Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
83. Bertemu Rajawali


__ADS_3

Salam Dunia Persilatan...


Bagaimana kabar pembaca sekalian? mudah-mudahan selalu dalam keadaan bahagia dan dalam perlindungan terbaik dari yang kuasa.


Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta (ITGAS) akan berusaha selalu memberi warna pada hidup kalian. Mungkin bukan bacaan terbaik, tapi paling tidak bisa menemani lelah kalian.


Mudah-mudahan teman-teman berkenan memberikan like, dan komentar pada cerita ini. Selamat membaca.


Salam Dunia Persilatan


--------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------


Episode 83


BERTEMU RAJAWALI


Sesampainya di depan pintu masuk ke lembah Neraka mereka dibuat takjub dengan pemandangan api yang mengelilingi seluruh lembah . Setelah Ga meminta izin masuk ke dalam kepada penjaga di sana, entah apa yang dilakukan penjaga itu, api padam sebagian tepat di pintu masuk. Kemudian Garba pun menyuruh Jaka dan yang lainnya masuk ke lembah.


Baru berjalan sepuluh tombak, terlihat kabut putih menutupi seluruh jalan. Kemudian Garba memberikan tiga biji pil kepada tamunya. Sedangkan si tawanan langsung Garba jejalkan sebiji pil ke dalam mulutnya.


"Mohon para pendekar tidak keberatan menelan pilnya, di dalam penuh dengan racun yang mematikan." ucap Garba.


Ketiganya pun menelan pil yang diberikan Garba. Mereka terus berjalan di belakang Garba. Setelah berjalan sepeminuman teh lamanya, tibalah mereka di depan danau yang membentang luas.


"Jalan di depan hanya selebar satu tombak, mohon ikuti saya melangkah" pinta Garba lagi.


Setelah menggeser tujuh langkah ke kanan, Garba terus berjalan ke depan diikuti oleh Jaka dan yang lainnya. Berjalan sekitar sepuluh tombak akhirnya mereka tiba di seberang. Saat sampai di seberang, baru terlihat ternyata yang mereka pihak tadi adalah sebuah jembatan, sedangkan danau yang mereka lihat sesungguhnya adalah api yang berwarna kebiruan.


Tepat berjarak tiga puluh tombak, terdapat sebuah bangunan yang megah seperti sebuah istana. Ternyata sekarang di Lembah Neraka tidak hanya Istana itu saja satu-satunya bangunan berdiri. Di kanan kirinya dengan jarak yang cukup jauh dari istana terdapat puluhan rumah yang cukup bagus. Sehingga tempat itu mirip sebuah kerajaan kecil yang rumah rakyatnya tertata rapi.


"Mari..." ucap Garba lagi.

__ADS_1


Kelima orang itupun berjalan hingga sampai ke depan Istana Lembah Neraka. Saat di sana kebetulan Pendekar Tongkat Emas keluar dari pintu istana. Orang tua itupun langsung menyambut Jaka dan yang lainnya.


"Ahh.. Selamat datang nak Jaka dan yang lain." sapa Pendekar Tongkat Emas. "Tak dikira akhirnya kalian berkunjung juga ke tempat ini. Mari ku ajak menemui wakil ketua" ucapnya lagi.


"Salam hormat Pendekar Tongkat Emas" Sapa Jaka dengan menjura di ikuti temannya yang lain.


Kemudian mereka memasuki gedung. Di aula pertemuan bangunan itu telah berdiri Pranggala di dampingi Dewi Pedang Khayangan sedang berbicara dengan beberapa orang anggota tingkat ke dua dan ketiga.


"Guru..." panggil Cempaka lirih, bahkan seperti orang berbisik. Namun panggilan itu di dengar juga oleh sang guru.


Seketika semua orang yang sedang berbicara memalingkan mandangannya ke arah Jaka dan yang lain. Melihat ada tamu, semua orang yang sedang berbicara tadi mohon diri kemudian meninggalkan tempat itu. Kini tinggal Pranggala dan Dewi Pedang Khayangan yang ada di tempat itu.


"Cempaka..." ucap Dewi Pedang Khayangan tak kalah lirih.


Seketika Cempaka meluruk ke arah gurunya. Kemudian Istri Pendekar Halilintar itupun segera berlutut di bawah kaki sang guru. Keduanya tak kuasa menahan air mata.


"Guru... maafkan muridmu yang durhaka ini. Bila kau berkenan hukumlah muridmu ini untuk menebus segala kelancangan dan kekurang ajaran murid" ucap Cempaka sambil menangis. Masih diingat ucapan yang keluar dari mulutnya sendiri saat memutuskan hubungan guru dan murid ketika mereka berdua saling berhadapan di Bukit Kosong.


"Selamat datang Pendekar Halilintar! sebuah kehormatan bagi Istana Lembah Neraka kehadiran Pendekar Besar seperti anda" sapa Pranggala seraya menjura memberi hormat.


Jaka dan yang lainnya pun merangkapkan kedua tangan mereka menjura memberi hormat kepada Pranggala. Kemudian Pendekar Halilintar itupun berkata "Terima kasih atas undangan wakil ketua, sungguh kami merasa terhormat bisa berkunjung ke sini. Maafkan kedatangan kami malam-malam mengganggu istirahat tuan wakil ketua"


"Tidak mengganggu sama sekali" Sahut Pranggala cepat. Kemudian Wakil ketua Istana Lembah Neraka itu mempersilahkan tamu-tamunya untuk duduk di tempat yang telah disediakan. Tak lupa pula ia menyuruh para pelayan menyiapkan hidangan.


Sambil menikmati hidangan mereka berbincang-bincang. Sempat tadi Pranggala menyampaikan permintaan maaf kepada Jaka atas kejadian di Bukit Kosong. Kemudian secara singkat Pranggala menceritakan bahwa sebenarnya penyerangan itu bukan atas kehendak sang ketua, tapi kehendak Raja Iblis Bukit Tengkorak. Apalagi waktu itu walau Rajawali Merah yang menjadi ketua, tapi segala perintah dan aturan Iblis itulah yang menguasainya.


"Benarkah tuan pendekar sedang bepergian jauh menuju ke negeri Utara?" tanya Pranggala setelah beberapa saat mereka diam tidak ada oembicaraan.


"Benar tuan, kami ingin mengunjungi Raja Iblis Kelabang untuk meminta pertolongannya" jawab Jaka. Kemudian pendekar halilintar menceritakan kejadian di Kota Rambalangan, dimana terjadi serangan oleh orang yang menguasai ilmu pukulan Kelabang Hitam.


"Aneh sekali." gumam Pranggala. "Seperti yang kita ketahui bahwa Iblis Kelabang tidak memiliki murid atau pun pengikut. Dia merupakan manusia aneh penyendiri. Kerjaannya mengurusi kelabang-kelabang beracun yang dianggapnya seperti anak sendiri itu." tutur Pranggala.

__ADS_1


"Begitulah tuan, tapi untuk menyelamatkan putri pemimpin kota itu kami harus mencoba mendatanginya." tegas Jaka.


"Sayang ketua tidak ada di sini, kalau tidak tak usah jauh-jauh meminta pengobatan ke negeri Utara sana." keluh Pranggala.


"Memang ketua Istana Lembah Neraka kemana tuan?" tanya Cempaka yang berpura-pura tidak tau. Padahal ia sudah menebak Rajawali Merah memang tidak ada di situ.


"Sejak menghilangnya di bukit kosong, tak sedikitpun kami mendengar berita ataupun mengetahui jejaknya." sesal Pranggala. "Bila tuan Pendekar Halilintar dan yang lain tidak keberatan bolehkah saya meminta pertolongan? tanya nya lagi


"Apa itu tuan?" tanya Jaka sambil mengerutkan keningnya. Walaupun sedikit banyaknya kebencian dengan Istana Lembah Neraka sudah berkurang, namun dia masih belum bisa menghilangkan ganjelan di hatinya.


"Apabila dalam perjalanan mengetahui jejak ketua, susilah kiranya memberitahu kami. Untuk itu kami juga ingin kalian membawa burung Rajawali Merah beserta kalian. Agar kelak bila ada jejak biar burung sakti itu yang mengabari kami."


"Baik lah tuan, kami coba membantu. Tapi kami tidak bisa menjanjikan untuk bisa mencarinya karena harus dengan segera menyelamatkan putri pemimpin kota." sahut Jaka.


"Tidak mengapa tuan, dengan membawa burung rajawali merah beserta, apabila dalam jarak dua puluh mil ketua berada dengan kalian, maka burung itu akan bisa merasakannya." Ucap Pranggala. Kemudian dia pun bersuit. Sesaat kemudian dari luar datang seekor rajawali yang cukup besar dengan bulu bwrwarna merah dan jingga.


Kraakkk.. kraaaakkk..


Suara rajawali menggema di ruangan itu. Bukan suara semberangan, bahkan beberapa diantara mereka sampai berdegup kencang di dada. Kemudian rajawali itupun hinggap di sebuah kursi yang biasa di duduki Bayu ketua Istana Lembah Neraka itu.


Setelah kepalanya beberapa kali kepala rajawali itu berpindah-pindah arah bagai kan mencoba mengenali orang sekelilingnya, matanya menatap tajam ke arah intan. Tidak ada yang tau bahwa saat itu si gadis sedang berusaha menahan tangisnya. Tak lama kemudian burung rajawali itupun terbang ke arah intan dan menggosok-gosokkan kepalanya ke pergelangan tangan si gadis.


Semua mata tertuju pada Intan dengan penuh keheranan. Terutama Pranggala yang matanya tertuju pada gelang yang dipakai gadis itu. Gelang itu bermatakan sebuah liontin berukir Istana Lembah Neraka.


"Maaf nona bila aku lancang bertanya." ucap Pranggala. "Kalau aku tidak salah lihat gelang yang kau pakai itu matanya merupakan liontin berukiran Istana Lembah Neraka. Bagaimana gelang itu bisa ada di tangan nona?" tanya Pranggala penuh selidik.


"Gelang ini pemberian kak Bayu paman" Jawab Intan. Akhirnya tumpah juga air matanya. Tak kuasa lagi ia berpura-pura untuk tetap diam dan tak mengenal akan ketua Istana Lembah Neraka itu. "Bahkan sudah beberapa kali aku bertemu dan bermain dengan rajawali ini sewaktu kak Bayu mengantarkanku ke bukit Batu Geni." tuturnya lagi.


"Ah pantas saja rajawali itu menghampiri nona. Bahkan nona telah mengetahui nama dari ketua kami" sahut Pranggala yang juga meneteskan air mata. Panggilan Intan tadi kepadanya dengan sebutan Paman, mengingatkannya kembali akan sang ketua yang biasa memanggilnya seperti itu.


Akhirnya setelah berbincang banyak dan bersepakat, Jaka, Cempaka, dan Intan pun berpamitan untuk kembali ke penginapan. Dengan diantar kembali oleh Garba, ketiga orang bersama burung rajawali itu meninggalkan Lembah Neraka. Keesokan harinya merekapun kembali melanjutkan perjalalanannya ke negeri Utara.

__ADS_1


...***...


__ADS_2