
Sore harinya di tempat yang dijanjikan. Jam telah menunjukan 17.34, lebih dari setengah jam dari perjanjian. Julia yang sendari tadi sudah menunggu 15 menit lebih awal tentunya sangat dibuat kesal. Orang yang ditunggunya tidak kunjung menampakan batang hidungnya.
"AAAH.....! ! ! Di mana si bajingan Rica itu?!!! Berani sekali ia membuat nona muda dari keluarga Flors ini menunggu!"
Bugk!
Suara detuman keras terdengar disaat Julia melampiaskan amarahnya pada pohon sampai meninggalkan bekas disana. Beberapa daun berguguran menghujani Julia.
"Jika kau masih tidak datang juga, jangan salahkan aku besok paginya kau akan dipermalukan."
"Wah... Wah... Wah... Ternyata gadis kecil ini yang dikatakan nona besar," kata salah satu dari ketiga pria yang tiba-tiba datang menghampiri Julia.
"Dia lumayan manis juga."
"Aku sudah tidak sabar memotret tubuh kecilnya itu, pasti sangat cantik dan putih mulus," ujar yang lain sambil mengeluarkan kamera.
"Siapa kalian? Mau apa kalian denganku?" tanya Julia dengan tatapan tajam membunuh.
"Jangan takut manis, kami cuman diperintahkan untuk menjadikan mu model majalah dewasa," jelas pria yang paling depan.
"Kalian pasti suruhan dari nona Pinkston palsu itu, kan? Dasar menjengkelkan! Sudah tidak berani datang, eh... Ia malah mengirim orang-orang bodoh ini kesini."
"Sudahlah, jangan banyak basa-basi. Kau ingin melepaskan pakaianmu sendiri atau harus mendapat sedikit paksaan dari kami?"
"Benar. Tidak ada gunanya juga terus mengoceh dengan kalian. Kebetulan hari ini aku sangat kesal. Kenapa tidak aku luapkan saja pada kalian?"
Julia menggeretakkan kesepuluh jarinya sambil tersenyum menyeringai. Dengan amarah yang terpendam, ia seketika menyerang ketiga pria itu tanpa ampun. Menonjok wajah, memukul perut atau menendangnya, membanting salah satu dari mereka ke tanah lalu kembali menghajar mereka secara bergantian. Julia benar-benar meluapkan emosinya pada ketiga pria yang memang telah bersedia mengatakan nyawa mereka.
Lima menit kemudian, mereka semua bertekuk lutut minta ampun pada Julia. Dengan wajah penuh lebam dan sedikit darah mengalir di ujung bibi serta hidung dan kepala, mereka sungguh salah memilih lawan. Seragam yang mereka kenakan saat ini sudah berantakan dan kotor penuh tanah serta rumput akibat perkelahian tadi.
"Cuman ini kemampuan kalian? Lemah!" kata Julia sambil merapihkan pergelangan dari jas sekolahnya.
"Ampun... Maafkan kami pendekar wanita."
"Iya. Maafkan kami. Kami janji tidak akan berani menggagumu lagi."
"Mohon maafkan kami. Apapun yang nona minta, kami pasti akan menurutinya."
"Tolong jangan hajar kami lagi."
__ADS_1
"Kami tahu salah."
Kata mereka secara bergantian. Mereka bertiga benar-benar bersujud membenturkan kepala mereka di tanah dihadapan Julia memohon ampun.
"Angkat kepala kalian!" perintah Julia yang segera dituruti oleh ketiga pria itu. "Aku tidak peduli apa yang ingin kalian lakukan kedepannya, tapi disaat aku membutuhkan kalian, kalian harus menuruti semua kemauanku, mengerti?"
"Iya, iya. Kami pasti menurutinya."
"Mulai hari ini kau adalah bos kami."
"Pergilah!"
Dengan jalan yang sedikit pincang, ketiga pria itu bergegas pergi. Hari ini mungkin merupakan hari tersial yang mereka alami selama menjadi preman kecil disekolah.
"Besok atau lusa mungkin mereka bisa aku gunakan," batin Julia.
Disaat hendak kembali, Julia dikagetkan dengan suara seorang pria dari atas kepalanya.
"Kemarin kau mempermainkan nona dari asrama khusus, hari ini kau menghajar seniormu dan menjadikan mereka bawahanmu, besok apa? Apa mungkin kau akan membunuh orang?"
"Kakak?!" Julia benar-benar kaget begitu mendapati Julius dengan santai nya duduk di atas pohon. "Sejak kapan kau ada disana?"
"Itu berarti sudah lama kau ada disini dan memperhatikan diriku."
"Iya. Lumayan menyenangkan melihat adikku sendiri menghajar seseorang."
"Mereka tadi berusaha melecehkan aku, tapi kau sebagai seorang kakak seharusnya kau melindungi ku, bukannya menonton!"
"Untuk apa aku menolongmu? Bukan kah kau sangat menikmatinya?"
"Eh... Hihihi... Aku tidak bisa bohong kalau soal itu," kata Julia pelan.
Julius cuman bisa menggeleng mendengarnya. "Sebaiknya kau kembali ke kamarmu atau aku akan melaporkan hal ini pada mama."
"Kakak...! Setega itukah kakak mengantarkan nyawa adikmu sendiri ke pintu neraka?"
"Jangan sok dramatis. Oh... Atau mungkin kau ingin meminta aku sendiri yang menggedongmu kembali ke kamar?"
"Tidak!" tolak Julia dengan tegas. "Aku masih punya kaki! Aku bisa diserbu fans fanatikmu itu jika mereka melihatku dekat denganmu. Aku masih ingin menikmati masa SMAku yang tenang," Julia berlari pergi meninggalkan kakaknya.
__ADS_1
"Dasar adikku yang suka mencari masalah. Apa itu kehidupan SMA yang tenang? Sebaiknya aku pasang alat pelacak saja untuk berjaga-jaga."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
"Daniel! Makan malam sudah siap," panggil Lina sambil masuk ke ruang kerja suaminya. "Kau sedang apa?"
"Julius tadi barusan telpon. Katanya, ia mendapat informasi tentang Lady Blue. Kemungkinan besar Lady Blue sekarang ini sedang membangun kekuatan dengan cara melakukan kerja sama dengan beberapa kelompok mafia, salah satunya adalah kelompok mafia yang didirikan oleh keluarga Arlo. Ia memintaku untuk menyelidikinya."
"Bagaimana ia bisa yakin akan hal itu?"
"Itu baru perumpamaan. Akhir pekan ini, ia akan mencari informasi lebih detai lagi di Casino milik keluarga temannya."
Lina mengambil tempat duduk di atas meja kerja Daniel lalu jari-jarinya yang mungil seketika menutup laptop yang sendari tadi menjadi afokus suaminya.
"Itu atas kemauan dia sendiri atau kau yang memintanya?" Lina menatap lurus mata Daniel sambil menyeringai.
"Eh... Ku-kucing kecil..." tubuh Daniel seketika begidik gerih.
Lina menarik dasi Daniel sampai hidung mereka hampir bersentuhan. "Aku mengizinkan mereka bersekolah disana agar mereka belajar dengan giat bukan mengurusi soal Lady Blue atau urusan yang bersangkutan lainnya. Jika nilai akademik dan non akademik mereka menurun, aku akan menghukum mereka berserta dirimu!"
"Apa?! Ke, kenapa aku juga?"
"Karna kau yang mengizinkan mereka terlibat dan kau lebih mementingkan perkerjaanmu dari pada kami beberapa hari ini."
"A, aku tidak bermaksud begitu. Maafkan aku sayang."
Lina turun dari meja kerja lalu menarik Daniel keluar. "Makan malam sudah siap. Adelia dan Adelio sudah menunggumu lama di meja makan, bukankah kau harus minta maaf pada mereka?"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε