
"Oh, benarkah? Kalau boleh aku katakan, rancangan yang kalian bahas hari ini cukup menarik. Tapi alangkah baiknya kalau robot tersebut juga dilengkapi hologram agar tampak lebih menarik lagi, bukan hanya bisa menjelaskan secara lisan saja seperti robot yang sudah sering ditemukan sekarang ini. Serta untuk desainnya dibuat sesederhana mungkin namun elegan atau sedikit berbeda dari biasanya. Bukankah para pembeli akan menyukainya? Desain rumit cuman disukai orang-orang yang mencintai seni yang indah, bukan keunggulan dari robot itu sendiri. Mereka yang lain cenderung melewatkan robot-robot ini jika cuman dipajang dibalik toko."
Mereka semua terdiam mendengar celotehan cepat yang dilontaraka Julia. Apa sungguh dia masih gadis berumur 5 tahun?
Ia melanjutkan. "Dan selain hologram... Mungkin bisa di tambahkan sistem komputer lainnya serta penggunaan elektromagnetik dan dilengkapi senja..."
Daniel seketika menutup mulut Julia sebelum ia mengatakan hal yang seharusnya tidak ia katakan. "Cukup Julia."
"Hihi... Maaf."
"Bagaimana menurut kalian dengan pendapat putriku? Dia masih berumur 5 tahun tapi sudah bisa memikirkan rancangan yang memungkinkan diminati pembeli. Tujuan dari kita membahas rancangan robot ini itu supaya menarik minat beli masyarakat terhadap produk yang kita ciptakan."
"Em... Itu... Dia pasti meniru rancangan dari kartun yang ia tonton."
"Apa salahnya dengan itu?" potong Julia lagi. "Bukankah itu mala lebih baik. Jika kita bisa menciptakan robot yang sama seperti dalam suatu animasi, minat beli dari masyarakat akan semakin tinggi terutama anak-anak sepertiku. Mereka pasti suka begitu tahu robot dalam animasi kegemarannya ada di dunia nyata."
"Mudah berbicara, tapi apa kau pikir mudah menciptakan robot yang sama seperti dengan yang ada di animasi? Teknologi yang ada dalam kartun itu hanyalah imajinasi semata dan terkadang tidak mungkin ada di dunia nyata. Pembeli akan kecewa jika robot itu tidak persis sama dengan apa yang ada dalam animasi tersebut. Perusahan bisa mengalami kerugian."
"Hah? Apa kau pikir aku memintamu membuat semua robot yang ada dalam animasi?"
"Apa?!" wanita itu tersentak mendengarnya.
"Ada banyak animasi yang bertemakan robot di dunia ini. Tidak semuanya tidak mungkin bisa di ciptakan di dunia nyata. Teknologi semakin canggih dari hari ke hari, bahkan hal yang dulunya dianggap mustahil pun kini telah tercipta."
Melihat tatapan tajam dari gadis kecil itu membuat wanita tersebut bungkam. Ia cuman memalingkan pandangannya ke sudut ruangan.
"Kalian membuatku malu. Hal yang sederhana seperti ini saja masih harus dijelaskan oleh balita," Daniel memberi tatapan tajam pada semua peserta meeting yang kini tertunduk. "Sendari tadi putriku terlihat cuman bermain saja tapi ia mengerti apa yang kita bahas hari ini. Sedangkan kalian yang terlihat begitu fokus memperhatikan mala mengeluh karna merasa terganggu dengan kehadiran putriku. Bahkan melihat salah satu rekan kalian membantu putriku mengambil mainan nya, fokus kalian seketika buyar. Fokus terhadap pekerjaan itu harus tapi jangan lupa memperhatikan apa yang terjadi di sekitar mu. Belajarlah pada Brian. Cuman dia yang memperhatikan kesulitan putriku tapi masih bisa fokus ke apa yang kita bahas. Baiklah. Meeting hari ini sampai disini. Aku minta rancangan baru untuk desain robot tersebut. Bubar!"
Lampu kembali menerang. Semua peserta meeting membereskan barang-barang mereka lalu lekas berjalan ke luar dari ruang meeting tersebut.
"Putri kecilku memang hebat," Daniel mengecup gemas pipi Julia.
"Aku cuman mengatakan apa yang terlitas di pikiran ku."
__ADS_1
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Pulang dari kantor, Daniel dan Julia segera disambut Lina (Violet). Ia berjalan sedikit cepat menghampiri mereka dengan senyuman di pasang diwajahnya.
"Daniel, kenapa kalian pulang terlambat?"
"Aku kira dia sudah tidur. Susah payah aku membujuk Julia mengunjungi berbagai tempat sampai larut malam begini," pikir Daniel. Ia melirik Julia yang tertidur dalam pelukannya. "Julia teringin makan malam diluar dan juga... Ia merengek ingin nonton bioskop. Sebab itu kami pulang kemalaman," katanya mencari alasan.
"Ee... Seharusnya aku yang ada disitu! Aku susah payah menahan kantuk tapi ternyata kau asik menonton film bersama putrimu," gerutu Violet kesal dalam hati.
"Kenapa kau belum tidur?"
"Aku tidak bisa tidur tanpamu," Violet mencoba menggunakan ekspresi manja.
"Kenapa aku mala merasa jijik melihat ekspresi itu pada wanita ini? Sungguh sangat berbeda dengan kucing kecil. Ia terlihat tampak alami dan menggemaskan," batin Daniel. "Aku antar Julia ke kamar dulu."
Tidak memperdulikan Lina (Violet), Daniel berjalan begitu saja melaluinya. Ia pergi ke kamar anaknya dan membaringkan Julia di tempat tidurnya. Terlihat Julius juga telah tertidur dengan keadaan leptop di dekatnya masih menyala. Daniel menutup leptop tersebut setelah itu menarik selimut untuk menutupi tubuh putranya. Satu kecupan mendarat di dahi putra-putrinya sebelum Daniel melangkah keluar dari kamar tersebut.
"Lina?!" Daniel sedikit tersentak melihat Lina (Violet) ada di belakangnya. "Kau belum tidur?"
Daniel berusaha memalingkan muka dari Lina (Violet). "Tentu, tentu saja aku merindukan kucing kecilku."
"Rindu yang aku maksud bukan itu. Kau mengerti maksudku, bukan?" tangan Violet mulai membelai turun jas Daniel.
"Aku mengerti betul maksudmu, tapi jangan harap kau akan mendapatkannya," batin Daniel. "Bagaimana kondisimu? Dokter sudah datang untuk memeriksa keadaanmu?" katanya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Sudah. Ia mengatakan aku baik-baik saja. Semua luka yang aku alami cuman luka kecil. Tidak apa jika kita..."
"Bagaimana ini? Alasan apa yang harus aku gunakan?" terbesit satu ingatan di kepala Daniel. "Bagaimana dengan dia?"
"Dia? Apa maksudnya?" mendengar itu membuat raut wajah Lina (Violet) berubah bingung.
"Dia juga baik-baik saja, kan?" Daniel meletakan tangannya di perut Lina (Violet). Hal itu membuat Violet tersentak mundur.
__ADS_1
"Apa maksudnya ini? Apa Lina sedang hamil? Yang benar saja. Sial!" gerutu Violet. Ia melingkarkan tangannya di atas perutnya "Em... Iya, dia juga baik-baik saja."
"Jawaban itu sudah jelas membuktikan kalau kau bukanlah kucing kecil. Dia tidak sedang hamil. Eh, tunggu dulu. Tapi mungkin saja iya. Kami memang berencana memiliki seorang bayi lagi," pikir Daniel melamun.
Kriiiiing....
Suara hpnya membuat Daniel sadar dari lamunan. Ia mengeluarkan hp yang berdering itu dari saku jas yang ternyata hp Lina. Ia melihat Judy menelpon. Ia segera mengangkatnya.
"Iya. Ada apa?"
"Eh?! Tuan muda. Em... Dimana nona Lina?"
"Iya. Saya segera kesana."
"Hah?"
Daniel dengan cepat memutus telponnya dan memasukan hp tersebut kembali ke saku jasnya. "Bagus. Ada alasan juga aku agar bisa pergi."
"Ada apa?" tanya Lina (Violet).
"Ada masalah di markas. Aku harus segera kesana. Kau tidurlah duluan, jangan menungguku," Daniel lekas pergi meninggalkan Lina (Violet).
"Kenapa Daniel terus menghindari ku? Apa dia sudah menyadari kalau aku bukanlah Lina? Tidak. Tidak mungkin secepat itu. Tapi kalau iya, aku harus secepatnya mengambil tindakan agar ia tidak bisa lari lagi dariku."
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε