Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.132. Penyelamatan Nalini


__ADS_3

...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...


...Episode 132...


Raja Ular Hitam menyalakan   obor yang menempel di beberapa sudut goa. Sesaat kemudian goa yang tadinya remang-remang kini menjadi terang benderang. Ia berjalan menuju sebuah meja yang terletak bersebrangan dengan pembaringan Nalini.


“Akan kubuat sebuah ramuan yang akan membuatnu dengan sukarela melayaniku. Kita akan menjadi suami istri yang paling berbahagia malam ini. hahaha..” Tawa mesum Raja Ular Hitam membahana memenuhi segala penjuru goa.


“Manusia Laknat.. siapa sudi menjadi penganting orang tua busuk sepertimu..”


“Eh..”


Takk..


Tiba-tiba saja terdengar suara makian Nalini. Disusul dengan gerakan Gadis itu yang mencoba bangkit dari pembaringan. Tentu saja hal ini membuat Raja Ular hitam terkejut. Ia pun langsung bergerak cepat memberikan totokan pada tubuh Nalini hingga gadis itu ambruk lagi terbaring di pembaringannya.


“Bangsat.. lepaskan aku. Akan ku cincang kau menjadi seribu bagian kalau nanti aku terbebas.” Maki Nalini.


“Sudah dua kali aku memberikan racun pelemas tenaga, tapi hanya beberapa saat saja efek racun itu lenyap. Sungguh aneh, padahal racun pelemas tenaga tidak akan bisa disembuhkan tanpa meminum penawarnya. Apa sebenarnya yang terjadi?” bisik Raja Ular Hitam dalam hatinya.


Memang sudah dua kali ia mencekoki  Nalini dengan racun pelemas tenaga. Tapi belum ada sepeminuman teh lamanya, efek racun itu lenyap. Makanya saat di luar tadi Nalini sempat berteriak memanggil Bayu. Karena efek racun pelemas tenaga yang diberikan kepadanya hampir menghilang.


Tak ingin larut dalam pemikiran yang tak ada jawabannya, Raja Ular Hitam kembali ke meja tempat ia meracik ramuan. Kali ini ia membuat ramuan semacam obat perangsang untuk Nalini agar gadis itu dengan senang hati melayani nafsu bejadnya. Ia tak memperdulikan Nalini yang terus memaki-maki dirinya

__ADS_1


Cukup lama ia membuat ramuan itu, akhirnya selesai juga. Raja Ular Hitam mencampurkan ramuan kedalam sebuah minuman di dalam cangkir yang sudah ia siapkan.  Perlahan ia mendekati Nalini, lalu tersenyum mesum menatap gadis itu.


“Ayo manis.. sebentar lagi dunia akan menjadi milik kita.” Goda Raja Ular Hitam.


“Bangsat tua, lepaskan aku.” Maki Nalini. Gadis itu semakin marah dan jijik melihat tampang Raja Ular Hitam. Walau di hatinya besar rasa ketakutan akan nasib yang sebentar lagi diterimanya, gadis itu masih berusaha terlihat teguh berusaha untuk tidak menangis.


Tapp..


Raja Ular Hitam menotok leher Nalini sebelah kiri. Seketika gadis itu tak mampu lagi bersuara. Kini seluruh tubuh gadis itu tak bisa digerakan. Hanya matanya mendelik penuh kebencian melihat Raja Ular Hitam.


Raja Ular Hitam membuka mulut Nalini secara paksa. Kemudian ia minumkan ramuan yang tadi dibuatnya. Karena tak mampu melakukan perlawanan, seluruh ramuan  di dalam cangkir yang dipegang Raja Ular Hitam habis masuk ketenggorokan Nalini. Raja Ular hitampun melepaskan totokan di leher gadis itu.


Kali ini Nalini tak lagi memaki. Tentu saja hal itu membuat Raja Ular Hitam menjadi girang. Namun Ia dikejutkan akan perubahan pada tubuh Nalini. Sampai-sampai Raja Ular Hitam mundur beberapa langkah.


Perlahan mata Nalini berubah menjadi warna putih semua. Hanya beberapa saat, warna putih itu berubah menjadi outih kebiruan. Seluruh tubuh Nalini pun mulai berasap. Bukan asap panas, melainkan asap yang berhawa sangat dingin. Bibir gadis itupun nampak berubah kebiruan.


Perlahan-lahan tubuh Nalini berubah menjadi normal sepwrti semula. Bola matanya kembali berwarna putih dengan warna hitam kecoklatan di temgahnya. Seluruh tubuhnya pun kembali normal seperti sedia kala.


“Sayang sekali, dengan racun ganas itu mengeram di tubuhmu, tak mungkin aku bisa menyetubuhimu. Kalau sampai aku melakukannya seketika aku akan tewas karena racun itu. Rupanya tak perlu aku bunuh pun tak lama lagi kau akan menemui ajalmu. Sungguh sangat di sayangkan.”


Raja Ular Hitam nampak sangat kecewa tidak bisa menikmati tubuh Nalini. Tidak sekali dua ia menggelengkan kepalanya menyesali diri karena tidak bisa melampiaskan nafsunya kepada Nalini. Gadis itu sendiri sangat bersyukur Raja Ular Hitam tidak lagi berniat macam-macam kepadanya.


Dengan perasaan kecewa Raja Ular Hitam  mengangkat Nalini dan membawanya keluar goa kembali. Ia berniat menyerahkan gadis itu ke Benteng Dewa untuk menjadi sandera melawan Bayu. Namun baru beberapa tombak meninggalkan mulut Goa tiba -iba saja...

__ADS_1


Blammm..


Sebuah halilintar menyambar tepat di samping kaki Raja Ular Hitam. Tentu saja itu membuatnya sangat kaget. Sampai-sampai Nalini yang berada dibahunya terlemoar ke udara. Sedangkan ia sendiri terjungkal beberapa tombak.


“Bedebah.. siapa yang berani membokong Raja Ular Hitam” bentak lelaki tua dengan pakaian berbahan kulit ular itu.


Sesaat tadi ia melihat sebuah bayangan biru menangkap tubuh Nalini yang terlempar. Raja Ular Hitam yakin orang itulah yang melayangkan pukulan terhadapnya. Benar saja, di hadapannya kini berdiri Pendekar Halilintar yang sedang memapah Nalini.


“Dasar manusia tak tau diri. Sudah bau tanah masih saja mengganggu gadis muda.” Maki Jaka kepada Raja Ular Hitam yang sudah berdiri lagi.


“Rupanya kau yang menggangguku Pendekar Halilintar. Apakah kau sudah bosan hidup berani mencampuri urusanku.” Bentak Raja Ular Hitam.


Bagaimana bisa pendekar Halilintar kebetulan berada di tempat itu? Sebenarnya Jaka dan Cepaka saat itu berniat pergi ke kediaman Pertapa Sakti Tanpa Nama untuk meminta pendapat orang tua itu. Di tengah perjalanan ia melihat serombongan orang-orang berbaju hitam menangkapi beberapa orang pengemis dan sebagian lagi di bunuh. Jaka pun memutuskan untuk mengikuti rombongan oramg-orang berbaju hitam dan menyuruh cempaka untuk lebih dahulu ketempat Pertapa Sakti Tanpa Nama.


Setelah mengikuti cukup jauh, akhirnya Jaka sampai di tempat pertarungan Bayu menghadapi Dewa Obat dan Singa Lembah Hitam. Sesat kemudian terdengar teriakan Nalini dari balik semak-semak. Jakapun  melesat ke arah datangnya suara. Lalu tiba-tiba saja Raja Ular Hitam melesat dengan membawa kabur Nalini.


Sama seperti yang terjadi dengan Bayu, Pendekar Halilintar bingung menentukan arah pengejarannya setelah melihat ada tiga bayangan hitam yang melesat lari ke tiga arah yang berbeda. Ia pun memilih arah yang benar saat mengejar bayangan hitam. Hanya saja Jaka tiba-tiba kehilangan jejak saat bayangan hitam itu lenyap di balik semak-semak.


“Hmmm.. masih berani kau berlagak di depanku. Apakah kau tidak ingat sepuluh tahun yang lalu kau kuhajar habis-habisan.” Ejek Jaka.


Seketika muka Raja Ular Hitam yang sudah kehitaman menjadi tambah hitam menahan marahnya. Tentu saja ia masih ingat kekalahan telaknya oleh pendekar Halilintar sepuluh tahun yang lalu. Bahkan ia masih menyimpan dendam yang mendalam kepada Pendekar Halilintar.


“Bangsat!” Bentak Raja Ular hitam. Ia pun melompat menerjang ke arah Pendekar Halilintar.

__ADS_1


Bersambung...


Silakan like dan kasih komentar di bawah, serta vote bila menyukai novel ini. Namun bila tidak suka silakan abaikan saja.


__ADS_2