
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 239...
Sepanjang jalan menuju istana Lembah neraka nampak Cempaka sering termenung. Perasaan terpukul, marah, bercampur aduk dalam pikirannya saat ini. Sang suami yang melihat keadaan itu hanya bisa menarik nafas panjang, ia tak ingin mengganggunya, takut hanya akan membuat masalah baru.
“Cempaka, sesudah kita sampai ke istana Lembah neraka dan menyampaikan semua kepada Bayu, aku akan menemanimu mencari siapa pelaku yang mencuri jasad kakakmu itu,” ucap Jaka.
Cempaka tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Jaka. Pandangannya masih terlihat menerawang ke langit-langit. Memang saat ini mereka sedang beristirahat di bawah pohon sebelum pergi ke lembah neraka. Sebenarnya jarak mereka sudah sangat dekat dengan lembah Neraka. Tidak sampai seperempat hari perjalanan menuju tempat itu dengan berjalan kaki.
“Kak Jaka.. Kak Cempaka..”
Tiba-tiba terdengar panggilan kepada keduanya dari saping kanan mereka berada. Keduanya pun menoleh ke arah datangnya suara. Nampak Bayu dan Intan sedang berjalan menuju ke arah mereka. Rupanya yang memanggil mereka tadi adalah Intan.
“Ehhh.. kebetulan sekali bertemu di sini. Mau kemana kalian?” tanya Jaka kepada Bayu dan Intan yang melihat mereka seperti sedang akan berpergian.
“Kami akan pergi ke Benteng Dewa, ada sesuatu yang harus kami selesaikan di sana,” jawab Bayu
“Apakah ada masalah?” tanya Jaka dengan kening berkerut.
Baru saja kami mendapatkan laporan bahwa dua hari yang lalu perguruan tangan dewa di Serang oleh sekelompok manusia setengah siluman.”
“Manusia setengah siluman?” tanya Jaka dan Cempaka bersamaan mendengar keterangan Bayu.
Bayu dan Intan saling pandang merasa ada sesuatu yang luar biasa yang sedang Jaka dan Cempaka hadapi.
__ADS_1
“Benar, sekelompok manusia setengah siluman menyerang lawan Tangan Dewa. Memang memang mereka berhasil memukul mundur kelompok siluman tersebut. Hanya saja yang membuat aku penasaran kedatangan mereka adalah menanyakan dimana letak kuburan mendiang raja iblis Bukit tengkorak,” ungkap Bayu.
“Ah.. Apakah ini ada hubungannya dengan orang yang bernama Mandaka itu,” gumam Cempaka
“Mandaka siapa, kak Cempaka?” tanya Intan menyambar pembicaraan.
Kemudian secara. singkat Cempaka pun menceritakan tentang kejadian yang dialaminya di desa kelahirannya. Cempaka juga menceritakan bahwa ki Darso mendengar salah satu pelaku dipanggil dengan nama Mandaka. Sesekali Jaka menambahkan apabila ada beberapa hal penting yang terlewatkan dari cerita yang disampaikan oleh istrinya.
“Mandaka.. sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Entah di mana aku lupa” gumam Intan.
“Bukankah nama Mandaka itu sama dengan nama yang dimiliki oleh murid utama eyang Ranubala.”
“Ahh.. kau benar sekali kak Bayu. Tapi rasanya tidak mungkin kalau dia dan kakek yang melakukannya. Kakek tidak pernah mempelajari ilmu hitam seperti itu,” ucap Intan.
Kemudian Jaka pun menceritakan apa yang yang dibicarakannya bersama malaikat putih di desa Sangga alam. Jaka juga menyampaikan tentang syarat yang diajukan oleh malaikat putih apabila menginginkannya membantu mencari tempat dimana keberadaan suku api palsu itu. Ia pun mengatakan apa yang menjadi alasan malaikat putih mengajukan syarat itu.
“Hmmm.. pintar juga orangtua itu,” ucap Bayu menanggapi cerita dari Jaka. “Biarlah nanti aku minta paman Pranggala mengurus hal itu. Mungkin masalah kejahatan membangkitkan para manusia setengah siluman ini harus kau sendiri yang menyelesaikannya kak Jaka.”
Jaka memandang adik angkatnya itu dengan haru. Ia tahu bahwa pemuda itu telah membebaskannya dari kewajiban yang ia sendiri membuatnya saat menyatakan membantu mencari keberadaan Nalini. Sepertinya Bayu memang memahami keadaan mereka saat Cempaka menceritakan tentang kaka tirinya tersebut.
Setelah sepakat untuk berpencar menyelesaikan masalah yang di hadapi masing-masing, mereka pun beranjak dari tempat itu menuju tujuan masing-masing. Jaka dan Cempaka menuju hutan Pengecoh Arwah untuk meminta petinjuk Pertapa Sakti Tanpa Nama. Sementara Bayu dan Intan kembali ke Istana Lembah Neraka untuk memberikan perintah kepada Pranggala sebelum melanjutkan perjalanan menuju Benteng Dewa.
...***...
“Guru, apa untungnya kita membangkitkan Raja Iblis Bukit Tengkorak. Lagipula raja iblis tengkorak bukan seorang yang memiliki ilmu siluman. Apakah kita bisa membangkitkan kan seseorang yang dalam dirinya tidak ada ilmu siluman sedikitpun.”
__ADS_1
Di bukit tengkorak dua orang lelaki berbeda umur sedang berdiri di hadapan sebuah kuburan yang bertuliskan Raja Iblis Bukit Tengkorak. Yang satu terlihat masih sangat muda berusia dua puluh tahunan, sedangkan yang satunya berusia sekitar delapan puluh tahunan. Dia adalah pangeran mandaka dan gurunya yang berasal dari tokoh aliran sesat di negeri yang bergelar Raja Peramal. Keduanya tak memperdulikan pekatnya malam berada di tempat yang angker itu.
Walaupun orang menyebutnya dengan gelar Raja peramal dari timur bukan berarti dia merupakan seorang peramal. Padahal lebih tepatnya dikatakan kalau orang tua itu sebagai dukun yang memiliki ilmu kanuragan tinggi dan ilmu hitam yang mumpuni. Hal ini dikarenakan ia memiliki junjungan salah satu penguasa lautan di laut Selatan.
“Tidak mungkin membangkitkan manusia yang di dalam tubuhnya tidak ada atau tidak pernah bersentuhan dengan bangsa siluman. Namun karena dia adalah tokoh ilmu hitam yang memiliki kejahatan di dalam hatinya, ada cara lain untuk membangkitkannya. Kita akan membangkitkan nya dengan memasukkan salah satu siluman yang menjadi peliharaanku.”
“Lalu apa manfaat dari membangkitkan kembali raja iblis Bukit tengkorak ini guru? Melihat kesaktiannya pun aku rasa masih di bawah kesaktian para pendekar yang dimiliki oleh raja kerajaan Barat.”
Memang benar raja iblis Bukit tengkorak Di kuburkan di kediamannya bukit tengkorak. Pada saat kejadian pertarungan di bukit kosong waktu itu, tidak jelas siapa yang menjadi pemenangnya karena Bayu sendiri saat itu menghilang. Lalu oleh orang-orang istana Lembah neraka mayat raja iblis Bukit tengkorak dibawa kembali dan dikumpulkan di bukit tengkorak. Hal ini atas inisiatif Pranggala karena tidak ingin dedengkot aliran hitam itu di kuburkan di lembah neraka.
“Bukankah kau bilang pemuda yang bernama Bayu si Rajawali merah itu mendapatkan kekuatan ilmu tujuh gerbang alam semesta dibantu oleh orang ini. Walaupun ia tidak memiliki kemampuan menguasai ilmu itu, namun setidaknya dia pernah membaca atau mengetahui tentang tata cara mempelajarinya. sedangkan untuk berharap kepada orangtua Sakti yang berada di lembah alam roh itu sepertinya sangat mustahil.”
“Ahh.. kenapa aku tak berpikir sampai kesana. Buat apa repot-repot membujuk orang tua itu untuk menurunkan ilmunya. Kau memang hebat guru,” puji pangeran Mandaka
Raja Peramal dari Timur tersenyum bangga mendengar pujian muridnya. Kemudian orang tua yang memiliki ciri khas dengan pakaiannya serba hitam itu merapalkan sebuah mantra di depan kuburan Raja Iblis Bukit Tengkorak. sementara pangeran Mandaka sendiri berada di samping gurunya sedang melakukan pembongkaran kuburan Raja Iblis Bukit Tengkorak.
Tak sampai sepeminuman teh pangeran Mandaka berhasil menggali hingga menemukan jasad Raja Iblis Bukit Tengkorak. Nampak yang tersisa hanya tulang-belulangnya saja. Itupun masih mengeluarkan aroma yang sangat busuk.
“Dengarlah Raja Iblis Bukit Tengkorak! sebentar lagi kau akan bangkit lagi ke dunia ini. Hahaha...”
Terdengar tawa menyeramkan keluar dari mulut Raja Peramal dari Timur. Sementara pangeran Mandaka pun ikut tersenyum sinis. Terdngar suara burung gagak bersahutan menambah suasana menjadi sangat menyeramkan.
Bersambung . . .
Jangan lupa like dan komentarnya.
__ADS_1