Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Janji suci


__ADS_3

"Jangan meliriku seperti itu. Aku juga tidak tahu-menauh soal ini sampai mereka memaksaku untuk terlibat ketika pulang tadi," bisik Ira begitu tahu maksud lirikan Lina padanya.


Sampai di altar pernikahan tubuh Lina masih gemetar. Ia benar-benar gugup di acara pernikahan yang sangat mendadak ini. Namun dalam hatinya, kebahagian begitu meluap-luap. Ira telah kembali ke kursinya yang bersebelahan dengan orang tua Daniel. Pernikahan itu cuman dihadiri ayah dan ibu Daniel, Ira, Emma, Judy, Qazi dan beberapa bawahan Daniel yang ada di belakang panggung.


"Kau cantik sekali malam ini," puji Daniel pada calon pengantin di sebelahnya.


"Da, Daniel. A, apa, apa yang harus a, ku lakukan?" kata Lina tergagap-gagap.


"Santai saja."


Acara pernikahan dimulai, sampai tibalah saat pengucapan janji pernikahan yang dimulai dari Daniel.


"Aku, Daniel berdiri di sini dan berjanji pada Veliana di hadapan Tuhan, keluarga dan sahabat untuk selalu ada di sisi Veliana dalam suka maupun duka. Aku akan ada di saat Veliana menggapai mimpi, di saat sakit, di saat tawa, di saat bahagia dan di saat sedih. Tidak peduli badai yang menerjang, kita akan meredakannya berdua. Aku berjanji saat ini dan selamanya," ucap Daniel sambil menatap dalam mata Lina.


"Aku, percaya padamu dalam mengarungi bahtera rumah tangga ini. Dengan sepenuh hati, aku mengambilmu menjadi suamiku. Menerima segala kelebihan dan kekuranganku. Aku berjanji akan setia padamu dalam hal apapun. Aku akan selalu ada untukmu karena kamu adalah prioritasku. Aku akan menjadi milikmu dan kamu adalah milikku. Aku adalah kamu," seperti telah disusun dan


dipersiapkan sejak lama, tampa sadar Lina mengucapkan janji tersebut dengan sangat lancar.


"Saatnya acara pemasangan cincin," ujar pendeta tersebut.


Mendengar itu membuat Lina tersadar. Ia berkedip beberapa kali sambil mengalihkan pandangnya kesana kemari. Daniel yang melihat hanya tersenyum. Ia mengeluarkan kotak kecil dari sakunya lalu membukanya dihadapan Lina. Dua buah cincin permata begitu indah memantulkan cahaya lampu. Daniel mengambil salah satunya kemudian menyematkannya di jari manis Lina. Lina memandangi sebuah cincin yang kini menghiasi jarinya.


"Cincin ini kudapat dari acara pelelangan kemarin. Kau menyukainya?" bisik Daniel.


"Sangat. Sangat-sangat menyukainya."


Kini giliran Lina yang memakaikan cincin ke jari manis Daniel. Acara berlanjut sampai pendeta itu berkata...


"Maka tibalah saatnya untuk meresmikan perkawinan saudara. Saya persilahkan saudara masing-masing menjawab pertanyaan saya:


Daniel, maukah saudara menikah dengan Veliana yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun dalam duka?"


"Ya, saya bersedia," jawab Daniel.


"Veliana, maukah saudara menikah dengan Daniel yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun dalam duka?"


"Ya, saya bersedia," jawab Lina sambil melirik Daniel.


"Dengan ini saya nyatakan kalian berdua menjadi pasangan suami istri," ucap pendeta tersebut pada semua hadirin. "Mempelai pria dipersilakan mencium pengantin mu."

__ADS_1


Mendengar itu Daniel membungkukan badannya lalu mengecup bibi Lina dengan mesra. Lina seketika membalas ciuman tersebut. Riuh tepuk tangan dan sorak-sorei dari semua yang ada di acara pernikahan terebut ketika melihat adegan romantis itu. Namun ditengah-tengah ke riuhan itu, Lina tiba-tiba terjatuh. Untung dengan sigap Daniel menangkapnya. Melihat itu membuat semua orang menjadi panik.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Daniel dengan nada khawatir.


"Maaf. Kaki ku tiba-tiba lemas. Aku masih terlalu kaget dengan semua ini."


"Hah..." semuanya menghela nafas lega. Raut kepanikan tadi berubah menjadi tawa. "Hahaha...."


"Kalau begitu biar aku antar kau ke tempat duduk."


Daniel mengedong Lina menuju kursi yang memang telah tersedia khusus untuk mereka tidak jauh dari altar pernikahan. Tapi bukannya mendudukan Lina di kursi tersebut, mala Daniel yang duduk disana dengan Lina di pangkuannya. Judy menyodorkan segelas air yang langsung di terima Daniel lalu berlalu pergi.


"Minumlah," kata Daniel begitu menyerahkan segelas air tersebut.


Lina menerimanya dan segera meneguk habis air tersebut. "Terima kasih."


"Apa gaunnya terasa nyaman?" tanya Daniel sambil meletakan tangannya di atas perut Lina.


"Iya. Aku sangat menyukainya. Ini gaun yang sangat indah."


"Baguslah kalau kau menyukainya. Aku sendiri yang memilihkannya untukmu."


"Sebenarnya aku ingin pernikahan kita diadakan setelah persalinanmu. Tapi aku tidak bisa menahan selama itu. Jadi sebab itulah ibu menyarankan untuk mengadakan pesta pernikahan kecil-kecil saja dulu. Setelah persalinanmu nanti baru kita adakan pesta besar-besaran dan termegah yang perna ada. Tidak apakan?"


"Pesta pernikahan seperti ini saja sudah cukup bagiku. Asalkan kau selalu bersamaku sudah membuatku senang."


"Tidak. Istri kecilku sudah seharusnya mendapatkan yang terbaik di dunia ini."


"Hari ini sungguh seperti mimpi dan aku tidak mau bangun dari mimpi ini."


"Kau tidak perlu bangun karna semua ini memang nyata."


"Selamat atas pernikahan kalian!" ucap Rayner, Briety da Ira secara bersamaan sambil menebar bunga ke Daniel dan Lina. Senyum bahagia terpancar pada semua orang.


"Huhu... Akhirnya putra kita menikah juga," Briety menyekat air mata haru nya. "Aku sempat putus asa melihat Daniel terlalu dingin pada semua wanita. Kalau begini caranya, kapan aku bisa memiliki seorang cucu?"


"Sudahlah, berhenti menangis. Bukankah semuanya telah terwujud hari ini," kata Rayner merangkul bahu istrinya.


"Semua ini berkat menantuku Lina. Dia satu-satunya gadis yang telah berhasil membuka kunci hati anakku, dan membuat seorang ibu ini sangat bahagia."

__ADS_1


"Mereka pasangan yang serasi. Temanku Lina ini juga belum perna berpacaran ataupun terlihat tertarik pada laki-laki. Mereka sepertinya memang sudah ditakdirkan bersama," kata Ira yang melirik Lina sambil memainkan alisnya.


"Jika ini memang takdir, maka aku menyukainya," Daniel memandang wajah Lina yang duduk di pangkuannya.


Lina hanya tersenyum lalu tertunduk malu. Acara pernikahan berlanjut ke pemotongan kue. Kue setinggi delapan tingkat membuat Lina terperangak.


"Astaga. Kue ini bahkan lebih tinggi dariku," batinnya.


Dibantu Daniel, Lina memotong kue tersebut. Suapan pertama diberikan Lina pada Daniel. Kini giliran Daniel menyuapi potongan kue tersebut pada Lina.


"Em... Kue jahe," kata Lina begitu kue itu lumer dalam mulutnya.


"Karna kau sangat menyukai kue jahe, jadinya aku meminta koki membuatkan satu tingkat kue jahe khusus untuk mu."


"Kalau begitu tingkatan yang lain merupakan kue rasa berbeda," tebak Lina.


"Tepat sekali. Mau mencicipinya?"


"Boleh."


Setelah pemotongan kue, kini acara berlanjut ke dansa. Dengan diiringin alunan musik piano yang dimainkan Qazi, Daniel dan Lina berdansa di bawah cahaya bulan.


"Tunggu, tunggu. Aku ini anggota elit Black Mamba. Kenapa mala menjadi pemain piano di acara pernikahan ini?" protes Qazi dalam hatinya. Iya tidak mungkin berani menolak perintah tuan muda.


"Siapa suruh hanya kau yang bisa bermain piano di antara seluruh anak buah Daniel."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2