Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Mabuk


__ADS_3

Bagaimana tidak. Mereka berdua menetapkan taruhan, barang siapa yang kalah diharuskan mengabisi segelas besar minuman beralkohol. Biarpun keduanya pandai minum tapi tetap saja bisa mabuk juga jika sudah kebanyakkan.


"Oh, iya Julius. Mama baru ingat soal pil yang perna kau kirimkan waktu itu. Setelah di teliti lagi, mama menemukan sedikit serbuk penawar racun di pil tersebut," kata Lina pada putranya yang duduk di sofa dihadapannya sambil memainkan hpnya itu.


"Serbuk penawar racun apa?" Julius segera melirik mamanya begitu mendengarnya.


"Mama sendiri tidak terlalu yakin, tapi yang jelas itu mungkin penawar sementara dari racun pengekang yang perna mama lelang, kalau tidak salah tiga tahun yang lalu," jelas Lina.


"Racun pengekang? Racun ini merupakan sebuah racun yang biasanya diberikan pada bawahan yang sedikit diragukan kesetiaannya. Jika sudah terminum di racun ini bisa menyebabkan rasa sakit yang teramat sangat di otak sampai berakhir dengan kematian jika tidak segera meminum obat penawar sementara setiap bulannya. Tunggu, aku mendapat pil ini dari Marjorie, itu berarti..." Julius tersentak begitu menyadari kemungkinan terbesar tersebut. "Pil itu pasti tidak sengaja bersentuhan langsung dengan obat penawar sementara yang diberikan atasannya setiap bulan. Aku jadi ingin tahu apa Marjorie mengetahui kalau dirinya sebenarnya diracuni?" batinnya.


"Julius!" panggil Lina menyadarkan lamunan putranya.


"Iya."


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Via.


"Tidak ada," jawab Julius. Padahal ia sendari tadi mencoba menelpon Marjorie namun masih tidak aktif juga.


"Kau bilang kalau kau mendapatkan pil itu dari temanmu, kan? Siapa teman mu itu?" tanya Lina memastikan.


"Apa benar itu, Julius? Jika iya, berarti temanmu itu merupakan bawahan dari seseorang yang kemungkinan sedang menjalankan misi," kata Via mencoba menebak.


"Aku akan menyelidiki ini. Yang pasti aku butuh obat penawar yang sebenarnya dari racun tersebut. Apa mama bisa membuatnya?"


"Cukup sulit membuatnya dan ada beberapa bahan yang sedikit langkah. Tapi mama bisa membuatkan obat penawar racun sementaranya. Itu akan memberi mama waktu untuk membuat obat penawar yang sebenarnya."


"Terima kasih. Julius kembali ke kamar dulu," Julius bangkit dari sofa lalu melangkah keluar.


"Jangan bilang kalau gadis yang ia sukai itulah yang memberikan obat tersebut," kata Via mengutarakan isi pikirannya setelah Julius pergi.


"Kau sudah hampir sebulan menjadi guru di sekolah itu, Via. Apa kau mengenal siapa gadis yang kau maksud itu?"


"Tidak terlalu mengenalnya tapi aku baru tahu kalau Julius menyukainya. Nama gadis itu adalah Marjorie. Ia merupakan pengawal pribadi dari tuan muda Arlo, Yusra," jelas Via.

__ADS_1


"Pengawal pribadi tuan muda Arlo?" Lina me gerutkan dahinya begitu mendengar nama Arlo. "Kalau tidak salah Tn. Arlo merupakan pemimpin dari anggota Dragon dan salah satu dari kelompok mafia yang berkeja sama dengan... Lady Blue."


"Tepat. Aku rasa itu lah yang dirisaukan putramu saat ini."


"Dia pasti dilanda kebimbangangan."


"Aku pikir Julius berencana membujuk Marjorie untuk berkhianat pada tuannya."


"Akankah dia mau? Bagaimana kalau gadis itu malah memanfaatkan Julius? Kita tidak bisa menebak hati seseorang."


"Aku rasa itu tidak mungkin."


"Bagaimana bisa kau seyakin itu, Via?"


"Karna aku sudah mengamati mereka selama ini. Dari yang aku tahu, Marjorie adalah gadis yang tidak terlalu banyak berinteraksi dengan siapapun."


"Hal wajar dalam menjalankan misi..."


"Sutt..." potong Via. Ia meletakan telunjuknya di bibir Lina. "Kakak, percaya padaku. Dari tatapan Marjorie yang ditujukan pada Julius, aku bisa tahu kalau ia juga menyukai putramu itu. Tidak ada maksud jahat sama sekali yang aku rasakan dari dirinya."


"Kak Lina tidak perlu khawatir. Tidak percaya padaku, setidaknya percayalah pada Julius. Ia pasti melakukan segala hal dengan perhitungan yang matang dan benar. Ia jauh lebih mengenal Marjorie lebih dari yang kita ketahui. Lagi pula coba pikirkan baik-baik, kenapa bos dari Marjorie memberinya racun? Bukankah berarti bahwa bosnya itu meragukan kesetiaan dari salah satu bawahannya ini? Majorie mungkin sangat berguna untuk melancarkan rencana tuannya itu tapi juga sangat berbahaya jika ia memberontak. Sebab itu ia diberi racun pengekangan agar ia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menuruti keinginan dari tuannya. Majorie yang malang. Ia cuman dianggap sebagai pion."


Lina terdiam sesaat memikirkan semua perkataan Via. "Untuk yang satu ini mungkin kau ada benarnya. Aku..."


"Hei, sayang... Kucing kecilku yang sangat mengemaskan," dengan tubuh gemulai, Daniel yang telah mabuk tiba-tiba merangkul bahu istrinya dengan satu tangan dan tangan yang lain masih mengenggam gelas minumannya.


"Sudah berapa banyak yang kalian minum sampai mabuk seperti ini?"


"Siapa peduli. Ciguk! Kenapa kau juga tidak ikut bergabung?"


"Tidak!"


Daniel menyodorkan gelas minumannya ke bibir istrinya itu. Lina berusaha menolak namun tenaga Daniel lebih besar dari dirinya. Karna hal itu membuat mereka sampai terguling di lantai dengan tubuh Daniel menimpah Lina.

__ADS_1


"Kak Lina, kau baik-baik saja?" tanya Via.


"Uhuk! Uhuk! Sama sekali tidak. Lihatlah bagaimana aku akan menghukumnya besok!"


"Hihi... Tamat sudah riwayatmu, kak," kata Via dalam hati.


"Hei, hei, gadis kecil. Apa kau juga mau ikut bergabung bersama kami? Eh, tunggu. Kau masih dibawah umur tidak diperbolehkan minum minuman beralkohol. Itu bisa melanggar peraturan, kan?" ejek Samuel pada Via dalam mabuknya.


"Sembarangan kau mengataiku masih dibawah umur! Aku sudah menikah tahu!"


Dengan geram Via merebut botol anggur dari tangan Samuel dan seketika langsung meminumnya. Lina mencoba memperingatkan namun tidak di dengar oleh Via sedangkan Samuel malah memberi semangat pada Via untuk menghabiskan anggur yang tidak lagi mencapai setengah botol tersebut tapi cukup membuat Via ikut mabuk bersama mereka. Tinggal lah Lina sendirian yang sama sekali tidak tepengaruh alkohol. Untuk Via, Samuel dan Daniel sudah terkapar tidak sadarkan diri akibat mabuk. Sialnya, Daniel sama sekali tidak mau melepaskan Lina dari pelukannya. Semalaman Lina tidak bisa bergerak.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Di sebuah hotel berbintang di pusat kota. Dengan nomor kamar 3470 di lantai 17. Seorang gadis muda yang mendapat julukan Lady Blue, saat ini sedang berdiri di balkon kamar hotel sambil memadangi keelokan kota pada malam hari.


"Nona, angin malam terlalu dingin di luar. Sebaiknya anda masuk," kata pengurus Hans meminta nonanya masuk.


"Oh, pengurus Hans, hanya kau lah yang baik padaku. Terima kasih ya mau datang hari ini sebagai orang tuaku."


"Semua itu sudah tugasku, nona. Anda tidak perlu berterima kasih."


Lady Blue melangkah masuk lalu membaringkan dirinya di tempat tidur sambil menghela nafas panjang. "Hah... Aku salah. Maafkan aku pengurus Hans, seharusnya aku mengikuti nasehatmu. Waktu kita malah terbuang sia-sia karna aku menginginkan robot tersebut."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2