
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 243...
Sesaat semua diam tak ada yang berbicara. Mereka masih bingung mencari jalan keluar agar Dewi api bisa sepenuhnya menguasai tubuh Nalini. Sedangkan tubuh lain hanya bisa digunakan apabila ia merupakan tubuh gadis keturunan seorang raja.
“Bisa saja itu dilakukan. Namun yang melakukan perjalanan kita bertiga ditambah berapa orang suku api yang menjadi penabuh gendang itu untuk menemani. Memang Hanya dua hal itulah cara untuk bisa membangkitkan ku kembali dengan wujud dan kekuatan yang sempurna,” Ucap Dewi Api memecah kesunyian
Tiba-tiba saja Dewi Api membuka kembali pembicaraan mengenai pergi ke selatan menanggapi usulan Eka Wira tadi.
“Kalau begitu tidak ada masalah, secepatnya kita akan pergi ke Negeri Selatan. Untuk mencari tahu keberadaan Lonceng pengikat jiwa dan gadis keturunan mendiang Raja barat yang melarikan diri itu.” Ucap Eka Wira bersemangat.
“Tapi ada hal yang harus kalian lakukan agar aku bisa aman saat berada di Selatan. Karena secara otomatis kita harus menghindari bertemu dengan Rajawali Merah.”
“Apa itu Dewi?” tanya Eka Wira dan empu Yudiba.
“Membuat rajah gaib untukku agar tidak bisa di lacak keberadaan ku dengan kekuatan batin roh Kramat Bidadari Giok Es,” sahut Dewi Api.
“Kau benar sekali Dewi, tanpa Rajah gaib itu akan mudah bagi kita ditemukan oleh Rajawali merah. Hanya saja untuk membuat rajah gaib itu aku harus berpuasa selama satu hari ditambah tumbal tujuh orang bayi laki-laki,” sahut Empu Yudiba.
“Lakukanlah ritual itu. Namun kau harus mencari tujuh bayi lelaki itu di luar sana jangan kau gunakan bayi anak-anak suku api kita sendiri,” ucap Eka Wira,”
“Baik ketua! Akan kuperintahkan beberapa orang untuk mencari bayi itu,” sahut Empu Yudiba.
Pada malam harinya empu Yudiba dan beberapa orang suku api, melakukan ritual rajah gaib pada diri Dewi api. Hal ini dilakukan agar keberadaannya tidak bisa dilacak dengan menggunakan kekuatan gaib yang lain. Hal ini dilakukan karena mereka berencana akan melakukan perjalanan ke negeri selatan untuk mencari mustika lonceng pengikat jiwa.
__ADS_1
Tubuh dewi api dibaringkan di sebuah Altar tepat di bawah sinar bulan purnama. Tak jauh dari tubuhnya Dewi api diletakkan tujuh bayi yang masih hidup. Terdengar tangisan-tangisan mahluk kecil yang tak berdosa itu. Mereka akan dijadikan tumbal untuk ritual rajah ghaib.
“Apakah Dewi sudah siap?” tanya empu Yudiba kepada Dewi api.
“Kerjakanlah!” sahut gadis itu dingin.
Empu Yudhiba melakukan ritual pengorbanan. Ketujuh bayi itupun dikorbankan sebagai persembahan kepada junjungan nya. Mahluk kecil tak berdaya itu pun tewas seketika saat bisa kecil di tangan empu Yudiba menusuk jantung mereka. Kemudian darah-darah yang mengalir dari bayi-bayi itu dialirkan ke altar tempat dewi api berbaring.
Blarrrr.. Blarrrr..
Entah dari mana datangnya di langit yang begitu cerah dengan sinar bulan purnama menghiasi, tiba-tiba saja terdengar suara petir menggelegar. Cahaya kilat menyambar di sekitar tempat itu. Lolongan serigala terdengar saling bersahutan.
Kemudian empu Yudiba menaiki altar dan mengambil posisi di dekat kepala Dewi Api. Kemudian orang tua itu berkomat-kamit merapalkan mantra. Tiba-tiba saja dari altar memancar beberapa tulisan kuno yang kemudian melayang tepat di atas tubuh Dewi api. Tak lama sesudahnya tulisan-tulisan itu pun merasap keseluruh tubuh jelmaan roh keramat burung api itu.
“Dewi, sudah selesai. Hanya saja..” Empu Yudiba tidak melanjutkan kata-katanya. Ia membiarkan sejenak Dewi Api membenahi dirinya dan bangkit dari Altar.
“Rajah gaib itu hanya mampu berfungsi selama empat belas hari. Kekuatan dahsyat yang kau miliki itu sebenarnya penangkal ilmu hitam dan sejenisnya. Sedangkan rajah tadi termasuk ilmu hitam, jadi bertolak belakang dengan kekuatan sakti milikmu.”
“Empat belas hari sudah cukup waktunya kita melakukan perjalanan. Besok kita langsung berangkat, kau siapkanlah semuanya,” Ucap Dewi Api seraya meninggalkan tempat itu.
Ke esokan harinya, Dewi Api, Eka Wira, Empu Yudiba, dan empat orang suku api yang lain meninggalkan daerah pedalaman di sebelah utara kerajaan barat itu. Tujuh orang itu melakukan perjalanan menggunakan kuda terbaik yang mereka dapatkan dari pasar kuda tak jauh dari kediaman mereka.
Sementara itu, di tempat lain sesudah memerintahkan Pranggala untuk pergi ke hutan jati alam menemui malaikat Malaikat Putih, Bayupun berangkat seorang diri menuju Benteng Dewa. Sementara Intan ia minta menemani Pranggala menuju Hutan Jati Alam. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, Tak sampai seharian, pemuda itu telah tiba di perguruan yang dipimpinnya.
Dengan kekuatan yang ia memiliki, mengapa dia tidak menggunakan ilmu berpindah tempat dalam sekejap saja. Bukankah dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh akan sangat membuang-buang waktu. Hal ini dikarenakan menggunakan ilmu berpindah tempat dalam sekejap bisa menguras tenaganya. Sedangkan ilmu itu hanya bisa digunakan pada saat ia mengarahkan tenaga sakti ilmu Tujuh Gerbang Alam semesta tingkatkan enam.
__ADS_1
Bayu sendiri menggunakan tingkatan itu dengan bantuan tenaga pedang penguasa naga. Sementara kekuatan pedang itu sangat berbatas. Apabila iya digunakan sampai pada batas kekuatannya, pedang itu tidak akan menunjukkan kekuatannya sampai beberapa hari lamanya. Untungnya ilmu Tujuh Gerbang alam semesta membuat tenaga pedang itu semakin meningkat sehingga tidak mudah kehabisan tenaga.
“Ketua, para murid sudah menyelidiki ke bukit tengkorak, ternyata benar orang-orang itu telah membongkar makam raja iblis Bukit tengkorak,” ucap Arya menjelaskan pada Bayu.
“Hmmmm sepertinya orang-orang itu benar-benar ingin membangkitkan raja iblis Bukit tengkorak. Entah apa yang menjadi tujuan mereka membangkitkan orang tua itu. Padahal setahuku dia tidak memiliki ilmu siluman seperti kebanyakan yang mereka bangkitkan.”
“Ohh.. dari mana Ketua tahu mereka membangkitkan orang-orang mati yang memiliki ilmu siluman dalam tubuhnya?” tanya Arya.
“Pendekar Halilintar lah yang menceritakan semuanya. Kalau menurut pemikiran ku bukan kekuatan orang tua itu yang diincarnya. Karena orang-orang yang telah dibangkitkan mereka dalam wujud manusia siluman rata-rata memiliki kesaktian di atas Raja Iblis Bukit Tengkorak dengan kekuatan siluman itu.” Ungkap bayu.
“Ketua, tidak menutup kemungkinan yang mereka lakukan ada hubungannya denganmu. Bukankah kau pernah bercerita bahwa awalnya yang mengajarkan ilmu tujuh gerbang alam semesta itu adalah Raja Iblis Bukit tengkorak. Apa mungkin tujuan mereka adalah ilmu itu?” tanya Arya.
“Bisa jadi memang itu tujuan mereka. Namun apabila benar semua bakalan sia-sia saja. Karena dahulunya Raja Iblis Bukit Tengkorak hanya bertugas menyalurkan tenaga sakti saja kepadaku, sama seperti tugas tiga dewa dunia persilatan kala itu. Dalam beberapa teori ilmu itu, ia memang sempat menghafal ilmu itu sampai tingkat ke empat. Tapi perlu kau ketahui ilmu tujuh Gerbang alam semesta tidak mudah untuk dipelajari,” Terang Bayu.
“Ketua, aku juga menemukan beberapa keterangan tentang dua makhluk keramat yang menjelma dalam tubuh manusia saat ini di tempat penyimpanan pusaka. Salah satu kitab peninggalan malaikat bertangan Sakti yang ia tulis sendiri menjelaskan tentang kedua mahluk itu,” ucap Arya.
“Mana kitab itu?”
Mendengar cerita Arya tentang sebuah kitab peninggalan malaikat bertangan Sakti yang menceritakan tentang dua makhluk keramat itu, Bayu menjadi tertarik. Bahkan ia sampai menanyakan keberadaan kitab yang di maksud.
“Masih berada di ruang pusaka, ketua.”
“Kalau begitu antar aku ke sana!” ucap Bayu.
Keduanya pun meninggalkan ruang utama perguruan tangan dewa itu menuju ruang penyimpanan pusaka.
__ADS_1
Bersambung...
Yang like dan komentar di bulan ramadhan ini mudahan dikasih keberkahan..