Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.148. Penyamaran Seorang Raja


__ADS_3

...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...


...Episode 148...


“Jangan takut.. jangan pedulikan ucapannya. Dia hanya melakukan sihir.” Ucap kepala perampok meyakinkan anak buahnya.


“Seraaangg..” teriak si kepala perampok.


Melihat anak buahnya  tak ada satupun yang bergerak kepala perampok itupun mengulangi sekali lagi perintahnya.


“Seraaangg..”


mereka masih saja diam. Satupun  dari anak buah kepala perampok itu tak ada yang bergerak. Apa yang terjadi dengan kedua rekan mereka sebelumnya sudah membuat nyali mereka benar-benar ciut. Bukannya maju kedepan, malah yang mereka lakukan mundur kebelakang.


“Bedebah kau bocah sialan. Gara2 permainan murahanmu itu anak buahku tak lagi menuruti perintahku. Akan kubuat menderita seumur hidupmu.” Maki si kepala perampok.


Kepala perampok mengerahkan tenaga saktinya. Pada kedua telapak tangannya mengepal asap putih dan kulitnys berubah warna menjadi warna putih. Kemudian jari-jarinya menekuk membentuk sebuah cakar.


“Ahhh.. bukankah itu Cakar Tulang Putih. Rupanya dia pewaris manusia sesat itu. Si Setan Tengkorak Putih.” Desah seorang lelaki yang berada di samping lelaki yang menjadi pemilik kapal besar itu.


“Apakah orang itu sakti dan berbahaya Maruta?” tanya sang majikan mendengar ucapan anak buahnya itu.


“Yang Mulia, Setan Tengkorak Putih merupakan salah satu dedengkot penjahat di negara barat pada masa dahulu. Konon kabarnya dia telah mangkat dan mewariskan ilmunya kepada kedua orang muridnya. Murid orang itu sepasang, satu laki-laki satu perempuan. Hamba menduga kepala perampok ini salah satu muridnya.” Bisik lelaki yang dipanggil Maruta itu.


Sang majikan mengangguk isyarat mengerti penjelasan anak buahnya. Namun lelaki itu tak terlihat sedikitpun merasa takut. Matanya kembali mengarah ke pada Bayu dan Si kepala Rampok yang berada di depannya.

__ADS_1


“Terimalah ini bocah!” Bentak kepala perampok seraya melompat ke arah Bayu.


Kepala peraompok itu menggunakan jurus cakarnya menyerang dada Bayu. Yang diserang tak sedikitpun menghindari. Tepat saat cakar lawan berada sehasta dari tubuhnya, pemuda itu mengerahkan tenaga sakti hawa dinginnya. Butiran-butiran embun tiba-tiba menyelimuti tubuhnya, sementara serangan lawan terhenti.


“Akhh..”


Tiba-tiba kepala perampok merasakan tubuhnya tak bisa digerakkan. Tenaga saktinya mulai tersedot keluar melalui telapak tangannya. Makin lama tenaga saktinya semakin deras keluar, dan tubuhnya mulai merasa lemas. Bersamaan dengan itu serangkum hawa dingin masuk ke tubuh kepala perampok itu. Rupanya Bayu telah menggabung tenaga sakti tingkat pertama dan kelima  Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta untuk melumpuhkan musuh.


Tak berapa lama kemudian Bayu menarik tenaga saktinya. Tubuh perampok itupun merosot kelantai karena lemas. Dengan marah ia mencoba bangkit untuk menyerang Bayu namun seluruh badannya sangat lemah.


“Selama setengah hari tubuhmu  akan lemas seperti itu, selanjutnya kau akan normal kembali. Tapi kau telah kehilangan semua kesaktianmu.” Ucap Bayu.


Setelah mengatakan semuanya kepada si kepala perampok, Bayu tiba-tiba lenyap dari tempat itu. Dalam penglihatan orang-orang yang berada di atas kapal, pemuda itu menghilang. Namu sebenarnya ia bergerak sangat cepat meninggalkan tempat itu.


“Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta.. siapakah pemuda itu. Rupanya telah muncul naga sakti di dalam dunia persilatan.” Bisik sang majikan kapal dalam hatinya.


“Tangkap saja semua anak buah perampok itu, mereka semua sudah tidak berdaya terkena totokan pemuda tadi.” Perintah sang majikan kapal.


Mendengar perintah dan penjelasan sang majikan entu saja ini membuat terkejut beberapa anak buah yang menjadi tukang pukul di sana. Tak seorangpun melihat Bayu melakukan totokan kepada para anak buah perampok. Namun benar saja setelah di dekati mereka tidak bergerak sedikitpun.


Tak berapa lama setelah mereka mengamankan kepala perampok dan anak buahnya, sebuah kapal yang lebih besar dan lebih mewah mendekat. Pada tiang Kapal berkibar sebuah bendera yang menjadi lambang Kerajaan Selatan. Kemudian pintu geladak kapal besar itu terbuka. Lalu empat orang dari sana orang berlompatan menyebrang ke kapal yang tadi hendak di rampok.


“Menghadap yang mulia raja, semoga yang mulia raja panjang umur. Ampuni hamba yang mulia, kelalaian hamba membuat yang mulia mengalami perampokan. Hamba layak di hukum.” Ucap salah seorang lelaki yang berada paling depan diantara empat orang yang baru datang.


“Bangunlah panglima.. ini bukan salahmu. Memang aku yang menghendaki melakukan perjalanan dengan penyamaran sebagai saudagar. Sebenarnya para perampok itu dapat dengan mudah diatasi oleh adikmu si Maruta ini. Tapi seorang pendekar datang memudahkan pekerjaannya.” Ucap saudagar yang ternyata Raja kerajaan Negeri Selatan itu.

__ADS_1


“Mohon yang mulia pindah ke kapal kerajaan.” Ucap sang panglima.


Sang Raja pun mengangguk. Kemudian lelaki separu baya itu melangkah menuju kapal besar yang tersedia. Di ujung kapal telah terbentang jembatan penghubung antara kedua kapal. Diiringi permaisuri dan para pembantunya, Raja meninggalkan kapal kecil menuju kapal kerajaan.


Sementara itu Bayu yang sudah kembali keperahu yang ditumpanginya tadi, kini berada di dekat desa seberang hutan Jati Alam. Si mamang pemilik perahu begitu girang mendapat penumpang dua orang itu. Apalagi setelah mereka meninggalkan perahu, Bayu memberikan beberapa keping uang emas sebagai bayaran. Si mamang perahu menjadi semakin meyakini kedua orang penumpangnya adalah dewa dan Dewi yang sedang menyamar dan memberikan rezeki padanya.


Di desa pinggiran sungai yang bernama Desa paku bumi itu Bayu dan Nalini kembali berjalan kaki melanjutkan perjalanan mereka. Nampak orang-orang di desa itu begitu ramah. Setiap kali mereka berpapasan dengan para penduduk, senyuman ramah selalu orang-orang itu tunjukkan. Tak begitu lama berjalan, mereka sudah meninggalkan Desa Paku Bumi yang memang tak seberapa luas itu.


Tak jauh mereka meninggalkan desa, tiba-tiba datang seorang lelaki berkuda menghampiri. Di belakangnya sebuah kereta kuda yang cukup mewah mengikuti. Kemudian lelaki di atas kuda itupun turun menghampiri Bayu dan Nalini.


“Maafkan saya mengganggu perjalanan tuan Pendekar. Saya menyampaikan ucapan terima kasih dari yang Mulia Raja atas kebaikan tuan Pendekar menyelamatkan yang mulia raja dari perampokan. Beliau juga berpesan agar tuan Pendekar Sudi menerima kereta kuda ini sebagai tanda mata dari Baginda raja.”


Bayu yang memang sudah mengetahui orang yang diselamatkannya itu adalah seorang raja tak menjadi terkejut. Hal ini didengarnya saat perahu yang ditumpanginya masih di dekat kapal. Telinganya yang tajam dapat mendengar semua percakapan yang ada di atas kapal.


“Sampaikan ucapan terima kasih ku kepada raja. Dan sampaikan juga bahwa kami menerima tanda mata darinya dengan senang hati.” Ucap Bayu.


Setelah berbasa-basi sebentar, utusan raja itupun kembali menaiki kudanya dan berlalu dari tempat itu.


“Silakan tuan, saya akan antar kemana pun tuan inginkan.” Ucap sang kusir kereta kuda pada Bayu.


“Jalan ke pantai selatan paman. Jalannya jangan cepat-cepat biar bisa menikmati perjalanan.” Ucap Bayu setelah mereka berdua menaiki kereta kuda.


Bersambung...


Mohon kesediaan pembaca sekalian yang menyukai karya ini untuk meluangkan waktu untuk memberikan like dan komentar. Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini.

__ADS_1


Namun kalau memang tidak menyukai novel ini silakan abaikan saja.


__ADS_2