
Adelia memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung. "Apa itu tidak boleh? Papa dan mama tidak perna melarang ku melakukannya."
"Astaga, wajahnya imut sekali. Aku ingin mencumitnya dengan gemas," batin Marjorie sambil memalingkan muka dari Adelia. Ia takut malah benar-benar melakukannya.
"Sudah, kak MJ jangan menolak. Ayok dimakan supnya," Adelia menyodorkan dengan paksa mangkuk sup itu lalu berlalu pergi.
Marjorie tidak bisa menolak lagi. Ia cuman tersenyum sambil memandangi Adelia yang melangkah menghampiri adelio dan kakeknya yang duduk di sofa. Ducan terlihat menghibur kakak beradik itu dengan mengajak mereka bermain. Sambil meyuapkan sup kacang merah itu masuk ke mulutnya, Majorie mengalihkan pandangnya ke setiap orang yang masih berada di ruangan ini. Hanya dia dan Nisa lah yang bukan bagian dari keluarga Flors. Semalam Yusra telah dijemput pulang oleh ayah dan ibunya, begitu juga dengan Rica. Sementara untuk Nisa, karna ia tertidur sebelum ayahnya datang, Lina menyadarkan bagi Nisa untuk menginap saja di rumah sakit bersama mereka. Lina tahu bahwa Nisa pasti tidak mau terbangun dan mendapati dirinya telah berada di rumah. Setidaknya Nisa ingin memastikan kondisi Julia sudah melewati masa-masa kritis. Pagi ini Nisa terbangun lebih awal dari pada yang lain. Ia masih tidak mau berbicara pada siapapun. Ia cuman duduk diam sambil terus memandangi wajah Julia tanpa ekspresi.
Daniel saat ini berada disudut lain kamar inap tersebut. Ia mendapat kabar dari Qazi dan Norman tentang penyerangan mereka ke markas utama milik Lady Blue yang ada bagian selatan kota sebrang. Setelah menyelusuri setiap bagian dari bangunan tersebut mereka menemukan sebuah bungker yang berisi barang-barang berharga. Sejumlah barang antik dari berbagai negara, perhiasan dan batu permata berserta emas batangan tersimpan di bungker tersebut. Jumlah dari keseluruhan harga dari barang-barang tersebut tak ternilai. Pantas saja Lady Blue memiliki dana untuk membiayai seluruh kelompok mafia yang ada dibawahnya kendali nya.
Daniel memerintahkan untuk semua barang-barang tersebut dibawa ke rumah lelang. Rencananya seluruh barang itu akan sortir yang mana yang bisa masuk ke pelelangan tahun depan. Untuk barang yang tidak masuk kategori akan dijual di pasar gelap bawah tanah. Hasil dari penjualan barang tersebut akan digunakan untuk memperbaiki keseluruhan kerusakan pada Casino dan tempat-tempat lainnya di rumah lelang Red Krisan. Sebagian lagi akan diberikan pada keluarga tersembunyi sebagai konfesasi atas penyerangan yang terjadi di kediaman utama. Dan sisanya diserahkan pada anggota Norman dan Qazi sebagai hadiah keberhasilan mereka menaklukan markas tersebut. Hal ini sudah disepakati oleh kepalah keluarga tersembunyi itu sendiri.
Dalam kesunyian ruangan yang cuma diisi percakapan Adelia dan Adelio bersama Ducan yang menanggapi sesekali, Julius perlahan mulai sadar. Ia berkedip beberapa kali lalu melirik kesana kesini dan berakhir menatap wajah Marjorie yang sedang membaca majalah. Kesadarannya ini masih belum disadari siapapun sampai Julius menggapai majalah yang dibaca Marjorie.
"Kau terus menungguku?" kata Julius dengan keadaan masih lemah. Setiap tarikan nafasnya ia masih merasakan sedikit nyeri di dada.
"Julius?! Akhirnya kau sadar juga," tanpa memperdulikan sekitarnya, Marjorie seketika memeluk Julius. "Kau tidak tahu seberapa khawatir aku melihat mu terluka semalam. Aku benar-benar takut."
"Iya, iya. Aku bisa membayangkannya setelah melihat reaksimu ini."
Marjorie melepaskan pelukannya. "Maaf. Aku senang akhirnya kau telah sadar."
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Julius?" tanya Daniel yang keluar dari balik tirai yang memisahkan tempat ranjang Julius dan Julia.
"Lumayan, cuman masih sedikit sakit saat menarik nafas. Kapan kalian datang?" tanya Julius begitu tahu kakeknya juga ada di ruangan tersebut.
__ADS_1
"Semalam. Mama mu lah yang menyelesaikan operasimu," jelas Ducan.
"Mama. Dimana mama sekarang?"
"Mama mu masih tidur. Ia cukup kelelahan setelah menyelesaikan operasimu dan Julia," kata Daniel.
"Oh... Apa?! Julia?!" Julius sontak kaget saat mengetahuinya sampai bangkit dan terduduk. Karna gerakan tiba-tiba itu membuat ia diserang rasa sakit di lukanya. Ia meringkuk menahan sakit dengan mata terpejam.
"Julius, jangan bergerak tiba-tiba seperti itu. Lukamu bisa terbuka lagi," ujar Marjorie.
"Aku tidak apa-apa. Apa yang terjadi pada Julia? Bagaimana bisa ia di operasi?" tanya Julius setelah rasa sakit yang ia alami berkurang.
Daniel tidak menjawab. Ia menarik tirai dibelakangnya sampai memperlihatkan ranjang Julia seutuhnya. Julius benar-benar tidak percaya atas apa yang dilihatnya. Seorang adik yang seharusnya ia jaga malah berakhir terluka bahkan kondisinya lebih parah dari dirinya.
"Julia bertemu langsung dengan Lady Blue yang ternyata teman lamanya. Terjadi kesalah pahaman diantara keduanya namun mereka berhasil menyelesaikan itu. Tapi siapa sangkah ternyata selama ini Lady Blue cuman dimanfaatkan oleh pangeran luar kerajaan Denmark untuk melancarkan rencanannya. Aku mengenal pangeran itu. Dia menyamar sebagai pengurus Hans dihadapan Lady Blue. Dan Julia terluka karna dia saat melawannya bersama Rica," jelas Marjorie.
"Jangan cemas Julius, adikmu sudah melewati masa-masa kritis. Ia cuman masih lemah karna kehilangan banyak darah," tambah Ducan.
"Tidak seharusnya aku meninggalkan dia sendiri. Padahal aku sudah... Tunggu, dimana hpku?"
"Itu, di atas meja," tunjuk Marjorie pada meja kecil yang ada disamping ranjang Julius.
Daniel membantu mengambilkan hp tersebut dan memberikannya pada putranya. "Memangnya apa yang ada di dalam hpmu ini? Kau terlihat sangat tidak bisa jauh darinya."
Julius tidak menjawab. Ia menyalakan hpnya dan memeriksa notifikasi yang menumpuk di hp itu. "Astaga, ternyata Julia mulai terluka disaat aku tidak sadarkan diri," batin Julius. Ia terus membaca setiap pemberitahuan tersebut sampai ia mendapati sesuatu yang membuatnya kaget bukan main. "Julia sempat kehilangan detak jantungnya?"
__ADS_1
"Dari mana kau tahu?" tanya Daniel sedikit bingung.
"Jangan bilang kalau notifikasi peringatan di hpmu itu adalah pemberitahuan tentang kondisi Julia," tebak Marjorie.
"Kau membuka hpku?"
"Maaf. Aku terpaksa melakukannya untuk menghubungi keluargamu."
"Oh... Ternyata itu rupanya. Kau memantau adikmu setiap detiknya, ya? Pantas saja kau bisa segera tahu, tempat, kondisi dan apa yang dilakukan adikmu selama ini."
"Walau kalian selalu bertengkar setiap kali bertemu tapi ternyata kau sangat peduli sekali pada adikmu itu," ujar Ducan.
"Bu, bukan begitu. Julia itu sangat ceroboh dan suka membuat masalah. Aku cuman tidak mau dia kenapa-napa," kata Julius pelan dengan yang malu-malu mengakuinya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε