Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
94. Menunjukkan Kekuatan


__ADS_3

Salam Dunia Persilatan...


...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...


...Episode 94...


Keesokan harinya di balai desa tak satupun penduduk yang berani berjaga di tempat itu. Atas perintah ki Jatar, Balai Desa pun dikosongkan. Semua urusan penduduk desa itu dialihkan langsung ke rumah ki Jatar. Namun tetap saja rumah ki Jatar sepi, hanya beberapa orang saja yang datang mengurus keperluannya kepada kepala desa.


"Nak Bayu, tinggal tiga hari lagi dari waktu yang diberikan oleh cucu Pendekar Pedang Kilat untukku. Aku harap sebelum waktu itu tiba, kau dan Nalini sesegranya meninggalkan tempat ini supaya tidak menjadi korban sasaran pemuda tersebut." tutur Ki Jatar.


Sebelumnya orang tua itu mengumpulkan anaknya dan Bayu di ruang tengah untuk berunding. Pada akhirnya lelaki separu baya itu memutuskan untuk menghadapi sendiri dan menyuruh anaknya dan Bayu meninggalkan tempat itu. Walaupun ia sudah tak mampu lagi menggunakan ilmu kesaktian, tapi jiwanya berontak agar menghadapi semuanya dengan jantan.


"Ayah, biar aku saja yang menghadapi orang itu" ucap Nalini dengan suara yang bergetar.


Ki Jatar tersenyum. Ia tahu betul maksud hati putrinya itu. "Kau bukan tandingannya anakku. Apalagi bila Pendekar Pedang Kilat yang turun tangan, jangankan dirimu, kakek gurumu saja tak akan sanggup melawannya." ucap ki Jatar.


"Walaupun harus mati di tangannya, aku akan tetap membela kehormatan keluarga kita ayah." tegas Nalini.


Mendengar ucapan putrinya, ki Jatar sangat terharu. Tak sadar ia telah meneteskan airmatanya yang mengembang. Biar bagaimanapun, kalau di suruh memilih, dia lebih memilih menyerahkan nyawa sendiri ketimbang harus kehilangan putri semata wayangnya. Ki Jatar sendiri di masalalu sudah sangat menyesali perbuatannya, sehingga rela kehilangan semua kemampuan yang ia miliki.


"Besok kalian pergilah tinggalkan tempat ini." Ucap ki Jatar. "Apabila Yang Maha Kuasa bermurah padaku, niscaya ada jalan untukku selamat." tegasnya lagi.


Bayu yang sedari tadi mendengar percakapan mereka ayah dan anak, hanya diam dan mendengarkan. Ia sendiri masih bingung memutuskan harus bagaimana. Dalam benaknya tidak ingin mencampuri urusan pribadi ki Jatar, tapi ia sendiri tak akan tinggal diam seandainya Nalini atau orang lain yang tidak tau menau menjadi sasaran.


Ki Bolehkah aku bicara dengan Nalini sebentar? tanya Bayu meminta izin kepada ki Jatar.


Sejenak ki Jatar melihat ke arah Bayu. Pandangan ayah Nalini itu seketika berubah menjadi tajam. Seolah ingin menyelidik ke relung hati pemuda itu. Tak lama kemudian iapun mengangguk.


"Nalini, kita keluar sebentar" ajak Bayu.

__ADS_1


Keduanya keluar menuju ke belakang rumah. Tak lama kemudian Bayu mengajak Nalini duduk di bawah pohon besar yang agak jauh dari rumahnya. Gadis itupun menurut saja akan ajakan Bayu. Sebenarnya ia agak penasaran apa yang hendak di katakann pemuda itu.


"Ada apa kak?" tanya Nalini sedikit tak sabaran, karena beberapa saat setelah mereka duduk Bayu belum juga mengeluarkan kata-kata.


"Kelak bila kalian ayah dan anak tau siapa aku sebenarnya di masa lalu, apakah kalian masih menerimaku seperti sekarang ini?" tanya Bayu.


"Tentu kak, semua orang di sini sudah menganggapmu sebagai penduduk Desa Bojana." Jawab Nalini.


"Sekalipun di masalalu aku adalah seorang Raja dari para penjahat?" tanya Bayu lagi.


Nalini tidak langung menjawab pertanyaan itu. Ia menatap lekat wajah pemuda di depannya. Di benaknya, merasa sangat tidak mungkin Bayu dulunya adalah seorang penjahat.


"Sekalipun kau dulunya seorang penjahat, yang penting sekarang dan yang akan datang kau terus berbuat baik, sekalipun orang-orang masih menganggapmu penjahat, yang aku tau kau adalah kak Bayu yang paling baik" tegas Nalini.


"Benarkah itu?" tanya Bayu sekali lagi.


Nalini pun mengangguk sambil memberikan senyuman termanisnya. Bayu yang melihat itu menjadi sangat lega.


Kali ini Nalini terdiam. Selama ini memang masih jadi pertanyaannya siapa pendekar yang membantunya selama ini mengalahkan musuh. Antara percaya dan tidak, kalau semua Bayu yang melakukannya. Namun akhirnya gadis itu mengangguk juga.


"Kalau begitu ikut aku." ajak Bayu.


"Aaaa..."


Tanpa menunggu persetujuan, pemuda itu langsung menggendong Nalini dan melesat bagai terbang menggunakan Ilmu Biang Lala Melukis Langitnya. Sontak hal itu membuat gadis itu terpekik kaget.


Bayu benar-benar menunjukkan kemampuan yang dimilikinya.


Ternyata pemuda itu membawa Nalini ketempat ia berlatih dengan Dewa Tuak Gila dahulu. Lalu Bayupun menurunkan Nalini dari gendongannya. Sesaat gadis itu terdiam, lalu mundur beberapa langkah menjauhi Bayu. Antara perasaan takut dan penasaran saat ini menyelimutinya.

__ADS_1


"Apa maksudnya ini kak Bayu?" tanya Nalini dengan suara bergetar. Wajah putih gadis itu nampak semakin putih memucat.


Secara perlahan bayu melayang keatas sejauh lima tombak. Lalu pemuda itu membentang tangannya kesamping. Sesaat kemudian ia mengerahkan tenaga saktinya. Biasan embun halus mulai keluar dari tubuhnya, seketika tempat itu dirayapi hawa dingin.


Lambat laun biasan embun yang keluar dari tubuh Bayu semakin banyak. Bahkan sudah memenuhi sekeliling tempat itu. Nampak tubuh Nalini mulai menggigil menahan hawa dingin yang menyebar.


"Haaaa..."


Bayupun memekik keras, seketika biasan embun lenyap dari tempat itu. Kini berganti dengan pancaran sinar kemerahan dari tubuh Bayu. Makin lama sinar kemerahan itu makin melebar. Hawa panaspun seketika menyebar.


Blaarrr.. Blarrr...


Bayu melakukan beberapa sentilan dengan jari telunjuknya. Dari jari itu meluncur seberkas sinar merah yang langsung membakar pohon yang ditujunya. Kemudian dengan satu kibasan lengan baju, api yang membakar beberapa pohon itu langsung padam. Lalu Bayupun turun kembali menjejakkan kakinya ke tanah.


Nalini yang menyaksikan kejadian tadi hanya bisa melongo. Antara perasaan takut dan kagum kini bercampur aduk. Ia pun menatap pemuda itu dengan penuh tanda tanya.


"Aku menyadari kekuatan ini saat kita di serang Genderuwo Pemakan Jiwa kala itu. Dari kita Bertiga hanya aku yang tidak terpengaruh ilmu sirepnya." tutur Bayu. Kemudian Pemuda itu menceritakan apa yang dialaminya dari pertarungan melawan Genderuwo Pemakan Jiwa, sampai menghancurkan sarang Siluman Racun dan gurunya itu.


"Lalu apakah Kak Bayu sudah mengingat semuanya, dan sudah tau siapa kak Bayu sebenarnya?" tanya Nalini.


Bayu menggelengkan kepalanya. Kemudian pemuda itu menjelaskan kepada Nalini, bahwa sebenarnya ia masih belum mengingat apa-apa. Semua hanya analisa dari Dewa Tuak Gila. Bahkan berkat orang tua itu dirinya bisa mengendalikan kekuatan dalam tubuhnya.


"Aku membawamu kesini bukan untuk menceritakan permaaalahan ku ini Nalini." Ucap Bayu. "Aku ingin membantumu menghadapi musuh ayahmu itu.


Mendengar itu, wajah Nalini langsung berubah gembira. Melihat kejadian barusan, ditambah setelah mengetahui siapa pendekar yang selama ini ada di belakang pembasmian markas Siluman Racun, ia yakin sekali Bayu dapat dengan mudah mengalahkan musuh ayahnya itu.


"Tapi bukan aku yang akan menghadapi dan mengalahkan pemuda itu. Kau Nalini." Ucap Bayu


**Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like dan komentarnya**.


__ADS_2