
"Hoam... Selama pagi semuanya," ujar Lina yang baru bangun. Dengan mata masih mengantuk ia meregangkan tubuhnya sambil mengucek mata.
"Gawat! Mama mu sudah bangun. Cepatlah berbaring Julius," bisik Daniel yang tersentak mendengar suara Lina.
Daniel segera membantu Julius berbaring kembali sebelum Lina melihatnya. Akan gawat jika Lina sampai tahu kalau Julius telah berani bangkit dari tempat tidurnya setelah sadarkan diri. Marjorie seketika dibuat bingung. Memangnya kenapa jika Ny. Flors sampai tahu?
"Ah, kau sudah bangun rupanya, sayang. Bagaimana tidurmu?" tanya Daniel sambil membetulkan rambut Lina yang acak-acakan.
"Lumayan. Jam berapa sekarang?"
"Haha... Siapa peduli itu. Lihatlah siapa yang telah sadar."
"Selamat pagi, ma," sapa Julius.
"Julius. Syukurlah kau sudah sadar. Mama khawatir sekali padamu," satu kecupan mendarat di dahi Julius. "Bagaimana keadaanmu, sayang? Apa masih sakit?"
"Sedikit."
"Tetaplah berbaring dan jangan banyak bergerak, okey. Mama akan memeriksa lukamu," Lina hendak membuka kancing baju Julius.
"Em... Ma, sebaiknya nanti saja. Aku sudah merasa baikan," tolak Julius secepatnya.
"Kenapa kau menolak? Sudah sewajarnya mama memeriksa lukamu setelah kau sadar," mata Lina tiba-tiba tertuju pada Marjorie yang telah memalingkan wajahnya. "Oh.... Rupanya putra pertamaku bisa malu juga ya dihadapan seorang gadis. Biasanya watakmu itu seperti es batu," bisik Lina mengejek Julius.
"Bukan begitu. Aku..."
"Iya, iya, mama paham," potong Lina tanpa memberi kesempatan bagi Julius menjelaskan. "Tapi izinkan mama memeriksa kondisi tubuhmu."
Lina mengeluarkan tensimeter yang tersimpan di laci meja disamping tempat tidur Julius. Ia menggunakan alat tersebut untuk mengukur tekanan darah Julius. Tak lupa Lina juga memeriksa detak jantung putranya dan sambil mengajukan beberapa pertanyaan.
"Tekanan darahmu normal dan detak jantungmu stabil, sepertinya lukamu sudah mulai membaik. Tapi tetap saja kau tidak boleh bergerak sembarangan, mengerti? Istirahatlah untuk beberapa hari kedepan dan jangan melakukan gerakan berlebihan. Sebaiknya kau berbaring saja seharian."
"Bagaimana caranya aku makan atau minum jika berbaring seperti ini?"
"Itu mudah," Lina menoleh pada gadis di depannya. "Marjorie, bisa kau membantuku mengurus putraku satu ini? Aku masih harus merawat adiknya. Kau tidak keberatan, bukan?"
"Tidak sama sekali, Ny. Flors. Saya akan membantu anda."
"Nah, ini dia perawat pribadi mu. Setidaknya adalah orang yang kau kenal agar kau mau menurut. Marjorie, jangan sungkan-sungkan melaporkan padaku jika ia membantah atau melanggar apa yang aku katakan."
__ADS_1
"Hei, dia jadi perawat pribadi atau malah mata-mata yang selalu mengawasi gerak-gerik ku?" protes Julius.
"Kenapa? Mau menolak? Jika kau berani bergerak sampai menyebabkan lukamu kembali terbuka, mama terpaksa harus membedahmu lagi," ancam Lina sambil menatap tajam dengan senyum menyeringai.
"Hehe... Ny. Flors sangat menyeramkam. Aku mulai mengerti kenapa Tn. Flors segera meminta Julius berbaring kembali," batin Marjorie.
"Julia," ucap Nisa membuat semua orang menoleh padanya.
Lina bergegas berbalik menghampiri Nisa. "Ada apa Nisa?"
"Aku melihat jari Julia bergerak," kata Nisa tanpa melirik Ny. Flors namun terlihat ada sedikit cahaya gembira diwajahnya.
"Julia," panggil Lina sambil mengelus lembut rambut putrinya itu.
Tangan Julia kembali bergerak namun matanya masih terpejam. "Ka-kak," ngigau Julia dengan suara hampir tidak terdengar. "Kakak."
"Julia."
Julius yang mendengar kalau adiknya memanggilnya membuat ia bangkit perlahan dari tempat tidurnya lalu beranjak turun. Dengan cekatan Ducan membantu Julius berjalan mendekati tempat tidur adiknya. Sedangkan Marjorie membantu membawakan kantung infus Julius. Di sisi sebelah kiri Julia terbaring, Julius mengambil tepat duduk yang tersedia.
"Julius sud..."
"Baik. Aku juga mengerti perasaan Julius. Kau tidak perlu sampai menggunakan ekspresi itu," Lina melipat kedua tangannya sambil sedikit cemberut.
"Julia. Buka matamu. Aku ada disini."
Kali ini Julius yang memanggil nama adiknya sambil mengusap lembut rambut Julia. Perlahan Julia terlihat membuka mata. Semua orang dibuat senang melihat itu. Dengan keadaan sangat lemah Julia melirik kesana kemari sama matanya berakhir menatap wajah Julius.
"Ka-kak," kata Julia masih hampir tak terdengar.
"Iya, ini aku. Bagaimana perasaanmu?" tanya Julius.
"Tidak bertenaga."
Julia ingin melepaskan alat bantu pernafasannya karna merasa tidak nyaman. Tapi ia tidak mampu melakukannya. Lina yang segera tahu langsung membantu melepaskan alat bantu pernapasan tersebut agar Julia lebih leluasa berbicara dan lagi pula sepertinya sistem pernapasan Julia sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Mama," panggil Julia setelah alat bantu pernapasan terlepas.
"Aku sangat senang kau sudah sadar, sanyangku. Mama sungguh takut jika harus kehilanganmu lagi."
__ADS_1
"Maaf."
"Tidak apa-apa. Asalkan Julia kembali sehat, mama sudah bahagia," Lina memberi satu kecupan di dahi Julia.
"Dimana ini? Apa yang terjadi?" tanya Julia.
Mendengar itu membuat Daniel dan Lina saling pandang antara satu sama lain, kemudian beralih menoleh pada Julius dan Ducan. Pertanyaan tersebut mengingatkan mereka pada sewaktu Julia sadar setelah tujuh hari koma dari menjalani operasi akibat kecelakaan. Raut wajah linglung yang ditampakan Julia menimbulkan rasa takut dibenak mereka kalau-kalau Julia mengalami hal serupa.
"Julia, apa kau sungguh tidak ingat apa yang terjadi?" tanya Daniel.
"Em..."
Julia tidak segera menjawab. Ia melirik kesana kemari seperti mencari seseorang. Kekhawatiran mereka semakin menjadi. Apa yang dilakukan Julia persis sama seperti waktu itu. Apa Julia akan mengalami hilang ingatan dan harus bergantung pada obat-obatan lagi? Tiba-tiba Julia tersenyum begitu matanya tertuju pada Nisa. Orang yang ia cari keberadaannya ternyata duduk disebelah mamanya.
"Ni-sa..." kata Julia sambil hendak mengapai tangan Nisa.
"Iya, Julia," Nisa meraih tangan Julia lalu didekapnya dengan hangat.
"Terima kasih telah ada disini. Iya, aku ingat. Aku ingat semuanya. Gerda, aku bertemu Gerda, tapi ia pergi lagi. Aku ingin bersamanya namun, Nisa menahan ku pergi. Ia bilang kakak terluka dan memintaku kembali."
Mendengar itu membuat semua orang terkejut terutama Nisa. Apa yang dilihat Julia sebenarnya? Apa itu bayangan yang ia lihat disaat tidak sadarkan diri selama ini? Apa itu terbilang sebuah mimpi? Tapi, bagaimana bisa sebuah mimpi menggambarkan persis yang terjadi di dunia nyata?
Marjorie membungkukkan badannya lalu berbisik di telinga Julius. "Ikatan telepati saudara kembar yang kuat."
"Sepertinya begitu."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1