
"Hihi... Aku baru tahu kalau Julius yang selalu bersikap dingin ini ternyata memiliki sifat pemalu kalau dalam urasan percintaan. Hah... Tamu hari ini lumayan banyak juga. Aku ingin tahu apakah Julia dan teman-teman sudah pada tidur atau masih asik melakukan perang bantal?"
Samuel pergi melihat keadaan Julia, Wendy dan Febby. Sampai dikamar mereka, Samuel mendapati mereka bertiga sudah tertidur dengan posisi tak karuan. Julia melintang di atas tempat tidur bersama Febby, sedangkan Wendy terbaring di sofa. Kondisi kamar itu juga berantakan dengan semua batal betebaran dimana-mana.
"Apa mereka bertiga selalu seperti ini di asrama? Ini bukanlah kamar seorang gadis namanya."
Samuel menutup pintu dan kembali ke kamarnya sendiri. Satu hari yang melelahkan bagi semua orang.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Hari sudah menujukan pukul 08.38, untuk kesekian kalinya pelayan di vila itu memanggil Julia dan teman-teman maupun Julius serta Marjorie untuk sarapan, tapi tidak ada satupun diantara mereka yang bangun. Sepertinya kemarin itu adalah hari yang panjang dan juga melelahkan bagi mereka semua. Jam 09.03, Julius bangun pertama kali dari semua. Dengan keadaan masih ngantuk ia memaksakan diri pergi ke kamar mandi. Dibasuhnya wajahnya menggunakan air dingin untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih menyelimuti. Selesai mandi dan mengeringkan tubuhnya, Julius cukup dikagetkan melihat jam di ponselnya. Walau ini bukan pertama kalinya ia kesiangan tapi bangun jam 09 itu sungguh belum perna terjadi. Julius bergegas turun ke bawah. Ia mendapati Samuel sedang duduk santai di teras vila sambil mengurus data perkejaannya melalui laptopnya.
"Oh, kau sudah bangun Julius," sapa Samuel saat melirik Julius yang datang menghampiri.
"Kenapa paman tidak membangunkan ku?" tanya Julius. Ia mengambil tempat duduk di sebelah pamannya itu.
"Aku tidak tidak tega membangunkan kalian yang terlihat sangat kelelahan."
"Marjorie juga masih tidur?"
"Marjorie?"
"Gadis yang semalam."
"Oh, namanya Marjorie rupanya. Sepertinya ia masih tertidur. Adikmu dan teman-temannya juga belum kunjung bangun sampai sekarang."
"Julia juga ada disini?"
"Iya. Setelah pulang dari pesta yang diadakan di restoran Moon, aku menyarankan pada mereka untuk menginap saja malam ini."
"Aku kembali masuk dulu paman Samuel," Julius berdiri dan melangkah masuk.
"Jika kau lapar, pelayan sudah menyiapkan sarapan untuk kalian. Minta saja untuk dihangatkan kembali."
"Baiklah paman Samuel. Terima kasih."
__ADS_1
"Jangan sungkan. Anggap sama seperti di rumah sendiri. Kalian berdua merupakan keponakan tersayang ku."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Marjorie membuka matanya perlahan sambil meregangkan tubuhnya. Ada sedikit rasa pusing menyerang namun dengan cepat menghilang. Ia melirik kesana kemari dan mendapati dirinya berada di sebuah kamar yang mewah. Tempat tidur empuk dengan selimut yang hangat, tirai putih yang menutupi jendela serta pintu balkon cukup tebal untuk menghalangi cahaya matahari yang masuk, benar-benar membuat ia tertidur nyenyak. Namun hal itu juga membingungkan bagi Marjorie.
"Dimana aku? Ini bukan asrama sekolah atau salah satu kamar hotel."
Marjorie beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri pintu balkon. Ditariknya tirai yang menutupi pintu kaca tersebut. Cahaya silau seketika menusuk matanya dan membuat ia harus berkedip beberapa kali sampai penglihatannya membaik. Pemandangan pantai dengan suara ombak seketika menyambutnya. Marjorie membuka pintu kaca itu lalu berjalan perlahan untuk menikmati suasana hari yang tidak pagi lagi. Hembusan angin hangat menerpa wajah serta rambutnya. Dihirupnya dalam-dalam udara hangat tersebut, ditahan ya sebentar untuk mengisi setiap ronggah paru-parunya dan barulah dihembutkannya perlahan.
"Wow... Tempat ini sangat cantik. Udara disini juga menyegarkan. Aku harap bisa berlama-lama disini untuk menikmati pemandangan ini."
"Kau sudah bangun?" kata Julius yang melangkah masuk ke kamar Marjorie.
Sontak Marjorie langsung menoleh. "Julius?! Apa kau membawaku kemari?"
"Memangnya siapa lagi? Kau ketiduran dipangkuanku dan tentunya aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian disana," Julius menghampiri Marjorie dan berdiri disampingnya.
"Jangan mengingat ku tentang apa yang terjadi semalam," sejujurnya ia tidak tahu mengapa bisa tiba-tiba bisa tertidur dipangkuan Julius, tapi mengingat itu membuat ia malu. "Aku akan membalas kebaikanmu suatu hari nanti karna aku tidak suka berhutang budi pada orang lain," Marjorie berbalik meninggalkan Julius sendirian di balkon.
"Tidak, tidak perlu. Aku harus segera kembali. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Kita seorang pelajar, perkejaan apa yang kau maksud?"
"Kau tidak perlu tahu."
Marjorie membuka pintu dan melangkah keluar tapi sayangnya ia lagi-lagi menabrak seseorang. Hampir sama seperti malam itu, hanya saja yang membedakannya kali ini adalah Marjorie menabrak lebih dari satu orang. Namun beruntung tabrakan tersebut tidak sampai membuat mereka terjatuh.
"Maaf, maafkan aku. Aku tidak sengaja menabrak kalian. Kalian tidak apa-apa?" kata Marjorie segera membukukkan badannya minta maaf.
"Kami baik-baik saja," ujar Julia. Namun disaat ia mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang barusan menabrak mereka, seketika Julia tersentak kaget. "Ka, kau adalah Marjorie."
"Kau mengenalku?" Marjorie ikut bingung karna ini merupakan pertemuan pertama mereka.
"Tentu saja. Aku adalah pengemarmu. Aku sangat mengagumi keahlianmu dalam menerobos sistem keamanan."
__ADS_1
"Apa? Darimana kau tahu kalau aku... Tidak, tidak. Kau pasti salah orang. Aku... Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan," sangkal Marjorie. Ini merupakan rahasianya dan tidak ada satupun yang tahu selain orang-orang yang mengetahui identitas aslinya.
"Aku tidak mungkin salah. Aku melihatnya sendiri kau membantu Rica menghapus videonya yang memalukan itu melalui komputer kepalah sekolah."
"Oh, maksudmu, jadi dia yang membuat video Rica tiba-tiba hilang dari situs sekolah?" tanya Febby memastikan.
"Itu benar. Dia adalah orang pertama yang berhasil menerobos sistem keamanan akun ku. Hmp!" Julia segera menutup mulutnya menggunakan kedua tangan begitu sadar atas apa yang barusan ia ucapkan.
"Oh... Jadi kau rupanya pemilik dari akun misterius yang menyebarkan video memalukan nona Pinkston di situs media sosial sekolah?"
"Tidak. Aku rasa kau salah orang," kali ini Julia yang berusaha menyangkal omongannya sendiri dengan tingkah bodohnya. Akibat terlalu bersemangat ia tanpa sadar keceplosan.
"Julia... Kau mencoba menyangkal apa yang barusan kau katakan. Tidak akan ada yang percaya kebohongan itu," kata Julius yang baru menghampiri mereka.
"Ah! Kenapa kakak selalu ada dimana aku ada?" tunjuk Julia pada kakaknya
"Paman Samuel tidak melarangku untuk datang kesini kapanpun aku mau."
"Kakak? Julius, dia adikmu?" tanya Marjorie pada Julius.
"Iya. Dia adikku."
"Jika gadis ini adik Julius... Itu berarti semuanya semakin masuk akal. Sebab itu aku kesulitan mencari tahu identitas Julius yang sebenarnya. Adik Julius merupakan Cracker yang kemungkinan lebih handal dari pada aku. Orang dibelakang mereka pasti sangat hebat," pikir Marjorie.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε