Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Taman hiburan


__ADS_3

"Maaf Tn. Flors, aku belum sempat memberahukan hal ini padamu. Karna itu aku begegas datang ke sini begitu mendapat laporan dari bawahanku kalau Violet mengadu padamu kalau Lina dan Daniel telah menikah secara diam-diam."


Tn. Flors melepaskan cengkeramannya dari krah baju Ducan. "Aku bersalah padanya. Aku sempat membentaknya tadi dan berusaha mengusirnya dari sini. Bagaimana bisa aku bertemu dengannya sekarang? Ia pasti sangat membenciku."


"Tn. Flors, Lina adalah gadis yang baik. Ia pasti memaklumi ketidak tahuanmu."


"Tidak. Dari sorot matanya aku tahu dia sangat tersakiti tadi. Ia bahkan sempat berkata tidak mau kembali lagi begitu melangkahkan kakinya keluar dari rumah ini. Dan tadi saja, aku berencana untuk memisahkannya dari anaknya."


"Tn. Flors bisa berbicara dengannya nanti."


Mereka berdua kembali ke ruang tamu. Daniel, Lia dan Violet segera berdiri begitu melihat mereka.


"Jadi bagaimana tuan besar Flors, ayah keputusannya? Kapan aku dan Daniel menikah? Aku sudah tidak sabar menunggu hal itu," tanya Violet bersemangat.


"Uhuk. Aku baru ingat ada pekerjaan yang masih harus diselesaikan, kau bicaralah dulu pada ayahmu. Saya pamit pulang dulu," kata Tn. Flors. Ia melirik sekali Lina sebelum melangkah pergi.


"Hati-hati di jalan kakek. Qazi, bisa kau mengantar kakek ku sampai ke depan pintu," ucap Daniel.


"Baik tuan muda," jawab Qazi. "Mari tuan besar."


"Apa yang terjadi?" pikir Violet yang sedikit bingung dengan perubahan sikap Tn. Flors. "Jadi ayah, bagaimana dengan jadwal pernikahanku? Tanggal berapa itu akan dilaksanakannya? Haruskah aku mulai memilih gaun pengantin, dekorasi pesta serta kuenya?"


"Tanggal pernikahanmu tidak di percepat," kata Ducan membuat Violet terkejut.


"Apa?! Tapi bukankah tadi kalian baru saja mendiskusikannya? Kenapa tiba-tiba tidak jadi di percepat?"


"Eh... Ini, ini karna... Ada peraturan khusus rumah lelang Red Krisan yang menyatakan kau tidak diperbolehkan menikah sebelum kepenggatian kepemilikan secara sah," bohong Ducan.


"Apa benar itu?" tanya Lina.


"Tentu saja. Ini bertujuan agar kau tidak mendapatkan suami yang salah. Seorang suami yang kemungkinan hanya mengincar kekayaan rumah lelang saja tapi tidak mencintaimu sama sekali. Dan mungkin dia akan berencana membunuh mu untuk mendapatkan kekayaan rumah lelang tersebut."


"Peraturan aneh apa itu? Tapi ayah sudah tahu kalau calon suami ku adalah Daniel. Ia tidak mungkin melakukan itu."


"Sudahlah peraturan tetaplah peraturan, kau harus mematuhinya. Sekarang ayok ikut aku pulang."


"Aku tidak mau! Sebagai tunangan dari Daniel, aku akan tinggal disini!" tegas Violet.


"Jangan keras kepala. Aku ingat masih belum menghukum mu karna telah mengupload identitas mu ke media sosial," Ducan menarik paksa Violet pergi.

__ADS_1


"Ayah...! Lepaskan aku," Violet berusaha melepaskan diri namun cengkraman Ducan terlalu kuat baginya.


"Maaf menggagu malam kalian. Sampai jumpa."


"Sampai jumpa," balas Lina dan Daniel.


"Aku sedikit kasihan melihat Violet. Bagaimana jadinya kalau ia tahu tentang semua ini?"


"Aku tebak ia pasti tidak akan terima. Tapi mau bagaimanapun ia harus menerima nya. Keluarga Cershom sudah memberi kehidupan yang sangat layak bagi Violet. Sudah waktunya ia membalas semua itu."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Beberapa hari berlalu. Seperti biasa setiap akhir pekan Lina akan pergi ke tempat latihan tembak, bersama Via sebagai pelatih. Sepulang dari latihan tembak Lina dan Via menyempatkan diri pergi ke taman hiburan disaat mobil mereka melewatinya.


"Wah... Sudah lama aku tidak pergi ke taman hiburan," kata Via riang begitu baru memasuki taman hiburan tersebut.


"Aku mala belum perna datang ke taman hiburan."


"Kalau begitu kita harus bersenang-senang hari ini. Kita coba semua permainan yang ada, bagaimana?"


"Boleh. Aku sudah lama ingin naik Rollercoaster."


Seperti kakak adik yang kompak, dengan riang mereka menjelajahi dan mencoba setiap permainan yang ada di taman hiburan tersebut. Mencicipi berbagai makanan di kedai-kedai yang tersebar disana. Membeli aksesoris dan sovenir taman hiburan. Sampai mereka lupa waktu. Di sore hari, dengan memandikan cahaya keemasan sambil menikmati keelokan kota, Lina dan Via menghabiskan waktu santai mereka dengan kudapan manis. Semangkuk es krim coklat menjadi pilihan terbaik. Namun ada-ada saja pengganggu yang suka merusak kesenangan mereka.


"Wah, wah, siapa ini? Nona perebut tunangan orang," dengan aksesoris glamor Violet berjalan mendekat.


"Aku sempat berpikir Electrical Parade sudah dimulai tapi ternyata itu nona Cershom," kata Lina sambil masih menikmati es krimnya. "Apa kau tidak takut diculik Violet mengenakan seluruh perhiasan yang begitu mencolok?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau iri padaku yang super kaya ini? Dengan dirimu yang miskin itu pasti belum perna melihat perhiasan yang begitu indah dan mahal."


"Fftt! Uhuk! Uhuk!" mendengar itu membuat Lina tersedak. "Oh, astaga. Gadis ini menjadi begitu sombong. Dia berbangga diri diatas harta orang lain. Herannya dengan sifatnya itu masih belum cukup untuk memancing orang-orang itu keluar."


"Ada apa denganmu?" tanya Violet yang bingung.


"Tidak ada."


"Em... Kakak, siapa dia?" tanya Via pada Lina. Wajar saja Via selama ini tinggal di luar negeri. Ia tentunya belum perna bertemu dengan Violet.


"Apa?! Yang benar saja kau tidak mengenal ku," potong Violet.

__ADS_1


"Memangnya siapa kau? Apa kau itu artis atau... Orang yang sangat terkenal?"


"Aku ini adalah putri tunggal dari keluarga Cershom. Violetta Cershom."


"Violet? Oh, jadi ini wanita yang mau kakek jodohkan dengan kakak. Dia tidak seperti yang kakek ceritakan. Dimana sifat ramah-tamahnya? Ia lebih mirip seperti gadis sombong," batin Via.


"Dan kau ini siapa? Dari wajahmu aku yakin kau bukan berasal dari keluarga terpandang, karna aku mengenal seluruh wajah tuan putri dari setiap keluarga kelas atas."


"Wajar saja kau tidak mengenalnya Violet, sebab Via selama ini tinggal di luar negeri. Dia adalah..."


"Aku mengenalnya," kata seorang gadis yang berjalan menghampiri mereka. "Dia adalah sepupu jauhku yang menumpang tinggal dirumahku yang ada di jepang. Namanya Via."


"Sepupu? Dia sepupumu Via?" tanya Lina pada Via.


"Iya, tapi dia tidak tahu kalau aku putri dari Rayner dan Briety. Ia terus mengangapku sebagai sepupu jauh keluarga Flors yang tidak penting. Paman dan bibi juga tidak memberi tahu nya soal ini karna mereka berpikir Azkya sudah mengetahuinya," jelas Via sambil berbisik. "Tolong jangan ungkap identitas ku dulu ya kak."


"Baiklah."


"Sepupu? Maksudmu dia juga bagian dari keluarga Flors?" kata Violet yang sedikit kaget. "Sial! Citraku yang dikenal baik dan ramah di kalangan keluarga Flors bisa hancur kalau begini."


"Jangan pedulikan dia Violet. Dia itu tidak lebih dari kerikil dalam keluarga Flors."


"Oh... Aku mengerti maksudmu. Dia ini cuman menyandang nama keluarga Flors saja tapi nyatanya bukanlah siapa-siapa."


"Tepat sekali."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2