Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Menuju pulau


__ADS_3

Malam hari di kapal setelah jam makan malam. Qazi dan Julius memulai pembahasan tentang acara pelelangan tersebut. Di ruangan yang cuman ada mereka berdua, Qazi menyerahkan sebuah topeng mata berwarna biru muda berhiaskan ukir perak. Topeng tersebut masih terbungkus rapi di dalam kemasannya.


"Untuk apa topeng ini?" tanya Julius sambil menggapai topeng tersebut.


"Semua perserta pelelangan wajib menyembunyikan identitas mereka. Begitu turun dari kapal tuan Julius harus mengenakan topeng ini."


"Baiklah. Jadi, apa cuman kita berdua yang akan turun di kapal nanti untuk menghadiri acara pelelangan tersebut?"


"Iya. Peraturannya memang begitu. Hanya diperbolehkan dua orang setiap satu keluarga yang terdaftar di acara pelelangan."


"Kenapa pelelangan ini dikenal dengan pelelangan paling berdarah yang perna ada?" tanya Julius.


"Karna setelah acara pelelangan selesai dan begitu para perserta keluar dari rumah lelang, ini adalah awal dari pembantaian. Para peserta diperbolehkan merebut barang yang mereka inginkan atau gagal mereka dapatkan di acara lelang tersebut. Segala cara boleh dilakukan termasuk membunuh sekalipun."


"Sebab itu para peserta menyewa pengawal profesional untuk melindungi mereka dan barang yang mereka peroleh."


"Iya. Sebelum sampai di pulau, saya akan menerakan secara keseluruhan situasi di pulau tersebut."


Qazi mengeluarkan suatu benda persegi dari saku jas nya. Ia menekan tombol di tengah benda hitam itu. Muncul hologram tiga dimensi pulau yang akan mereka datangi.


"Ada 10 dermaga yang mengelilingi pulau ini dan 10 jalan masuk menuju pintu utama rumah lelang. Kapal akan merapat di dermaga 6 yang ada di bagian 150° tenggara. Jarak dari dermaga ini menuju pintu utama rumah lelang sekitar 500 meter. Kita akan menempunya dengan berjalan kaki. Ini merupakan jarak yang paling terdekat."


"Baik. Bagaimana dengan bagian dalam rumah lelang? Apa kita bisa mengetahuinya?"


Qazi memperbesar gambar bangunan tua bercat putih yang telah kusam itu. "Untuk bagian dalam bangunan, ada tiga tingkatan. Lantai pertama merupakan tempat acara pelelangan berlangsung. Lantai kedua adalah ruang VIP. Hanya ada tersedia empat ruangan VIP di bagunan ini. Dan yang terakhir, lantai ketiga. Tidak ada yang tahu apa yang ada di lantai tiga."


"Bagaimana dengan ruang bawah tanah?"

__ADS_1


"Karna bangunan ini cuman digunakan setiap kali ada pelelangan yang diadakan tidak menentu, ia tidak memiliki ruang bawah tanah sama sekali."


"Kalau soal pengamanan di pulau ini?"


"Pengamanan... Ada lebih dari 55 kamera pengawas yang tersebar di sekeliling pulau dan 20 kamera di dalam rumah lelang. Hanya itu."


Muncul titik-titik merah yang menandakan letak kamera pengawas di hologram pulau tersebut.


"Sepertinya pemilik dari rumah lelang ini sangat senang menonton pertunjukan orang-orang saling membunuh antara satu sama lain hanya untuk mendapatkan barang-barang incaran mereka."


"Saya telah membuat jalur pelarian yang terhindar dari kamera pengawas," Qazi memperbesar gambar pada bagian tenggara pulau. Kali ini muncul garis berkelok-kelok diantara titik-titik merah itu. "Jalur ini berada di dalam hutan. Itu akan memungkinkan kita dapat keluar dari pulau dengan selamat. Dan dimohon tuan Julius untuk mengingat jalur ini baik-baik."


"Kenapa aku harus menghafalnya?"


"Karna seluruh alat elektronik tidak berfungsi sama sekali di pulau ini kecuali peralatan mereka. Ini juga alasannya kenapa pulau ini tidak bisa terlacak oleh satelit. Mereka mungkin memasang suatu alat yang dapat menggangu kerja sistem alat elektronik yang kita miliki."


"Baik. Aku juga bukan pengingat yang buruk. Ada berapa banyak orang yang ditugaskan adalah acara lelang tersebut? Apa paman Qazi memiliki data mereka?"


Julius dan Qazi terus membahas soal rumah lelang, barang apa saja yang dilelang, para peserta yang lain berserta pengawalnya dan juga membahas rencana-rencana cadangan jika ada bagian dari rencana mereka yang tidak sesuai harapan. Pembahasan ini berlanjut sampai jam 22.20.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Jam 11.30 kapal mereka merapat di dermaga 6. Terlihat sudah ada dua kapal dari peserta lain di dermaga 7 yang terletak tidak terlalu berjauhan. Namun cuman kapal mereka yang merapat di dermaga 6 ini. Julius dan Qazi tidak segera turun dari kapal. Pelelangan baru diadakan sekitar jam 13.00. Mereka makan siang terlebih dahulu sambil membahas ulang rencana mereka. Semua Alat elektronik mereka telah tidak berfungsi sejak kapal memasuki perairan sekitar pulau sejauh 300 meter.


Jam 12.45 Julius dan Qazi beranjak turun dari kapal. Mereka telah mengenakan topeng sebelum menginjakan kaki di dermaga. Angin di pulau ini bertiup kencang dengan deburan ombak menghantam batu karang. Pulau ini benar-benar terlihat sangat sepi. Sepanjang perjalanan melalui hutan cuman ada suara gemerisik dari hewan-hewan kecil penghuni pulau itu. Namun sendari tadi mata Julius terus melirik beberapa kamera pengawas yang sendari tadi memperhatikan gerak-gerik mereka. Kamera pengawas itu tersembunyi dibalik dahan-dahan pepohonan. Karna merasa telah dipantau sejak turun dari kapal, Julius tiba-tiba menggandeng tangan Qazi. Itu sedikit membuat Qazi terkejut.


"Tuan muda Julius," bisik Qazi.

__ADS_1


"Berpura-pura lah menjadi papaku. Akan aneh jika mereka melihatku yang sebagai anak-anak berusia 12 tahun datang dan mengikuti acara pelelangan di tempat berbahaya seperti ini," balas Julius berbisik.


"Bukankah tuan Julius sudah tahu kalau tidak hanya anda sendiri anak-anak yang menghadiri acara lelang ini."


"Aku tahu. Tapi cuman aku yang datang bersama pengawal, walau aku tidak yakin salah satu dari mereka sungguh ayah dan anak."


"Baiklah, jika tuan Julius ingin saya memerankan peran ini. Saya akan melakukannya sesuai perintahmu," Qazi menyolek hidung Julius menggunakan telunjuknya.


Mendapat perlakuan itu membuat Julius memasang raut wajah datar menatap Qazi. "Aku bukan Julia."


"Tapi kalian berdua mirip."


"Lama-kelamaan sifat paman Qazi semakin mirip dengan paman Norman," gumang Julius tanpa mengubah ekspresinya.


"Menggandeng tangan Julius seperti ini seolah-olah ia sungguh putraku saja," batin Qazi.


Tepat di depan rumah lelang mereka baru bertemu dengan salah satu peserta yang lain. Julius tidak melepaskan gandengan tangannya sampai masuk ke rumah lelang. Ia malah mempererat genggamannya. Begitu memasuki gedung tersebut mereka disambut oleh dua orang penjaga di aula depan. Julius cuman melirik kedua orang itu sekilas. Ia sepat berpikir akan ada pemeriksaan barang bawaan, ternyata tidak. Qazi membimbing Julius menuju tempat dimana mengkonfirmasikan data diri mereka. Ia menyerahkan sebuah kartu yang menjadi bukti keikutsertaan mereka di acara lelang tersebut.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2