Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
100. Melatih Ilmu Pedang


__ADS_3

Salam Dunia Persilatan...


Jangan lupa bahagia. Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta (ITGAS) akan berusaha selalu menemani waktu santai kalian. Mungkin bukan bacaan terbaik, tapi paling tidak bisa menemani lelah kalian.


Selanjutnya mudah-mudahan teman-teman berkenan, sudilah kiranya memberikan like, dan komentar pada cerita ini. Selamat membaca.


Salam Dunia Persilatan


--------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------


Episode 100


Melatih Ilmu Pedang


 


“Terima kasih ki sanak telah menyelamatkanku” ucap Iblis Muka Hitam.


Setelah berhasil menyelamatkan Iblis Muka Hitam, Bayangan jingga membawanya ke salah satu rumah penduduk terdekat untuk diberikan perawatan. Saat ini kondisi Iblis Muka Hitam sudah banyak mendingan. Bahkan luka dalam yang dialaminya sudah diobati penolongnya.


“Bagaimana keadaan tuan?” Tanya orang berpakaian jingga. Di dada pakaian orang itu terdapat sebuah gambari istana di kelilingi api di sisinya.


“Sudah jauh lebih baik.” Apakah kisanak orang Istana Lembah Neraka?” tanya Amok Seta atau Iblis Muka Hitam.


Orang berpakaian jingga yang tak lain adalah Pranggala wakil ketua Istana Lembah Neraka itu hanya mengangguk sambil tersenyum menjawab pertanyaan Iblis Muka Hitam. “Sebaiknya tuan lekas mengabarkan ke Benteng Dewa akan rencana serangan Partai Iblis Berkabut” ucapnya.


“Baiklah ki sanak, sekali lagi terima kasih atas pertolonganmu.” Sahut Amok Seta. “Boleh ku tahu...”


belum sempat Iblis muka hitam menyelesaikan ucapannya, Pranggala sudah melesat meninggalkan tempat itu. Lalu dari kejauhan terdengar suara...


“Sampaikan salam kami pihak Istana Lembah Neraka kepada Ketua Perguruan Tangan Dewa. Mohon kiranya sampaikan maaf kami juga atas kejadian yang telah lewat.”


Iblis muka hitam menghela nafas panjang. “Ternyata di dunia ini benar-benar banyak orang sakti yang bermunculan” desahnya.


Kemudian iapun meninggalkan pondokan itu setelah sebelumnya pamit kepada pemilik rumah. Pemilik rumah itu beberapa kali menyampaikan terima kasihnya pada Amok Seta. Rupanya sebelum Pranggala meninggalkan tempat itu, ia sudah meninggalkan sejumlah uang kepada pemilik pondok.

__ADS_1


Amok seta atau Iblis Muka Hitam langsung mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya. Ia berlari tanpa henti menuju Benteng Dewa.


Di tempat lain, sesudah meninggalkan penginapan Jaka dan yang lainnya, Bayu bergerak menuju kediaman Pendekar Pedang Kilat. Sadar akan penghuninya yang memiliki ilmu kesaktian yang tinggi, jauh-jauh pemuda itu sudah menggunakan Ilmu Bianglala Melukis Langitnya memasuki tempat itu. Tanpa suara tanpa jejak ia sudah berada tak jauh dari pondokannya Pendekar Halilintar.


Nampak di depan pondokan, Pendekar Pedang Kilat sedang melatih cucunya ilmu pedang.


“Sekarang kau peragakan jurus-jurus pedang kilat yang sudah kau pelajari, sertakan dengan pengerahan seluruh tenaga dalammu.” Ucap Pendekar Pedang Kilat


“Baik Kek” sahut Randu.


Randu mengerahkan seluruh tenaga saktinya hingga kepuncak. Kemudian ia pun memperagakan seluruh ilmu pedang yang pernah dipelajarinya dari sang kakek. Tak sedikitpun terlihat celah dari jurus-jurus itu. Cepat dan mematikan.


Bayu yang sedang bersembunyi  di atas sebuah pohon yang cukup tinggi dan rindang, mengawasi semuanya. Walaupun jarak antara Bayu dengan kedua orang cucu dan kakek itu cukup jauh, namun dengan Jagat Netra yang ia miliki mudah saja baginya melihat dari kejauhan.


“Bagus, semua kau kuasai dengan sempurna cucuku. Hari ini aku akan ajarkan kau jurus terakhir ilmu Pedang Kilat. Selama aku berkecimpung di dunia persilatan, sangat jarang ilmu ini  aku gunakan. Belum ada satupun pendekar di dunia ini yang mampu mengimbangi ilmu ini. Perhatikan baik-baik!” ucap Jari Pedang kepada cucunya.


Orang tua buta itupun melakukan Gerakan-gerakan silat yang menjadi jurus terakhir ilmu Pedang Kilat. Awal mulanya dia melakukannya dengan gerakan yang lamban. Mungkin untuk memudahkan cucunya menghapalkannya.


“Apakah sudah kau happalkan gerakan tadi?


“Sudah kek!”


Kilatan-kilatan hawa pedang menyambar-nyambar di tempat itu. Ratusan daun berjatuhan terkena kilatan hawa pedang. Lalu dengan sekali hentakan sebuah gelombang dahsyat di hasilkan gerakan terakhir yang dilakukan Pendekar Pedang Kilat. Bahkan getaran gelombang itu masih terasa sampai ketempat Bayu berada.


Bayu yang berada di atas pohon melihat dengan penuh kekaguman. Namun ada rasa kecemasan dari raut wajah pemuda itu. Ia khawatir akan Nalini yang akan berhadapan dengan Randu kelak.


"Coba kau peragakan." perintah Pendekar Pedang Kilat pada cucunya.


Randupun memperagakan gerakan terakhir dari ilmu Pedang Kilat yang diajarkan kakeknya. Walaupun tidak sehebat yang di peragakan Pendekar Pedang Kilat, namun tetap saja yang diperagakan pemuda itu adalah ilmu pedang tingkat tinggi yang jarang ada tandingannya.


"Hmmm... masih perlu banyak latihan lagi kau Randu untuk bisa menyempurnakan Ilmu Pedang Kilat Tingkat terakhir.


 


"Aku pasti akan menguasainya kek." sahut Randu.

__ADS_1


Bayu yang merasa sudah cukup mengawasi pergerakan Pendekar Pedang Kilat dan cucunya, segera meninggalkan tempat itu. Tanpa meninggalkan suara sedikitpun pemuda itu lenyap dari tempatnya semula.


Di depan rumahnya Nalini masih berlatih keras untuk bisa mengalahkan cucunya Pendekar Pedang Kilat. Pada dasarnya saat ini tenaga gadis itu berada satu tingkat di atas Randu. Namun dari segi pengalaman dan teknik ilmu pedang, tentu gadis itu berada sangat jauh di bawah Randu. Itulah yang tadi sangat di khawatirkan Bayu.


"Istirahat dulu anakku, sudah setengah harian lebih kau berlatih tanpa istirahat. Rasa-rasanya kemampuan yang kau miliki sudah berada jauh di atas kami." ucap ki Jatar kepada putrinya.


Sebentar lagi ayah..." sahut Nalini.


Tak lama kemudian Bayupun datang. Pemuda itu menyapa ketiga orang yang sedang memperhatikannya.


"Dari mana nak Bayu?" tanya ki Farja.


"Jalan-jalan ki, melihat keadaan." jawab Bayu di sertai senyumnya yang khas. "Nalini, Istirahatlah sebentar, setelah ini kita akan latihan ilmu pedang." ucap pemuda itu lagi kepada Nalini.


"Apakah Kak Bayu yang akan mengajariku?"


Bayu pun menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Nalini. Kemudian gadis itupun beristirahat. Sementara Ki Farja dan Ki Jatar hanya geleng-geleng kepala melihat Nalini yang begitu penurut kepada Bayu.


Setelah beristirahat dan mengisi perut bersama, Bayu dan Nalini kembali kehalaman rumah untuk Latihan. Tak lama kemudian ki Jatar dan Ki Farja menyusul.


"Ki sebelumnya aku minta maaf, dan meminta izin mengubah sedikit ilmu pedang yang kau ajarkan." ucap Bayu kepada ki Farja.


"Hahaha silakan nak Bayu, kalau kau memang ingin menyempurnakan Ilmu Pedang Kami, malah rezeki besar buat kami."


"Terima kasih ki."


Kemudian Bayu menghampiri Nalini. "Nalini peragakan Jurus Pertama Pedang Pembelah Mega yang di ajarkan gurumu." ucapnya.


Nalini mengangguk. Kemudian gadis itu memperagakan jurus pertama dari Ilmu Pedang Pembelah Mega. Setelah selesai memperagakan gerakan pertama, gadis itupun kembali ketempatnya semula di samping Bayu.


"Nalini lihat ini baik-baik." ucap Bayu.


Pemuda itu mengambil sebuah ranting yang berada di dekatnya. Kemudian Ia melakukan gerakan yang hampir mirip dengan yang diperagakan Nalini. Namun ada beberapa gerakan yang dilakukan perubahan. Terutama pengaturan tenaga dan kecepatan hingga lebih terarah. Pada gerakan terakhir Bayu melakukan hentakan dan mengarahkannya ke sebatang pohon.


Krakkkkkkk...

__ADS_1


Sungguh sangat mengagumkan. Sebuah pohon terbelah dua dari bawah keatas. Padahal yang dipegang Bayu hanya sebuah ranting kayu. Bahkan ranting itupun tak menyentuh pohon iu. Hanya biasan cahaya keperakan memancar dari ranting itu dan membelah pohon.


"Luar biasa, bagaimana bisa Ilmu Pedang Pembelah Mega menjadi sehebat itu" ucap ki Jatar tak dapat menyembunyikan kekagumannya.


__ADS_2