
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 140...
“Setelah kau siap ni sanak, segera kita berangkat. Namun sebelum menuju Hutan Pengecoh Arwah, kita singgah dulu mengunjungi seorang tetua yang hidup di pesisir pantai selatan.” Sahut Jaka menerangkan.
Setelah Canik Kemuning berbenah dan menyiapkan bekal perjalanan, ketiganya berangkat menuju pesisir pantai selatan. Di desa terdekat dari bukit Belawu ketiganya sepakat membeli kuda untuk perjalanan mereka. Dengan masing-masing menggunakan kuda, ketiganya melaju kearah tujuan.
Saat malam, mereka beristirahat di penginapan terdekat. Kali ini mereka singgah di desa yang bernama Desa Panderaman. Desa ini masih berjarak dua hari perjalanan berkuda menuju ke Pantai Selatan.
“Ki tolong sediakan dua buah kamar untuk kami. Oh iya sebelumnya siapkan kami tiga porsi makanan untuk makan disini.” Ucap Jaka kepada seorang lelaki yang dari tadi duduk melamun di kursinya.
“eh.. ohh.. iya den. Maaf den aki melamun. Di kira tak bakalan ada lagi yang berani datang dan menginap di des aini.” Sahut lelaki tua itu sambil berjalan menuju dapur.
Tak berapa lama kemudian lelaki tua itu muncul bersama seorang perempuan tua masing-masing membawa sebuah nampan yang berisi makanan dan minuman.
“Ki.. apa maksud aki tadi bahwa orang-orang tak berani lagi datang kemari.” Tanya Jaka kepada si aki pemilik rumah penginapan setelah ia selesai menyiapkan hidangan di meja..
“Nyi siap kan dua buah kamar buat mereka.” Perintah lelaki tua itu kepada si perempuan tua yang tak lain istrinya itu. Kemudian iapun mengambil sebuah kursi dan duduk di dekat jaka.
“Begini den.. sudah hampir sebulan ini desa kami kedatangan sekelompok orang yang tidak dikenal. Mereka menguasai desa kami, bahkan sudah mengambil alih balai desa dan jabatannya. Mereka mengumpulkan pemuda-pemuda desa lalu menjadikan mereka semacam prajurit terlatih. Hanya saja para pemuda itu menjadi hilang ingatannya sehingga lupa segalanya, kecuali menurut perintah orang-orang itu.” Tutur si pemilik rumah makan yang bernama ki Sarjo itu.
“Lalu apa hubungannya dengan kami ki?”
“Mereka tidak membiarkan desa in
“Bagaimana ciri-ciri mereka ki?” tanya Jaka lagi.
“Kebanyakan mereka memakai pakaian serba hitam.”
“Memangnya belum pernah ada pendatang sebelum kami ki?”
__ADS_1
“Ada.. tapi semua tewas, apalagi bila pendatang itu berasal dari dunia persilatan seperti aden, kalau bisa aden berganti pakaian seperti warga dusun biasa. Biar nanti aku bilang aden bertiga sanak keluargaku dari jauh bila mereka bertanya.”
Jaka dan dua orang lainnya tersenyum mendengar penuturan ki Sarjo. Mereka mengerti akan maksud baik lelaki tua itu. Namun tentu mereka tak akan sepengecut itu. Bahkan dalam hati Jaka sudah ada niat untuk menyantroni kediaman Kepala Desa yang direbut orang-orang tak dikenal itu.
Setelah selesai menyantap hidangan yang di sediakan ki Sarjo, Jaka, Cempaka dan Canik Kemuning beranjak ke kamar mereka masing-masing.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali rumah penginapan ki Sarjo telah dihebohkan dengan kedatangan empat orang berpakaian serba hitam. Mereka berteriak teriak memanggil nama ki Sarjo sambil menendang-nendang pagar di depan rumah. Hal ini memancing perhatian Jaka dan yang lainnya. Mereka pun menghintip keadaan di luar dari kamar mereka masing.
“Ki Sarjo.. kabarnya penginapanmu kedatangan pendatang dari luar. Mana orang itu?” bentak salah seorang berpakaian serba hitam.
“A.. anu tuan. Me.. mereka bukan pendatang.” Jawab ki Sarjo gugup.
“Bukan pendatang apanya? Apa kau mau membodohiku” bentak orang berpakaian hitam sambil mendorong kepala ki Sarjo sehingga orang tua itu limbung ke depan.
“Hmmm.. tak baik kurang ajar pada orang tua.”
Tiba-tiba terdengar suara teguran menggema yang entah dari mana datangnya. Sontak ke empat orang-orang berpakaian hitam mencari-cari di mana asal suara tersebut.
“Dari tadi aku berada di sini.”
Tepat di atas atap bangunan berdiri Pendekar Halilintar. Entah sejak kapan dia berada di sana. Empat orang berpakaian serba hitam sangat terkejut akan kehadiran Jaka. Merekapun berkesimpulan bahwa yang di hadapi mereka kini bukan orang sembarangan.
“Turun kau bedebah! Jangan sampai kakimu itu aku patahkan.” Bentak pemimpin orang-orang berbaju hitam.
Jaka turun dari tempatnya. Bukan menjejakkan kaki ke tanah dengan cara biasa, namun dengan pengerahan tenaga dalam. Sehingga membuat tanah di sekitar tempat itu bergoyang. Orang-orang yang berada di tempat itupun terlihat sempoyonyan.
Dengan gerakan secepat kilat, Jaka berpindah ke sisi ki Sarjo. Kemudian ia mengibaskan lengan bajunya sebelah kanan ke arah orang-orang berpakaian hitam. Dari kibasan itu tercipta serangkum angin yang langsung melesat menyerang kedepan.
Braakk..
Empat orang berpakaian hitam langsung terjungkal. Mereka tak mengira orang yang ada di hadapan saat ini memiliki tenaga yang begitu besar. Sesaat kemudian mereka bangkit, lalu berdiri dengan sikap siaga.
__ADS_1
“Katakan pada pemimpin kalian di Balai Desa. Siang nanti aku akan ke sana membikin perhitungan dengannya.” Seru Jaka dengan nada keras.
“Bedebah.. kau kira kau siapa berani menantang pemimpin kami. Serang..!”
Ke empat orang berpakaian hitam serempak menyerang Jaka. Tidak ingin membuang-buang waktu dan tenaga, Pendekar Halilintar langsung melontarkan pukulan saktinya. Telapak tangannya di arahkan ke depan mengincar orang-orang berpakaian hitam.
Blammm..
Sebuah ledakan terjadi. Tiga orang berpakaian hitam langsung terpental belasan tombak. Tubuhnya menghitam dan mengeluarkan aroma gosong. Ketiganya tewas seketika.
Sedangkan satu orang yang tersisa hanya terpental beberapa tombak. Jaka memang sengaja tidak melukai berat orang satu itu.
“Pulanglah dan sampaikan kepada pimpinanmu. Siang nanti aku akan ke balai desa untuk menemuinya.” Bentak Jaka.
Orang berbaju hitam langsung lari tanpa mempedulikan jasad teman-temannya yang tergeletak di tanah. Sedangkan ki Sarjo yang melihat kejadian tadi hanya terlongo seakan tak percaya denga napa yang dilihatnya. Sampai-sampai orang tua itu berkali-kali mengucek matanya.
“Apakah aden ini seorang dewa?” tanya ki Sarjo agak gemetar.
“Hahaha aki ini aneh-aneh saja. Aku ini manusia biasa seperti aki. Hanya saja aku pernah belajar sedikit ilmu kesaktian.” Sahut Pendekar Halilintar disertai senyum simpulnya.
“Benarkah aden akan pergi ke Balai Desa dan akan menghabisi mereka semua?” tanya ki Sarjo semangat.
Jaka menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Ki Sarjo. Kemudian suami Cempaka itupun melangkah ke dalam penginapan. Ternyata di sana sudah ada Cempaka dan Canik Kemuning sedang sarapan.
“Eh.. curang, kenapa kalian sarapan duluan.” Tegur Jaka berlagak sewot sambil menarik salah satu kursi yang ada di dekat cempaka.
Siangnya setelah berpamitan dengan ki Sarjo dan membayar semua keperluannya selama di penginapan, Jaka, Cempaka, dan Canik Kemuning beranjak menuju Balai Desa. Mendengar Jaka dan yang lainnya hendak kesana, Ki Sarjo dengan penuh semangat ikut serta ke sana. Bahkan dia sampai rela menutup rumah makannya.
Bersambung...
Silakan like dan kasih komentar di bawah, serta vote bila menyukai novel ini. Namun bila tidak suka silakan abaikan saja.
__ADS_1