
Berjarak kurang lebih dua tombak, Rajawali Merah tepat berada di depan Dewa Pedang Sejagat yang sedang dipapah Pertapa Sakti Tanpa Nama dan Pendekar Halilintar. Pemuda itu mengangkat tangan kanannya ke arah Dewa Pedang Se Jagat.
Melihat itu Pendekar Halilintar dan Pertapa Tanpa Nama menjadi panik. Dengan sepenuh tenaga keduanya mengirimkan pukulan jarak jauh ke arah Rajawali Merah. Namun diluar harapan, jangankan terpukul mundur atau terhenti, berbekas saja tidak pukulan yang mereka lancarkan itu. Tenaga sakti yang mereka lancarkan lenyap setelah menyentuh Rajawali Merah.
Haaaaaa...
Rajawali Merah memekik marah dan melancarkan serangan tenaga saktinya ke arah Dewa Pedang Sejagat. Sebuah kekuatan dahsyat meluncur dari telapak tangan kanan pemuda itu.
Blammm..
Ledakan Dahsyat memekikan telinga terjadi. Saking kuatnya ledakan sampai-sampai tanah di bukit kosong bergetar bagai dilanda gempa. Getaran ini bahkan sampai terasa di tempat-tempat sekitarnya sehingga banyak yang mengira akan terjadi gempa.
Seorang lelaki tua berada di depan Dewa Pedang Se Jagat berhadapan dengan Rajawali Merah. Tangannya disilangkan di depan wajah kaki membentuk kuda-kuda. Nampak kakinya melesak kedalam tanah sampai mata kaki. Sepertinya orang tua itu yang menangkis serangan Rajawali Merah sehingga terjadi benturan tenaga hebat.
"Jari Malaikat" seru Malaikat Bertangan Sakti. Ketua Perguruan Tangan Dewa itu tak bisa menutupi kekagetannya. Dia tak menyangka Ketua Perguruan Jari sakti yang ia tau kemampuannya berada dibawah ia sendiri mampu menahan gempuran Rajawali Merah.
Memang benar ternyata yang menangkis pukulan Rajawali Merah itu adalah si Jari Malaikat. Walaupun benar saat beradu tenaga tadi kekuatannya berada di bawah Ketua Istana Lembah Neraka itu, namun baru kali ini ada yang bisa menahan gempuran pemuda itu tanpa terluka parah.
"Anak muda, sadarlah, kau sudah tersesat" tegur Jari Malaikat.
Bayu yang mendapatkan teguran, tak sedikitpun bereaksi. Matanya menatap tajam ke arah Jari Malaikat. Pancaran tenaga sakti ditubuhnya pun makin menghebat. Tubuh Rajawali Merah perlahan naik ke atas lalu berhenti di udara sejauh empat tombak dari tanah.
Melihat perubahan keadaan, Pendekar Tongkat Emas langsung Berseru
__ADS_1
"Semua anggota tingkat empat segera kembali ke lembah, biar disini menjadi urusan kami anggota tingkat dua dan tiga"
"Siap menerima perintah"
Serentak semua orang membungkuk dan mengucapkan menerima perintah. Setelah itu semua orang Istana Lembah Neraka yang menggunakan pakaian hitam berlari meninggalkan tempat.
Belum sempat Anggota tingkat empat Istana Lembah Neraka meninggalkan tempat itu, tiba-tiba terdengar teriakan dari arah Benteng Dewa.
"Jangan biarkan seorangpun dari iblis-iblis itu pergi dari sini, serbuuu!"
Orang-orang dari Benteng Dewa dan beberapa diantaranya dari kerumunan penonton meluruk menyerang anggota-anggota Istana Lembah Neraka yang berbaju hitam. Seketika peperangan antar golongan pun tak dapat terelakkan.
Di sisi lain kesadaran Bayu semakin menghilang. Tanpa bisa dibendung, Tenaga Sakti Ilmu tujuh Gerbang Alam Semesta semakin mengalir deras memancar keluar. Kali ini seluruh tubuhnya diliputi embun, pijaran cahaya merah, dan kilatan tenaga listrik mulai silih berganti muncul. Bahkan deru angin dahsyat keluar dari tubuhnya membuat tempat itu bagai dilanda badai topan saja.
Sementara itu di tempat lain, Pranggala yang berlari dengan cepat meninggalkan bukit kosong saat terjadi keributan karena datangnya sepasang Iblis Api, sudah tiba di mulut Lembah Neraka. Berkat Ilmu Inti Api yang diajarkan ketua Istana Lembah Neraka, membuat kemampuannya maju pesat. Dengan Lincah Ia berlarian di lembah itu menuju Istana Lembah Neraka.
"Berhenti!" Bentak salah seorang penjaga di sana. "Siapa Kau? berani sekali kau menyusup ke tempat ini?" tanyanya lagi.
Pranggalapun berhenti berlagi. Apalagi saat ini di depannya telah berkumpul empat orang berpakaian serba hitam dengan gambar Istana di kelilingi api di sekitarnya.
"Hmmmm... para cecunguk yang mengotori Istana Lembah Neraka" Geram Pranggala saat melihat tak jauh dari tempat itu tergeletak dua orang perempuan yang tak berpakaian lengkap lagi. Di sana sini terdapat robekan yang membuat keadaanya tak senonoh.
Blaaammm...
__ADS_1
Aaaaa...
Tanpa ampun Pranggala melancarkan pukulan yang mengandung tenaga panas ke arah penghadangnya. Seketika ke empat penghadangnya menjerit roboh dengan tubuh terbakar api yang sedikit demi sedikit membakar tubuh mereka.
Mungkin karena teriakan keempat anggota tingkat empat menarik perhatian anggota yang lain, satu demi satu mereka berdatangan. Melihat temannya tewas dengan cara menggenaskan, langsung saja orang-orang yang baru datang mencabut pedangnya dan mengelilingi Pranggala.
"Siapa kau, datang-datang mengacau di tempat ini dan melakukan pembunuhan." Bentak seorang yang baru datang bersama lima temannya.
Melihat orang yang baru datang sempat terkejut akan adanya mayat dua orang perempuan yang tak jauh dari tempat itu, Pranggala menebak orang ini termasuk orang yang baik di Istana Lembah Neraka. Dari balik bajunya dia mengambil sebuah lencana berukuran setelapak tangan dan menunjukannya kepada orang didepannya. Tak disangka orang-orang itu langsung berlutut dihadapannya.
"Hormat pada wakil ketua. Maafkan kekurang ajaran kami yang tak mengetahui siapa anda." seru salah seorang dari mereka.
Sebenarnya Pranggala tak mengetahui apa fungsi lencana yang di berikan Bayu padanya. Hanya saja pemuda itu berpesan apabila mendapat hambatan dari penjaga khusus istana, ia disuruh menunjukan lencana itu kepada mereka. Bayu pun menjelaskan bahwa di Istana ada penjaga khusus yang bertugas mengamankan istana. Kemampuan mereka tak rendah, karena menguasai juga Ilmu Tenaga inti Api.
"Bangunlah, antarkan aku ke tempat rahasia" perintah Pranggala kepada enam orang yang sedang berlutut di hadapannya.
Yang membedakan penjaga khusus dengan anggota tingkat empat lainnya adalah warna merah pada kerah baju mereka. Selain itu penjaga khusus ini terlihat berumur kisaran lima puluh tahunan keatas. Kala itu Bayu menjelaskan pada Pranggala bahwa penjaga khusus itu merupakan anggota asli dari perkumpulan Istana Lembah Neraka.
"Maaf wakil ketua, boleh kami tau bagaimana keadaan ketua sekarang?" tanya salah seorang penjaga khusus itu pada Pranggala.
"Masih berada di bukit kosong. Aku mendapatkan tugas oleh ketua untuk mengaktifkan kembali perangkap dan penjagaan alam lembah ini"
"Apakah ketua baik-baik saja?" tanya penjaga khusus itu lagi tanpa memperdulikan perkataan yang dilontarkan Pranggala tadi.
__ADS_1
"Entahlah." jawab Pranggala berat. Tanpa sadar ia menunjukan kesedihannya mengkhawatirkan keadaan Bayu di bukit kosong. Aku dimintanya kembali dan membangun, memberesi kedaan Istana Lembah Neraka ini.
Sesaat semua orang terdiam tak ada yang berbicara. Lamunan mereka sama-sama tertuju pada ketua mereka yang sedang tidak ada di tempat itu.