Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.216 Memberi Pelajaran Kepada Nyai Pemikat Sukma


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 216...


“Kau tunggu di sini Intan, aku ingin melihat keadaan kedua orang murid perguruan tangan dewa tersebut.” Ucap Bayu. Kemudian pemuda itupun lenyap dari tempat itu.


“Aduhhh..” jerit Nyai Pemikat Sukma.


Nampak pipi kanan Nyai Pemikat Sukma berubah menjadi merah dan bengkak. Perempuan itu memegang pipinya yang terasa sakit. Di sela-sela bibirnya  mengalir darah segar.


“Hahaha.. kena batunya kau perempuan Iblis. Makanya jangan sembarang mengincar orang. Sudah kuduga calon mangsamu itu bukan orang sembarangan. Hahaha..”


Tawa Pendekar Trisula Sakti pecah. Sementara Nyai Pemikat Sukma begitu marah. Ia pun mengedarkan pandangannya ke tempat Bayu. Betapa terkejutnya perempuan itu saat melihat si pemuda incarannya tak ada lagi di tempatnya. Kini hanya ada Intan yang senyum-senyum geli melihat kearahnya.


“Hei bocah! Kemana teman lelakimu tadi?” Tanya Nyai Pemikat Sukma kepada Intan.


Yang ditanya hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban. Gadis itupun kembali menikmati hidangan di depannya tanpa memperdulikan Nyai Pemikat Sukma. Tentu saja hal ini membuat perempuan itu menjadi sangat marah.


“Bedebah.. berani sekali kau meremehkan aku bocah. Gurumu saja belum tentu berani menentangku apalagi kau yang masih hijau ini.”


Tanpa memperdulikan Ocehan Nyai Pemikat Sukma, Intan tetap menikmati hidangannya dengan lahap.


Wusssshh..


Sebuah senjata rahasia dilemparkan oleh nyai pemikat sukma ke arah Intan. Betapa terkejutnya perempuan itu melihat senjata rahasianya tertahan di udara dengan jarak satu depa sebelum menyentuh tubuh Intan. Sesaat kemudian senjata rahasia itu berbalik menyerang pemiliknya. Bukan hanya itu, seandainya mereka teliti, akan terlihat butiran salju kecil melayang bersama senjata rahasia milik Nyai Pemikat Sukma.

__ADS_1


Terpaksa perempuan itu melemparkan tubuhnya kearah kanan hingga menabrak meja yang berada di depan pendekar trisula sakti. Hal ini ia lakukan untuk menghindari senjata rahasianya yang berbalik arah. Namun ayal, karena tak melihat arah jatuh, tak taunya ia jatuh ke arah Pendekar Trisula Sakti.


“Apa yang kau lakukan Nyai. Apa kah kau sudah berubah selera hingga ingin menjadikan aku mangsamu juga. Hahaha...”


Pendekar Trisula Sakti tertawa terbahak-bahak melihat Nyai pemikat sukma yang tersuruk jatuh ke mejanya. Pendekar tua itupun menertawakan Nyai Pemikat Sukma habis-habisan. Tidak terima ditertawakan sedemikian rupa, Nyai Pemikat Sukma menyerang pendekar Trisula Sakti.


Brakkkk..


Meja di depan pendekar Trisula Sakti digebrak hingga hancur. Kemudian perempuan itu melancarkan tendangan nya ke arah iga pendekar Trisula Sakti. Tak ingin menjadi sasaran empuk, pendekar Trisula Sakti pun menangkis tendangan yang dilancarkan oleh Nyai pemikat sukma.


Braaaakkk..


Kedua orang berlainan aliran itu terlempar kebelakang dan menimpa meja kursi yang ada di tempat itu hingga patah. Rupanya kemampuan mereka seimbang. Sehingga bentrokan tadi membuat keduanya sama-sama terlempar.


“Siapa bilang aku kalah? Hanya melawan bocah ingusan seperti gadis itu, apa sukarnya?  Aku hanya tidak senang kau mentertawakan kau sedemikian rupa.” Sahut Nyai Pemikat Sukma. “Hei bocah, kemari kau ayo bermain-main denganku.


“Mau bermain-main denganku nek? Aku duduk saja kau sudah terjerembab. Bagaimana kalau aku berdiri?” sahut Intan sambil tersenyum.


“Kurang ajar kau bocah. Kurobek mulut kurang ajarmu itu.” Maki Nyai Pemikat Sukma.


Nyai Pemikat Sukma melompat menerjang Intan. Sedangkan yang di serang masih terlihat santai tanpa melakukan gerakan sedikitpun. Ketika jarak sudah hampir satu depa dari Intan, tubuh Nyai Pemikat Sukma tiba-tiba terhenti. Perempuan itu sontak kaget dengan kejadian yang dialaminya. Yang membuatnya lebih kaget dan panik, perlahan hawa yang sangat dingin menusuk tulang merayapi tubuhnya.


“Pergilah aku tak ingin membunuhmu. Ketahuilah pemuda yang ingin kau jadikan mangsa itu adalah Rajawali Merah. Dia juga yang telah menampar pipimu itu. Kalau kau masih penasaran, susul saja dia. Itupun bila kau sudah tak sayang lagi dengan nyawamu.” Ucap Intan dengan nada suara yang dingin.


Tiba-tiba Nyai Pengikat Sukma terjatuh. Ia pun telah terbebas dari hawa dingin yang menyerangnya. Namun sisa-sisa tenaga sakti lawan yang masih menempel di aliran darah nya membuat perempuan itu menggigil hebat. Ia pun perlahan meninggalkan tempat itu, sesaat setelah menatap Intan dengan perasaan takut.

__ADS_1


“Akupun mohon diri nona, maafkan apabila ada perkataanku yang menyinggungmu.” Ucap Pendekar Trisula Sakti gentar setelah melihat apa yang dialami Nyai pemikat Sukma. Apalagi tadi sempat Intan menyinggung-nyinggung nama Rajawali Merah. Walaupun dia tidak melakukan hal yang kurang baik terhadap Intan,  orang tua itu tak ingin kena imbas perbuatan Nyai Pemikat Sukma.


Setelah kepergian mereka berdua suasana rumah makan  menjadi sangat sepi. Sejak terjadinya pertarungan antara pendekar Trisula Sakti dengan nyai pemikat sukma, para pengunjung rumah makan yaitu kata-kata memilih meninggalkan tempat untuk mencari aman. Pemilik rumah makan sendiri bersama pembantunya bersembunyi dibalik meja kasir.


“Pelayan kemarilah!” panggil Intan.


Dengan takut-takut pelayan rumah makan itu menghampiri Intan. “ada apa neng ayu?” tanya pelayan itu gugup.


“Ini uang tiga keping emas untuk pembayaran makanku, bersama temanku tadi, ditambah sebagai uang ganti rugi kerusakan di rumah makan ini. Apakah  cukup?” ucap Intan seraya menyerahkan uang sebanyak tiga keping emas.


“Cukup neng ayu.. sangat cukup.” Ucap pelayan itu.


Setelah membayar semuanya tiba-tiba saja Intan menghilang dari pandangan mata si pelayan. Tentu saja ini sangat mengejutkan lelaki separuh baya itu. Dengan tubuh gemetaran dihampirinya pemilik rumah makan yang masih bersembunyi mengintip dibalik meja kasir.


Sementara itu Bayu yang melesat meninggalkan rumah makan dalam waktu singkat sudah tiba ditempat yang diceritakan oleh Nyai Pemikat Sukma. Di sana terlihat dua orang pemuda berpakaian khas murid perguruan tangan dewa sedang mati-matian melawan  seorang kakek yang berpakaian mirip dengan kedua pemuda tersebut. Di sisi lain terlihat Widura dan dua orang sahabatnya sedang bertarung melawan seorang kakek lain yang berpakaian khas murid perguruan Tangan Dewa.


“Menyerahlah kau Rajani dan kau juga Kariba. Perguruan tangan dewa sudah tidak ada masa depan lagi. Sebaiknya kau ikut kami saja mengabdi kepada raja Barat. Kau pun akan kami ajarkan ilmu-ilmu  pilih tanding agar kalian berdua kelak menjadi pendekar hebat.” Bujuk lelaki tua yang bertarung melawan kedua murid Perguruan tangan dewa tersebut.


Orang tua itu memang salah satu tokoh utama di Perguruan Benteng Dewa. Dia dan juga orang tua yang sedang bertarung dengan Widura tersebut merupakan adik seperguruan Malaikat Bertangan Sakti. Sejak penyerangan dilakukan Raja Iblis Kelelawar yang mengaku Dewa Iblis Kegelapan itu,  keduanya memilih bergabung dan mengabdi dengan Iblis tersebut.


Yang bertarung dengan Widura dan kawannya adalah Ki Rajapa. Orang-orang dunia persilatan memberinya gelar Pendekar Tangan putih. Sedangkan orang yang satunya lagi bernama Ki Kusdi. Dia bergelar Pendekar Tangan Seribu.


**Bersambung..


ditunggu like dan komentarnya**.

__ADS_1


__ADS_2