
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 145...
Bayu dan Nalini memasuki sebuah bangunan besar yang di depannya bertuliskan Rumah Makan Asmaralaya. Saat keduanya melangkah ke dalam, seorang pelayan lelaki tua menghampiri.
“Silakan Den!” Ucap si pelayan sambil mengarahkan keduanya ke salah satu meja yang cukup bagus dibandingkan meja yang lain. “Di sini meja khusus Den buat tamu khusus seperti aden yang mirip dewa dewi khayangan.” Ucap Si Pelayan setengah mengumpak kepada keduanya.
Keduanya pun duduk di tempat yang telah disediakan. Kemudian mereka memesan makanan dan minuman yang di inginkan. Tak menunggu lama, pelayan tadi datang dengan dua buah nampan berisi makanan dan minuman. Dengan cekatan pelayan itu menyajikan semua di meja makanan. Jelas sekali terlihat ia melakukannya dengan ilmu beladiri.
“Terima kasih mang.” Ucap Nalini.
Si mamang pelayan tersenyum membalas ucapan Nalini. Pelayan itupun meninggalkan mereka berdua. Keduanya menikmati hidangan yang tersedia di hadapan.
“Mang..!” panggil Nalini kepada si pelayan.
Dengan sigap lelaki berusia sekitar empat puluh lima tahun mendatangi. “Permisi den ayu.. ada yang bisa mamang bantu” Ucapnya.
“Kami sudah selesai mang, berapa semuanya?” tanya Nalini.
“Ga usah bayar den ayu, semua sudah dibayar.” Sahut si pelayan.
Bayu yang mendengar ucapan si pelayan mengerutkan keningnya. Namun pemuda itu masih diam tidak menanggapi. Ia memang merasakan ada sesuatu di desa ini. Terlebih dari awal memasuki desa, tatapan orang kepada mereka agak tidak biasa.
“Siapa mang yang membayar? Biar kami bisa berterima kasih.” Ucap Nalini.
“Nanti aden, dan den ayu akan tau sendiri.” Jawab lelaki itu sambil tersenyum.
Sesaat gadis itu melirik Bayu. Ia khawatir kejadian ini membuat tidak senang si pemuda. Nalini sedikit lega melihat Bayu sama sekali tidak memperdulikan.
“Baiklah mang.. sampaikan ucapan terima kasih kami.”
Bayu dan Nalini meninggalkan rumah makan. Perlahan mereka berjalan menyusuri jalan desa. Walaupun matahari bersinar terik, banyaknya pepohonan yang tumbuh di desa itu membuat suasana jalan menjadi teduh.
__ADS_1
“Di depan ada beberapa orang sedang mengawasi kita. Kau tidak perlu melakukan sesuatu. Biar aku yang mengatasi apabila mereka menyerang. Bersikaplah seperti biasa.”
Nalini mengangguk mendenar arahan Nalini. Mereka berjalan terus kedepan berlagak tidak mengetahui sedang diawasi.
Wusshh.. wusshh.. wusssh..
Tiga buah benda melesat ke arah Bayu dan Nalini. Seolah tak terjadi apa-apa keduanya berjalan terus tanpa memperdulikan apa yang mengincar mereka.
“Aduh..”
Terdengar jeritan mengaduh. Entah sejak kapan munculnya, tiba-tiba saja tiga orang lelaki berpakaian coklat sudah ada di sana dalam keadaan tertotok. Benda yang mereka lontarkan sebelumnya berupa anak panah menancap di bahu mereka masing-masing. Rupanya dengan gerakan yang sangat cepat pemuda itu telah memindahkan orang yang memanahnya ke posisi sasaran, sehingga panah itu mengenai tuannya sendiri.
Sejenak Bayu diam di tempatnya. Kemudian ia mengerahkan tenaga saktinya, sepintas terlihat benda-benda kecil di dekatnya melayang. Lalu terlihat sekitar delapan orang yang melayang bergerak kearah Bayu.
“Ehh.. apa ini?” pekik salah salah satu dari mereka.
Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta tingkat ke lima, memiliki kekuatan mengendalikan seluruh benda yang ada di sekitar penggunanya, lalu menjadikannya senjata. Pada keadaan tertentu ilmu ini juga bisa digunakan untuk mengendalikan gerak orang lain. Bahkan ditingkat tertingginya dia dapat digunakan menggerakan benda dari jauh.
Tubuh delapan orang itu melayang di udara sekitar tiga tombak dari tanah. Mereka meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari sesuatu yang mengangkat mereka namun tak nampak. Perlahan-lahan kedelapan orang itu merasakan sekujur tubuhnya seperti digigit semut. Sontak mereka berteriak-teriak kesakitan.
Tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki meminta Bayu menghentikan perbuatannya. Karena memang tidak berniat mencelakai orang, Bayupun membebaskan delapan orang itu, dan juga tiga orang penyerangnya tadi. Delapan orang itupun mendarat ketanah dengan perlahan. Selanjutnya tiga orang penyerang entah bagaimana Bayu melakukan, mereka telah bebas dari totokkan.
Seorang lelaki berumur empat puluh tahunan di dampingi dua orang lelaki tua berusia sekitar enam puluhan. Lelaki yang muda menggunakan pakaian berwarna coklat muda, sedangkan kedua orang tua di sampingnya memakai pakaian loreng harimau.
“Salam hormat kami pendekar muda. Aku yang rendah ini bernama Raga Lawing, orang-orang persilatan memanggilku dengan sebutan Tangan Geledek. Di sampingku ini dua orang tua sakti yang dipanggil Maung Kembar Hutan Garu.” Ucap lelaki berpakaian cokelat tua sambil memberi hormat dan mengenalkan diri. “Kalau tak keberatan, boleh kami tau siapa pendekar muda dan apa gerangan tujuan tuan memasuki Hutan Jati Alam.”
“Hmmm..” Bayu mendengus. Nampak sekali reaksinya kurang bersahabat dengan orang. Ia sedikit kesal tiba-tiba saja mendapat serangan dari orang yang tidak dikenalnya.
“Kami hanya pengembara paman. Kami tidak mengetahui hutan itu adalah Hutan Jati Alam, dan ada apa gerangan di sana hingga kami dihalangi untuk masuk ke sana. Kami hanya ingin melanjutkan perjalanan kami.” Potong Nalini. Ia melihat ada gelagat kurang bersahabat ditunjukkan Bayu. Gadis itu tak ingin pujaan hatinya itu bertindak merugikan orang lain yang belum tentu orang-orang jahat.
“Benarkah kalian tidak tahu di sana Hutan Jati Alam. Dan tidak mengetahui apa gerangan yang ada di sana.” Sahut salah seorang Maung Kembar Hutan Garu. “Jangan sombong dulu anak muda, kau kira aku akan takut dan terkecoh oleh ilmu sihirmu itu.” Sambungnya lagi sambil telunjuknya mengarah ke arah Bayu.
“Nalini.. Jangan hiraukan mereka, mari kita lanjutkan perjalanan.” Ajak bayu.
__ADS_1
Nalini tak ingin membantah. Ia tahu saat ini perasaan Bayu kurang senang dengan sikap orang. Keduanya pun perlahan melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu. Bukannya merubah arah, Bayu mengajak Nalini semakin kedalam hutan.
“Bocah Sombong, cari mati kau rupanya.” Bentak Maung kembar yang lebih tua.
“Tetua, sabar jangan gegabah!” seru Raga Lawing hendak mencegat Maung Kembar tertua. Lelaki itu sedikit banyaknya sudah mengukur ketinggian ilmu si pemuda. Ia tak ingin pihaknya bertindak gegabah sehingga menimbulkan kerugian.
Namun seruan itu sudah terlambat. Maung Kembar Hutan garu yang tertua sudah melompat menerjang Bayu. Orang tua itu membentangkan Cakarnya hendak merobek tenggorokan Bayu.
Braaaak...
“Akhh..”
Bukan Bayu yang terkapar karena mendapatkan serangan, melainkan orang tertua Maung Kembar Hutan Garu itu. Tubuhnya terpental sewaktu akan mencakar tenggorokan si pemuda. Tak ada yang tau bagaimana Bayu melakukannya. Satu dari Maung Kembar Hutan Garu itu terkapar memuntahkan darah segar saat tubuhnya terlempar lebih dari enam tombak menimpa sebatang pohon besar. Orang tua itupun pingsan seketika.
Raga Lawing sangat terkejut melihat kejadian di depannya. Ia memang menduga pemuda di depannya merupakan seorang pendekar sakti. Namun yang sangat ia tak menyangka adalah Bayu dengan mudahnya merobohkan salah satu dari Maung Kembar Bukit Garu itu tanpa menyentuhnya sedikitpun, Bahkan tanpa gerakan sedikitpun. Padahal kesaktian orang tua itu berada diatasnya, bahkan diatas gurunya sendiri.
“Bedebah kau bocah, kubunuh kau!” teriak Maung Kembar Hutan Garu yang satunya.
“Cukup Paman, jangan bertindak sembarangan.” Cegah Raga Lawing Melihat orang tua kembar satunya hendak menyerang Bayu.
Namun tanpa memperdulikan ucapan Raga Lawing, orang tua itu melesat menerjang Bayu. Dengan mengerahkan seluruh kekuatannya, orang tua itu membentangkan Cakar Harimaunya hendak merobek tubuh Bayu. Namun sayang, bagai semut tak melihat tingginya gunung, ia pun tetap menyerang si pemuda.
Deshhh..
Tubuh orang tua itu terhenti di udara. Sesaat kemudian ribuan butiran embun melayang di udara dan bergerak cepat ke arah si orang tua. Di saat yang sangat genting, rupanya takdir masih menyelamatkan nyawanya.
“Jangan Kak..” bujuk Nalini seraya memegang tangan Bayu.
Pemuda itupun membuyarkan tenaga saktinya. Maung Kembar Hutan Garu yang kedua itupun jatuh ke tanah namun tak sampai terluka. Nampak wajah orang tua itu menjadi pucat pasi.
Bersambung...
Mohon kesediaan pembaca sekalian yang menyukai karya ini untuk meluangkan waktu untuk memberikan like dan komentar walau sekedar say hallo.
__ADS_1
Namun kalau memang tidak menyukai novel ini silakan abaikan saja.