
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 187...
Malam harinya Bayu meminta izin untuk berkeliling desa sambil melihat-lihat keadaan di sana. Sementara Intan meminta Seruni menemaninya duduk-duduk di teras rumah.
“Kak Seruni masuklah. Iblis itu telah datang. Di dalam nanti tutuplah telinga kalian seisi rumah agar tidak terkena sihir.” Bisik Intan yang menyadari akan kedatangan musuh.
Seruni bergegas masuk ke dalam rumah. Tinggal Intan berduduk santai di kursi teras rumah. Sementara tak jauh daritempat itu sepasang mata telah mengintai.
“Eh.. siapa gadis itu, apakah anak kepala desa juga? Sungguh sangat cantik bagaikan bidadari saja. Ah ternyata tak percuma aku kehilangan gadis semalam dapat ganti yang jauh lebih cantik.” Bisik si pengintai yang tak lain adalah Iblis Pemetik Bunga paling muda dalam hatinya.
Iblis Pemetik Bunga ketiga itupun memunculkan diri dihadapan Intan. Gadis itu sontak refleks melihat kearahnya. Kemudian mulut seperti merapalkan sesuatu. Tiba-tiba matanya bersinar berwarna kemerahan. Tak lama kemudian terlihat mata Intan memancar sinar berwarna merah juga. Sesaat gadis itu terlihat seperti orang lingling.
“Hahaha malam ini aku benar-benar beruntung.”
Iblis Pemetik Bunga ketiga memanggil Intan dengan Isyarat tangannya. Intanpun bangkit dari duduknya lalu melangkah menghampiri lelaki berbaju biru itu. Apa yang di lakukan Intan tak lepas dari pengamatan Seruni dan kedua orang tuanya di dalam rumah.
“Bagaimana ini ayah? Kasihan Intan kalau sampai menjadi korban Iblis itu. Kenpa bisa jadi seperti ini, mudah sekali gadis itu terpengaruh sihir Iblis Pemetik Bunga itu.” Bisik Seruni kepada ayahnya yang berada di samping.
Ketiga orang ayah, ibu, dan anak itu memang sedang mengintip keadaan di luar dari dalam rumah melalui lubang-lubang kecil di dinding. Mereka tidak menyangka keadaan menjadi seperti sekarang. Begitu mudahnya Intan terpengaruh Ilmu lawan.
“Entahlah Seruni, aku juga bingung. Mudah-mudahan nak Bayu segera datang menyelamatkan nak Intan.” Jawab ki Jati Suro.
Di luar Intan semakin dekat dengan Iblis Pemetik Bunga. Tampak senyum kemenangan ditunjukkan lelaki berpakaian serba biru itu. Saat jarak mereka sudah sangat dekat. Hanya berkisar satu tombak, Iblis Pemetik Bunga mengangkat tangannya hendak menyentuh Intan.
“Akkhh..”
__ADS_1
Iblis Pemetik Bunga memekik kesakitan. Tiba-tiba saja tangannya tertahan dengan jarak satu jengkal dari tubuh Intan. Perlahan terlihat tangan kanan lelaki berbaju biru itu diliputi salju berwarna putih. Tubuh Intan pun nampak memancarkan cahaya hijau keputihan.
Menyadari ternyata semua hanya jebakan Intan, Iblis Pemetik Bunga mengerahkan tenaga saktinya hingga kepuncak. Nampak telapak tangan lelaki itu memancar sinar biru. Ia berusaha melepaskan diri dengan Ilmu belut birunya. Namun sayang, ia tak menyadari yang di hadapinya sekarang ini bukan gadis sembarangan. Melainkan gadis yang mewarisi kekuatan Bidadari Giok Es yang merupakan penjelmaan salah satu dari dua Roh mahluk Keramat.
Dengan sekuat tenaga Iblis Pemetik Bunga Berusaha menarik tangannya yang seperti menempel pada dinding yang tak terlihat di depan Intan. Lelaki itupun memusatkan seluruh tenagannya ditangan sebelah kiri yang masih terbebas. Dengan sekuat tenaga Iblis Pemetik Bunga ketiga memukulkan tangannya ke batok kepala Intan. Namun bukannya ia berhasil memecahkan kepala Intan malah tangan yang satunya kini nasibnya tak berbeda dengan sebelah kanannya.
“Aaaa..”
Iblis Pemetik Bunga termuda memekik kesakitan. Secara perlahan kedua tangannya merayap tenaga es yang membuat ia merasakan rasa dinginyang teramat sangat. Semua itupun menimbulkan rasa sakit yang tak terlukiskan.
Sudah separuh tubuh Iblis Pemetik Bunga ketiga berubah menjadi Es. Kini hanya separuh badan bagian belakangnya saja yang belum tertutup es. Nampak mulut, hidung, dan telinga lelaki itu mengeluarkan darah sehingga membuat es yang menutupi bagian itu berwarna merah kehitaman.
“Adik ketiga!”
“Adik kedua Jangan mendekat!”
Bayangan biru pertama yang muncul dari balik pohon itu tak lain adalah Iblis Pemetik Bunga kedua. Ia yang melihat adiknya celaka tak tinggal diam hingga memunculkan diri dari balik pohon bermaksud menyelamatkan adik seperguruannya itu. Namun malang yang ia terima, bukannya berhasil membebaskan sang adik seperguruan, malah tangan kanannya yang tadinya hendak ia gunakan menghantam intan bernasib sama dengan sang adik.
Intai mulai mengerahkan tenaga sakti Inti Giok Es nya. Seketika di sekitar tempat itu mulai dituruni Salju. Seruni dan ayah ibunya yang terus mengintip dari dalam rumah terheran-heran dengan pemandangan yang terjadi di depan mata mereka. Sampai-sampai ki Jati Suro dan istrinya lupa menutup mulutnya yang ternganga karena takjub.
“Mungkin Intan itu memang seorang dewi, ayah!” bisik Seruni kepada Ayahnya.
Kedua suami istri itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dengan pendapat sang anak. Bagi mereka tidak mungkin manusia biasa yang memiliki kesaktian seperti itu. Apalagi mampu menurunkan salju di tempat yang tak pernah turun salju itu.
Seluruh tubuh Iblis Pemetik Bunga ketiga kini sudah menjadi es. Ia pun tewas dengan kondisi seluruh darah dan tubuh membeku. Sedangkan Iblis Pemetik Bunga Ketiga, hampir seluruh lengannya sudah menjadi es. Iapun memekik kesakitan.
Crakkk..
__ADS_1
Tiba-tiba saja lengan Iblis Pemetik Bunga Kedua terpotong. Ternyata ini dikarenakan sang kaka seperguruan menebasnya dengan sebuah pedang. Kemudian Iblis Pemetik bunga tertua membawa adik keduanya yang terluka itu kabur. Kini yang tersisa hanya tubuh Iblis Pemetik Bunga ketiga yang membeku dan sebelah tangan kakak seperguannya yang terpotong itu. Intanpun menghentikan pengerahan tenaganya, seketika hujan salju berhenti.
Melihat keadaan sudah aman, Seruni dan kedua orang tuanya keluar menghampiri Intan. Mereka masih terkagum-kagum menatap Intan. Yang di tatap hanya tersenyum geli merasa lucu melihat keadaan ketiga orang itu.
“Kak Bayu turunlah, mau berapa lama kau di situ.” Tegur Intan sambil menengok ke atas langit dengan senyumnya yang sangat manis itu.
Melihat Intan menengok keatas sambil memanggil nama Bayu, sontak mereka tiga orang ayah, ibu, dan anak menengok keatas. Betapa mereka terpelongo melihat Bayu yang berpakaian serba merah dengan jubah khasnya menggantung di belakang sedang melayang bagaikan berdiri di atas udara. Tubuhnya memancarkan kilat-kilat berwarna kemerahan pertanda ia sedang mengerahkan tenaga sakti Ilmu Tujuh Gerbang Alam semesta tingkat ke tiga. Ada sekitar dua puluh tombak tingginya pemuda itu berada di atas.
“Ahhhh.. ternyata kalian memang benar seorang dewa dan dewi.” Ucap ki Jati Suro sambil berlutut diikuti istri dan anaknya di samping sambil berlutut.
Bayupun turun ke bawah dan mendarat di tanah dengan santainya. Kemudian pemuda itu mendekati Intan yang sedang memandanginya.
“Kak Bayu, mengapa tadi kau tidak mencegah mereka melarikan diri?” tanya Intan tak mengerti.
“Saat aku berada di atas tadi aku melihat ada dua orang kakek dan nenek sedang mengintip mengawasi pertarungan kalian. Sempat aku melihat mereka berdua mengerahkan tenaga sakti yang mengeluarkan cahaya kehitaman, sehingga akupun bersiap akan segala kemungkinan terjadi. Entah siapa mereka yang kutahu tenaga keduanya jauh berada di atas ketiga Iblis Pemetik Bunga itu.” Jawab bayu.
“Sepertinya kita memang harus menyelesaikan masalah inisampai ke akar-akarnya.” Ucap Intan. “Eh kenapa kalian berlutut seperti itu?” ucap gadis itu saat sadar apa yang dilakukan Seruni, ayah dan ibunya itu.
Bersambung..
Sebagai bentuk apresiasi kepada author dan membantu menaikan level karya serta menambah pupularitas novel ini mohon kesediannya :
1. memencet tombol like
2. Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.
__ADS_1
Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini.