil masih menelusuri setiap data komputer. "Bagaimana denganmu Via?"


"Aku tidak bisa membuka file data komputer ini kak. Ada sejenis virus yang melindunginya," jawab Via yang sepertinya mengalami kesulitan.


"Pasti ada yang mereka sembunyikan sampai harus menggunakan virus segala untuk melindungi data itu. Via, coba unduh seluruh data yang ada," pinta Daniel.


"Baiklah," Via mengeluarkan flashdisk nya dan mencoba apa ia bisa mengguduh seluruh data tersebut. "Oke, aku bisa mengunduhnya tapi berserta virusnya."


"Tidak masalah. Aku bisa meminta Qazi yang mengurusnya. Ia paling bisa diandalkan jika berurusan dengan virus komputer."


"Daniel, Lina, Via, apa kalian sudah selesai?" tanya Ducan tiba-tiba. Ia juga terhubung melalui Handsfree.


"Ada apa ayah?" tanya Lina.


"Michael dan Stevan menuju ke atas."


"Apa?!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2