
Via bergegas mencari tempat bersembunyi. Tepat waktu Via berhasil bersembunyi di balik lemari sebelum Stevan, Michael dan Ducan masuk. Tidak ada kecurigaan diantara mereka. Stevan mendekati meja kerjanya.
"Bagaimana ini Via?" tanya Lina.
"Kakak, bisa menonaktifkan sumber energi gedung ini?" bisik Via.
"Akan kucoba."
Lina mulai mengutak-atik leptop itu mencoba mematikan sumber energi gedung. Selang semenit Lina berhasil. Seluru listrik di gedung tersebut padam seketika.
"Ada apa ini? Kenapa listriknya padam?" tanya Stevan yang kebingungan.
"Aku akan menelpon bagian teknisi untuk memeriksa apa yang terjadi," Michael mengeluarkan hpnya dari saku jasnya dan kemudian menelpon seseorang.
Via mengambil kesempatan ini untuk keluar secara mengendap-endap dari ruang kerja tersebut. Ia berusaha tidak menabrak sesuatu di dalam kegelapan itu. Via berhasil keluar. Ia mempercepat langkahnya setelah meninggalkan pintu tersebut. Lina kembali menyambungkan aliran listrik untuk seluruh gedung. Mereka semua menarik nafas lega. Lina mengelus lembut perutnya. Ia merasa senang begitu merasakan pergerakan dari janin-janinnya.
"Terima kasih karna tetap kuat sayang," kata Lina dengan lemahnya. Ia baru terasa kalau tenaganya cukup terkuras banyak.
"Apa yang terjadi padamu kucing kecil?" Daniel bergegas menghampiri Lina disaat ia melihatnya terduduk di lantai dengan ke adaan lemah.
"Dari mana saja kau? Kenapa Handsfree mati?" tanya Lina sambil menegakan punggungnya.
"Maafkan aku. Aku tadi tanpa sengaja bertemu dengan seseorang, lalu aku mengikutinya. Kau tidak apa-apa?" tanya Daniel dengan tatapan penuh kekhawatiran dan rasa bersalah.
"Kau pikir aku mudah ditindas? Aku cuman sedikit lelah setelah mumukul bajingan itu menggunakan meja kayu," tunjuk Lina pada Robert yang tidak sadarkan diri di atas tempat tidur.
Daniel baru menyadari hal tersebut. "Apa yang sebenarnya telah terjadi? Siapa dia?"
"Dia Robert, putra dari Michael. Tidak perlu pedulikan dia. Aku telah memberinya racun untuk eksperimen ku. Apa benar racunku tidak bisa dilacak oleh mereka?"
"Aku sungguh minta maaf. Aku terlambat melindungimu. Aku berjanji hal ini tidak akan terulang kembali," kata Daniel sambil memeluk Lina.
"Aku percaya itu."
"Kakak, kau baik-baik saja, kan?" dengan tiba-tiba Via menerobos masuk ke kamar. Tapi raut wajahnya seketika berubah begitu melihat Daniel dan Lina berpelukan. "Oho... Sepertinya aku datang pada waktu yang salah."
__ADS_1
"Via."
Daniel dan Via segera berganti pakaian. Lina merapikan penampilannya yang sedikit berantakan terutama rambutnya. Kini mereka bertiga sudah berpenampilan seperti pertama kali masuk ke pesta. Tidak akan ada yang curiga kalau mereka telah melakukan penyusupan. Daniel, Lina dan Via berjalan keluar dari kamar tersebut setelah menghilangkan beberapa bukti yang ada.
Di lorong menuju ruang pesta, Daniel, Lina dan Via tidak sengaja berpapasan dengan Violet dan Azkya yang juga ingin kembali ke ruang pesta.
"Azkya, kau juga hadir di pesta ini?" tanya Daniel yang baru tahu.
"Kakak sepupu? Ternyata mereka datang bersamamu."
"Memangnya kenapa? Tidak boleh?"
"Bukan begitu kak, aku maklumi kalau kakak mengajak Lina tapi kenapa kau juga mengajak gadis itu?" tunjuk Azkya pada Via.
"Dia kan adik ku," Daniel sedikit bingung dengan maksud Azkya.
"Tidak aku sangka, padahal cuman adik sepupu dari kerabat jauh tapi bisa mendapat perhatian lebih. Apa yang kau lakukan Via sampai Daniel memperlakukan mu seperti adik kandungnya sendiri?" tanya Violet.
"Itu benar. Aku adik sepupu yang sesungguhnya saja kakak tidak perna mengajakku ke pesta. Kenapa malam ini kakak sepupu bisa mengajaknya?" kata Azkya dengan wajah sedikit cemberut.
"Hah? Via..." Daniel mulai mengerti. Ia menoleh ke Via yang melirik ke lain.
"Apa maksudmu Via?" tanya Azkya.
"Aku juga aneh dengan hal ini. Bisa-bisanya setelah sekian lama tinggal bersama, Azkya sama sekali tidak mengetahui kalau kau merupakan adik kandung Daniel," kata Lina yang membuat Azkya dan Violet terkejut.
"Ti, tidak mungkin. Kau, kau adik kandung kakak sepupu?" tampa sadar Azkya mundur selangkah. "Tidak. I, ini bagaimana bisa? Jika Via benar adik kandung kakak sepupu, apa selama ini dia mengadu pada kakak sepupu atas perlakuanku padanya. Apa karna itu aku selalu sial saat mengerjai Via? Tidak, ini tidak mungkin."
"Tidak mungkin! Daniel sama sekali tidak memiliki seorang adik perempuan. Jangan mengarang Lina!" kata Violet meninggikan suaranya.
"Oh, apa Azkya sama sekali tidak memberi tahu mu nona Cershom kalau Daniel memiliki seorang adik perempuan?" tanya Via pada Violet.
"Azkya," Violet menoleh pada Azkya minta penjelasan.
"Kakak sepupu memang memiliki seorang adik perempuan tapi aku tidak percaya kalau kau itu adiknya! Walau aku belum perna berjumpa dengannya tapi aku tahu namanya bukan Via melainkan Olivia."
__ADS_1
"Fftt... Hahaha..." tawa Via terbahak-bahak, sedangkan Lina hanya tersenyum mendengarnya. "Kau memang bodoh Azkya. Tidak heran paman sering marah padamu karna nilai mu yang jelek. Apa kau tidak menyadari nama Via itu merupakan nama panggilan saja. Nama asli ku Olivia Scarlett Flors."
"Azkya, apa kau mengangapku seorang pembohong? Via memang adik kandungku."
"Kakak sepupu, aku bukannya bermaksud begitu. Aku, aku..." Azkya memalingkan mukanya. Ia tidak mampu menata wajah Daniel. "Sial!" gerutunya kesal.
"Gawat. Bagaimana kalau Via memberi tahu perlakuanku padanya ke tuan besar Flors. Citra baik ku bisa hancur. Aku harus memikirkan cara untuk membujuknya," batin Violet. "Em... Via..."
Belum sempat Violet berkata, Via telah memotongnya. "Tidak perlu berpura-pura baik di depan ku. Mau bagaimanapun kau berusaha, aku tidak akan merestuimu pertunanganmu dengan kakak ku. Yang pantas menjadi kakak iparku cuman kak Lina seorang," Via menggandeng tangan Daniel dan Lina kemudian menarik mereka pergi meninggalkan Violet dan Azkya disana.
"Dasar gadis kecil. Kalau saja kau bukan adik Daniel, aku pasti sudah merobek mulutmu itu!" gerutu Violet kesal.
Disisi lain. Stevan mulai mencurigai sesuatu. Ia merasa aneh dengan komputernya yang terasa hangat seperti baru saja digunakan seseorang.
"Ada yang baru saja menyusup kesini," katanya yang membuat Michael dan Ducan kaget.
"A, apa maksud anda Tn. Stevan?" tanya Ducan.
"Kamputerku terasa hangat. Ada seseorang yang baru saja menggunakannya," Stevan menyalakan komputernya untuk memeriksa apa ada sesuatu yang hilang atau file data berhasil ditembus.
"Apa semuanya aman kak?" tanya Michael.
"Tidak ada yang hilang. Aku juga telah memasang virus komputer untuk melindungi semua data dan sepertinya dia tidak berhasil menerobos," jelas Stevan.
"Syukurlah. Itu berarti dia tidak mendapatkan apa-apa. Data anda aman Tn. Stevan."
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε