
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 110...
Setelah mendapatkan pesanan dari kedua perempuan itu, si pelayan bergegas kedalam untuk menyiapkan. Tak berapa lama kemudian ia kembali dengan membawa nampan berisi hidangan untuk kedua orang itu. Mereka memang Cempaka dan Intan yang kembali menuju Negeri Utara mengikuti petunjuk burung Rajawali.
“Kak Cempaka, apakah kita tetap melanjutkan perjalanan ke utara. Sedangkan Rajawali hanya berputar-putar di desa ini dari pagi tadi. Sudah semua tempat desa ini kita datangi, tak ada satupun petunjuk kita peroleh” keluh Intan.
“Kita tunggu perkembangan di sini dulu. Rasanya tak mungkin rajawali salah mengenali tuannya. Selama dia tidak juga beranjak dari desa ini, ada kmgkinan memang di desa ini Bayu berada”
“Yang kutakutkan dia memang di sini, tapi tidak dalam keadaan hidup. Hanya kuburannya yang kita temukan di sini.”
Intan tak mampu membendung air matanya saat mengeluarkan perkataanya barusan. Ke khawatirannya akan kematian pemuda yang disayanginya terasa sangat beralasan. Sudah hampir satu tahun tak ada kabar berita tentang pemuda itu.
Setelah selesai mengisi perutnya, Intan dan Cempaka segera memasuki kamar penginapan yang sudah dipesannya. Sekilas Cempaka melirik ke arah Bayu dan yang laiinya. Dilihatnya seorang kakek berbaju serba hitam juga melihat kearahnya. Sedangkan dua orang lagi dalam posisi membelakangi.
Tak lama setelah kedua perempuan itu masuk ke kamarnya, Bayu, Nalini dan Bargawa beranjak menuju kamar mereka masing-masing. Sedangkan Bayu berada di Kamar Nalini untuk berjaga. Setelah membantu Nalini menaiki tempat istirahatnya, Bayupun beralih ke kursi pojokan untuk beristirahat.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Intan dan Cempaka pergi keluar penginapan mencari petunjuk tentang keberadaan Bayu. Tak lama setelah mereka pergi, Bayu dan rombongannya meninggalkan penginapan. Mereka melanjutkan perjalanan menuju Pulau Es.
Baru saja hendak melewati gerbang desa yang tadi mereka singgahi, Intan dan Cempaka mendengar suara pertarungan tak jauh dari tempat itu. Keduanya pun menghentikan lari kuda mereka.
“Sepertinya ada orang bertarung di arah selatan.” Ucap cempaka.
“Aku juga mendengarnya kak.”
“Mari kita lihat”
Keduanya kemudian turun dari kuda lalu berjalan menuntun kudanya ke arah suara pertarungan. Tak seberapa jauh mereka berjalan nampak dua orang remaja sedang bertarung melawan delapan orang berbaju hitam. Di sisi pertarungan nampak seorang lelaki berbadan besar dengan kulit dan rambutnya berwarna merah bersama sepuluh orang berpakaian hitam. Lelaki itu hanya menggunakan celana pendek yang juga berwarna merah. Orang itu tidak lain adalah Buto Abang.
"Manika hati-hati jangan sampai tersentuh tangan mereka yang beracun" ucap yang lelaki mengingatkan.
__ADS_1
Makin lama kedua orang remaja yang sedang di keroyok delapan orang berpakaian hitam itu semakin terdesak. Orang-orang berpakaian hitam itu menyerang menggunakan Pukulan Kelabang Hitam. Nampak para remaja itu kerepotan bertarung tapi harus menghindari tangan musuh.
Bukkk..
"ukhh..."
Kedua remaja yang tak lain putra dan putri Raja Pulau Es itu semakin terdesak. Sang putri terkena tendangan salah satu pengeroyoknya hingga terjungkal jatuh ke tanah. Tak lama kemudian pangeran Pulau Es yang terdorong oleh sepakan lawannya.
"Hahaha... sebaiknya kalian menyerah saja pangeran. Kami tidak akan menyakiti kalian. Hanya membawa kehadapan tuan Ketua" Bujuk Buto Abang.
"Cuihh... Tak sudi kami berdua menjadi manusia bodoh yang menjadi boneka hidup manusia iblis itu" jawab Pangeran Pulau Es dengan nada yang sangat marah.
"Hmmmm.. diberi enak malah lebih memilih kematian. Baiklah kalau begitu." Geram Buto Abang. "Anak-anak habisi mereka"
Serempak kedelapan orang tadi melompat hendak menyerang kedua remaja Pulau Es tersebut. Namun belum sempat mereka bisa menyentuh lawannya, tiba-tiba saja..
Wushhhh..
Blammmm..
Dua buah kekuatan api dan es meluncur kearah pengeroyok pangeran dan putri pulau es. Dua orang yang terhantam langsung dua pukulan itu roboh tewas seketika. Sedangkan enam orang lainnya yang hanya terkena biasan gelombang dua kekuatan yang dilancarkan Intan dan Cempaka hanya terpukul mundur beberapa langkah kebelakang.
Kini di depan kedua remaja asal pulau es itu berdiri Intan dan Cempaka. Untung mereka datang tepat waktu. Kalau tidak tentu kedua orang anak dari Raja Pulau Es itu akan terkena pukulan kelabang hitam.
"Kak Cempaka!" seru Manika melihat siapa orang yang menyelamatkannya itu.
Cempaka mengalihkan pandangannya sesaat ke arah Manika, kemudian iapun tersenyum. "Kalian tidak apa-apa?" tanyanya lembut. Kedua remaja pulau es itupun mengangguk seraya tersenyum.
Buto Abang sangat kaget akan kemunculan Intan dan Cempaka. Ia pun tak ingin menganggap keduanya lawan sembarangan. Buto Abang menyuruh ke enam belas anak buahnya yang tersisa untuk menyerang lawan.
Intan dan Cempaka tidak menjadi gugup saat enam belas orang manusia racun kelabang itu menyerang mereka. Tenaga sakti Naga Api dan Tenaga Sakti Inti Es mereka kerahkan untuk menyerang dan sebagai perlindungan diri.
__ADS_1
Beberapa kali tubuh Intan dan Cempaka berhasil terkena pukulan lawan. Untung saja tenaga sakti kedua perempuan itu mampu melindungi tubuh mereka dari pukulan beracun lawan. Walaupun tenaga dalam musuh mereka masih sangat rendah, namun kecepatan mereka bergerak hampir tak bisa keduanya mengimbangi. Sehingga setiap kali menyerang, ada saja dari enam belas orang lawan berhasil menyerang lawan.
Mendadak suara kereta kuda terdengar berlari cepat menuju ke arah mereka bertarung. Kereta itu tak lain merupakan kereta kuda yang di gunakan membawa Nalini ke Pula Es. Kebetulan sekali tujuan mereka ke arah selatan, hingga mau tidak mau mereka melewati jalanan yang di gunakan di pertarungan itu. Keretapun berhenti tak begitu jauh dari tempat pertarungan.
"Tuan, di depan ada perkelahian, apakah kita terobos saja atau menunggu." Tanya Bargawa kepada Bayu di dalam kereta.
"Tunggu saja sebentar." sahut Bayu.
Makin lama pertarungan Intan dan Cempaka melawan enam belas orang anggota Partai Iblis Berkabut semakit dahsyat. Namun sampai mendekati ratusan jurus tak sedikitpun lawan berhasil melukai keduanya. Yang ada beberapa kali dari musuh harus terjungkal oleh tendangan mereka.
"Sebarkan Asap" seru Buto Ireng.
Lima orang penyererang melompat kebelakang. Kemudian kelimanya melemparkan sebuah benda kecil ke arah Intan dan Cempaka yang sedang bertarung melawan musuh-musuh mereka. Saat menyentuh tanah, benda-benda kecil itu mengeluarkan asap berwarna putih kehitaman. Hanya beberapa saat kabut putih mulai menyelimuti tempat sekitaran mereka.
"Tutup Pernapasan" teriak Pangeran Pulau Es.
Pandangan Intan dan Cempaka menjadi terhalang. Bahkan sempat mereka terhirup asap yang menyebar. Untung saja peringatan dari Pangeran Pulau Es Segera menyadarkan mereka. Kedua Perempuan itu tak sempat keracunan. Hanya kepala mereka yang agak pening.
"Gawat tuan, salah satu pihak ada yang menggunakan asap beracun. Takutnya asap itu akan sampai ketempat kita ini" seru Kakek Bargawa.
"Aku sudah tau" Sahut Bayu, yang entah sejak kapan, tiba-tiba saja pemuda itu sudah berdiri di atas atap kereta. "Kau tunggu di sini kek aku akan membantu mereka" ucapnya lagi.
Bagaikan sedang terbang, tubuh Bayu bergerak melayang ke arah pertarungan tanpa mengayunkan kedua kakinya. Hal ini dilihat oleh putra pulau es yang tertarik perhatiannya akan kedatangan kereta kuda ke tempat itu.
"Hebat sekali! Dewa kah?" gumam Putri Pulau Es terkagum-kagum.
Dessshhh...
Tiba-tiba kabut asap lenyap seketika. Kini di tempat itu diliputi butiran kecil embun yang membawa hawa sejuk. Beberapa orang anggota Partai Iblis Berkabut yang berada di dekat Intan dan Cempaka terjungkal ke belakang. Kini di antara kedua pihak berdiri seorang pemuda berbaju merah dengan gagahnya.
"Kak Bayuu!" seru Intan dengan suara bergetar.
__ADS_1
Bersambung...