
Selesai makan malam, Ducan mengajak Lina dan Daniel menuju ruang rahasia yang ada di vila tersebut. Ada sedikit rintangan yang harus mereka lalui seperti pemeriksaan sidik jari, mata serta wajah. Setelah itu, mereka melewati ruang jebakan untuk sampai di depan pintu suatu ruangan. Ducan mengeluarkan sebuah kunci berwarna emas lalu membuka pintu tersebut. Pintu terbuka, ruangan tidak terlalu luas menyambut mereka. Ruangan itu berisi seluruh foto kenangan dari keluarga kecil, Ducan, Ariana dan Veliana.
Mulai dari foto kencan pertama dari Ducan dan Ariana sampai foto pernikahan mereka. Foto ketika Ariana hamil, selepas melahirkan, foto Lina saat masih bayi sampai ia berumur tiga tahun. Semuanya memenuhi setiap dinding ruangan. Lina tidak bisa menahan air matanya begitu foto-foto tersebut. Terbesit ingatan samar sesosok wajah yang perlahan-lahan menjelas. Sosok itu persis sama dengan yang ada di foto, senyumnya, matanya, rambutnya yang selalu terkucir rapi. Lina mengambil salah satu foto yang tergantung di dinding. Didekapnya foto itu dengan suara tangis tak tertahankan.
"Ibu... Hiks... Hiks... Wajah ini... Aku ingat, dia memang sungguh ibuku. Aku merindukanmu ibu."
"Ini adalah ruang kenangan Ariana. Aku selalu datang kesini disaat aku merindukannya. Aku bisa seharian duduk diam memandangi wajah kalian."
Ducan menghampiri Lina yang duduk di sofa dengan kotak kayu berwarna coklat gelap di tangannya. Disodorkannya kotak itu pada putrinya. Lina menyekat air matanya lalu menerima kotak tersebut.
"Kotak ini berisi Token tanda kepemilikan dari rumah lelang Red Krisan. Aku menyerahkan Token ini kembali ke pemilik aslinya."
Lina melepaskan liontin kalungnya, kemudian membuka kotak tersebut. Begitu dibuka, tampilan beludru merah melapisi bagian dalam kotak tersebut. Sebuah plat bundar batu giok putih berukir Bungan Krisan merah di atas nya, itu merupakan Token tanda kepemilikan dari rumah lelang Red Krisan.
"Jadi ini yang mereka perebutkan sampai-sampai tega membunuh keluarga sendiri. Ingin rasanya kuhancurkan benda ini," kata Lina dingin.
"Token rumah lelang itu ternyata sebuah batu giok," kata Ducan begitu melihat isi kota tersebut.
"Anda baru tahu hal ini Tn. Cershom?" tanya Daniel.
"Iya. Tidak ada yang tahu rupa dari Token rumah lelang tersebut termasuk para bajingan itu."
"Tapi sepertinya Token ini memiliki fazel yang hilang."
"Tidak ada yang hilang," Lina mengeluarkan Token tersebut lalu menyematkan liontin kuncinya di bagian yang hilang. Sangat pas. "Liontin ini juga merupakan bagian dari Token nya. Token rumah lelang Red Krisan sebenarnya adalah sebuah liontin giok."
"Bagaimana bisa liontin kunci itu bernama kan dirimu? Bukankah Token rumah lelang sudah ada sejak dulu?" Daniel sedikit bingung akan hal ini.
"Oh, aku baru ingat. Ariana perna mengatakan kalau nama 'Veliana' di ambil dari nama pendiri pertama rumah lelang Red Krisan. Hal yang wajar jika nama itu terukir di liontin kunci."
__ADS_1
"Aku punya cara untuk memancing para bajingan itu keluar," Lina memisahkan liontinya dengan plat giok itu. Dikenakannya kembali liontinya, sedangkan Token tersebut kembali ke dalam kotak tanpa Lina menguncinya. "Berikan Token ini pada Violet dan nyatakan ia sebagai perwaris dari rumah lelang Red Krisan selanjutnya."
"Apa?! Itu tidak akan terjadi! Bagaimana bisa kau menyerahkan Token ini pada gadis menja dan ceroboh itu? Ia akan sangat sewena-wena dengan kekayaan rumah lelang Red Krisan yang tidak terhitung jumlahnya."
"Bagaimana para bajingan itu akan percaya kalau Violet adalah aku? Sebagai perwaris tunggal, ia bahkan tidak tahu sama sekali. Dengan tersebarnya kabar kalau Violet telah mewarisi rumah lelang ini, bukankah mereka akan keluar untuk mendapatkan apa yang mereka nantikan sejak lama? Sampai saat itu tiba, kita habisi mereka. Dendam ibuku harus mereka bayar dengan nyawa mereka."
Melihat aura membunuh yang begitu kuat terpancar dari putrinya, Ducan seketika langsung memeluk Lina. "Ini sungguh baru putri kita, Ariana. Sudah kuduga kalau putri kita akan tubuh menjadi gadis yang manis dan kejam sama sepertimu."
"Kucing kecil memang hebat," elus lembut Daniel di rambut Lina. "Aku akan mengerahkan kelompok Black Mamba untuk membantumu membalaskan dendam ini. Jangan takut, aku akan selalu ada di belakangmu sayang."
"Tapi aku masih tidak sudi kalau gadis manja itu mewarisi peninggalan istriku walau dalam kepura-puraan sekalipun. Sudah cukup dia merebut semua hak yang seharusnya menjadi milikmu selama ini," ujar Ducan setelah melepaskan pelukannya.
"Tidak apa ayah. Aku akan merebut semua yang seharusnya menjadi milikku dan menghukum para bajingan itu. Tapi pertama-tama kita harus menemui kepala penanggung jawab dari rumah lelang untuk mengajaknya berkerja sama dalam rencana ini."
"Tidak ada yang tahu siapa dia kecuali ibumu. Aku perna iseng-iseng bertanya pada Ariana mengenai identitas dari kepala penanggung jawab rumah lelang itu, tapi dia hanya memberiku teka-teki. Kepala penanggung jawab rumah lelang merupakan orang yang tahu setiap detail barang yang akan dilelang. Tanpa kehadirannya, pelelangan sama sekali tidak akan dapat berlangsung."
"Orang yang mengetahui setiap detai barang?" ulang Daniel sambil berpikir. "Hampir stap penting akan mengetahui hal ini, tapi siapa kehadirannya begitu penting dalam penyelenggaraan lelang tersebut?"
"Sang pembawa acara?" kata mereka berdua hampir bersamaan.
"Iyap. Dia tentu diharuskan mengetahui setiap detail informasi barang, bukan? Dan juga tampa kehadiran pembawa acara, tentunya pelelangan itu tidak akan dapat berlangsung," jelas Lina.
"Ha, kenapa aku tidak perna terpikir soal ini," ujar Ducan pelan sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Istriku sungguh pintar. Aku harus memberikan hadiah untukmu. Apa yang kau mau?"
"Em... Es krim," jawab Lina.
"Hah? Apa tidak ada yang lain? Ini sudah malam. Besok saja ya."
__ADS_1
"Aah... Maunya sekarang," rengek Lina sambil mengeluarkan jurus wajah memelasnya.
"Tidak, jangan menggunakan raut wajah itu. Aku tidak akan bisa tahan," Daniel berusaha untuk tidak melirik, namun ia tidak bisa. Wajah Lina terlalu imut untuk berkata tidak padanya.
"Kumohon..."
"Hah... Putriku sungguh mirip dengan ibunya," Ducan cuman bisa menggeleng melihat tingkah Lina dan Daniel. "Aku akan menghubungi Joe untuk membuat jadwal pertemuan di rumah lelang dengannya. Kita akan menemuinya bersama-sama dan membahas lagi tentang rencana ini. Aku telah meminta seseorang untuk menyiapkan kamar untuk kalian berdua. Lina, ini kuncinya," Ducan menyerahkan seongok kunci pada Lina.
"Banyak sekali. Kunci apa saja semua ini?"
"Semua itu kunci untuk setiap ruangan di vila ini dan satu mobil yang ada di garasi."
"Kenapa ayah memberikan semua kunci ini padaku?"
"Karna semua ini memang milikmu, sayang. Vila berserta isinya merupakan warisan dari ibumu, termasuk penjaga dan para pelayannya juga. Aku sudah memberitahu mereka soal ini. Untuk kedepannya mereka akan mengikuti mu dan hanya mendengar perintah darimu. Mereka semua adalah bawahan yang setia dan telah dilatih secara khusus. Mereka telah mengikuti ibumu sejak masih kecil. Kau jangan khawatir mereka akan mengkhianatimu."
"Dalam sekejap aku berubah menjadi seorang milyader."
"Itu pantas kau dapatkan kucing kecilku."
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε